Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
18. Perasaan



Pagi-pagi sekali Ezar terbangun karena mendengar suara bising dari ruang kerjanya. Begitu membuka mata Ezar tak dapat menemukan Embun disampingnya. Sial. Suara bising itu pasti suara mesin jahit. Sambil terus menggerutu Ezar pun bangkit dan pergi ke sumber suara. Ayolah, ini masih pagi bahkan matahari belum terbit tapi gadis itu sudah terbangun demi mengerjakan hal yang tidak begitu penting.


Ezar membuka pintu ruang kerjanya lalu berkacak pinggang. Bagus, ruang kerjanya semakin berantakan karena kain dan benang-benang. Embun langsung menatapnya.


"E-Ezar? Apa aku membangunkan mu?" Tanya Embun ragu.


"Kau gila? Kau pikir ini jam berapa? Apa yang kau lakukan?!"


"Maaf aku tiba-tiba bermimpi sedang menjahit jadi aku terbangun dan langsung melakukannya. Maaf jika aku mengganggumu."


Ezar mengusap wajahnya gusar. Baiklah. Sebenarnya Ezar tidak masalah dengan terganggu hanya saja Embun terlihat membuang-buang waktu demi sehelai kain dan seutas benang.


"Tapi Ezar lihatlah! Aku berhasil membuat satu baju. Coba pakai ini."


Embun bergegas menghampiri Ezar yang berdiri masih dengan wajah masam. Embun mensejajarkan baju buatannya dengan tubuh kekar Ezar. Sepertinya akan sedikit kebesaran.


"Aku mencontohnya dari salah satu bajumu. Ayo coba pakai."


Oke. Ezar tidak suka ini. Dirinya masih mengantuk dan akan ada rapat penting pagi ini. Ezar tidak ingin melewatkan waktu istirahat ketika pekerjaannya sedang sibuk-sibuknya. Ezar pun merebut baju yang Embun pegang lalu melemparnya ke sofa dengan kasar.


"Berhenti bermain-main, Embun!" Bentak Ezar.


Embun tersentak.


"A-Aku tidak bermain-main Ezar." Lirih Embun dengan suara gemetar.


"Kau membuang-buang semua kain itu lalu membuat ruang kerjaku jadi berantakan! Kau juga mengganggu waktu tidurku!"


Embun sudah tidak bisa berkata-kata. Matanya mulai berkaca-kaca dan bibirnya gemetar. Ezar baru saja memarahinya hanya karena Embun mengganggu waktu tidurnya. Ya, Embun memang merasa bersalah tapi yang dia lakukan ini bukanlah 'main-main'. Kenapa Ezar harus semarah itu?


"Aku hanya.. ingin mencobanya lagi." Lirih Embun.


"Lebih baik berhenti melakukan itu dan jangan ganggu waktu tidurku lagi! Pagi ini aku harus rapat penting jadi jangan membuatku repot!" Ketus Ezar.


"A-Apa begitu? Apa aku membuatmu repot?" Tanya Embun dengan suara lirih.


Ezar mengusap wajahnya dengan gusar.


"Semalam aku jadi harus tidur larut karena mendengar suara mesin jahit mu itu! Dan sekarang aku bangun pagi juga karena hal sepela yang kau lakulan! Buang semua kain tidak berguna itu!"


Setelah puas marah-marah Ezar pun melengos pergo ke kamarnya.


Embun hanya bisa menunduk dengan bahunya yang bergetar. Embun sangat takut jika dimarahi seperti tadi. Ini pertama kalinya Ezar membentaknya sekasar itu hanya karena menjahit? Embun bahkan tidak mengerti apa yang dibicarakan Ezar tadi. Tapi Embun merasa  sedih dan kecewa. Hobinya seperti tidak didukung oleh suaminya sendiri bahkan Ezar juga melarangnya secara terang-terangan. Haruskah Embun berhenti?


Lagipula semua ini Embun lakukan karena kebosanan saja kemarin. Tidak ada tujuan khusus. Mungkin Embun menyesal karena sudah melakukannya secara berlebihan. Tidak seharusnya Embun kembali melakukan sesuatu yang sudah ia tinggalkan sejak lama. Dan Embun tidak ingin membuat Ezar repot. Ezar sudah berbuat baik kepadanya. Jadi mungkin sekarang Embun akan mencoba menahan diri untuk tidak melakukan apa yang ia mau jika itu mengganggu Ezar.


...__ooOoo__...


Embun melirik Arsen yang baru saja datang. Tumben sekali Arsen datang sedikit terlambat dari biasanya. Padahal tadi Embun sudah menunggu Arsen didepan rumahnya untuk berangkat bersama. Tapi nyatanya Arsen tidak muncul dan alhasil Embun malah naik taksi.


Embun pun berpindah untuk membersihkan meja lainnya. Suasana hatinya sedang buruk dan semua orang tahu itu kecuali Arsen yang baru saja datang. Sejak pagi Embun belum berbicara apapun. Carrel juga tidak tahu apa yang membuat Embun seperti ini. Tapi yang jelas Embun sangat menyeramkan kalau sedang dalam suasana hati yang buruk.


Arsen tersenyum melihat sosok gadis yang sedang membersihkan meja itu. Kalau boleh jujur Arsen merindukan Embun karena kemarin seharian tidak bertemu. Sebaiknya mulai sekarang Arsen harus bisa beradaptasi dengan hari libur Embun. Ah, Arsen jadi teringat sesuatu. Pria itu mengambil sesuatu dari tasnya lalu berjalan menghampiri Embun.


"Embun." Panggil Arsen.


Embun tidak menoleh atau mungkin tidak mendengar panggilan itu. Arsen pun memberanikan diri menyentuh bahu gadis itu.


"Embun."


BUGH


Embun terkejut melihat Arsen yang meringis kesakitan karena baru saja ia pukul lengannya. Tapi Embun tetap menjaga sikap untuk tetap kalem. Habisnya Embun sedang sibuk merutuki suaminya dalam hati, seseorang tiba-tiba menyentuhnya. Embun merasa terganggu dan tidak suka hingga akhirnya tak sengaja memukul siapa saja yang berani mengganggunya.


Meskipun sedang kesakitan Arsen tetap berusaha terlihat menahan rasa sakitnya. Ternyata pukulan Embun lumayan sakit juga. Arsen kita Embun adalah gadis yang lembut. Ternyata ia salah. Arsen tersenyum. Tangannya memberikan sebuah buku gambar pada Embun.


"Ini."


"Apa ini?"


"Buka saja."


Embun pun menurut dan membuka lembaran buku itu. Begitu dibuka, di halaman depan buku gambar tersebut ada sebuah gambar yang mirip dengan dirinya sedang membawakan makanan untuk pelanggan. Duplikat dirinya yang dituangkan ke dalam lukisan yang digambar oleh pensil itu terlihat sederhana namun sangat hidup dan mirip aslinya.


"I-Ini gambaranmu?"


"Iya. Aku pikir kau menyukai lukisanku kemarin jadi aku coba menggambar dirimu." Ucap Arsen sambil menunduk malu.


"Kau memang berbakat. Apa menggambar adalah hobimu?" Tanya Embun dengan nada lesu.


Arsen pun mengangguk. Lalu Embun menghela nafas. Ia memberikan buku gambar itu kembali kepada pemiliknya.


"Senangnya jika memiliki hobi yang tersalurkan."


Embun mendengus kesal. Suasana hatinya buruk sejak Arsen memarahinya tadi pagi. Padahal Embun tidak tahu apa sebenarnya yang salah. Arsen yang baru menyadari bahwa Embun sedang tidak dalam suasana yang baik pun melirik Carrel dan Tio. Mereka berdua tampak menyuruhnya untuk kembali ke tempat dan menjauh dari Embun. Sepertinya mereka juga tahu apa yang sedang terjadi pada Embun.


Arsen menghela nafas.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Arsen dengan kikuk.


"Kembalilah bekerja. Sebentar lagi cafe akan buka." Ujar Embun pelan.


"Mau kubuatkan kopi?"


Embun membanting kain lap yang ia pegang itu ke meja lalu melirik Arsen dengan wajah masam. Embun berdecak.


"Kubilang kembalilah bekerja! Aku sedang tidak mood untuk bicara tau!"


Arsen mengerjap. Embun baru saja membentaknya. Sepertinya bukan main-main. Lalu Tio datang dan segera menyeret Arsen untuk menjauhi Embun.


"Kubilang juga apa, jangan dekat-dekat dia. Moodnya sedang tidak bagus." Bisik Tio.


Lalu Arsen kembali mengamati Embun dalam jarak beberapa meter.


"Dia memang seperti itu kalau sedang marah. Menyeramkan bukan?" Tanya Tio.


Arsen pun langsung mengangguk setuju.


...__ooOoo__...


Ezar mengamati sebuah undangan yang ada ditangannya sekarang. Mata tajamnya membawa tulisan sebuah nama yang tertera pada bagian depan undangan.


"Akhirnya dia menikah juga!" Sahut Aldo.


"Aku tidak tahu kenapa kau sangat antusias sekali jika ada orang yang menikah."


Ezar meletakkan undangan itu di laci lalu menatap Aldo.


"Besok malam kita akan datang bersama. Jangan terlambat Aldo."


"Apa? Kenapa harus aku? Kau harus datang bersama istrimu, Ezar."


"Kita biasa datang bersama." Ujar Ezar dengan datar.


Aldo berdecak.


Ezar pun menghela nafas.


Ngomong-ngomong soal Embun, Ezar jadi ingat tentang kejadian tadi pagi saat dirinya membentak Embun karena terganggu. Yah, kalian tahu sendiri Ezar adalah sosok pembisnis yang paling berpengaruh di negara ini dan setiap waktu itu sangat berharga untuk Ezar. Karena selalu sibuk bekerja Ezar seringkali kurang istirahat. Pria itu rela tidak tidur hanya demi pekerjaannya. Jadi sekalinya ada waktu untuk beristirahat maka Ezar tidak akan menyia-nyiakannya. Karena itu Ezar sangat sensitif setiap waktu tidurnya terganggu.


Oke. Sekarang Ezar mulai kepikiran soal gadis itu. Sejak dimarahi, Embun jadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat sarapan tadi pagi. Entah hanya perasaan Ezar saja atau tidak tapi Embun terlihat marah.


Apa Embun marah padanya?


Ezar tidak masalah jika Embun marah padanya tapi itu akan sulit untuk mengajaknya datang ke undangan pernikahan besok malam. Tidak mungkin Ezar datang sendirian. Dia juga merasa harus memperkenalkan istrinya ke publik.


"Aku tidak yakin bisa membawanya besok." Gumam Aldo seraya memijat pelipisnya.


"Ada masalah? Apa kalian bertengkar?" Tanya Aldo.


Ezar langsung menatap Aldo. Kalau soal percintaan Aldo selalu menjadi orang yang paling peka bahkan tanpa perlu diberitahu secara rinci. Lihat saja sekarang Aldo langsung bisa menebaknya. Terkadang Ezar heran apakah temannya ini seorang cenayang?


"Tidak. Hanya saja-"


"Tidak mungkin kalian tidak bertengkar. Apalagi aku sangat tahu pria seperti apa dirimu itu Ezar." Aldo mendengus geli.


"Sial. Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak suka diganggu dan direpotkan oleh sesuatu yang dia lakukan. Kau tahu kan kita ini sedang fokus mengurus sebuah proyek."


"Jadi kalian bertengkar karena itu?" Tanya Aldo.


Ezar menghela nafas.


"Aku membentaknya dan dia terlihat marah. Apa aku salah?"


"Tentu. Perempuan tidak suka dibentak atau dimarahi. Perasaan mereka akan langsung terluka apalagi jika kau juga melarangnya melakukan sesuatu. Saran dariku lebih baik kau minta maaf."


Minta maaf? Padahal Embun sendiri yang telah mengganggu dan harus meminta maaf padanya.


"Perempuan itu sangat lemah." Ezar menggerutu.


"Ya benar, bung. Perempuan sangat lemah terutama perasaan mereka. Kau harus bisa memperlakukannya dengan baik jika tidak ingin hal itu terjadi untuk kedua kalinya."


Ezar tersenyum sinis. Sial. Aldo selalu saja mengingatkannya kembali pada masa lalu. Padahal Ezar tidak ingin mengingat-ingat sesuatu yang telah menyakiti hatinya.


"Ngomong-ngomong sekarang dimana keberadaan wanita itu?"


...__ooOoo__...


Embun menutup pintu ruangan Carrel lalu berjalan lesu menuju kursi yang disediakan. Embun langsung mendudukkan dirinya dihadapan Carrel.


"Ada apa? Kenapa harus bicara disini?" Tanya Embun dengan nada ketus.


Carrel memicingkan matanya sebentar lalu berdecak.


"Ayo cerita. Kali ini apa masalahmu?"


Embun menghela nafas. Biasanya jika ada sesuatu Embun memang selalu menceritakannya pada Carrel. Begitu juga sebaliknya karena mereka ada sahabat tak terpisahkan sejak masa sekolah. Carrel selalu menjadi orang pertama yang tahu tentang masalah Embun. Carrel sudah seperti keluarga bagi Embun. Tapi sekarang Embun belum mau bercerita. Dia masih kesal.


BRAKK


"Hei, kenapa diam saja?!" Pekik Carrel.


Carrel sudah tidak sabar mendengar ceritanya. Embun pintu melirik pintu.


"Apa tidak apa-apa kita berbicara seperti ini sekarang?"


"Tenang saja pelanggan sedang sepi jadi masih ada kesempatan. Jadi apa yang membuatmu cemberut begitu hmm?"


"Ah, entahlah. Sepertinya aku menikahi pria yang sangat menyebalkan!"


"Kenapa? Ezar galak ya?" Tanya Carrel penasaran.


"Ya. Dia galak dan egois. Kau tahu kan cita-citaku terhenti karena apa."


Lalu Embun mulai bercerita panjang lebar menjelaskan kejadian yang ia alami tadi pagi. Carrel pun mendengarkan dengan saksama. Setelah mendengar lengkap ceritanya Carrel jadi ikut kesal. Carrel tahu seperti apa perjuangan hidup Embun sejak masa sekolah. Pantas saja Embun merasa marah dan kecewa. Menurutnya Ezar sama saja dengan menghina hobi yang ternyata adalah Cita-cita Embun sejak dulu.


Carrel berdecak.


"Kurasa kalian harus lebih sering bercerita dan membuka diri masing-masing. Sepertinya kalian berdua jarang ada waktu bersama."


"Daripada itu seharusnya dia bisa menghargai orang! Ugh, aku kesal sendiri. Aku tidak mau pulang!"


TOK TOK TOK


Kedua perempuan itu langsung menoleh ke pintu. Arsen muncul setelah membuka pintunya sedikit. Arsen menatap kedua orang itu dengan wajah datarnya seperti biasa.


"Maaf jika aku mengganggu tapi.. Pelanggan sudah mulai kembali ramai. Kami butuh bantuan kalian."


Carrel mengangguk lalu tersenyum.


"Iya iya tunggu ya. Sebentar kami keluar."


Arsen hanya menganggukkan kepalanya sebentar dan kembali menutup pintu. Embun mendengus.


"Kalau begitu aku akan kembali bekerja, Carrel."


"Hei tunggu dulu. Kurasa Arsen menyukaimu."


Carrel pun tersenyum genit. Embun memukul pelan punggung tangan Carrel.


"Jangan bicara asal. Ayo kembali bekerja."


"Memangnya kau tidak sadar? Dia seperti memusatkan perhatiannya penuh padamu. Dia juga tipe yang kau sukai kan?"


Embun terdiam. Sejenak ia memikirkan perkataan Carrel. Apa benar Arsen mempunyai perasaan khusus padanya? Kalau dilihat-lihat sih sepertinya begitu. Semua tahu kalau Arsen itu sangat pendiam dan irit bicara. Bahkan saat di wawancara kerja oleh Carrel pun Arsen hanya berbicara seadanya. Tapi Embun merasa ketika Arsen sedang bersama dirinya, Arsen terlihat berbeda. Embun juga baru sadar jika Arsen banyak bicara padanya.


Apalagi Arsen itu tampan dan berbakat serta memiliki aura karisma yang berbeda dan kuat.


"Kenapa melamun? Memikirkan jika ucapanku benar?" Ujar Carrel tepat didepan wajah Embun.


"T-Tidak! Lupakan saja aku punya suami! Aku harus fokus mencintai suamiku!" Ketus Embun.


Carrel pun mengangguk.


"Baguslah kalau kau bisa sadar. Walaupun sudah mendengar cerita tentang suami mu itu, aku lebih senang kau bisa menikah dengannya."


Carrel menepuk-nepuk bahu Embun lalu keluar dari ruangannya.


Sekarang Embun bertanya pada dirinya sendiri, apakah dirinya senang karena menikah dengan Ezar?


Haruskah ia bersyukur atas hal itu?


Mungkin ya atau mungkin juga tidak karena Ezar menyebalkan.


..._________________...


...To be continued ...


...(Revisi : 05-11-2020 )...