Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 32



Hari H pun tiba. Hari dimana Embun dan Ezar akan pergi berbulan madu. Hei, kenapa dua hari terasa sangat cepat sekali?


Semua perlengkapan yang akan dibawa sudah diatur semua dengan rapi. Mereka hanya akan pergi selama seminggu tapi entah kenapa Embun merasa gugup. Berbeda dengan Ezar yang terlihat sangat semangat dengan perjalanan ini.


Tentu saja pria itu sangat bersemangat karena sebentar lagi Embun akan menjadi miliknya selamanya. Dan ternyata Ezar sudah mempersiapkan segalanya dalam waktu yang singkat. Ezar bahkan sudah meminta Embun cuti selama seminggu kepada Mario. Seniat itu kan.


Saat sudah duduk di pesawat Embun tidak bisa bernafas dengan tenang. Ia sangat gugup apalagi saat pesawat akan segera lepas landas. Ini pertama kalinya Embun naik pesawat jadi wajar jika ia sangat norak dan takut. Ezar yang duduk disampingnya tersenyum kecil. Kemudian tangannya segera menggenggam tangan Embun.


Embun langsung menoleh.


"Ini pertama kalinya aku naik pesawat." Gumam Embun dengan pipi merona.


Ah, sial. Pasti sekarang Ezar sedang menertawakannya dalam hati karena Embun begitu norak.


"Tenang, tidak usah takut. Aku ada di sampingmu." Bisik Ezar.


Embun meremas tangan Ezar saat pesawat mulai jalan. Keringat dingin semakin mengucur disekujur tubuhnya.


"Setakut itukah?" Tanya Ezar bingung melihat wajah Embun yang sangat pucat.


"Aku juga takut ketinggian."


Ezar tersenyum kecil. Embun begitu menggemaskan jika sedang ketakutan seperti sekarang ini. Ezar memajukan wajahnya.


"Ezar kau mau ap-"


CUP


Mata Embun melebar. Ezar menciumnya. Benar-benar menciumnya dan tidak hanya sekedar kecupan. Embun semakin kencang meremas tangan Ezar. Pesawat semakin terbang lebih tinggi lagi dan saat itulah Embun tak sengaja menggigit bibir Ezar dengan kencang.


"Akh!" Ezar meringis.


"Maaf."


Tak peduli dengan rasa perih, Ezar semakin memperdalam ciumannya. Pria itu tetap berusaha membuat Embun tenang dan melupakan soal ketakutannya. Ezar tersenyum disela-sela ciuman saat Embun membalas ciumannya dengan terburu-buru. Setelah dirasa sudah cukup aman barulah Ezar melepaskan ciumannya.


Wajah Embun langsung merah. Bagaimana bisa pria itu menciumnya di pesawat seperti ini astaga.


"Kau sudah tenang?" Tanya Ezar pelan.


Embun mengangguk ragu.


"Kalau belum aku bisa melakukannya lagi."


Ezar sudah bersiap mendekatkan wajahnya lagi tapi dengan cepat Embun mendorong bahu suaminya itu.


"kau mesum!" Desis Embun


Ezar tertawa.


"Nanti ketika sudah sampai aku bisa lebih mesum lagi dari ini." Bisik Ezar genit.


Embun berdehem lalu segera memalingkan wajahnya. Sial. Ia jadi semakin gugup kan. Huh. Semoga saja perjalanan ini akan lama dan panjang.




Ezar langsung membuka pintu kamar hotel yang mereka pesan. Hotel itu berada ditengah\-tengah kota dan sangat strategis. Ezar berpikir akan cocok menyewa hotel yang letaknya strategis karena agar mereka dapat dengan mudah pergi kesana kemari. Dan juga Ezar tahu bahwa ini pertama kalinya Embun ke luar negeri. Ezar ingin memberikan pengalaman dan kenangan indah untuk Embun.



Embun terkesima melihat isi kamarnya. Ezar memilih kamar yang sangat luas dan mewahnya bukan main. Mungkin Embun akan lebih nyaman berada didalam hotel daripada keluar karena kamarnya saja sudah seperti ini. Embun berjalan ke dekat jendela besar. Pemandangan kota terlihat sangat indah dari sini. Apalagi ketika malam hari, mungkin akan lebih indah karena dihiasi lampu\-lampu kendaraan dan jalan di malam hari.



Tiba\-tiba sebuah tangan melinkari perutnya.



"Kau suka?"



"Suka apanya?"



"Kamar dan pemandangan dari sini."



Embun menoleh ke samping lalu mengecup pipi Ezar.



"Aku suka semuanya. Terimakasih."



"Semuanya? Termasuk aku?" Tanya Ezar dengan mata berbinar.



Embun terkekeh lalu mengangguk.



"Ya."



Ezar tersenyum.



"Kau pasti jetlag. Mau langsung istirahat? Ah, tapi kau harus makan dulu." Ujar Ezar.



"Tidak. Aku .. ingin jalan\-jalan. Bolehkah?"



Ezar menghela nafas.



"Kau yakin?"



"Iya Ezar. Rasanya aku ingin menyisir kota ini. Sejak lama aku ingin ke sini. Kau tahu kenapa? Karena banyak desainer hebat dan terkenal yang terlahir dari negara bahkan kota ini Ezar!" Kata Embun dengan antusias.



Ezar tersenyum senang.



"Kita juga akan membuat calon orang hebat disini." Sahut Ezar.



"Ah, kau juga tinggal pilih mau dilahirkan dimana dia nanti." Lanjut Ezar.



Embun mencubit pinggang Ezar dengan kencang. Membuat pria itu meringis. Kemudian Embun langsung terburu\-buru membuka kopernya dan mengambil beberapa helai pakaian. Embun langsung bergegas ke kamar mandi untuk berganti baju tanpa melirik Ezar lagi. Wajahnya sudah merah padam, tak tahu harus berbuat apa lagi didepan Ezar yang bisa\-bisanya membuat Embun malu.



Sementara Ezar tertawa terbahak\-bahak karena gemas melihat tingkah istrinya. Ah, melihat Embun yang seperti itu membuat Ezar tidak sabar untuk segara melakukannya.



~~



Malam hari pun tiba. Setelah menghabiskan waktu dengan makan lalu berjalan\-jalan dipinggiran kota, Ezar dan Embun pun langsung kembali ke hotel. Ezar tidak ingin mengajak Embun jalan\-jalan lebih lama karena takut gadis itu kelelahan. Akhirnya setelah makan malam mereka langsung kembali ke hotel.



Embun duduk dikasurnya dengan gelisah. Ia baru saja selesai mandi namun belum berganti pakaian. Embun masih memakai baju handuk yang ada. Matanya menatap koper miliknya sendiri yang terbuka. Embun bingung harus pakai baju tidur yang mana dari sekian piyama dan gaun yang dibawanya.



"Yang mana yang akan cocok dengan malam ini?" Gumamnya gelisah.



Atau haruskah Embun tidak perlu berpakaian saja jika pada akhirnya pakaian yang ia pakai pun akan dilucuti juga oleh Ezar. Hei, Astaga! Pikirannya sudah jauh melayang kesana. Mendadak wajah Embun merona. Ah sial. Benarkah ia akan melepas mahkotanya malam ini?



Embun mengerjap saat ponselnya tiba\-tiba bergetar. Matanya membulat saat tahu ada pesan dari Carrel.



'Embun, kau tidak lupa membawa gaun tidur pemberian dariku kan? Awas saja kalau lupa. Kau bahkan tidak memberi kabar akan pergi bulan madu jika saja aku tidak tahu dari suamimu. Dasar. Aku tidak akan memaafkanmu kecuali kau pakai gaun tidur itu dihadapan Ezar.'



Kening Embun berkerut. Gaun tidur pemberian dari Carrel? Embun tidak ingat jika Carrel pernah memberinya kado pernikahan seperti itu. Tapi .. baiklah. Akan Embun cari. Sesaat kemudian Carrel kembali mengirimnya pesan.



'kau akan sangat cocok dengan yang warna merah hahaha. Semoga beruntung.'



Merah? Oh baiklah. Hanya ada satu helai pakaian tidur yang berwarna merah di koper itu. Embun tidak tahu bentuknya seperti apa karena ia hanya asal memasukkan semuanya ketika sedang packing. Seketika Embun langsung menjerit. Benarkah ini gaun tidur yang Carrel berikan untuknya? Sangat terbuka. Bagaimana bisa Carrel memberinya baju yang tembus pandang seperti ini! Astaga.



"Kau sudah gila, Carrel!" Pekik Embun kesal.



Tiba\-tiba sebuah tangan terulur merebut gaun tidur itu dari Embun dengan lembut. Embun menganga. Ezar yang masih memakai baju handuk meletakkan kembali gaun tidur berwarna merah itu ke dalam koper dan menggantinya dengan piyama pink bergambar barbie. Embun menelan salivanya gugup. Terlihat jelas air yang masih menetes dari dagu tajam itu.



Air itu menetes lalu mengalir menuju belahan dada bidang suaminya. Rambut Ezar juga masih setengah basah. Membuat pria itu terlihat sangat seksi. Belum lagi tatapan mata yang tajam namun begitu tenang diwaktu bersamaan membuat Embun jadi resah dan gelisah sendiri karenanya. Mata itu menatap Embun dengan lembut.



"Kau pakai ini." Kata Ezar lembut.



Embun menelan saliva. Tatapan matanya beralih pada piyama tidur ditangan Ezar.




Ezar mengangguk.



"Bukankah ini baju kesukaanmu? Kau ingat? Saat pertama kali kita bertemu dan kau membawaku ke rumahmu. Aku pikir yang bisa aku ingat saat itu adalah baju tidurmu." Ezar tersenyum.



"Seleraku memang .. aneh." Gumam Embun.



"Tidak aneh. Justru kau unik. Kau bisa melihat kepolosan seseorang berdasarkan seleranya dalam berpakaian."



"Tidak. Aku tidak setuju dengan itu. Ezar, kau pernah menemuiku di club malam dan kau lihat jelas seperti apa pakaianku. Aku tidak seperti yang kau kira." Ujar Embun dengan sendu.



Sesaat Ezar terdiam lalu akhirnya mengangguk. Tangannya mengusap kepala Embun.



"Cepat gantilah pakaianmu. Aku juga akan memakai baju disini." Titah Ezar.



Embun mengangguk lalu buru\-buru masuk ke kamar mandi dengan wajah merona.



Tak berapa lama gadis itu sudah selesai dengan piyama tidurnya. Embun membuka pintu kamar mandi dan mengintip. Dilihatkan ga Ezar yang sedang bersantai diatas ranjang sambil memegang ponsel ditangannya. Ezar melirik Embun.



"Kenapa?"



"Kau .. sudah selesai?" Tanya Embun.



Kemudian Ezar melirik tubuhnya sendiri. Pria itu mengangguk pada Embun.



"Seperti yang kau lihat."



Barulah Embun keluar. Embun berjalan mendekati ranjang dengan pelan\-pelan. Ia sudah terbiasa tidur satu ranjang dengan Ezar. Tapi entah kenapa sekarang auranya sangat berbeda. Entah itu aura dari kasurnya karena Embun akan tidur bukan dikasur biasanya atau karena aura Ezar yang berbeda. Embun seperti akan berhadapan dengan seekor singa.



Perlahan Embun duduk di tepi kasur memunggungi Ezar. Tangannya meremas ujung piyama yang dikenakannya. Ah, udara diluar cukup dingin namun Embun malah berkeringat. Apakah kamar hotel ini tidak memiliki AC? Hawa disekitarnya jadi terasa panas. Embun semakin gugup.



"Embun." Panggil Ezar dengan sangat dekat dibelakangnya.



Embun memejamkan mata.



"Ya?" Jawabnya dengan suara bergetar.



"Berbaringlah."



Jantung Embun semakin berpacu cepat. Ezar sangat tidak sabaran rupanya.



Dia menyuruhku berbaring untuk segera bersiap kan? Batin Embun.



"Embun, kau mendengarku?" Suara Ezar kembali terdengar.



"I\-iya Ezar."



Tiba\-tiba tubuh Embun ditarik ke belakang lalu terhempas begitu saja. Ezar menariknya hingga Embun berakhir dengan berbaring. Kepala Embun mendarat sempurna diatas bantal. Embun terkejut. Hatinya seolah hampir meledak begitu saja.



Ezar menatapnya dengan tatapan bingung.



"Kau kenapa?" Tanya Ezar datar.



"A\-aku tidak apa\-apa. Abaikan saja aku."



"Wajahmu merah dan suaramu bergetar. Kau gugup?"



Iya Ezar. Aku sangat gugup!



"Tidak kok."



Ezar tampak menghela nafas lalu ikut berbaring disamping istrinya. Embun melirik Ezar.



Kenapa tidak segera kau lakukan dengan cepat agar aku tidak gelisah sih?



Ezar tiba\-tiba mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang cukup temaram. Embun terkejut. Apakah mereka akan melakukannya dalam kondisi gelap?


Tiba\-tiba pinggangnya ditarik lalu tubuhnya dikunci dengan erat oleh tangan Ezar. Mungkin .. ini saatnya.



"Tidurlah." Bisik Ezar.



"Hm?"



Embun langsung mendongak menatap wajah Ezar.



"Kau pasti lelah. Tidurlah. Besok kita akan berkunjung ke beberapa tempat."



Embun terdiam.



Entah dia harus merasa lega atau kecewa mendengarnya.



Ezar terkekeh.



"Kau kecewa?" Tanya Ezar.



"T\-tidak. Kenapa aku harus kecewa."



"Kau pasti berpikir aku akan melakukannya sekarang. Kau juga gugup tadi." Ezar tertawa.



Embun hanya diam sementara Ezar mengelus lembut rambutnya.



"Maaf jika aku belum jadi istri yang baik."



Ezar tidak bergeming. Lalu terdengar suara dengkuran halus diatas kepala Embun. Gadis itu terkekeh.



"Ezar. Tidur ya. Padahal kau sendiri yang kelelahan." Gumam Embun.



Embun menatap Ezar yang tertidur. Pria itu telah banyak membantunya. Kalau dipikir\-pikir, Embun tidak pernah membayangkan akan punya suami sebaik Ezar. Kini ia merasa bersyukur. Sudah sepatutnya Ezar mendapatkan balasan atas semua kebaikan dan kesabarannya terhadap Embun.



Embun menghela nafas. Ia bertekad akan menyatakan perasaannya di tempat yang indah dan romantis. Mungkin Embun harus menyampaikan perasaannya besok. Ya. Secepatnya lebih baik. Tangan Embun terulur mengelus wajah Ezar.



Bersabarlah sedikit lagi. Kau akan tahu perasaanku.