
Sebulan kemudian...
Pernikahan itu digelar disebuah ballroom hotel bintang lima dengan tema klasik namun tetap memiliki kesan elegan. Banyak tamu undangan yang hadir terutama para petinggi perusahaan dan beberapa perusahaan besar yang bekerjasama dengan perusahaannya. Makanan yang disajikan semuanya berkualitas dan dimasak langsung oleh koki terkenal dari Francis.
Pokoknya pernikahan itu sangat mewah namun tidak berlebihan.
Sebuah mobil hitam berhenti didepan lobi hotel itu. Pintu sang supir terbuka. Turunlah seorang pria memakai kemeja hitam dibalut jas mahal berwarna marun dan dasi kupu-kupu berwarna senada dengan kemejanya. Rambut hitam legamnya yang ditata rapi keatas membentuk sebuah ombak yang rapi serta memamerkan dahinya. Pria itu tampak sangat mempesona. Jas itu tampak sangat cocok dan pas karena bahunya yang lebar dan tubuhnya yang tegap.
Pria itu berlari-lari kecil menuju pintu sebelah kiri. Tangannya bergerak membukakan pintu mobil. Tak lupa tangan kanannya langsung terulur untuk membantu seseorang keluar dari sana kayaknya Tuan puteri. Ezar tersenyum hangat saat wanita itu meletakkan tangan diatas tangannya. Kemudian ia turun secara perlahan dan hati-hati.
Ezar memberikan kunci mobilnya pada orang yang bertugas untuk memarkirkan mobil.
"Parkir dengan benar."
"Baik Tuan."
Ezar meletakkan tangannya di pinggang ramping istrinya. Embun langsung menunduk karena tersipu. Entahlah, sejauh ini ia selalu berdebar merona hanya karena bersentuhan dengan suaminya.
"Kau sangat cantik dengan gaun ini." Bisik Ezar ditelinganya.
Embun tersenyum malu.
Ia pun menatap tubuhnya sendiri yang dibalut gaun panjang berwarna senada dengan warna jas Ezar. Gaun itu sangat pas ditubuhnya. Dan Ezar sendiri yang memilihkan gaun ini untuknya.
"Terimakasih. Aku juga suka gaunnya."
CUP
Embun tercengang saat Ezar mengecup pipinya. Pipinya langsung terasa panas.
"H-hei ini kan tempat umum." Ucap Embun terbata.
Ezar terkekeh.
"Entah kenapa semenjak hamil kau jadi seperti anak remaja jatuh cinta yang suka malu-malu."
Embun menyenggol pelan sikut Ezar.
"Sudahlah ayo masuk. Kita lihat si pengantin baru."
Ezar menuntun istrinya untuk memasuki ballroom.
Kesan pertama Embun begitu mereka masuk adalah kekaguman. Pesta pernikahan ini benar-benar pesta idamannya. Mewah namun tetap sederhana. Tak seperti pernikahannya yang sangat sangat mewah. Sebenarnya Embun tidak suka terlalu mewah tapi kalian tahu sendiri jika mama Ezar lah yang mengatur semuanya. Terutama Ezar yang menjunjung tinggi harga diri.
"Aku jadi ingin menikah lagi." Sahut Embun tanpa sadar.
Ezar langsung meliriknya.
"Apa? Kau mau menikah dengan siapa huh?" Ezar mendengus kecil.
"Tidak maksudku konsep pernikahan ini benar-benar idamanku. Aldo pintar juga rupanya."
"Ya, dia sudah ingin menikah sejak lama jadi dia punya waktu yang sangat cukup untuk mempersiapkan segalanya. Pernikahan ini adalah hal yang paling Aldo tunggu-tunggu jadi dia tidak mungkin asal-asalan memilih konsep." Jelas Ezar.
Embun pun mengangguk paham.
"Hei, apa kau tidak menyukai pesta pernikahan kita?" Tanya Ezar.
"Emm itu .. pesta pernikahan kita terlalu mewah Ezar. Aku kurang suka."
Ezar berdecak.
"Astaga. Kau sungguh wanita yang berbeda."
"Ayo kita beri ucapan selamat pada mereka." Ajak Embun.
Mereka berdua pun berjalan menuju panggung tempat dimana pengantin berada. Aldo tampak gagah dengan balutan tuxedo hitamnya. Hal serupa dengan wanita yang kini bersanding dengannya.
"Ezar!" Pekik Aldo.
"Akhirnya kau menikah. Selamat bung!"
Ezar bersalaman lalu berpelukan layaknya seorang saudara. Aldo pun melirik Embun.
"Embun."
"Selamat Aldo. Kau tampak luar biasa."
Mereka pun berjabat tangan. Aldo hendak memeluk Embun namun Ezar dengan cepat menahannya.
"Kau sudah punya istri." Desis Ezar.
Mereka bertiga pun tertawa.
Kemudian Embun melirik pengantin wanita.
"Selamat ya Grace. Kau sangat cantik. Aku iri sekali."
"Terimakasih Embun."
"Hei, kau kenapa?" Sahut Ezar.
Embun langsung melepaskan pelukannya. Kini mata mereka bertiga tertuju pada Aldo.
Aldo nyaris menangis dan matanya berkaca-kaca. Grace langsung memegangi lengan suaminya itu.
"Sayang kau kenapa?" Tanya Grace panik.
"Tidak apa-apa. Aku hanya .. terharu. Akhirnya aku menikah dan kalian tidak jadi bercerai."
"Yaampun astaga hahahah."
Ezar dan Embun pun tertawa menertawakan Aldo.
"Semua ini berkat bantuanmu. Thanks brother." Ezar menepuk bahu Aldo.
"Kami juga ingin memberi kabar baik." Lanjut Ezar.
Embun tersenyum sambil melirik suaminya. Kemudian tangan kekar Ezar terulur memegangi perut Embun. Aldo langsung ikut menatap tangan Ezar yang berada diperut Embun.
"Malaikat kecil ini juga datang bersama kami."
"J-jadi Embun.."
"Istriku sedang hamil dua Minggu."
~~
Embun bergegas melepas segala perhiasan yang ada ditubuhnya begitu sampai rumah. Ia juga menghapus riasan wajah dengan cepat. Rasanya tidak betah. Entah kenapa akhir-akhir ini Embun tidak suka memakai perhiasan termasuk berdandan. Bahkan sebenarnya ia juga tidak betah memakai gaun ini seharian. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia datang ke pernikahan Aldo hanya mengenakan celana dan kaus biasa kan. Mungkin itu akan dilakukannya ketika Embun sudah gila.
Ezar masuk ke kamarnya. Tatapan matanya langsung tertuju pada istrinya yang duduk dimeja rias. Embun tampak kesulitan melepas resleting belakang gaunnya. Ezar berjalan mendekat. Tangannya tanpa permisi mengambil alih pekerjaan Embun.
"Kenapa tidak minta bantuan hm?"
Embun langsung membeku.
Tangan Ezar menurunkan resleting dengan perlahan. Kemudian tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung mulus itu. Membuat Embun seolah terkena sengatan listrik. Sudah dibilang kan Embun jadi sensitif jika bersentuhan dengan Ezar.
Ezar memperhatikan reaksi istrinya melalui cermin. Dengan sengaja Ezar menyentuh dan mengusap punggung istrinya. Membelainya dengan penuh cinta.
Embun menggelinjang pelan.
"Ezar .. geli." Gumam Embun.
Ezar menulikan telinganya. Ia bergerak memeluk Embun dari belakang lalu mencium punggung itu lembut.
"Ezar."
"Aku mencintaimu, Embun. Sungguh."
Embun menahan nafasnya untuk beberap saat. Kemudian kepalanya tertunduk. Bibirnya tertarik untuk tersenyum kecil kemudian tangannya mengelus tangan Ezar yang ada diperutnya.
"Aku juga mencintaimu Ezar."
Akhirnya Embun dapat mengatakan kalimat itu dengan lancar sekarang setelah semenjak ia keguguran dan berniat meninggalkan Ezar. Awalnya Embun pikir Ezar benar-benar akan meninggalkannya demi Sarah. Tapi ternyata semua itu hanya tipuan belaka. Ezar menggunakan Sarah untuk balas dendam karena Ezar pikir istrinya itu benar-benar memilih masa lalunya. Dan ternyata Sarah juga sudah bertunangan di Amerika.
Akhirnya Embun maupun Ezar saling memaafkan dan mengikhlaskan calon anak mereka yang telah pergi. Meski awalnya semua terasa sulit untuk dilakukan.
"Maafkan aku."
Suara Ezar membuat Embun tersadar dari lamunannya.
"Untuk apa?"
"Untuk semua kesalahanku. Maaf jika aku menyakiti hatimu. Dan terimakasih."
Embun memaksa untuk melepaskan pelukan itu lalu berbalik badan. Embun meletakkan kedua tangannya di bahu Ezar. Entah kenapa suaminya itu semakin tampan dan membuatnya semakin jatuh cinta. Ezar menempelkan kening mereka.
"Mulai sekarang jangan pernah pergi dariku. Apapun keadaannya aku akan tetap memilihmu dan terus mencintaimu. Kita jaga dan besarkan bayi ini bersama-sama." Ujar Ezar dengan lembut.
Embun memejamkan matanya menikmati hembusan nafas dengan aroma mint itu diwajahnya. Kemudian kakinya berjinjit sedikit.
CUP
Embun mengecup bibir Ezar secepat kilat. Ezar pun terkekeh. Seperti biasa, Embun bersikap malu-malu.
Buru-buru Embun menyembunyikan wajahnya didada bidang pria itu. Tangan Ezar tak tinggal diam mengelus surai legam istrinya. Sesekali ia juga menciumi kepala istrinya dengan penuh kasih.
Embun memejamkan mata menikmati perlakuan suaminya itu.
"Teruslah jadi suamiku Ezar."
"I will."
.
TAMAT