
Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum. Setiap langkah yang ia lalui terselip perasaan bahagia didalamnya. Tangannya tak pernah melepaskan genggaman tangan Ezar. Mereka tengah menyusuri jalanan sekitar danau. Disini Embun bisa menghirup udara yang segar dengan bebas. Pemandangan kota yang begitu asri, sejuk, dan bersih membuat pikiran dan hatinya tenang.
Hanya saja udaranya sangat dingin disini. Secara kebetulan juga sedang musim dingin. Embun semakin merapatkan mantelnya saat angin berhembus lebih kencang.
"Kau kedinginan?" Tanya Ezar.
"Tidak."
"Bagaimana kalau kita berisitirahat dulu disana? Kau butuh minuman hangat." Ezar menunjuk sebuah cafe yang ada disebrang jalan sana.
"Tidak mau Ezar. Aku ingin jalan-jalan saja."
Ezar menghela nafas.
"Baiklah."
"Ezar bisa tolong fotokan aku di jembatan itu?"
Ezar mengangguk.
"Tentu."
Embun berlari kecil menuju jembatan. Walau sedikit ramai orang tapi Embun tetap ingin mengabadikan momen itu. Ezar mulai mengadahkan kameranya
"Aku ingin berfoto ditengah jembatannya."
Embun mulai berpose. Tidak banyak gaya, hanya tersenyum dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung mantelnya. Tapi gadis itu tetap terlihat manis. Ezar terpaku menatap hasil jepretannya. Istrinya itu memang sangat cantik dan manis. Sudah sewajarnya Ezar bersyukur. Kemudian Ezar kembali memotret Embun saat gadis itu sedang lengah menatap anak kecil yang melewati mereka. Tunggu. Ezar merasa seperti ada yang aneh.
Pria itu mendongak. Embun berlari kecil lalu merebut kamera ditangan Ezar.
"Kau ingin foto juga?" Tanya Embun sambil melihat hasil jepretan Ezar.
"Embun."
"Ya?"
"Kau kenal seseorang disini?" Tanya Ezar.
Kening Embun berkerut. Wajah Ezar terlihat datar.
"Tidak. Kenapa?"
Ezar menghela nafas lalu menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Ini pertama kalinya aku kesini. Mana mungkin aku kenal seseorang di negara ini Ezar."
Ezar mengangguk sambil menyugar rambutnya ke belakang.
"Kau benar." Gumam Ezar.
"Kau kenapa sih?"
Ezar segera menarik tangan Embun untuk menjauh dari jembatan itu.
"Kita makan siang."
Karena Embun ingin makan pizza jadilah mereka mampir ke restoran pizza untuk makan siang. Setelah memesan menu yang diinginkan Ezar pun pamit sebentar untuk ke toilet. Embun duduk sendirian di meja paling ujung. Mau makan direstoran mana pun Embun selalu menyukai tempat duduk paling ujung terutama dekat jendela.
Embun tersenyum kecil sambil melamun keluar kaca jendela. Baru setengah hari mereka berjalan\-jalan rasanya sudah sangat bahagia. Mereka akan disini selama seminggu. Embun membayangkan banyak hal yang akan mereka lakukan bersama. Namun kabarnya hari ini akan turun salju. Entahlah. Bukankah turunnya salju tidak bisa diprediksi dengan pasti?
Tapi Embun sudah mempunyai keinginan ingin menyatakan perasaannya saat salju turun.
"Melamunkan apa?" Suara bariton itu membuyarkan lamunan Embun.
"Tidak ada."
Ezar mengangguk. Tiba\-tiba mata Ezar menatap Embun dengan sendu. Tangannya pun tak tinggal diam. Ezar menggenggam tangan Embun dengan lembut. Jemarinya mengelus cincin yang melingkari jari manis Embun dengan pas.
Hati Embun berdebar. Pipinya terasa panas. Apakah Ezar merasakan debaran yang sama?
"Aku mencintaimu." Gumam Ezar.
Embun semakin gugup.
Aku juga, Ezar! Aku juga mencintaimu!. Teriak Embun dalam hati.
Tapi ia tidak ingin menyatakannya langsung disini. Embun ingin momen yang romantis.
"Selagi menunggu pizza kau ingin aku menceritakan sesuatu?" Tanya Ezar.
"Boleh. Silahkan bercerita."
Ezar tersenyum kecil.
"Saat pertama kali bertemu denganmu, aku tidak menyukaimu. Jangan salah paham. Kau memang menarik secara fisik tapi saat tahu betapa kasarnya dirimu saat berbicara, aku tidak menyukainya. Aku tidak suka gadis yang kasar dan tidak beretika saat berbicara." Ujar Ezar.
Embun berdehem.
"T\-tidak beretika katamu?" Tanya Embun tidak percaya.
"Aku menyukai gadis yang pendiam dan anggun. Itu saja cukup. Tapi siapa sangka jika nyatanya aku akan terpikat oleh pesonamu." Ezar terkekeh.
"Tidak ada yang bisa menghindari pesonaku, Ezar."
Embun juga ikut terkekeh.
"Ngomong\-ngomong, aku belum berterimakasih padamu ya?"
Kening Ezar berkerut.
"Terimakasih atas semuanya, Ezar. Kau selalu membantuku selama ini. Aku sangat sangat berterimakasih." Ujar Embun dengan tulus.
Ezar bisa melihat ketulusan dimata indah itu. Namun tetap saja ada yang harus ia pastikan. Sebagai lelaki Ezar juga butuh kepastian. Tak lama pizza pesanan mereka pun datang. Selagi masih hangat pasangan suami istri itu langsung melahapnya.
Tiba\-tiba suasana sekitar langsung ramai. Orang\-orang didalam restoran pun ikut heboh melihat keluar jendela restoran. Ezar dan Embun terkesima dengan apa yang mereka lihat. Salju benar\-benar turun. Senyum Ezar merekah.
"Salju pertama tahun ini." Sahut Ezar.
Embun terkejut dan langsung menatap suaminya.
"Benarkah?"
Ezar mengangguk.
Hati Embun bergemuruh. Ia menelan salivanya, gugup rasanya. Salju pertama sangat spesial bukan? Perlahan manik matanya menatap Ezar. Pria itu masih menikmati pemandangan diluar sana. Tampaknya Ezar juga bahagia bisa melihat salju pertama yang turun.
Embun tiba\-tiba menggenggam tangan Ezar. Pria itu pun menoleh.
"Ayo kita keluar!"
Tanpa basa\-basi Embun langsung menarik tangan Ezar keluar restoran dengan penuh semangat. Ezar hanya tersenyum saat tangannya ditarik begitu saja. Embun sangat tidak sabaran.
Dan ternyata Embun kembali membawanya ke jembatan yang tadi. Ezar cukup terkejut. Tidak disangka Embun membawanya kesini padahal jaraknya lumayan jauh dari restoran tadi.
"Embun, kalau ingin melihat salju kenapa harus jauh dari restoran?" Tanya Ezar bingung.
Embun langsung berhenti. Gadis itu menatap Ezar dengan datar.
"Maksudku .. kita masih bisa melihatnya didepan restoran."
Embun menghela nafas. Apakah dirinya terlalu bersemangat? Oh, tidak. Ini benar kok. Memang sudah seharusnya Embun bersemangat saat ingin menyatakan sesuatu yang selama ini ingin ia nyatakan. Momennya juga sangat pas. Embun mendongak menatap salju yang turun dari langit. Senyumnya terukir. Salju pertama. Konon katanya jika kau menyatakan perasaan saat salju pertama turun maka cintamu akan kekal abadi.
"Embun, kau baik\-baik saja? Wajahmu merah. Kau demam?" Tanya Ezar khawatir.
Pria itu khawatir karena wajah istrinya berubah merah. Embun juga bergerak gelisah. Ezar takut ada yang tidak beres pada istrinya itu. Apalagi ini pengalaman pertama Embun ke luar negeri dan menikmati salju untuk pertama kalinya. Ezar menyentuh wajah Embun.
Embun terkekeh lalu menurunkan tangan Ezar perlahan.
"Aku tidak apa\-apa Ezar. Sungguh."
"Lalu? Ada apa?"
Embun menarik nafas dalam. Hatinya terus berdebar. Rasanya sangat malu tapi Embun tidak bisa menunda waktu lagi.
"Aku .. "
Ah, tiba\-tiba Embun menjadi gugup. Perkataannya seolah tercekat di tenggorokan.
"Ada masalah? Katakan saja sayang dan tatap mataku." Sahut Ezar.
Memberanikan diri, Embun mencoba menatap mata Ezar. Namun fokusnya malah terbagi pada sosok pria yang berdiri tak jauh dibelakang Ezar. Pria itu seolah melihat kearahnya sejak tadi. Saat Embun menatapnya, pria itu langsung berjalan membelakanginya.
Embun tertegun. Ia kenal dengan gestur tubuh dan cara berjalan itu. Hatinya mencelus.
"Sayang." Sahut Ezar.
Buru\-buru Embun melepaskan pegangan tangannya dengan Ezar dan berjalan melalui Ezar begitu saja tanpa kata. Ezar tentunya bingung bukan main.
Embun terus berjalan lurus mengikuti nalurinya. Ia harus memastikan sesuatu.
"Embun kau mau kemana?"
Embun tidak menghiraukan panggilan Ezar. Kakinya terus melangkah, melewati kerumunan orang yang tengah menikmati salju. Jantungnya berpacu cepat. Ia kehilangan arah. Entah kemana perginya orang tadi. Embun berhenti dan berdecak. Suasana sekitar semakin ramai sehingga semakin sulit menemukannya.
Tiba\-tiba ada yang menarik tangan Embun.
Embun tersentak.
"Kau kenapa?" Tanya Ezar sedikit membentak.
Embun menghela nafas.
"Kau mengabaikan teriakanku. Kau mau pergi kemana?"
Sontak Embun langsung melepaskan tangan Ezar. Pikirannya mendadak kacau. Embun sendiri tidak tahu mau pergi kemana. Kakinya tiba\-tiba bergerak tak tentu arah hanya karena melihat hal yang tidak diduga.
Ezar merengkuh Embun ke dalam pelukan. Sungguh, dalam hati pria itu panik bukan main. Ia takut Embun hilang dari jarak pandangnya.
"Aku cemas. Jangan pergi dariku Embun." Ujar Ezar dengan pelan.
Embun hanya bisa terdiam.
"Sekarang kita kembali ke hotel ya? Mungkin kau butuh istirahat."
Ezar menarik lembut tangan Embun dan berjalan berbalik arah. Diam\-diam mata tajamnya menatap ke jalan yang ingin Embun tuju tadi. Tanpa Embun sadari Ezar menegaskan rahangnya dan menggeram.
Malam pun tiba. Tidak terasa matahari terbenam dengan cepat. Padahal yang Embun lakukan sedari siang hanyalah duduk sambil menatap kosong ke luar balkon hotel. Embun berubah drastis sejak kembali dari tempat itu. Embun bahkan tidak mau berbicara dengan Ezar barang sepatah kata pun.
Embun menghela nafas. Apa yang tadi siang ia lihat benar-benar nyata. Embun kenal dan hafal bagaimana cara pria itu berjalan. Embun juga masih hafal siluet tubuhnya. Tidak salah lagi. Itu pasti memang benar pria itu. Pria yang sudah bertahun-tahun Embun nantikan pertemuan dengannya.
Bagaimana ini?
Kenapa disaat Embun ingin menyatakan perasaannya, ia malah melihat pria itu?
Embun terus bernafas dengan gelisah. Malam pun semakin larut. Embun melirik pintu. Ezar belum kembali sejak sore. Kemana pria itu pergi? Ezar juga tidak mengatakan apa-apa.
"Pria itu masih bisa bekerja disaat bulan madu." Gumam Embun asal.
Embun bangkir dari duduknya lalu berjalan menuju ranjang. Ia kembali melirik pintu saat mendengar seseorang akan membukanya.
CEKLEK
Mata Embun bertemu dengan mata Ezar yang menunjukkan rasa lelah. Perlahan Embun berjalan menghampiri suaminya tanpa melepaskan tatapan matanya.
"Kau .. darimana saja?" Tanya Embun pelan.
Ezar tidak menjawab. Tangannya meraih dagu Embun dengan pelan. Embun tidak bisa mengartikan tatapan mata itu. Embun hanya mampu tenggelam dalam pesonanya. Perlahan Ezar memajukan wajahnya dan mulai mencium Embun.
Kening Embun berkerut. Ciuman Ezar terasa berbeda. Tidak ada kelembutan dan rasa manis didalamnya. Yang ada hanyalah kasar, sangat menuntut, dan penuh nafsu sampai Embun kewalahan membalasnya.
"Ez .. zar!"
Tubuh Ezar terus mendorong Embun menuju ranjang.
"Akh!" Embun memekik saat Ezar menggigit.
Ezar benar-benar bersikap kasar. Hingga tanpa sadar pria itu telah mendorong Embun terjatuh diranjang. Ezar melepaskan ciumannya lalu menatap Embun dengan tatapan gelap.
"Ezar." Lirih Embun.
Gadis itu sedikit ketakutan. Ezar tidak terlihat seperti biasanya.
Terburu-buru Ezar melepaskan jaket dan kemejanya. Mata Embun melebar. Setelah itu Ezar menindih tubuh istrinya dengan paksa.
Ezar tersenyum seraya mengelus wajah cantik itu.
"Kau milikku malam ini. Tidak ada penolakan. Semua perintah aku yang berikan."