Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 41



Ezar pun kembali setelah menyelesaikan urusannya. Begitu kembali pria itu mendapati suasana horor diantara Sarah dan juga Embun. Terutama Embun. Tapi Ezar berusaha tidak mempedulikan itu.


Tak lama Carrel pun datang membawa nampan berisi pesanan mereka bertiga.


"Sesuai pesanan. Menu matcha khusus untukmu."


Carrel meletakkan macam-macam kue dan minuman dengan rasa matcha dihadapan Embun.


Carrel menunggu reaksi menjijikan dari Embun. Tapi nyatanya ia salah. Embun tampak sangat berselera dan begitu mendamba kue dihadapannya.


"Kau yakin bisa memakannya?" Tanya Carrel khawatir.


Embun mengangguk.


"Sepertinya sangat enak."


Langsung saja Embun menyantap beberapa potong kue dengan rasa matcha itu. Embun melahapnya dengan penuh semangat seolah ia sedang memakan makanan kesukaannya. Carrel hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan Embun yang sangat aneh hari ini.


Sementara Ezar berusaha bersikap tenang meski dalam hatinya ia khawatir dengan Embun. Tapi tampaknya ia tidak perlu khawatir karena Embun melahap semuanya sampai habis.


Dari meja kasir Carrel masih setia memperhatikan Embun sambil memikirkan perkataan Ezar saat mereka di dapur tadi.


~~


"Apa maksudmu Ezar?" Tanya Carrel kebingungan.


"Tadinya aku kemari untuk menjelaskan dan berterus terang tentang semuanya padamu. Tapi ternyata dia ada disini."


"Kau ingin mengklarifikasi padaku bahwa sebenarnya kau masih mencintai cinta pertamamu itu? Begitu?" Tanya Carrel dengan kesal.


Ezar menghela nafas.


"Tidak ada pilihan lain untukku."


"Jadi?"


"Kurasa aku bisa kembali bersama dengan Sarah lalu Embun bisa kembali pada Rayhan."


Carrel tidak tahu lagi harus berkata apa. Seminggu gadis itu menampung Embun yang ditinggal Ezar lalu sekarang Ezar mengatakan kalimat itu secara gamblang padanya.


Carrel benar-benar tidak mengerti.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikir kalian berdua Ezar. Tapi kau keterlaluan."


"Apanya yang keterlaluan? Jelas aku mendengarnya sendiri bahwa Embun masih menyayangi dan menyukai Rayhan. Kau pikir aku tidak lelah menunggu kepastian yang tak kunjung datang? Lalu sekarang aku bahkan masih tetap tidak bisa menggantikan masa lalunya itu." Tukas Ezar terlihat pasrah.


"Tapi apakah semudah itu kau berselingkuh dan berniat mengakhiri semua ini? Astaga! Kalian baru saja pergi bulan madu beberapa waktu lalu."


"Tidak ada harapan lagi. Aku sudah sangat kecewa. Embun bahkan bisa semudah itu kembali pada masa lalunya tanpa memikirkan suaminya."


Carrel benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikir Ezar. Kenapa pria itu bisa begitu mudah mengatakan lalu berniat mengakhiri apa yang sudah terjadi sejauh ini?


Masalahnya pernikahan tidaklah semudah itu.


"Ezar, aku mengerti kalian menikah begitu tiba-tiba tapi bukan berarti semua bisa diakhiri secara tiba-tiba juga!" Pekik Carrel dengan kesal.


Ezar menghela nafas.


Tangan kekarnya menyentuh bahu sahabat istrinya itu.


"Aku sedang berusaha. Aku lelah terluka. Tolong jaga istriku baik-baik selagi aku membereskan ini semua."


~~


Carrel jadi kesal sendiri.


Membereskan apanya? Lihatlah pria yang sedang suap suapan kue dengan mantan kekasihnya itu. Selama beberapa hari Embun tinggal dirumahnya dan bercerita tentang segalanya, Carrel belum mendengar apa-apa tentang Rayhan dari mulut Embun sendiri. Yang Embun ceritakan sejauh ini hanyalah masalah kerjaan dan juga rumah tangganya.


Embun yang belum cerita atau memang pria itu hanya mengarang cerita saja.


Entah Carrel harus bagaimana. Carrel tidak ingin melihat Embun tertekan terus menerus.


"Carrel aku mau tambah lagi!" Sahut Embun.


Carrel melotot.


"Apa-apaan anak itu. Dia benar-benar bisa menelannya." Gumam Carrel.


"Cepat bawakan!"


"Iya iya. Dasar aneh."


~~


"Ah, kenyang sekali."


Embun mengusap-usap perutnya. Ia sungguh makan banyak menu matcha hari ini. Embun merasa menyesal baru menikmati kue rasa matcha itu sekarang. Kenapa tidak dari dulu saja. Ternyata rasanya sangat enak melebihi rasa coklat kesukaannya.


"Ekhem."


Ezar berdehem.


Embun melirik Ezar tak suka.


"Ada yang mau kubicarakan denganmu."


"Bicara saja. Telingaku masih berfungsi dengan baik jadi tidak perlu basa-basi segala." Ketus Embun.


Ezar dan Sarah saling tatap.


"Aku sudah memutuskannya."


"Memutuskan apa?" Tanya Embun dengan tidak sabaran.


"Memutuskan kalau aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi." Kata Ezar dalam sekali tarikan nafas.


Embun langsung membeku ditempatnya. Matanya lurus menatap Ezar. Mencari suatu kebohongan disana namun tidak ada. Ezar mengatakan kalimat itu dengan penuh keyakinan.


"Kenapa?" Lirih Embun.


"Lalu kalian akan seterusnya tinggal bersama? Begitu?" Lanjut Embun.


Sarah pun melirik Ezar. Wanita itu tidak tahu harus berkata apa. Biar Ezar yang memimpin disini.


"Kau meninggalkanku?" Embun kembali bersuara.


Ezar mengusap wajahnya gusar.


"Dengar Embun, kupikir ini yang terbaik agar kita tidak perlu saling menyakiti lagi."


"Saling menyakiti katamu? Siapa yang menyakiti siapa?" Desis Embun.


"Kau tidak-"


"Aku muak mendengarnya!"


Setelah menyela perkataan Ezar, Embun langsung berlari ke luar cafe. Ia butuh udara segar untuk mengisi paru-parunya. Sejak duduk diantara Ezar dan Sarah ia tidak bisa bernafas dengan lega.


Rupanya Ezar menyusul. Ezar menarik pergelangan tangan istrinya sehingga membuat wanita itu berbalik.


"Bisakah kau bicara dengan tenang? Aku ingin membicarakannya baik-baik denganmu." Desis Ezar.


Mata Embun sudah berkaca-kaca. Ia tidak tahu lagi bagaimana perasaannya saat ini. Terlebih saat mata itu menatapnya dengan tajam dan menusuk. Kemana tatapan teduh itu? Apakah sekarang tatapan teduh itu hanya ditujukan untuk Sarah sang cinta pertama Ezar?


"Aku lelah denganmu Embun." Gumam Ezar.


"Aku lelah menunggu ketidakpastian darimu. Aku mencintaimu dan kurasa itu tidak cukup untuk menggeser posisi Rayhan dihatimu. Kau tahu? Sejak pertama kali kita bertemu aku bahkan sudah menyukaimu tanpa syarat. Tapi rasa sakit itu datang lalu memudarkan perasaanku padamu. Maaf." Jelas Ezar.


Embun menunduk. Ia menatap tangan mereka yang masih saling berpegangan.


"Tidak perlu meminta maaf."


"Aku tidak akan menghalangimu lagi. Kembalilah pada masa lalu yang selama ini kau tunggu itu. Aku sudah ikhlas."


Embun menghempaskan tangan Ezar.


Kepalanya langsung pusing. Kali ini rada pusingnya lebih kuat dari sebelumnya.


"Sejak awal seharusnya pernikahan ini tidak pernah terjadi." Gumam Embun.


Namun Ezar masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Mari kembali ke tempat kita masing-masing."


"Kau benar-benar meninggalkanku?" Tanya Embun memastikan.


Dan Ezar mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Aku akan menemuimu lagi untuk membereskan semuanya setelah proyek kali ini selesai."


~~


Embun bergerak gelisah dalam tidurnya. Sebenarnya ia tidak bisa tidur. Keringat dingin mengucur deras disekujur tubuhnya. Ia kepikiran perkataan Ezar tadi siang. Apakah maksud dari membereskan semuanya adalah menceraikan Embun setelah proyeknya selesai? Kalau begitu Embun berharap semoga proyek Ezar itu tidak pernah selesai.


Namun saat ini bukan itu yang benar-benar menggangu Embun di malam hari begini. Embun merasa perutnya terasa sakit dan bergejolak. Sial. Apakah ini karena makan kue matcha terlalu banyak? Mungkin karena tidak pernah mencerna segala yang berbau matcha jadi pencernaannya belum terbiasa.


Embun mencoba mendudukkan dirinya. Carrel juga ikut terbangun. Carrel langsung menyalakan lampu kamar.


"Kau ini kenapa? Bagaimana aku bisa tidur jika ranjangnya bergerak terus?" Omel Carrel.


"Maaf Carrel. Kau pasti kelelahan hari ini. Tapi aku-"


Embun meremas perutnya. Sial. Rasanya sakit dan tiba-tiba mual. Buru-buru Embun berlari ke kamar mandi. Embun langsung memuntahkan isi perutnya begitu tiba di kamar mandi.


Embun mendengus. Ia baru saja memuntahkan semua makanan yang ia makan hari ini. Lantas apakah semua yang ia makan hari ini sia-sia? Rasa mual itu datang kembali dan Embun langsung memuntahkanya detik itu juga. Carrel datang lalu membantu memijat leher Embun.


"Sudah kubilang kau bahkan tidak bisa menelan rasa matcha ke dalam tenggorokanmu. Lihat kan tubuhmu langsung mengeluarkannya lagi." Carrel berdecak.


Setelah dirasa tidak ingin muntah lagi Embun pun membasuh wajahnya.


"Sial. Padahal rasanya enak sekali dan aku benar-benar memakannya dengan baik."


Carrel menuntut Embun untuk kembali ke kamar.


"Mau aku ambilkan air hangat?" Tawar Carrel.


Embun menggeleng.


"Tidak usah."


"Baiklah."


"Carrel, ayo pesan makanan."


Carrel yang hendak mematikan lampu pun menoleh. Kening Carrel mengerut.


"Perutmu baik-baik saja? Lebih baik kau minum teh hangat dulu untuk malam ini."


"Tidak. Aku lapar. Ayo pesan pizza." Kata Embun dengan sumringah diwajahnya.


"Tapi-"


"Aku sudah sangat lapar. Ayolah Carrel. Kau tidak mungkin membiarkan sahabatmu ini kelaparan tengah malam bukan?"


Carrel bingung. Sebenarnya Carrel juga mengantuk dan lelah. Tapi apa boleh buat. Ia tidak mungkin tega membiarkan Embun kelaparan semalaman. Baiklah, Carrel hanya akan menemani Embun makan lalu tidur. Karena Carrel benar-benar tidak ingin makan dan hanya ingin tidur.


~~


Hoekk hoekkk


Carrel terbangun dipagi hari saat mendengar suara aneh.


"Astaga jam berapa ini?"


Carrel melirik jam sekilas. Masih jam tujuh pagi. Matanya melirik ke kasur disampingnya. Embun tidak ada. Dan suara-suara aneh itu terus terdengar dari arah kamar mandinya. Buru-buru Carrel bangun dan mengecek kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka lebar karena Embun tidak sempat menutupnya. Wanita itu tengah berjongkok didepan kloset sambil memegangi kepalanya.


"Demi tuhan kejutan apa lagi ini Embun!"


Embun menatap Carrel dengan wajah pucat.


"Carrel .. aku memuntahkan pizza yang semalam." Lirih Embun dengan suara bergetar.


"Apa? Astaga. Kau ini kenapa lagi?"


"Aku pusing Carrel. Hiks."


Embun mulai terisak dengan lemah. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Kepalanya terasa sangat pusing dan perutnya terus-terusan bergejolak. Embun sudah memuntahkan semua isi perutnya namun rasa mual masih terus terasa.


Carrel pun khawatir dengan kondisi Embun.


"Sepertinya ini gara-gara kau memakan yang seharusnya tidak kau makan."


"Bagaimana ini Carrel."


"Sudah jangan menangis. Kita pergi ke rumah sakit."


~~


Embun terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Dokter baru saja selesai memeriksa kondisinya. Terutama perutnya. Sesaat Embun merasa berdosa karena telah memakan kue matcha yang lezat itu. Carrel terus mendampinginya selama pemeriksaan.


"Carrel .. bagaimana jika aku tidak bisa makan matcha lagi?" Tanya Embun dengan lemas.


"Ck. Sudahlah tidak usah pikirkan matcha dulu. Kita harus tahu apa penyebabnya."


Carrel menggenggam tangan Embun.


"Jadi apa yang terjadi pada perut temanku ini dok? Apa dia keracunan?" Tanya Carrel yang mulai penasaran saat melihat raut wajah dokter itu.


"Dia tidak keracunan. Pencernaannya normal. Tidak ada yang salah dari makanan." Sahut dokter itu menjelaskan.


Carrel dan Embun pun saling pandang.


"Lalu? Jika tidak ada yang salah kenapa dia bisa muntah-muntah begitu?"


"Nafsu makan meningkat lalu memuntahkan kembali semua makanan yang masuk. Itu adalah gejala umum dari kehamilan."