Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
22. Ingin Mengerti



Ezar terbangun karena mendengar suara aneh. Matanya mengerjap pelan dan melihat suasana kamar yang temaram. Ezar juga melihat sosok istrinya yang terduduk sambil duduk meringkuk disebelahnya. Ezar pun bangun dan melihat Embun yang bergetar. Seketika Ezar baru menyadari jika ini masih tengah malam.


"Embun." Panggilnya pelan.


Embun menoleh setelah mengusap sesuatu di wajahnya. Dalam penerangan yang remang-remang Ezar bisa melihat jejak air mata di wajah Embun.


"Jadi itu suara mu? Ada apa?"


Embun hanya diam menunduk kemudian menggeleng.


"Hanya mimpi buruk." Lirih Embun.


Walau sebenarnya bukan itu yang membuat Embun terbangun lalu menangis. Tiba-tiba saja Embun merasa malu dan tidak enak karena sudah membuat Ezar terbangun. Embun takut mengganggu Ezar. Padahal sebisa mungkin ia sudah menahan isak tangisnya.


"Maaf membangunkanmu." Lirih Embun sambil menunduk.


"Tidak apa. Aku haus."


Ezar mengusap kepala Embun sebentar lalu turun dari ranjang. Ezar sempat meraih kaosnya di sofa lalu memakainya. Embun memperhatikan suaminya yang berjalan menuju pintu. Melihat punggung kekar itu membuat hatinya kembali bergetar. Setelah Ezar menghilang dari balik pintu barulah Embun berniat menyusul suaminya. Mungkin Ezar pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Diam-diam Embun terus memperhatikan punggung Ezar dari belakang dengan ragu. Embun merasa gugup. Ezar pun sepertinya belum menyadari jika Embun mengikuti dari belakang. Akhirnya Embun melangkah maju dan mengulurkan tangannya dengan ragu. Embun memeluk Ezar dari belakang dengan perlahan.


Ezar tersentak dan langsung berbalik badan.


"E-Embun."


"Maaf. Maafkan aku." Lirih Embun.


"Ada apa denganmu?"


Ezar melihat Embun yang terus menunduk seperti orang sedih. Lantas Ezar menyentuh kedua bahu istrinya.


"Hei."


Embun mendongak. Matanya berkaca-kaca menatap Ezar dengan sorot sendu. Bibir Embun terus bergetar. Ezar semakin bingung apa yang salah. Embun terlihat benar-benar sedih.


"B-Bisakah kau memelukku? Sebenarnya aku memimpikan orang tuaku." Lirih Embun nyaris berbisik.


Setelah itu Embun kembali menunduk. Ezar pun terdiam. Embun tidak yakin Ezar mau mengabulkan permintaannya meskipun ia hanya minta sebuah pelukan. Malah Embun takut Ezar akan marah-marah seperti waktu itu. Saat ini Embun hanya membutuhkan pelukan hangat yang menangkan. Rasanya ia selalu kesulitan disaat sedang rindu orang tua. Semoga saja Ezar memahami hal itu.


"Baiklah tapi ini masih jam tiga pagi." Sahut Ezar.


"K-Kenapa?"


Ezar menghela nafas melihat Embun yang mengerjap perlahan dengan tatapan memohon. Sebenarnya Ezar ingin langsung pergi tidur bahkan jika Embun benar-benar bermimpi buruk sekalipun. Kalian tahu kan kalau Ezar tidak suka waktu tidurnya diganggu. Tapi karena merasa tidak tega Ezar pun mengangkat tubuh Embun dan mendudukkannya di atas meja makan.


Embun nyaris memekik karena terkejut dengan pergerakkan yang tiba-tiba. Tangannya berpegangan pada bahu Ezar. Mendadak Embun merasa canggung karena posisi mereka saat ini. Ezar terus menatap matanya.


"Aku juga penasaran bagaimana orang tuamu meninggal. Waktu itu kau hanya mengajakku ke makam mereka tanpa bercerita apa-apa."


Embun mengangguk kecil.


"Aku baru saja memimpikan mereka. Aku bermimpi jika mereka masih hidup dan aku menjadi perancang busana yang sukses. Lalu orang tua ku sangat bangga melihatku."


Mata Embun mulai kembali berkaca-kaca.


"Kau tahu? Impianku adalah menjadi perancang busana terkenal. Aku melakukannya karena ingin membuat orang tuaku bangga. Tapi di hari aku mengikuti lomba merancang busana .. orang tua ku meninggal." Embun mulai terisak.


Ezar masih diam mendengarkan. Ezar bingung harus bagaimana untuk menghibur Embun. Menghibur? Ezar tidak pernah menghibur siapapun sebelumnya. Hidupnya benar-benar hanya tentang pekerjaan. Karena mengingat permintaan Embun tadi Ezar pun mulai menarik bahu Embun dan memeluknya dengan ragu. Tapi ternyata gadis itu langsung sigap membalas pelukannya beriringan dengan isak tangis yang semakin kencang.


Dengan sabar Ezar menepuk-nepuk pelan punggung istrinya berusaha menenangkan. Dan Embun merasa sangat nyaman berada dalam pelukan hangat itu. Dirinya jadi bisa sedikit lebih tenang.


"Sejak saat itu aku tidak ingin menjahit dan merancang lagi karena takut sedih mengingat orang tuaku. Tapi semenjak menikah denganmu, entah kenapa semangatku datang lagi, Ezar."


Embun melepaskan pelukannya lalu menatap Ezar. Ibu jari tangan Ezar bergerak mengusap sisa air mata di wajah Embun.


"Kenapa?" Tanya Ezar dengan tenang.


"Aku ingin sukses sepertimu. Aku ingin membuatmu bangga."


Ezar mengelus rambut Embun dengan lembut. Matanya tetap menatap Embun dengan hangat.


"Menjadi sukses tidak selalu menyenangkan, Embun. Ada banyak rintangan dan musuh yang harus kau hadapi diluar sana."


"Kalau begitu bisakah kau membantuku menghadapi semua rintangan itu? Aku benar-benar ingin membuatmu bangga " pinta Embun dengan nada memohon.


Kali ini ia benar-benar serius ingin melakukan impiannya yang sempat tertunda. Embun ingin Ezar melihatnya sebagai seorang wanita hebat. Apalagi semenjak melihat orang-orang seperti apa yang berada disekeliling Ezar membuatnya semakin gigih untuk menjadi orang yang hebat dan bisa dipandang.


Sementara Ezar sedang bergelut dengan pikirannya selama beberapa saat. Sejujurnya Ezar tidak ingin Embun melakukan apa-apa. Ia hanya ingin Embun fokus pada dirinya dan belajar mencintainya. Tetapi Ezar jadi ingat apa yang harus dilakukannya saat ini. Ezar harus fokus pada proyeknya. Dia sudah bertekad untuk tidak mencintai Embun setidaknya sampai proyek perusahannya selesai. Sepertinya membiarkan Embun sibuk dengan hal lain juga tidak ada salahnya. Dengan begini Ezar jadi bisa semakin fokus pada pekerjaannya.


"Baiklah. Aku akan mendaftarkanmu kursus menjahit. Dengan begitu kau tidak perlu sedih lagi kan?"


Embun tersenyum.


"Iya."


Ezar langsung tertegun melihat senyuman manis itu. Tangannya pun berpindah, mengelus wajah Embun.


"Jadi, boleh kan aku mencium mu?


...__ooOoo__...


Embun berjalan mengendap-endap mendekati Arsen yang sedang duduk di kursi dekat jendela. Cafe sedang sepi jadi semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing selagi mereka ada waktu. Sejak tadi Arsen duduk di meja paling pojok dekat jendela sambil sesekali diam menatap ke luar. Embun penasaran kira-kira apa yang dilakukan Arsen dengan pensil dan bukunya. Karena itu sekarang diam-diam Embun ingin mengintip gambaran Arsen.


"Wah, bagus sekali." Seru Embun tanpa sadar.


Arsen yang terkejut langsung menutup bukunya.


"E-Embun."


"Ups, aku mengejutkanmu ya."


Arsen mengangguk malu-malu. Embun tersenyum.


"Habis dari tadi kau terlihat asik sekali. Boleh aku lihat gambaranmu tadi?"


Arsen pun menyodorkan buku gambarnya. Embun langsung melihat ke halaman gambaran tadi. Rupanya Arsen sedang menggambar sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan di tengah kota. Gambaran Arsen terlihat hidup.


"Aku suka seni seperti ini. Kau memang berbakat." Gumam Embun sambil terus berdecak kagum.


Tiba-tiba Embun terdiam seperti memikirkan sesuatu. Lalu Embun duduk dihadapan Arsen.


"Apa kau bisa menggambar rancangan pakaian juga?" Tanya Embun dengan antusias.


Arsen mengusap tengkuknya dengan canggung.


"Aku .. tidak yakin. Memangnya ada apa?"


"Aku ingin menjadi perancang busana tapi aku tidak begitu pandai menggambar. Apa kau mau bekerjasama denganku?"


...__ooOoo__...


Carrel menghela nafas.


"Hahh.. kenapa hari ini sepi pelanggan? Apa mereka sudah bosan makan di cafe ini?" Gumam Carrel sambil memandang ke pintu cafe.


Memang benar hari ini pelanggan yang datang lebih sedikit dari biasanya. Apalagi ini mendekati jam makan siang tapi sepertinya orang-orang itu tidak tertarik untuk makan di cafe milik Carrel. Hanya ada beberapa pelanggan saja yang datang.


"Bersabarlah Carrel. Membangun sebuah usaha memang tidak selamanya berada diatas. Kita sudah terbiasa dengan sepi atau ramainya pelanggan." Sahut Tio.


Carrel mengerucutkan bibirnya sambil melirik Tio.


"Tapi akhir-akhir ini pendapatan ku meningkat."


"Tentu, karena akhir-akhir ini kau sering membeli barang baru." Ujar Tio sambil mencibir.


Carrel mengangguk dengan lemas.


"Benar sekali."


Kemudian Carrel menatap dua orang yang tampak asik sekali berbincang di meja paling pojok. Semakin dilihat Carrel semakin yakin kalau Arsen benar-benar mempunyai perasaan khusus pada Embun. Arsen terlihat nyaman jika berbicara dengan Embun. Tapi sayangnya Embun sudah menikah. Carrel jadi merasa kasihan pada Arsen yang mungkin harus memendam perasaan suka itu.


"Melamunkan aku?"


Carrel terperanjat saat suara itu mengejutkannya. Carrel langsung membuka mulutnya.


"A-Aldo?"


Aldo tersenyum.


"Hai, Carrel. Kenapa melamun? Melamunkan aku ya?" Aldo terkekeh.


Seketika Carrel jadi salah tingkah.


"B-Bukan hehe. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?"


"Bosmu?"


Carrel pun melirik pria yang berdiri di belakang Aldo. Ah, Carrel tidak menyadari kehadiran Ezar. Tapi Carrel sedikit heran dengan tatapan Ezar yang terfokus pada satu titik. Dengan cepat Carrel langsung menyadari kemana arah pandang Ezar itu. Carrel menghela nafas. Embun bahkan tidak tahu jika suaminya datang. Gadis itu malah sibuk bersama Arsen.


"Silahkan duduk saja dulu. Aku akan memanggil Embun."


"Emm baiklah. Aku ingin menu yang seperti biasa." Aldo mengedipkan sebelah matanya.


Carrel langsung berdebar dan tersenyum malu.


"Iya Aldo."


Sementara Ezar masih mengamati interaksi antara istrinya dengan pria lain. Ezar pun menghela nafas. Embun terlihat asik sekali mengobrol dengan pria itu. Entah apa yang mereka obrol kan tapi Embun tidak pernah seceria itu saat sedang bersamanya. Inilah kenapa Ezar memiliki dugaan jika Embun bisa saja berselingkuh dengan pria lain apalagi Rian. Pada intinya Ezar tidak mempercayai istrinya sendiri.


"Oh, Ezar?"


Embun baru menyadari jika suaminya ada disini. Embun pun langsung berjalan menghampiri Ezar dan Aldo. Tatapan Ezar semakin menajam saat istrinya itu mulai mendekat.


"Hai Embun." Sapa Aldo.


Aldo memang orang yang ramah.


"Kalian ingin makan siang disini?" Tanya Embun.


"Iya. Bagaimana jika kau yang melayani pesanan kami? Suamimu mungkin ingin dimanja oleh istrinya." Ujar Aldo dengan genit.


Embun tertawa.


"Ya sudah silahkan duduk."


Kedua pria itu pun memilih tempat duduk mereka selagi menunggu Embun datang membawakan menu. Sebenarnya Aldo sudah tidak butuh membaca menu lagi, dia hanya perlu memilih menu favoritnya. Carrel bahkan sudah hafal. Dari tempat duduknya Ezar tetap memperhatikan gerak-gerik Embun.


"Sepertinya lelaki itu dekat dengan istrimu." Sahut Aldo sedikit pelan.


Ezar hanya diam.


"Waktu aku kesini tanpa mu mereka sering mengobrol berdua. Dan sepertinya lelaki itu menyukai istrimu, Ezar." Bisik Aldo.


"Aku tidak peduli." Jawab Ezar dengan dingin.


"Hah dasar. Walau kau menikah terpaksa pun tetap harus ada akhir yang bahagia. Ayolah bung jangan datar seperti itu saja. Kau berhak cemburu." Ujar Aldo dengan gemas.


"Aku tidak cemburu. Tidak usah mengatur kehidupanku, Aldo."


"Baiklah baiklah."


Aldo menghela nafas. Memang sulit membujuk Ezar untuk melakukan sesuatu. Tak lama Arsen datang membawakan menu dan minum yang memang sengaja dipesankan oleh Embun untuk kedua pria itu. Ezar mengamati Arsen.


"Terimakasih. Aku pesan yang seperti biasa. Carrel tahu apa itu." Sahut Aldo.


Arsen hanya mengangguk kemudian melirik Ezar.


"Mau pesan apa?" Tanya Arsen dengan datar.


"Seharusnya istriku yang kemari."


"Maaf tapi Embun harus istirahat makan siang. Dia belum makan apapun sejak pagi." Balas Arsen dengan sopan.


Walau nada bicaranya sopan tetap saja terdengar menyebalkan untuk Ezar. Aldo pun langsung melirik Ezar. Kenapa bisa pria lain lebih tahu tentang Embun dibandingkan suaminya sendiri? Dan Ezar baru ingat kalau tadi pagi Embun hanya menyiapkan sarapan untuknya tapi tidak ikut sarapan bersama. Ezar tidak tahu kalau ternyata Embun malah tidak sarapan sama sekali. Biasanya Embun sarapan setelah Ezar pergi ke kantor.


"Kalau begitu biarkan dia makan siang bersamaku disini." Tukas Ezar.


Arsen hanya mengangguk sebentar lalu melenggang pergi.


"Dia orang yang sangat singkat dalam berbicara. Bahkan ada orang yang lebih dingin darimu, Ezar." Gumam Aldo.


Diam-diam Aldo mengamati raut wajah Ezar. Sepertinya Ezar merasa sedikit marah melihat kedekatan Embun dengan Arsen. Awalnya Aldo merasa jika kedekatan Embun dengan Arsen dapat membuat Ezar dan Embun semakin sulit untuk saling jatuh cinta satu sama lain. Tapi sepertinya melihat Ezar cemburu seperti ini malah lebih mengasikkan. Aldo jadi bisa sedikit lebih tenang melihat raut wajah Ezar yang begitu kesal mungkin karena cemburu.


Dan mungkin juga dengan membuat Embun berinteraksi lebih bersama pria lain dapat menyadarkan perasaan Ezar.


"Kata Arsen kau memanggilku." Sahut Embun.


Tanpa berkata Ezar segera menarik tangan Embun untuk duduk disebelahnya. Embun mengerjap.


"Kalian ingin mengajakku makan siang bersama?" Tanya Embun.


"Ya, seperti begitu. Kalau begitu bagaimana jika bosmu juga ikut makan siang bersama kami." Sahut Aldo sambil melirik Carrel.


"Maksudmu Carrel?"


Aldo tersenyum sambil mengangguk. Mata Embun tiba-tiba memicing.


"Sebenarnya ada apa diantara kalian berdua? Kenapa kalian bisa terlihat akrab sekali?" Tanya Embun dengan penuh kecurigaan.


Aldo tertawa.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya suka makan disini dan Carrel selalu memperlakukan ku dengan baik."


Embun mendengus.


"Berhati-hatilah. Carrel sudah punya kekasih dan kekasihnya itu sangat pencemburu."


"Oh tenang saja nona, aku juga punya kekasih. Bahkan mungkin tahun ini aku akan menikahinya." Aldo tersenyum lebar sampai matanya berubah menjadi sipit.


Embun langsung melirik Ezar dengan tatapan penuh tanya. Ezar pun mengangguk.


"Baguslah Aldo, kau harus segera menikah agar tidak menjadi orang ketiga seperti ini diantara kami." Tukas Embun dengan bangga.


Aldo tercengang kemudian mendengus geli.


"Itu benar." Ujar Ezar menimpali.


Aldo kembali berdecak.


"Kalian suami istri sama saja."


...__ooOoo__...


Setelah makan siang bersama Ezar dan Aldo pun harus segera kembali ke kantor. Aldo dan Carrel pun terlihat semakin dekat sebagai teman meski tidak ada yang tahu kalau diam-diam Carrel malah semakin 'menyukai' Aldo. Namun tidak ada yang berbeda dari pasangan suami-istri itu. Keduanya menikmati makan siang dengan tenang sambil mendengarkan interaksi antara Carrel dan juga Aldo. Dan entah hanya perasaan Embun saja atau tidak tapi Ezar terlihat kesal hari ini. Mungkin pria itu sedang ada sedikit masalah dengan pekerjaannya.


Embun pun mengantarkan suaminya ke luar, setidaknya sampai pria itu naik ke mobilnya. Ternyata Carrel juga mengikuti.


"Kenapa kau tidak sarapan sejak pagi?" Tanya Ezar begitu mereka keluar dari cafe.


"Hm? Kau tahu dari mana?"


"Teman lelakimu itu." Ujar Ezar sambil penuh penekanan.


"Sebenarnya aku tidak begitu terbiasa dengan sarapan."


"Lalu kenapa sejak awal tidak bilang padaku? Padahal selama ini kau menemaniku sarapan." Desis Ezar.


Embun mengerjap.


"Aku kan hanya tidak begitu terbiasa bukan tidak bisa sarapan pagi. Dan kenapa kau terlihat marah?" Tanya Embun bingung.


Ezar menghela nafas lalu menatap langit sejenak.


"Jangan ceritakan tentang hidupmu pada orang lain selain aku. Apalagi temanmu itu."


"Maksudmu Arsen? Memangnya kenapa tiba-tiba kau mempermasalahkan hal ini?"


Ezar berdiri berhadapan dengan Embun lalu tangannya memegang kedua bahu mungil itu. Ezar pun menatap Embun dengan sorot lembut. Tak seperti biasanya. Embun cukup tertegun.


"Aku ingin mengerti tentang dirimu karena aku suamimu. Jangan biarkan orang lain lebih mengerti mu daripada aku, ya?"


CUP


Setelah mengatakan kalimat yang ingin ia sampaikan Ezar juga mengecup kening istrinya dengan lembut. Embun sampai membeku di tempatnya.


"Aku pergi dulu."


Ezar tersenyum manis lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Embun masih terdiam di tempat dengan perasaan yang berdebar.


Apakah ini artinya Embun sudah bisa berharap pada Ezar?


...__________________...


...To be continued...


...(Revisi : 22-11-2020 )...