Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 47



Ezar berlarian disepanjang lorong rumah sakit terbaik di Singapura. Sumpah, Ezar tidak tahu kalau ternyata istrinya ikut bersama Aldo. Dan kabar yang membuat Ezar ingin menangis adalah kabar bahwa istrinya bersama Aldo mengalami kecelakaan. Ya, mereka ternyata ikut andil dalam kecelakaan beruntung itu.


Dan ternyata satu taksi yang terlibat dalam kecelakaan itu adalah taksi yang ditumpangi oleh mereka berdua.


Ezar ingin mengutuk siapapun yang berani menyakiti istri dan sahabatnya.


Ezar tiba didepan ruang operasi. Entah bagaimana bisa mereka mengatakan jika istrinya ada di ruangan operasi. Separah itu kah? Mata Ezar berair ketika melihat Aldo yang duduk termenung didepan ruang operasi. Aldo memiliki banyak luka namun sepertinya tidak begitu parah.


"Aldo!" Teriak Ezar.


Aldo pun menoleh.


"Ezar!"


Aldo bangkit dengan tertatih. Ezar langsung menghampiri Aldo.


"Tidak perlu bangun. Duduk saja."


Ezar menarik nafas dalam sambil menatap pintu ruang operasi.


"Apa benar istriku ada didalam sana?" Tanya Ezar berusaha tenang.


Aldo mengusap wajahnya gusar. Tidak berani menjawab pertanyaan Ezar.


"Aldo jawab aku!"


"Aku, Embun, dan supir tidak separah itu. Kami bertiga selamat karena taksi kami hanya tersenggol lalu terdorong beberapa meter. Tapi .. " Aldo menggantung kalimatnya.


"Katakan apa yang terjadi pada istriku!"


Ezar mengguncangkan bahu Aldo dengan kencang. Mata pria itu sudah berkaca-kaca dan merah. Aldo tidak tega melihat Ezar yang seperti ini. Pasti Ezar sangat kalut dan takut karena Aldo sendiri pun merasakan hal yang sama. Masalahnya Embun sedang hamil muda. Yang Aldo tahu usia kandungan seperti Embun masih sangat rentan apalagi jika terkena benturan.


Dan saat di taksi tadi ..


Untunglah Embun tak lupa memakai sabuk pengaman. Tapi wanita itu tetap pingsan dan kepalanya terbentur beberapa kali. Aldo juga sempat pingsan tapi hanya sebentar.


"Aku tidak ingat apa yang terjadi tapi sepertinya istrimu paling parah diantara kami. Kau tahu dia kan sedang hamil." Sahut Aldo.


Ezar terduduk lemas diseberang Aldo. Pria itu mendongakkan kepalanya ke atas. Menghela nafas dengan wajah frustasi.


"Demi tuhan aku tidak tahu jika dia ikut bersamamu. Seharusnya kau katakan itu saat di telepon. Mungkin aku akan menjemput kalian di bandara." Ezar berdecak.


"Kau saja langsung mematikan teleponnya." Desis Aldo.


Ezar langsung tertegun. Ya. Ia akui itu. Mungkin dirinya lah yang terlalu tidak sabaran. Barangkali Aldo mau mengatakannya sebelum Ezar terlanjur mematikan telepon.


Setelah rasa paniknya berkurang Ezar pun berpindah tempat menjadi duduk disebelah Aldo.


"Kenapa kau bawa dia?" Tanya Ezar.


"Aku memintanya ikut untuk meyakinkanmu." Jawab Aldo dengan datar.


"Dan sekarang kau lihat apa yang terjadi? Kenapa kau tidak meminta izin padaku dulu?" Tanya Ezar dengan menaikkan volume suaranya.


Tatapan mata Ezar tajam menusuk Aldo. Seolah Aldo lah yang salah disini. Aldo hanya terkekeh pelan.


"Semoga saja bayinya baik-baik saja." Aldo bersuara sambil menunduk.


Ezar langsung menatapnya tak suka.


"Aku mengkhawatirkan istriku. Bayi itu-"


"Dia anakmu Ezar! Embun kesini menyusulmu untuk meyakinkanmu kembali. Apakah aku harus meminta izin padamu dulu?"


"Ya karena aku suaminya!" Tegas Ezar.


"Suami macam apa yang meninggalkan istrinya sedang hamil!" Aldo memekik.


Baiklah. Kedua pria itu sudah mulai memanas karena emosi.


"Ezar, Aldo!"


Sarah dan Sekar berlarian kecil di lorong menuju mereka berdua. Ezar masih tak mau memalingkan tatapan tajamnya dari Aldo sedangkan Aldo sendiri sudah pasrah dan memilih menunduk. Ezar pria batu yang sangat keras kepala.


"Kau baik-baik saja Aldo?" Tanya Sekar khawatir.


"Ya. Hanya luka ringan karena benturan."


"Syukurlah." Sekar bernafas lega.


"Lalu bagaimana dengan Embun?" Tanya Sarah.


"Kuharap dia baik-baik saja." Gumam Ezar pelan sambil memalingkan wajahnya.


"Ezar. Ada yang perlu aku bicarakan." Kata Sarah.


"Nanti saja."


"Sekarang!"


Ezar berdecak. Ia menatap Sarah. Rupanya Sarah sedang menatapnya dengan tajam namun ada unsur memohon didalamnya. Oke baiklah. Ezar pun bangkit dan segera mengikuti langkah Sarah.


~~


"Apa yang mau kau bicarakan?"


Langkah Sarah langsung terhenti. Mereka tiba di koridor yang sepi. Mungkin tidak perlu jauh-jauh. Disini saja sudah cukup. Sarah berbalik badan.


"Bukankah sudah kubilang katakan saat aku mengatakannya? Kenapa kau terus mengundurnya?" Tanya Ezar.


Sarah menghela nafas.


"Aku hanya bingung dan juga punya maksud lain."


"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?"


"Sebenarnya tujuanku kemari adalah atas permintaan Embun."


Kening Ezar berkerut. "maksudmu?"


"Embun menceritakan semuanya padaku. Dia memohon agar aku membawamu kembali."


Ezar terkekeh.


"Omong kosong."


"Sepertinya terjadi salah paham diantara kalian berdua. Dan bayi itu adalah anakmu Ezar." Ujar Sarah dengan gemas.


Karena raut wajah Ezar tak berubah sama sekali seolah pria itu tak mengerti, Sarah pun mulai menceritakan semuanya. Semua yang ia dengar dari Embun langsung. Perlahan tubuh Ezar mulai lemas.


"Dia hanya menyayangi masa lalunya itupun sebagai adik, bukan mencintainya karena dia hanya mencintaimu." Tekan Sarah.


Detik itu juga Ezar mulai merasa pening. Antara harus percaya atau tidak. Tapi semua yang Sarah ucapan terlihat meyakinkan.


"Kenapa? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"


"Karena aku sendiri tidak yakin untuk mengatakan ini padamu. Kau tahu? Aku hanya orang masa lalumu yang tiba-tiba muncul tanpa tahu apa-apa. Bahkan kau sendiri tidak bilang apapun lalu tiba-tiba Embun mengatakan semua itu padaku. Jadi aku bingung harus bagaimana mengatakannya padamu, Ezar. Maaf." Jelas Sarah.


Ezar hanya diam menunduk merenungi segala perkataan yang ia dengar.


"Sebelumnya aku sempat mengawasi Embun. Dia memang bersama pria lain tapi aku selalu melihatnya menangis. Kau pikir dia bahagia? Lantas menurutmu apa yang membuatnya menangis?" Gumam Sarah.


Sudah cukup. Ezar tidak ingin mendengarnya lagi. Ia memutuskan untuk melangkah kembali ke sana. Sampai kapanpun Ezar akan menunggu istrinya bangun. Dan anaknya..


Ah, rupanya Ezar akan menjadi seorang ayah. Sekarang Ezar percaya bayi itu adalah bayinya. Berulang kali Ezar mengusap wajahnya gusar. Ia benar-benar merasa menyesal. Apalagi sebelumnya Ezar sempat mengirim pesan dengan kalimat yang menyakitkan untuk Embun. Secara tidak langsung Ezar juga merendahkan istrinya sendiri. Bayangkan sesakit dan sesedih pada wanita itu dengan kandungannya.


Saat Ezar kembali rupanya dokter sudah keluar dari sana. Terlihat Aldo sedang berbincang dengan dokter itu. Buru-buru Ezar mempercepat langkahnya.


"Apa yang terjadi?"


Dokter itu pun melirik Ezar.


"Dia suaminya?" Tanya Dokter itu pada Aldo.


Aldo pun mengiyakan.


"Baik. Saya akan bicara disini. Istri anda tidak apa-apa hanya saja dia mengalami shock berat dan tekanan mental. Mungkin karena kejadian yang begitu tiba-tiba."


"L-lalu bagaimana dia sekarang?"


"Dia masih terlelap karena efek bius. Dan juga saya sangat menyesal untuk menyampaikan ini."


Dokter pun menghela nafas.


"Bayi yang ada dikandungannya tidak bisa diselamatkan karena masih sangat rentan. Kami minta maaf."