
Ezar masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi segelas sirup segar dan beberapa camilan untuk calon istrinya. Calon istri? Ezar tersenyum miris. Ia masih tidak habis pikir dengan pernikahan yang akan terjadi sebulan lagi. Ezar berniat langsung memberikan minuman ini pada Embun namun begitu masuk Ezar malah tidak menemukan Embun di kamarnya. Ezar pun meletakkan nampan itu di meja lalu mencari Embun di sekitar kamarnya. Melihat pintu balkon kamarnya yang terbuka lebar Ezar pun langsung bisa menemukan gadis itu di sana.
Setelah membicarakan pernikahan bersama orang tua Ezar, Marisa menyuruh Ezar untuk membawa Embun ke kamarnya. Katanya biarkan Embun berisitirahat di kamar Ezar. Padahal rumah Ezar luas dan masih ada kamar lain yang bisa Embun gunakan untuk istirahat jika mau. Marisa memang sengaja menjerumuskan anaknya berduaan dengan seorang gadis di kamar.
Ezar berdiri di samping Embun lalu memperhatikan gadis yang rupanya sedang melamun entah memikirkan apa.
"Ezar, mama dan papamu langsung setuju untuk menikahkan kita," ujar Embun tiba-tiba. Tatapannya masih lurus ke depan.
"Iya, bukankah itu bagus untukmu?"
Embun menghela napas. Tangan Embun berpegang kuat pada pagar teralis besi yang menjadi pembatas balkon. Matanya lurus menatap kolam kecil yang ada di halaman samping rumah Ezar. Ya, memang itu adalah berita yang baik untuknya tapi entah kenapa Embun merasa sangat ragu. Embun hanya merasa aneh dan semuanya terjadi dengan begitu mudah seperti harapannya.
"Aku merasa sedang bermimpi. Bagaimana bisa menikah denganmu semudah ini? Kau juga sempat menakutiku. Kukira mamamu adalah orang yang pilih-pilih apalagi ternyata kau itu anak tunggal."
Ezar tersenyum kecil. "Aku hanya bercanda tadi. Mama bukan orang yang seperti itu. Lihatkan dia bahkan tidak mau aku ajak kerjasama untuk mengerjaimu karena dia sudah tahu seperti apa pikiranmu begitu bertemu dengannya."
Embun menghadapkan dirinya pada Ezar. Kedua mata mereka pun bertatapan. Embun kembali menghela napasnya. Dalam hatinya gadis itu merutuki Ezar yang sangat tampan.
"Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah mau membantuku, Ezar. Kau pria yang sangat baik," ucap Embun dengan tulus.
Manik mata Embun menatap Ezar dengan berbinar sambil mengulas senyum. Sejak kemarin mereka baru bertemu dan berkenalan tadi pagi, Ezar baru melihat senyuman milik Embun. Senyuman yang sangat tulus hingga membuat pria itu cukup terpesona. Embun memiliki senyum yang indah dan menawan. Embun memiliki kecantikan yang alami. Bahkan sebenarnya saat tanpa polesan riasan wajah pun Embun sudah cantik. Seharusnya Ezar sangat beruntung karena mendapatkan calon istri yang secantik ini.
Tapi sangat disayangkan gadis yang punya senyuman indah itu sempat mengobral dirinya sendiri di jalanan meskipun sekarang Ezar tahu alasan gadis itu melakukannya. Ezar tiba-tiba berdehem setelah sadar dirinya hampir terjatuh ke dalam pesona gadis itu.
"Kau jangan salah paham. Aku setuju untuk menikah bukan karena aku benar-benar ingin membantumu tapi karena aku putus asa dengan permintaan orang tuaku."
Embun mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Kau tahu kenapa mereka sangat antusias menyambutmu? Itu karena mereka sangat ingin aku menikah."
"Lalu kenapa kau malah membawaku ke sini? Seharusnya kau membawa kekasihmu."
Ezar tersenyum kecil. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang sambil menghela nafas. Matanya memandang lurus ke depan.
"Akan aku bawa jika aku punya," ujar pria itu nyaris bergumam.
"Jadi maksudnya kau tidak punya kekasih?"
"Ya."
Embun melongo dan cukup terkejut. "Ezar, kau kaya dan tampan. Aku tidak percaya kalau kau tidak punya kekasih."
"Tapi seperti itulah kenyataannya, Nona. Aku tidak tertarik untuk berpacaran. Sejak dulu aku hanya fokus bekerja dan mengejar cita-citaku."
"Cih, pantas saja kau kaya raya. Kau sampai mengabaikan kehidupan percintaan hanya demi semua harta yang kau miliki saat ini." Embun mencibir.
Ezar pun hanya bisa tertawa kecil.
"Tapi aku merasa sangat beruntung karena akan menikah denganmu," gumam Embun.
Walau awalnya tujuan Embun menikah hanya demi uang, begitu melihat pria setampan Ezar gadis itu langsung benar-benar merasa ingin menikah dan membangun rumah tangga yang nyata. Ayolah, wanita mana yang tidak ingin punya suami tampan dan kaya raya seperti Ezar. Ditambah punya mertua yang sangat baik dan ramah, bukankah itu keinginan semua wanita di dunia? Dan Embun akan mendapatkan semua keuntungan itu jika ia menikah dengan Ezar.
Embun menoleh dan menatap Ezar. Rasanya jadi ingin memeluk pria itu tapi sangat malu. Baiklah. Embun harus menahan diri.
"Mama bilang dia akan menjodohkanku dengan gadis pilihannya jika hari ini aku tidak membawa kekasihku ke rumah."
"Lalu kau lebih memilih membawaku daripada dijodohkan dengan gadis yang lebih pantas denganmu? Dia pasti berniat menjodohkanmu dengan gadis yang sangat baik, Ezar."
Ezar melirik Embun yang tiba-tiba menunduk. Entah kenapa raut wajah Embun tiba-tiba murung.
"Gadis pilihan mama adalah gadis yang dipilih karena terlihat menarik bagi mama, bukan bagi diriku. Bagaimana jika nyatanya gadis itu tidak menarik bagiku? Aku tidak mau seperti itu. Lebih baik aku memilih pasangan hidupku sendiri dan aku tidak mengerti kenapa kau terlihat menyesal padahal bukankah ini keinginanmu? Menikah dengan pria kaya sepertiku."
"Ya, memang ini tujuanku sejak awal tapi menikah adalah menyerah pada kehidupan lamamu dan memulai kehidupan baru bersama seseorang. Aku .. masih merasa ragu meskipun kau sangat sempurna. Mungkin kesempurnaan yang kau miliki itulah yang membuatku masih merasa ragu, Ezar."
Ezar terkekeh pelan. Lelaki itu cukup peka dengan ketidak percayaan diri Embun saat ini. Gadis itu malah jadi merasa minder ketika pernikahan mereka sudah direncanakan atau bahkan telah ditetapkan.
"Apa kau pikir hanya karena aku kaya jadi aku ini sempurna? Tentu saja tidak, Nona."
"Ya, memang benar tapi setidaknya kau jauh berada di atas sedangkan aku sangat di bawah."
"Lagipula menurutku akan lebih seru jika aku bisa menikah dengan orang biasa. Maksudku, orang yang bukan berasal dari kelas yang sama sepertiku."
Embun pun menatap Ezar. Melalui tatapannya Embun menunjukkan suatu keraguan yang sedang ia rasakan. Tak lama Embun pun kembali menunduk saat Ezar malah tersenyum genit padanya.
"Jadi kau menikahiku hanya karena aku miskin dan kau berniat membantu masalahku kan?" tanya Embun dengan suara pelan.
Ezar pun bergerak maju selangkah lalu meraih dagu Embun agar gadis itu menatap manik matanya yang tajam namun meneduhkan. Ezar mengamati wajah itu cukup lama sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Tidak sepenuhnya, karena kau juga cukup menarik bagiku."
Setelah Marisa meminta Ezar untuk segera membawa Embun turun ke lantai bawah kini Embun pun duduk di sofa sambil menemani wanita itu merajut. Entah apa yang tengah Marisa buat dengan benang rajut itu. Rasanya Embun juga baru melihat orang kaya merajut. Embun melihat dengan saksama bagaimana begitu telatennya tangan Marisa merajut sementara Ezar duduk di sofa yang terpisah sambil memperhatikan Embun. Sesekali Ezar tertawa kecil melihat Embun yang terlihat sangat takjub dengan kemampuan mamanya merajut. Padahal pemandangan itu sudah dilihat Ezar selama hampir dua puluh lima tahun ini.
"Aku tidak tahu kalau Mama pandai merajut." Embun buka suara.
Marisa terkekeh. "Dulu Mama selalu merajut pakaian Ezar saat dia kecil. Ezar suka baju rajut buatan Mama."
Embun pun melirik Ezar. Seketika pikiran Embun jadi berkelana. Bagaimana jika Embun sendiri yang nantinya akan merajut pakaian untuk anaknya dengan Ezar? Pasti akan sangat menggemaskan. Membayangkannya saja sudah membuat Embun tersenyum malu.
Ezar yang menyadari sikap Embun itu berdecak. "Dasar gila," celetuk Ezar tanpa sadar.
Kedua wanita itu langsung menoleh.
"Ada apa Ezar? Siapa yang gila?" tanya Marisa.
Ezar mendengus dan langsung melirik Embun. Sial. Dia keceplosan dengan suara yang besar.
"Bukan apa-apa."
Bi Lasri pun datang membawa beberapa minuman dan kue untuk disuguhkan. Padahal tadi Embun sudah menghabiskan minum dan camilan yang dibawakan Ezar ke kamar tapi sekarang ada suguhan tambahan dengan menu yang berbeda. Jadi seperti ini ya rasanya berkunjung ke rumah orang kaya. Tidak perlu khawatir kau akan kelaparan atau kehausan. Embun tersenyum geli. Ezar langsung menyambar gelas berisi jus jeruk.
"Embun, bagaimana jika kau juga belajar merajut? Mama akan dengan senang hati mengajarimu. Kau tertarik kan?" sahut Marisa.
"Eh, bolehkah?"
"Tentu saja, Sayang. Tapi sebelum itu jawablah pertanyaan Mama dengan jujur."
"A-Apa, Ma?"
Tiba-tiba raut wajah Marisa berubah menjadi sangat serius. Embun mengerjap karena bingung dengan perubahan suasana ini dan melirik Ezar. Marisa juga menoleh untuk menatap putranya dengan mata memicing.
"Sudah berapa kali Ezar menidurimu?"
UHUK
Ezar langsung tersedak dan menumpahkan sedikit minuman jus jeruk ke bajunya. Ezar pun menatap mamanya dengan wajah terkejut. Embun juga sama terkejutnya. Siapa sangka jika wanita berkepala empat itu berani menanyakan sesuatu yang bersifat frontal dan termasuk privasi. Embun hanya bisa menunduk malu. Padahal mereka baru saja bertemu kemarin sore.
"Kenapa reaksi kalian begitu terkejut sekali? Mama kan hanya bertanya," ucap Marisa sambil tersenyum penuh arti.
"Ma, Ezar sudah bilang kalau Ezar ini lajang yang terhormat. Berhenti menanyakan hal tidak penting. Lihatlah, sekarang Embun jadi tidak nyaman." Ezar mengomel.
Marisa langsung melirik Embun yang menunduk dengan wajah memerah. "Sayang, Mama hanya bertanya saja karena penasaran. Tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa apanya? Secara tidak langsung Mama menilai Ezar sebagai pecundang yang meniduri gadis di luar nikah dan Mama juga sama saja menilai Embun gadis yang murahan!' celetuk Ezar dengan berapi-api.
"Mama bertanya pada Embun tapi kenapa kau yang berisik sih, Ezar? Lagipula Mama kan hanya bertanya dan kalian ini sudah dewasa. Kalau kalian tidak pernah tidur bersama ya tinggal jawab saja, tidak perlu bereaksi seperti itu, Ezar. Justru melihat reaksi mu seperti itu membuat Mama semakin curiga padamu."
Ezar menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bangkit. "Terserah Mama saja."
Ezar pun pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua untuk mengganti bajunya yang basah terkena tumpahan minuman. Tersisa Embun dan Marisa.
"Sayang, tidak perlu dipikirkan ya? Mama hanya bertanya kok. Syukurlah jika kalian masih aman."
"Iya, Ma."
Embun tersenyum dan mulai memikirkan sesuatu. Ezar. Embun jadi penasaran apakah Ezar sungguh tidak punya kekasih atau pun satu orang gadis yang disukainya. Ezar adalah orang dari kalangan atas. Embun tahu betul bagaimana cara orang-orang kaya melepaskan rasa penat dalam hidup mereka, yaitu dengan pergi ke club malam dan menghabiskan satu malam dengan wanita bayaran.
Bahkan Embun yang bukan dari kalangan atas saja suka pergi ke club disaat hidupnya terasa rumit. Embun pergi ke club hanya untuk bersenang-senang tanpa pernah tidur dengan seorang pria. Selama ini Embun hanya bisa melihat teman-temannya diajak menghabiskan malam bersama pria asing yang berasal dari kalangan atas, sama seperti Ezar. Bukankah hal yang sangat mudah untuk Ezar membayar seorang wanita hanya demi memuaskan nafsu dan menghilangkan beban pikiran?
Belum lagi Ezar sudah pasti dikelilingi oleh wanita-wanita sempurna yang cantik dan sederajat dengannya. Tidak mungkin Ezar memandang semua wanita itu jelek kan? Pasti Ezar sering bertemu dengan wanita-wanita cantik dalam hidupnya. Mustahil jika tidak ada satupun dari wanita-wanita yang berhasil menarik perhatian Ezar.
Embun tidak percaya jika Ezar adalah lajang yang terhormat dalam artian Ezar tidak pernah tidur dengan seorang wanita sebelumnya.
"Sayang, kau melamun?" Suara Marisa menyadarkan Embun.
"Ah, Mama."
"Syukurlah kau sudah mulai terbiasa memanggilku begitu. Bagaimana? Kau tertarik untuk belajar merajut?"
Embun mengangguk dengan semangat.
"Mau, Ma."
"Bagus. Mama harap kau akan merajut pakaian untuk anak kalian sendiri nantinya sama seperti Mama dulu." Marisa tersenyum seraya merangkul calon menantunya.
Embun termenung. Marisa terlihat sangat berharap pada pernikahannya. Tapi pernikahan ini hanyalah sebatas saling membantu. Embun membutuhkan bantuan Ezar dan pria itu membutuhkan Embun untuk menghindari perjodohan. Tidak ada cinta melainkan hanya ada keuntungan yang didapat kedua pihak yang sedang saling membutuhkan.
Benarkah ia akan bisa punya anak bersama Ezar nantinya?