Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
12. Jangan Berharap



Embun mengerjap pelan lalu terbangun begitu merasakan sesuatu yang hangat menerpa wajahnya. Badannya masih terasa sedikit pegal akibat acara kemarin tapi sudah lebih baik. Sekali lagi Embun mengerjap. Begitu membuka mata ia langsung melihat pemandangan dada bidang seorang pria tepat didepan wajahnya. Pria itu bertelanjang dada. Tunggu. Embun sedang berada dalam dekapan seorang pria. Bahkan tangannya ikut memeluk pinggang pria itu.


Embun pun terkejut dan langsung menjauhkan tangannya. Kepalanya mendongak. Dilihatnya Ezar yang masih tertidur pulas sambil terus memeluknya. Wajah Embun mulai terasa panas. Ezar tidur bertelanjang dada.


"EZARRR!!"


BUGH


Embun langsung bangun sambil mendorong tubuh Ezar. Wajahnya sangat terkejut. Embun menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil terus melirik Ezar yang perlahan mulai bangun. Barusan Embun berteriak dengan sangat kencang dan itu membuat Ezar terganggu.


Embun menelan salivanya dengan berat. Apakah semalaman tadi dia tidur berada dalam dekapan tubuh kekar dan berotot itu? Rasanya sangat memalukan.


"Ada apa sih pagi-pagi sudah berteriak." Ezar mengomel.


"Kenapa kau memelukku?!!" Pekik Embun.


Ezar menatapnya dengan bingung.


"Aku tidak tahu kan aku tidur jadi tidak sadar." Jawab Ezar seadanya.


Ya, memang benar dia tidak tahu apa-apa. Dirinya tertidur sangat pulas karena rasa lelahnya.


"T-Tapi kenapa kau tidak pakai baju?! Sudah kubilang kan pakai baju jika tidur denganku!!"


"Ah, aku tidak bisa tidur jika sehelai kain saja menutupi tubuh atasku. Tubuhku mudah kegerahan, Embun. Lagipula kita sudah menikah jadi tidak apa-apa."


"Dasar sinting! Tetap saja aku tidak mau begitu!"


Embun bergegas bangkit dari ranjang lalu meminum air putih yang ada di meja. Ezar mendudukkan diri sambil berusaha menormalkan kesadarannya. Diam-diam Embun mengamati Ezar sambil terus meneguk habis air mineralnya. Sial. Ternyata Ezar memiliki tubuh yang ideal. Kekar dan berotot. Embun suka pria kekar. Menyadari bahwa semalam dirinya tidur berada dalam rengkuhan tubuh itu membuat Embun kembali merona. Dan ternyata Ezar sangat tampan ketika baru bangun tidur seperti sekarang ini.


"Aku akan mandi lebih dulu karena harus ke kantor."


"Apa? Hei, masa kau sudah bekerja di hari setelah menikah?!" Pekik Embun terkejut.


Ezar menatap Embun dengan bingung.


"Memangnya kenapa?"


"Di hari pertama setelah menikah aku malah ditinggal kerja? Menyedihkan. Bukankah kau bosnya? Seharusnya kau bisa ambil cuti. Aku saja sudah rela cuti selama seminggu!" Sungut Embun kesal


"Maaf tapi pekerjaan ku menumpuk dan tidak bisa ditinggal. Lagipula kita menikah juga karena terpaksa. Tidak perlu sampai terbawa suasana."


Entah hanya perasaan Embun saja atau bagaimana tapi perkataan Ezar terdengar sangat dingin. Ezar langsung berjalan melewatinya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama terdengar suara gemericik air.


"Apa-apaan tatapan mata dinginnya itu? Padahal semalam kami mengobrol dan dia terlihat ramah." Gumamnya.


Jika Ezar bekerja maka terpaksa Embun juga membatalkan cutinya. Hari ini dia akan kembali bekerja seperti biasa walau rasanya menyebalkan.


...__ooOoo__...


"Apa-apaan ini? Pengantin baru malah pergi bekerja?" Sahut Carrel begitu melihat Embun datang dengan wajah lesu.


Embun mendengus lalu meletakkan tasnya di loker dan segera memakai apron. Ia menghampiri Carrel yang sedang berdiri di depan kasir bersama seorang pria.


"Aku tidak jadi cuti." Ujar Embun.


"Kau tidak pergi bulan madu?"


"Jangan tanya itu sekarang dan fokus saja bekerja."


Embun menepuk bahu Carrel kemudian mulai bekerja. Embun memilih membersihkan meja-meja sebelum cafe dibuka. Padahal dia sudah mengharapkan bulan madu ke luar negeri atau ke tempat impiannya sekalian liburan. Embun kira jika menikah dengan orang kaya maka akan ada bulan madu sungguhan. Tapi ternyata tidak. Ezar malah memilih bekerja dan itu sangat menyebalkan.


Ekspektasi memang tak pernah sesuai dengan realita.


"Embun kau harus berkenalan dengan pegawai baru kita." Sahut Carrel.


Embun menoleh tanpa minat. Matanya tertuju pada lelaki yang berdiri dihadapan Carrel. Lelaki yang memiliki tinggi semampai dan sedikit lebih kurus dari Ezar serta mata yang agak sipit. Embun tidak sempat melihat lelaki itu tadi.


"Kau merekrut pegawai baru?"


Embun pun berjalan mendekati dua orang itu.


"Ya. Kau lupa? Tempo hari aku membuka lowongan baru karena akhir-akhir ini kita bertiga selalu kewalahan menghadapi pelanggan."


"Jadi kau sudah resmi menerima orang ini disini?" Tanya Embun.


Carrel mengangguk.


"Sepertinya dia cocok di bagian barista karena dia pecinta kopi."


Embun mengangguk. Tangannya pun terulur bermaksud mengajak pegawai baru itu berkenalan.


"Selamat ya. Aku Embun, koki sekaligus pelayan disini. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik."


Lelaki itu tersenyum sambil menyambut uluran tangan Embun. Mereka pun berjabatan tangan.


"Arsen."


Embun sedikit tercengang karena hanya itu kalimat yang dikatakan oleh si pegawai baru. Apalagi raut wajah Arsen juga sangat datar. Sepertinya Arsen ini orang yang dingin dan cuek.


Carrel terkekeh melihat wajah Embun yang teleihat terkejut.


"Arsen, kalau kesulitan kau bisa tanya koki kami yang satu lagi namanya Tio. Dia belum datang karena memang selalu terlambat." Jelas Carrel.


Arsen hanya mengangguk lalu segera pergi ke belakang untuk mulai bekerja.


"Dia orang yang sangat dingin bukan?" Carrel terkekeh.


"Bagaimana bisa kau merekrut orang sedingin itu? Padahal kita bertiga kan orang yang bobrok."


Carrel tertawa.


"Aku ingin ada orang normal diantara kita bertiga."


"Jadi maksudmu kita tidak normal?"


"Hei, aku bercanda haha."


Embun lanjut membersihkan meja. Hari ini dia akan bekerja keras sampai lelah agar bisa melupakan sikap dingin Ezar tadi pagi. Sampai sekarang Embun masih belum mengerti dengan perubahan sikap Ezar itu. Apa dia telah melakukan kesalahan sampai Ezar harus mengubah sikapnya?


Atau mungkin Ezar marah karena Embun ketiduran semalam. Tapi mengingat jika dirinya tidur bersentuhan dengan kulit penuh otot itu semalam membuat pipinya terasa panas.


"Jadi ada apa denganmu? Kau tidak pergi bulan madu?" Tanya Carrel yang duduk di salah satu kursi.


"Suamiku memilih pergi bekerja dibanding liburan. Kurasa aku menikah dengan orang yang cuek seperti Arsen."


"Oh, benarkah? Tapi selama aku mengobrol dengannya dia terlihat biasa saja dan baik." Ujar Carrel.


Meski Carrel tidak mengobrol banyak dengan Ezar. Carrel hanya sempat mengobrol dengan Ezar ketika sebelum dan di hari pernikahan mereka. Ezar seperti orang yang baik namun sedikit misterius.


"Bagaimana hubunganmu dengan Ken? Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Embun.


"Kami hampir putus kemarin tapi sekarang sudah baik-baik saja."


"Oh, baguslah."


Embun sudah tidak aneh mendengar cerita hubungan Carrel yang putus nyambung. Ken adalah teman sekolah mereka juga dulu. Carrel dan Ken sudah berpacaran sejak masih sekolah. Bisa dibilang langgeng namun putus nyambung dan setiap hari selalu ribut kecil. Embun seketika jadi penasaran bagaimana rasanya berpacaran?


Embun belum pernah berpacaran selama itu. Embun juga tidak berpengalaman menjalin hubungan dengan seseorang dan sekarang dia malah menikah bersama pria asing. Ditengah-tengah Embun yang sibuk memikirkan pernikahannya, Arsen datang membawa dua cangkir kopi untuk dua gadis itu.


"Wow, apa ini?" Tanya Carrel.


"Kopi buatanku." Jawab Arsen.


Lalu Arsen pun melirik Embun. Tangan Arsen mempersilahkan Embun untuk mencicipi kopi buatannya.


"Kau terlihat lesu. Kopi akan membuatmu bersemangat." Ujar Arsen.


"Iya. Terimakasih."


Walau sebenarnya Embun tidak terlalu suka minum kopi tapi kali ini dia ingin menghargai Arsen. Kemudian gadis itu lanjut memikirkan suaminya yang entah sedang apa sekarang.


...__ooOoo__...


Ezar menatap ke luar kaca jendela besar di ruangannya dengan lurus. Lalu tiba-tiba Aldo masuk tanpa lupa mengetuk pintu dulu sebelumnya. Ezar hanya menoleh sekilas. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Ku kira kau akan pergi bulan madu, bung!" Sahut Aldo.


"Kami tidak saling mencintai jadi tidak perlu seperti itu."


"Setidaknya kalian bisa berlibur bersama sambil proses saling mengenal satu sama lain."


"Kau tahu aku bukan orang yang seperti itu. Menikah dengannya pun aku terpaksa."


"Karena hutang gadis itu?" Tanya Aldo.


Ezar berjalan menuju mejanya. Mungkin hanya Aldo satu-satunya teman yang tahu bagaimana kisah pernikahannya dengan Embun.


"Aku juga tidak ingin dijodohkan dengan Bella." Gumam Ezar.


Aldo pun mengangguk paham. Lalu Aldo mengeluarkan secarik kertas kecil berisi sebuah alamat dari kantung celananya. Aldo meletakkan kertas itu diatas meja Ezar.


"Itu alamat cafe coklat yang baru saja buka hari ini. Tempatnya lucu. Wanita suka datang ke tempat seperti itu." Tukas Aldo.


Ezar pun meraih kertas itu lalu menatap Aldo dengan kening berkerut.


"Lalu?"


"Ck. Aku tahu kau itu orang yang sangat kaku apalagi soal perempuan. Ajaklah istrimu kesana. Dia akan senang."


"Untuk apa?" Tanya Ezar yang masih bingung.


"Kencan."


"Cih. Aku tidak butuh-"


"Aku hanya berusaha membantumu. Terserah mau dilakukan atau tidak tapi Ezar.. jangan seperti dulu lagi." Kali ini Aldo berkata dengan serius.


Setelah mengatakan itu Aldo pun melenggang pergi dari ruangan Ezar. Tersisa Ezar yang termenung mencerna perkataan Aldo. Tanpa sadar Ezar mengepalkan tangannya dan membuat kertas yang ia pegang kusut.


"Aldo sialan."


...__ooOoo__...


"Kerja bagus Arsen. Kau sangat cekatan." Seru Carrel.


Arsen hanya tersenyum tipis.


"Terimakasih."


"Cafe sudah tutup. Kau bisa pulang setelah bersih-bersih."


"Iya."


Embun terkekeh mendengar percakapan antara Carrel dengan Arsen. Hanya Carrel yang terdengar bersemangat sementara Arsen sangat datar. Selama seharian bekerja bersama Embun jadi tahu bahwa Arsen ternyata memang orang yang sangat dingin dan kaku. Tapi Arsen memiliki mimik wajah yang lucu entah mengapa.


"Setelah ini kau mau langsung pulang?" Tanya lelaki berkacamata yang bernama Tio.


Tio merupakan seorang koki utama di cafe milik Carrel ini sekaligus teman semasa sekolah Embun dan juga Carrel.


"Tentu saja."


"Kau tidak apa-apa masih bekerja seperti ini? Suamimu kan kaya, Embun."


"Hei, Tio, memangnya ada larangan bekerja untuk istri seorang pemimpin perusahaan?" 


"Tidak maksudku kau kan tinggal minta uang pada suamimu itu."


Embun mendengus.


"Aku bosan dirumah." Hanya itu yang mampu Embun katakan sebagai alasan.


"Embun."


Arsen tiba-tiba memangilnya. Embun berbalik badan untuk melihat Arsen.


"Ada apa?"


"Ada yang mencarimu."


Seperti biasa, raut wajah serta nada bicaranya sangat datar.


"Siapa?"


"Seorang pria. Sepertinya suamimu."


Sebenarnya Embun agak bingung darimana Arsen tahu kalau Embun sudah menikah. Padahal mereka baru saling kenal hari ini. Lalu tak berapa lama seorang pria masuk ke dalam cafe. Itu Ezar. Embun menghela nafas lalu menghampiri suaminya.


"Ada apa? Kenapa datang kesini?" Tanya Embun dengan nada kesal.


"Menjemputmu."


"Oh, begitu. Ya sudah tunggu aku." Ketus Embun.


"Jangan lama. Aku tidak suka menuggu."


"Ya."


...__ooOoo__...


Awalnya Ezar tidak berniat melaksanakan perkataan Aldo tadi pagi. Tapi sekarang Ezar malah benar-benar mengajak istrinya ke cafe yang dimaksud Aldo. Karena hari ini pembukaan jadi cafe baru itu buka sampai malam. Keduanya memutuskan untuk duduk di meja yang tersedia untuk dua orang. Embun terlihat sangat antusias melihat kue dan minuman yang ia pesan. Semua yang Embun pesan berbentuk beruang.


Embun menatap Ezar yang duduk dihadapannya. Raut wajah Ezar terlihat masam.


"Aku tidak suka datang ke tempat yang lucu seperti ini. Sangat bukan gayaku."


"Lalu kenapa kau malah mengajakku kesini?"


"Aldo yang merekomendasikannya."


Embun menghela nafas. Padahal dia sudah hampir terbawa perasaan karena dibawa ke tempat seperti ini. Dulu semasa sekolah Embun juga suka nongkrong di cafe-cafe seperti ini.


"Aku kesal denganmu." Ketus Embun.


Ezar yang baru menyeruput minumannya pun langsung menatap Embun.


"Ada apa?"


"Aku kira kita akan pergi berbulan madu ke luar negeri."


Kini giliran Ezar yang menghela nafas.


"Berbulan madu? Kau sendiri yang semalam menolak untuk bercinta."


"H-Hei maksudku kan bulan madu disini itu tujuannya liburan bukan untuk melakukannya." Ujar Embun dengan gugup.


Wajahnya pun merona. Bisa-bisanya Ezar mengatakan hal seperti itu secara gamblang di tempat umum seperti ini. Rasanya Embun ingin menghilang lenyap dari bumi kalau seandainya ada yang mendengar percakapan mereka barusan.


"Tapi tetap saja sangat keterlaluan kau malah bekerja di hari setelah menikah. Aku jadi terpaksa bekerja juga karena tidak ingin kebosanan sendirian di rumah." Embun menggerutu.


Ezar pun menghela nafas.


"Dengar, kau tidak boleh terlalu berharap padaku atau lebih baik kau tidak perlu mengharapkan apa-apa dariku. Maksudku tentang perlakuan manis atau hal-hal yang semestinya dilakukan suami istri."


Embun mengerjap.


"Kau marah karena semalam aku menolakmu?" Tanya Embun sedikit tercengang.


"Bukan begitu maksudnya."


"Lalu?"


"Jangan berharap padaku jika kau tidak mau sakit hati. Nantinya kau akan tahu bagaimana sifat asli ku terutama terhadap perempuan."


Ezar menatap tajam manik mata istrinya yang lugu. Embun mengerjap lalu memasukkan sesendok kue coklat ke dalam mulutnya.


"Baiklah. Tapi aku berharap kau membelikan ku mobil sport terbaru seperti punyamu." Sahut Embun.


Ezar hanya mendengus lalu lanjut menyeruput minuman miliknya. Embun kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Ezar melalui perkataannya tapi dia jadi penasaran memangnya bagaimana sifat asli Ezar terhadap perempuan?


...___________________...


...To be continued...


...(Revisi : 31-10-2020)...