Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 30



Embun masuk ke rumah dengan penuh tanya dalam benaknya. Ezar terlihat terburu-buru memasuk rumah. Sejak tadi menjemput Embun di butik, Ezar banyak diam. Padahal sebelumnya saat di telpon pria itu berkata sangat manis dan hangat. Lalu, bukankah mereka mau makan siang bersama? Kenapa Ezar malah membawanya pulang?


Jarak butik dengan rumah cukup jauh, apalagi dengan kantor Ezar. Akan memakan waktu yang panjang jika mereka pulang hanya untuk makan siang.


"Kau mau makan di rumah?" Tanya Embun.


Ezar berjalan ke arah dapur, membuka kulkas lalu meminum sebotol air mineral dingin untuk mendinginkan pikirannya.


"Mau saya buatkan apa Tuan, Nyonya?" Sahut Bi Lasri yang ada di dapur.


Ezar menatap bi Lasri lalu mengisyaratkan bi Lasri untuk pergi melalui tatapannya. Langsung mengerti, bi Lasri pun meninggalkan dapur dan pergi ke kamarnya. Dalam pikirannya, pasti tuannya itu mau berbuat sesuatu yang tidak ingin diganggu.


"Kemana bi Lasri?" Gumam Embun.


Gadis itu pun berinisiatif untuk mencari makanan atau bahan untuk dibuat masakan. Mungkin Ezar sedang ingin makan masakan buatan tangannya.


Embun pun menemukan spaghetti dan daging ayam segar di kulkas. Ia langsung mengambil kedua bahan itu. Tapi tangan Ezar langsung mencekal tangannya.


Tatapan mata mereka pun bertemu.


"Ezar kau kena-"


Embun memekik tertahan saat tiba-tiba saja tangan Ezar menggendongnya. Ezar mendudukan Embun diatas pantry. Langsung saja pria itu mengunci pergerakan Embun. Ezar sedikit menunduk dan menatap mata istrinya. Kemudian tangannya membelai lembut wajah Embun.


"E-Ezar!" Pekik Embun dengan bergetar.


"Hm."


"Minggir! Aku mau masak. Nanti kita akan terlambat kembali ke tempat kerja."


Embun menunduk saat Ezar dengan sengaja menghembuskan nafas didepan wajahnya. Dan sampai saat ini Embun tidak mengerti kenapa nafas Ezar selalu tercium wangi aroma mint. Padahal mereka menggunakan pasta gigi yang sama. Apa mungkin pria itu menggunakan produk pengharum mulut sebagai tambahan?


Embun bernafas dengan cepat sambil mengatur detak jantungnya. Sial! Perasaan ini lagi.


"Hei, tatap aku."


Ezar menarik dagu istrinya. Embun menahan nafas saat menatap mata tajam Ezar. Mata yang tajam namun selalu mampu membuat hatinya berdebar lembut.


"Ezar." Lirih Embun dengan gemetar.


"Hm?"


"Kau .. mau makan apa?" Diam-diam Embun merutuki pertanyaannya sendiri.


Bagaimana bisa ia menanyakan hal seperti itu dalam kondisi seperti ini?


Ezar pun menyeringai sambil berbisik.


"Aku mau memakanmu."


Tanpa basa-basi Ezar langsung menempelkan bibir mereka. Ezar mencium Embun dengan lembut dan pelan. Namun semakin lama ia mempercepat ciumannya. Embun sampai kewalahan membalasnya. Karena merasa tidak kuat, Embun mencengkram bahu Ezar dengan kencang. Setelah dirasa keduanya membutuhkan pasokan oksigen, barulah Ezar melepaskan ciumannya.


Keduanya tampak terengah-engah mengatur nafas.


"Kau sangat manis." Bisik Ezar.


"Ezar aku-"


"Tidak usah menunggu nanti ya."


"Huh?"


"I want you right now, babe."


Deg


Perkataan Ezar terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah. Walau pria itu mengatakan dengan sangat lembut, tetap saja ada kesan memaksa didalamnya. Dan detik berikutnya Ezar kembali mencium Embun. Kali ini lebih dalam, lebih kasar, dan lebih memaksa dari sebelum-sebelumnya.


Sebenarnya Embun belum mengerti apa maksud perkataan Ezar. Tapi saat tangan kekar itu menyusup kedalam blouse nya, barulah Embun mengerti. Embun menahan tangan Ezar yang ada didalam pakaiannya. Tapi Ezar tetap memaksa.


"Ezar!" Pekik Embun disela-sela ciumannya.


"Engh."


"Ja .. nganh."


Ezar semakin memperdalam ciumannya. Astaga! Ezar benar-benar merasa sangat tidak sabaran. Ia ingin memiliki istrinya saat ini juga. Persetan dengan semua pekerjaan yang menumpuk di kantor dan tidak tahu kapan akan selesai. Pria itu tidak bisa memiliki waktu untuk bulan madu. Ezar menginginkan Embun sekarang juga.


Embun melenguh saat permukaan tangan Ezar mengusap-usap perut ratanya dengan kasar. Embun sudah tidak bisa lagi berontak. Pikiran dan hatinya sudah dikuasai oleh hawa nafsu yang dipancing oleh Ezar. Tangan Embun meremas rambut Ezar dan menekan untuk memperdalam ciuman mereka.


Tangan Ezar pun semakin naik keatas. Sebentar lagi ia akan menyentuh sesuatu yang begitu ia idamkan selama ini.


"Astaga Ezar!"


BRUKK


Embun langsung mendorong Ezar dengan kuat sampai-sampai Ezar membentur kulkas. Gadis itu langsung turun dari meja pantry dan segera merapikan pakaian dan juga rambutnya. Ezar mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa mama kesini?" Tanya Ezar dengan kesal.


"Memang apa salahnya datang ke rumah anak kami sendiri?" Jawab mama Ezar.


Tuan Alfred dan Nyonya Marisa hanya bisa menggelengkan kepala mereka.


Marisa pun menghampiri Embun.


"Sayang, kau pasti malu ya? Tidak apa-apa kok kami mengerti."


"Tidak ma. Tidak apa-apa."


"Mama bisa melihat rona diwajahmu itu. Ini semua memang salah Ezar. Harusnya kalau mau melakukan itu tuh di kamar, Ezar. Bukan di dapur!" Ketus Marisa pada putranya.


Ezar mendengus.


"Ini kan rumah Ezar, ma. Jadi terserah Ezar."


"Kami kira kalian sedang masak. Bukan salah kami yang datang tiba-tiba, tapi kau yang salah tempat." Marisa menatap tajam putranya.


Wanita itu hanya merasa kasihan pada Embun.


"Ayo sayang kita duduk di ruang tengah. Kami mau membahas sesuatu yang penting." Ajak Marisa.


"Sesuatu yang penting? Ada apa lagi?" Ezar curiga.


Tuan Alfred sudah lebih dulu pergi.


"Sudahlah, ayo berkumpul saja dulu."


\=\=\=\=\=\=


"Jadi apa yang mau mama dan papa bicarakan?" Tanya Ezar to the point.


Embun mendengus sambil mendelik matanya ke Ezar. Menurut gadis itu Ezar adalah anak yang kurang ajar. Orang tua berkunjung ke rumah bukanya disambut dengan baik malah diperlakukan ketus dan tidak sabaran. Bukankah seharusnya Ezar beruntung masih memiliki orang tua?


"Jadi begini, kami sudah lama dan sudah sangat ingin menimang seorang cucu. Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Marisa sambil melirik Embun.


Embun dan Ezar pun saling berpandangan.


Ezar menghela nafas.


Buat saja belum bagaimana bisa ada perkembangan? Justru kalian yang sudah mengganggu perkembangan yang kami lakukan tadi. Batin Ezar.


"Ma, Ezar masih sibuk bekerja jadi jarang ada waktu untuk Embun." Sahut Ezar.


"Papa dengar perusahaan sedang sangat sibuk." Tuan Alfred berbicara.


"Ya, begitulah Pa."


"Kalau begitu kalian pergilah bulan madu agar cepat bisa memberikan kami cucu." Ujar Marisa.


"Tidak bisa. Perusahaan sedang membutuhkanku."


"Papa yang akan menanggung semuanya, Ezar. Tenang saja. Kalau perlu kami juga akan memberikan tiketnya. Bagaimana?" Tawar Tuan Alfred.


Embun sudah keringat dingin mendengar kata bulan madu. Sementara Ezar malah sebaliknya. Pria itu senang bukan main. Ketika dia dilanda kegelisahan antara bulan madu dan pekerjaan, orang tuanya hadir dan memberi sebuah jalan.


Tapi seketika raut wajah Ezar berubah murung.


"Kau kenapa?" Bisik Embun disampingnya.


Lalu Ezar menatap kedua orang tuanya.


"Maafkan Ezar jika belum bisa memberikan cucu pada kalian. Tapi Ezar lebih minta maaf karena tidak ingin merepotkan papa. Ezar akan menyelesaikan semuanya sendiri. Selain itu Embun juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kami belum bisa pergi bulan madu dalam waktu dekat."


Tuan Alfred dan Nyonya Marisa tampak menghela nafas.


"Benar begitu? Apa pekerjaan kalian sangat penting?" Tanya Marisa.


"Kami tidak bisa memaksa. Sejak dulu kau selalu tidak ingin merepotkan kami, Ezar. Tapi lain kali kalau butuh bantuan kau bisa memanggil papa dan mama kan?" Ujar Marisa.


Ezar mengangguk.


"Mama juga mengerti keinginan Embun untuk mengejar cita-citanya. Kami hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian."


"Tapi apa mama dan papa menyadari jika kalian baru saja mengacaukan proses pembuatan cucu kalian?" Tanya Ezar dengan kesal.


Tampaknya pria itu masih kesal diganggu soal tadi.


Embun lantas mencubit kecil pinggang suaminya.


"Aw!"


"Bukan salah kami. Kalau mau melakukan itu, lakukanlah di tempat yang benar! Sangat tidak elit melakukannya di dapur." Ujar Marisa dengan sinis sambil melirik putranya.


Ezar berdecak.


"Mama saja yang tidak tahu bagaimana sensasi melakukannya di dapur!"


Lagi-lagi Embun mencubit pinggang suaminya, kali ini lebih kencang.


Bagaimana bisa ibu dan anak memperdebatkan soal tempat untuk bercinta?