Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
10. Pakaian Tidur



Setelah seharian menerima banyak tamu undangan yang datang dimulai dari saudara, kerabat dekat hingga para pengusaha yang juga ikut datang, akhirnya kedua pasangan pengantin baru itu bisa bernafas dengan lega ketika acara berakhir. Untungnya acara itu diselenggarakan di hotel bintang lima jadi Ezar dan Embun bisa langsung naik ke lantai atas untuk beristirahat di kamar yang sudah dipesan khusus. Ezar langsung mengajak Embun untuk segera pergi ke kamar mereka begitu acara ditutup. Sepertinya Ezar sendiri juga sudah sangat kelelahan.


Embun duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu kacanya. Sepatu kaca dengan tinggi hak lima sentimeter yang dirancang khusus untuk dirinya seorang ini sengaja dipesan oleh Marisa dari Inggris. Jujur Embun sangat pegal berdiri seharian memakai sepatu kaca itu. Embun tidak pernah memakai sepatu yang tinggi haknya lebih dari tiga senti sebelumnya. Embun lebih suka memakai sneaker atau sepatu Converse daripada pakai heels. Sangat menyiksa.


Ezar juga langsung membuka jas dan dasi kupu-kupunya. Lalu Ezar melirik Embun yang sedang mulai melepas perhiasan yang menempel ditubuhnya.


"Kau tidak keberatan jika aku mandi lebih dulu?" Tanya Ezar.


Embun melirik Ezar sekilas lalu mengangguk.


"Silahkan saja. Aku masih harus menghapus riasan wajahku." Jawab Embun seadanya.


Ezar hanya mengangguk lalu bersiap masuk ke kamar mandi. Setelah melepas jas dan kemejanya Ezar pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Diam-diam Embun memperhatikan Ezar hanya untuk memastikan pria itu benar-benar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat barulah Embun menghela nafas. Tatapan Embun langsung tertuju pada ranjang dipenuhi kelopak bunga mawar yang berserakan membentuk simbol hati. Kamar ini memang sengaja dipesan khusus untuk pasangan pengantin baru. Gadis itu pun mengambil satu kelopak.


Embun menatap kelopak bunga mawar itu cukup lama dengan perasaannya yang campur aduk. Kini Embun bisa melihat dengan jelas seperti apa kamar yang dihias khusus untuk pengantin. Biasanya Embun hanya melihat ranjang dengan kelopak bunga mawar diatasnya di film atau drama yang sering ia tonton. Tapi sekarang Embun merasakan sendiri berada di kamar itu. Bahkan semua kelopak mawar itu sengaja dihias untuknya dan untuk Ezar.


Embun menunduk menatap jari manisnya yang sudah terikat oleh sebuah cincin berwarna silver yang diberi hiasan berlian kecil ditengahnya. Embun tidak menyangka jika beberapa jam yang lalu Ezar memasangkan cincin itu di jari manisnya dengan sangat lembut dan hati-hati. Terlebih Embun tidak menyangka jika ia dan Ezar akhirnya .. menikah.


Akhirnya pernikahan yang sudah direncanakan dan ditunggu-tunggu oleh orang tua Ezar pun terjadi. Ezar resmi menikahi Embun dan pernikahan ini murni menjadi pernikahan sungguhan tanpa ada kontrak didalamnya.


Ezar benar-benar pria yang sangat baik. Mungkin Embun mulai menyukai Ezar sekarang karena sifat baiknya itu. Embun jadi ingat bagaimana Ezar mencium keningnya tadi setelah mereka mengucapkan janji pernikahan. Embun kira Ezar akan menciumnya di bibir tapi ternyata malah dikening. Tapi kira-kira apa yang akan terjadi malam ini? Seketika Embun jadi cemas. Wajahnya langsung merona. Ini adalah malam pertamanya. Haruskah Embun meminta Ezar tuk langsung tidur saja?


"Ada apa dengan wajahmu?"


Embun tersentak mendengar suara bariton itu. Apalagi saat melihat Ezar yang sudah duduk disampingnya. Spontan Embun menggeser duduknya agar menjauh dari Ezar.


Rupanya Ezar sudah selesai mandi. Kini pria yang berstatus sebagai suami Embun itu hanya memakai celana tidur saja tanpa baju atasnya. Embun menelan saliva melihat bentuk otot-otot tubuh Ezar yang terpahat dengan sempurna dalam jarak sedekat ini. Belum lagi rambut pria itu masih basah. Melihat Ezar yang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil membuat Embun sedikit terganggu.


Embun tak sengaja memperhatikan air yang menetes dari rambut dan meluncur ke dsda bidang itu sampai ke titik pusar. Setetes air itu melewati otot-otot perut Ezar dengan sempurna. Embun tidak bisa berkedip melihatnya.


"Kau lihat apa?" Suara Ezar terdengar.


Embun langsung memalingkan wajahnya yang sudah merona.


"K-Kenapa kau tidak pakai baju?"


"Dan kenapa wajahmu memerah?" Ezar bertanya balik.


Embun bingung harus menjawab apa. Ezar pun terkekeh lalu bangkit. Ezar kembali melirik Embun yang masih tidak ingin melihatnya.


"Dasar anak perawan!" Decak Ezar.


"Apa?!"


Embun memperhatikan Ezar yang berjalan menuju sofa. Pria itu menyalakan tv dan mulai mencari acara yang sekiranya seru. Embun kira Ezar akan langsung tidur mengingat mereka berdua sangat lelah hari ini. Tapi sepertinya dugaannya salah. Daripada memikirkan itu lebih baik sekarang Embun fokus membersihkan diri. Embun pun duduk di meja rias dan mulai membersihkan riasan wajahnya. Embun mengambil kapas dan cairan pembersih dari tasnya.


Embun nyaris menjerit saat tiba-tiba melihat bayangan Ezar di cermin. Pria itu berdiri dibelakangnya masih dengan bertelanjang dada. Kenapa Ezar cepat sekali berpindah tempat? Mata mereka pun bertemu. Ezar menatap Embun dengan datar.


Embun langsung menunduk. Apa rasanya ditatap setajam itu oleh Ezar yang sedang bertelanjang dada? Embun menggenggam kuat kapas ditangannya.


"Kau menghabiskan waktu untuk melamun. Ku kira kau sudah membersihkannya selama aku mandi." Sahut Ezar.


"Aku .. hanya lelah." Gumam Embun asal.


"Berikan padaku."


Embun mendongak menatap Ezar melalui pantulan cermin.


"Apanya?"


"Kapas dan cairannya, berikan padaku." Ujar Ezar.


"Untuk apa?"


"Ck. Kau sangat lambat."


Ezar merebut kapas yang sudah basah oleh cairan pembersih itu dari tangan Embun. Lalu Ezar berjongkok dan mulai membersihkan riasan di wajah Embun. Embun menahan nafas saat tangan Ezar dengan lembut mengusap permukaan wajahnya menggunakan kapas.


Embun menatap Ezar. Raut wajah Ezar sangat serius ketika membersihkan wajahnya. Ezar sangat .. tampan. Seketika Embun merasa beruntung karena bisa menikah dengan pria impian seperti Ezar. Ayolah, Ezar sangat tampan dan kaya. Mata Embun bergerak menelusuri lekukan wajah Ezar.


Ezar memiliki mata yang tajam dengan pupil berwarna hitam keabuan , membuat siapa saja akan langsung takluk jika ditatap oleh mata itu. Embun langsung berpikir jika Ezar mendapatkan warna mata seperti itu pasti dari gen mamanya yang berdarah Eropa. Hidung Ezar sangat mancung, rahang yang kokoh dan tegas itu  membuat Embun ingin membelainya. Dan bibir Ezar .. berwarna merah dan tebal. Embun jadi teringat bagaimana ia mencium bibir Ezar waktu itu.


"Kenapa melamun?"


Lagi-lagi suara Ezar mengejutkan Embun. Reflek Embun hanya bisa mendorong Ezar sambil memalingkan wajah. Ezar tertawa melihat reaksi Embun.


"Sudah selesai. Untung saja riasan wajahmu tipis jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkannya." Sahut Ezar.


Embun hanya mengangguk singkat. Riasan wajah yang tipis adalah permintaan Ezar sendiri. Katanya Ezar lebih suka wanita natural. Yah, Embun sendiri pun tidak terlalu suka ber-make up. Hanya kadang-kadang saja. Ezar berdiri dan kali ini ia berjalan menuju ranjang. Embun masih diam di tempat.


"Kau tidak mandi?" Tanya Ezar.


Ah, pria itu terlalu banyak bertanya bukan?


"Tentu saja aku akan mandi."


"Cepat. Aku menunggumu."


"Hmm."


Embun pun bergegas menuju kamar mandi. Namun seketika ia kembali mencerna ucapan Ezar barusan. Langkah Embun terhenti di ambang pintu.


Ezar bilang jika dia menunggu Embun?


Menunggu?


Untuk apa?


Seketika Embun merona dan merasa malu sendiri.


Mungkinkah Ezar menunggunya untuk .. 'itu'?


...__ooOoo__...


Embun baru saja selesai mandi. Ia keluar hanya mengenakan bathrobe. Embun lupa mengambil pakaiannya tadi. Diliriknya Ezar yang masih berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ezar tampak fokus dan serius. Sepertinya pria itu juga tidak menyadari kehadiran Embun. Baguslah. Embun merasa khawatir karena tubuhnya hanya dibalut oleh bathrobe.


Embun berjalan mengendap-endap menuju lemari. Katanya disana sudah disediakan beberapa pakaian untuk mereka bermalam. Dan benar saja, begitu Embun membuka lemari memang ada beberapa pakaian untuknya. Hanya saja .. semua pakaiannya sangat terbuka. Embun tercengang melihat semua gaun tidur yang sangat tipis dan transparan.


Tiba-tiba Ezar sudah berdiri dibelakangnya lalu menyentuh pundaknya.


"Kenapa bingung sekali?" Tanya Ezar dengan suara yang sangat rendah.


Embun merinding begitu tangan Ezar menyentuh rambutnya yang masih basah. Embun menghela nafas lalu berbalik.


"Ezar, apa tidak ada pakaian lain?" Tanya Embun.


Ezar mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Mereka menyediakan pakaian untukmu juga."


"Tapi .. aku tidak bisa memakainya."


Lalu mata Ezar melihat semua gaun tidur milik Embun. Tak lama pria itu kembali menatap Embun dengan tatapan bingung.


"Kau tidak suka?"


Kini Embun yang menatap Ezar dengan bingung. Kenapa Ezar malah bertanya? Seharusnya Ezar mengerti kan tanpa diberi tahu. Ezar bahkan terlihat kecewa saat tahu Embun tidak menyukai semua gaun tidur tipis itu.


"Kenapa kau bertanya?" Tanya Embun.


"Semua gaun itu aku yang merekomendasikan." Ucap Ezar dengan santai.


"Apa? Kenapa? Kau .. tidak memikirkan aku?" Tanya Embun dengan wajah terkejut.


"Maksudmu?"


Embun berdecak.


"Ezar, kita menikah hanya terpaksa karena keadaan. Kau pikir aku mau tampil memakai semua itu di depanmu?"


"Aku kan suamimu."


"Tapi kita belum lama saling kenal harusnya kau tahu itu. Aku tidak nyaman berpakaian seperti didepanmu sekalipun kita ini sudah menjadi suami istri." Tukas Embun.


Ezar menghela nafas.


"Baiklah. Tidak apa-apa jika tidak mau memakainya." Ujar Ezar dengan murung.


Tampaknya pria itu kecewa tapi Embun tidak mau memakai pakaian transparan seperti itu. Ini terlalu cepat menurutnya. Embun pun membuka lemari yang berisi pakaian Ezar. Disana hanya ada kemeja putih dan satu buah kaos milik Ezar. Tentunya semua pakaian itu akan sangat kebesaran di tubuh Embun.


Embun memilih memakai kemeja lalu kaos itu ia berikan pada Ezar.


"Kau pakai ini." Ujarnya.


"Lalu kau akan pakai kemejaku?"


"Ya. Kau juga harus pakai baju." Tegas Embun.


"Aku terbiasa tidur bertelanjang dada."


"A-Apa? Tapi sekarang kau tidur denganku jadi kau harus tidur pakai baju."


Embun mendadak salah tingkah. Meski Ezar terbiasa tidur bertelanjang dada tapi tetap saja itu akan berbahaya. Embun belum siap. Ezar pun berdecak kesal lalu duduk di tepi ranjang. Ezar menatap Embun dengan wajah kesalnya.


"Kenapa? Kau mau pakai kemeja juga?" Tanya Embun bingung.


"Tidak. Sudahlah."


Embun segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti bathrobe dengan kemeja putih kebesaran milik Ezar. Tak lupa Embun juga memakai hotpants hitam miliknya untuk menutupi area bawah walau hanya mampu menutupi setengah paha saja. Setelah selesai Embun kembali ke kamar dan melihat Ezar yang sudah memakai kaosnya.


Pria itu sedang duduk di sofa sambil menatap layar tv dengan wajah masam. Ah, mungkin Ezar masih kesal karena harus tidur memakai baju. Embun ikut duduk disebelahnya lalu memperhatikan Ezar. Embun tahu jika Ezar tidak benar-benar sedang menonton tv. Pikiran pria itu pasti kemana-mana. Tidak mungkin Ezar mencermati apa yang sedang disiarkan di tv dengan tatapan mata kosong seperti itu.


"Ezar, kau tidak mau tidur?" Sahut Embun.


Ezar melirik Embun.


Seketika Ezar langsung menelan saliva Sial. Ternyata Embun lebih terlihat menggoda memakai kemeja kebesaran itu daripada memakai gaun tipis. Ezar semakin lebih penasaran dengan apa yang ada dibalik kemeja itu. Pikirannya mulai liar. Kemeja Ezar sangat besar ditubuh Embun sehingga membuat tubuh mungil Embun tenggelam dengan begitu lucu. Lalu hotpants yang dikenakan pun tidak berarti apa-apa karena Ezar masih bisa melihat dengan jelas permukaan paha yang mulus itu. Belum lagi rambut Embun yang masih agak basah. Sial. Embun terlihat begitu seksi.


Embun menyadari sesuatu. Jakun pria itu terlihat naik turun.


"Ezar! Kau melamun?" Bentak Embun.


Ezar mendengus.


"Tidak. Aku .. belum mau tidur."


"Kalau begitu aku tidur duluan ya. Aku lelah."


Embun pun berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya disana. Tak lupa ia juga menyingkirkan kelopak bunga mawar yang terasa mengganggu. Rasanya kasur itu sangat empuk dan nikmat. Embun bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


Sedari tadi Ezar memperhatikan gerakan Embun dalam diam. Mengamati gerak-gerik gadis itu menggunakan mata elangnya.


"Kau serius mau tidur?" Tanya Ezar dengan suara rendah.


"Ya, memang kenapa?"


Ezar mengusap wajahnya gusar. Entah kenapa Ezar terlihat frustasi. Embun jadi bingung. Tapi sejujurnya Embun tidak memikirkan soal malam pertama mereka. Lain halnya dengan Ezar yang sudah berimajinasi tinggi apalagi ketika melihat Embun memakai kemeja miliknya. Tapi Ezar harus bisa bersabar dan menahan diri. Mereka belum saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Ezar tidak ingin merusak kehidupan awal rumah tangga mereka hanya karena memaksakan nafsunya sebagai seorang pria. Mungkin ia akan mulai mengenal Embun secara perlahan.


"Ezar kau kenapa sih? Apa aku melakukan kesalahan?" Sahut Embun.


Ezar menggeleng.


"Tidak. Kau tidur saja. Selamat malam."


"Ya, selamat malam Ezar."


...___________________...


...To be continued...


...(Revisi : 29-10-2020)...