
"Dia mantan kekasihku sekaligus cinta pertamaku."
Mendengar itu Embun tidak tahu lagi harus bagaimana. Hatinya terasa sakit. Ia merasa marah dan sakit diwaktu yang bersamaan. Embun mencengkram ujung roknya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat.
"Lalu kenapa kau membawanya kesini? Apakah dia yang meminta dibawa olehmu? Jika iya maka aku bisa menyuruhnya pulang sekarang."
Embun bangkit dan berniat mengusir Sarah detik ini juga. Tapi Ezar menahan tangannya. Ezar mendongak menatap istrinya dengan dingin.
"Biarkan saja dia disini. Aku yang membawanya kesini jadi hanya aku yang berhak menyuruhnya pergi kapanpun aku mau." Tegas Ezar.
Embun melepaskan cekakan tangan Ezar dengan kasar. Tanpa berkata apa-apa lagi Embun langsung berlari ke kamar. Ezar benar-benar keterlaluan pikirnya.
Selepas Embun pergi Ezar menghela nafas. Ia menatap masakan istrinya. Mendadak nafsu makannya hilang. Padahal Ezar merindukan masakan Embun. Ada rasa nyeri dihatinya saat mengatakan kalimat tadi. Sudah dapat dipastikan Embun terluka. Ezar tidak tega. Namun ini juga demi kebaikan dirinya dan Embun. Semua harus segera diluruskan dengan benar.
Sarah muncul ke dapur.
"Ezar, kurasa istrimu marah." Sahut Sarah.
"Hm."
"Apa tidak apa-apa jika dibiarkan? Lagipula sebenarnya apa tujuanmu menemuiku lagi setelah sekian lama?" Tanya Sarah heran.
Beberapa waktu lalu Ezar tiba-tiba menghubungi dan mencarinya lagi setelah kurang lebih tujuh tahun mereka berpisah untuk mencari jalan masing-masing. Dulu Sarah sangat mencintai Ezar begitu juga sebaliknya. Tapi keadaan membuat mereka harus berpisah. Kesibukkan keduanya lah yang membuat mereka memutuskan untuk berpisah. Ezar lebih mencintai pekerjaannya begitu juga dengan Sarah.
Tapi tidak ada cinta lama yang belum selesai diantara mereka. Perasaan keduanya baik-baik saja dan kini hanya sebatas teman. Dan tentunya Sarah pun bingung maksud tujuan Ezar saat ini.
Ezar tidak menjawab. Pria itu terlihat frustasi.
"Ezar." Panggil Sarah.
"Aku tidak tega melihatnya tersakiti seperti itu, Sarah. Bagaimana ini?"
"Bukankah kau yang berniat menyakitinya? Lalu apa tujuanmu sebenarnya jika bukan untuk menyakiti istrimu?" Tanya Sarah bingung.
Ezar juga bingung. Tapi ia selalu sakit jika mengingat perkataan Embun malam itu. Bukankah semuanya sudah jelas dari situ kalau Embun tetap tidak bisa mencintai dirinya?
"Kurasa aku tidak sanggup melihatnya sedih begitu."
Ezar pun langsung menyusul Embun ke kamar.
~~
Ceklek
Mendengar pintu terbuka Embun langsung merapikan raut wajahnya. Ia melirik Ezar dengan sinis sekilas. Kemudian Embun pura-pura menyibukkan diri dengan merapikan pakaian yang habis disetrika. Ezar duduk ditepi ranjang. Mata tajamnya memperhatikan Embun dengan seksama.
"Kau mengganggu." Sahut Embun terdengar samar.
"Apa?"
"Jika hanya ingin duduk saja begitu lebih baik kau duduk di tempat lain bersama cinta pertamamu itu." Ketus Embun.
"Aku mau bicara."
Embun langsung menghentikan kegiatannya. Embun melirik Ezar.
"Mulai sekarang kau bebas melakukan apapun yang kau mau." Tegas Ezar.
Namun terlihat dengan jelas rahang Ezar mengeras saat mengatakannya.
"Maksudmu apa?"
"Lakukan apapun yang kau suka dan kau mau. Aku tidak akan melarang atau bahkan ikut campur lagi. Kita urus hidup masing-masing." Jelas Ezar dalam sekali tarikan nafas.
Entah harus bereaksi bagaimana, tapi lutut Embun langsung bergetar lemas mendengarnya. Kenapa Ezar tiba-tiba berubah?
Apakah karena Sarah?
"Kau bilang begitu karena tidak ingin aku mengetahui tentang Sarah?" Tanya Embun dengan suara pelan.
Ezar menghela nafas. Pria itu menyugar rambut ya ke belakang.
"Bukan begitu. Jawabannya ada pada dirimu sendiri."
"Kenapa? Kenapa kau malah seperti ini Ezar?"
"Aku kenapa? Tanya pada dirimu sendiri Embun!" Pekik Ezar.
Embun terperanjat.
Ezar tiba-tiba membentak. Padahal Embun sama sekali tidak mengerti alasannya. Ini semua pasti karena Ezar ingin berselingkuh dengan leluasa.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku tidak akan mengurusmu lagi!"
Setelah berteriak Embun langsung mengacak-acak baju Ezar yang telah disetrika rapi. Embun melemparkan semua pakaian itu ke hadapan Ezar.
"Cuci dan setrika pakaianmu sendiri! Selama Bi Lasri cuti kau harus mengerjakan semua urusanmu sendiri!" Desis Embun.
Kemudian wanita itu pergi sambil membanting pintu kamar.
Ezar menghela nafas kasar. Apakah ini jalan terbaik?
~~
Seminggu pun berlalu.
Tak terasa sudah selama ini mereka bertengkar. Ezar benar-benar berubah Dimata Embun. Tidak, tidak hanya dimata Embun. Tapi pria itu benar-benar berubah. Ezar benar-benar pergi meninggalkan Embun. Setelah pertengkaran hari itu Ezar langsung pergi bersama selingkuhannya, Sarah.
Begitu sadar bahwa dua hari Ezar tidak pulang ke rumah, Embun memutuskan untuk tinggal di rumah Carrel. Biarlah orang berkata apa yang penting Embun tidak ingin melihat Ezar seandainya pria itu pulang ke rumah. Jika tidak pulang pun Embun tidak ingin sendirian di rumah.
Sepulang kerja Embun mampir dulu ke cafe Carrel. Mereka selalu pulang bersama setelah Cafe tutup. Embun duduk di meja dekat jendela. Sambil menunggu cafe tutup ia biasa berselancar internet menggunakan laptop.
Embun menghela nafas. Matanya begitu jeli melihat contoh desain pakaian yang ada di internet.
"Sejak kemarin kau selalu fokus memakai laptopku. Kau lihat apa sih?" Sahut Carrel.
Carrel meletakkan secangkir kopi didepan Embun lalu mengintip laptopnya.
"Aku sedang menghibur diri."
"Menghibur diri apanya. Kau selalu menghibur dirimu dengan pergi ke club. Kenapa tidak kau lakukan saja? Daripada duduk berjam-jam mengamati desain pakaian."
Embun menggeleng.
"Itu membosankan sekarang. Aku ingin sesuatu yang baru."
Carrel berdecak.
Embun langsung menatap Carrel dengan tajam.
"Aku hanya sedang menunggu Ezar kembali ke rumah. Lihat saja, seminggu bersama selingkuhannya itu dia pasti kebosanan."
"Lalu kau membiarkan dia berselingkuh begitu saja?" Tanya Carrel dengan bingung.
Embun langsung terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke jendela. Namun Embun malah melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Ezar baru saja turun dari mobilnya bersama dengan Sarah. Sepertinya mereka berdua berniat masuk kemari. Gawat.
"Kurasa kau kedatangan pelanggan." Ujar Embun dengan datar.
Bertepatan dengan itu Ezar dan Sarah masuk ke cafe. Carrel langsung melirik pelanggan yang baru saja datang. Seketika Carrel langsung menatap Embun.
Embun mendengus. Saat ia menatap Ezar, rupanya Ezar juga tengah menatapnya. Namun tatapan Ezar terlihat seperti orang terkejut. Embun langsung memalingkan wajah. Apakah Ezar terkejut karena tertangkap basah datang bersama Sarah? Lalu apakah Ezar takut Embun akan marah?
Cih, Embun muak.
"Selamat datang Ezar." Sapa Carrel ramah.
Embun ingin protes pada Carrel. Seharusnya sebagai seorang sahabat Carrel tidak perlu menyambut Ezar dengan hangat begitu. Embun merasa dikhianati.
"Apakah ada meja kosong untuk kami berdua?" Tanya Ezar pada Carrel.
Tapi tatapan matanya tak lepas dari sosok istrinya.
"Tentu saja. Silahkan kemari."
Carrel membawa Ezar dan Sarah ke meja dimana Embun berada. Tanpa protes Sarah langsung duduk disana begitu juga dengan Ezar.
Embun melotot.
"Apa-apaan ini?!"
"Tidak ada meja kosong lagi selain disini. Kau juga bukan pelanggan khusus hari ini jadi kau bisa mengalah."
Carrel tersenyum simpul.
Embun mendengus lalu menatap kedua manusia dihadapannya. Mereka tampak tenang dan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ezar bahkan dengan santai membaca menu yang ada.
"Kau mau apa?" Tanya Ezar pada Sarah.
Cih. Embun berdecak. Nada bicara pria itu sangat lembut. Jadi benar ya Ezar serius untuk berselingkuh didepan matanya.
"Aku pikir kau terlalu kekanak-kanakan Ezar!" Desis Embun.
Ezar langsung menatap istrinya.
"Apa?"
"Kau sedang berusaha membuatku cemburu kan? Jangan kau kira aku tidak bisa menilai akting burukmu itu!"
"Siapa yang akting? Kami serius ingin mengulang dan memperbaiki kisah kami yang dulu. Sudah kubilang Sarah ini adalah-"
"Yayaya terserah!" Embun mencela sebelum telinganya mendengar kata-kata yang tidak seharusnya ia dengar.
"Kenapa kau sendiri disini? Kupikir Rayhan selalu bersamamu."
Embun tidak menjawab. Entah apa maksudnya Ezar bertanya seperti itu. Kepala Embun terasa sedikit pusing sekarang.
"Carrel! Bawakan aku semua menu yang mengandung matcha didalamnya!" Teriak Embun.
Carrel terkejut.
"Kau bercanda? Kau tidak suka matcha. Bahkan kau tidak bisa menelan semua makanan yang mengandung matcha."
Ezar tertegun mendengarnya. Tanpa sadar ia berdehem. Sudah selama ini mereka menikah dan .. Ezar baru tahu kalau Embun tidak suka rasa matcha. Hal yang sangat kecil dan sepele tapi Ezar merasa menyesal karena baru mengetahuinya.
Lalu untuk apa istrinya itu ingin makan makanan rasa matcha?
"Sudah cepat bawakan saja! Semuanya! Aku ingin memakan rasa matcha." Ketus Embun.
"Cih, baiklah. Asal jangan kau muntahkan semua makanan buatanku."
Carrel pun membuatkan pesanan untuk Embun dan juga Ezar.
Selagi menunggu pesanan Embun dibuat pusing oleh dua manusia dihadapannya. Entah kenapa melihat bagaimana Ezar memperlakukan Sarah dengan lembut membuatnya mual. Sial sekali. Sesekali wanita itu memijit pelipisnya. Ezar tak lagi tersenyum dan tertawa hangat padanya. Sudah ada wanita lain.
"Aku mau ke toilet sebentar." Sahut Ezar pada Sarah.
Pria itu pun pergi untuk urusannya ke toilet. Menyisakan Sarah dengan Embun. Menyebalkan sekali.
Diam-diam Embun melirik Sarah.
"Kalian sudah melakukan apa saja selama seminggu ini?" Tanya Embun tanpa mau menatap Sarah.
Alis Sarah terangkat sebelah.
"Memang kau pikir kami melakukan apa?" Sarah bertanya balik.
Embun kembali memijit pelipisnya.
"Aku bertanya dan butuh jawaban!"
"Tanyakan saja pada Ezar."
"Dasar menyebalkan!"
~~
Ezar tidak benar-benar pergi ke toilet. Itu hanya alasan saja. Ia malah masuk ke dapur cafe untuk menemui Carrel. Ya, sebenernya sejak awal niatnya datang kesini adalah untuk bertemu dan berbicara dengan Carrel. Hanya saja semua mendadak diluar rencana saat ternyata Embun ada disini.
Ezar langsung menghampiri sosok gadis berambut sebahu yang sedang berkutat dengan piring kue.
"Carrel aku ingin bicara denganmu."
Carrel nyaris saja menjatuhkan piring yang sedang ia pegang.
"Astaga Ezar kau mengejutkanku!"
Carrel meletakkan piring kecil itu lalu menatap Ezar.
"Apa yang mau kau bicarakan?"
"Ini tentang Embun dan juga hubunganku dengan Sarah."