
Malam harinya Embun dan Ezar baru tiba di rumah setelah menghabiskan seharian penuh dengan bermain di taman bermain. Keduanya banyak menaiki wahana sesuai keinginan Embun. Alhasil sekarang keduanya kelelahan. Apalagi Ezar yang tak terbiasa bermain seperti itu.
Embun memasuki rumah lebih dulu selagi Ezar memarkirkan mobilnya. Embun terkejut melihat seorang pria duduk di sofa membelakanginya. Embun langsung berpikir jika rumahnya kemasukan perampok. Tapi saat pria itu menoleh Embun langsung menghela nafas lega.
"Astaga Aldo kau mengejutkanku. Aku pikir kau perampok."
Aldo tertawa pelan lalu bangkit menghampirinya. Ezar pun baru saja masuk ke dalam rumah sambil memakai topi binatang di atas kepalanya. Seketika Aldo langsung tergelak.
"Aldo, sedang apa di rumahku?" Tanya Ezar.
Embun langsung mengerti penyebab Aldo tertawa. Pasti karena topi binatang yang Ezar pakai. Sangat lucu. Embun pun tersenyum bangga.
"Hahahaha sejak kapan kau pakai benda seperti itu? Apa kalian baru saja dari kebun binatang?"
Ezar mendengus dan memasang wajah masam.
"Tidak, kami baru saja dari taman hiburan. Kebetulan topi ini sangat lucu jika dipakai Ezar." Jawab Embun.
Ezar melepas topi binatang yang ada di kepalanya. Ia bahkan sampai tak sadar kalau sejak pulang tadi topi binatang itu masih terpakai di kepalanya. Ugh, kenapa juga Aldo harus melihatnya.
"Ezar yang gagah dan dingin ternyata menggemaskan jika memakai topi seperti itu. Aku suka melihatnya hahaha."
Embun ikut tertawa dan mengangguk setuju sementara Ezar melempar topi itu ke sofa dan duduk.
"Kalau begitu aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." Sahut Embun.
Ezar pun mengangguk dan membiarkan istrinya pergi ke kamar mereka. Aldo ikut duduk di sofa yang berbeda. Setelah mencoba berhenti tertawa kini Aldo bisa kembali serius. Wajahnya benar-benar serius. Ezar tahu kalau Aldo datang ke rumahnya di waktu seperti ini pasti ada sesuatu yang penting yang harus segera disampaikan.
"Jadi, ada apa?" Tanya Ezar tanpa basa-basi lagi.
"Sebelumnya aku ingin bilang kalau kau memang harus sering berjalan-jalan bersama istrimu. Bagus untuk hari ini Ezar." Aldo mengacungkan dua jempol tangannya.
Ezar mengibaskan tangannya.
"Dia terus memaksa ingin berjalan-jalan jadi tidak ada pilihan lain."
"Wanita memang hanya butuh dimengerti dan ikuti saja kemauannya agar dia senang."
"Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa aku menurut saja memakai topi itu." Ezar mendelik pada topi hewan yang tergeletak di sampingnya.
"Tapi aku tidak berbohong, Ezar. Kau tampak menggemaskan memakai topi itu." Aldo terkekeh.
"Cih, kembali ke topik. Ada hal apa yang ingin kau sampaikan?"
Aldo menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Ini mengenai Rian."
...__ooOoo__...
Embun baru saja turun dari lantai dua setelah selesai membersihkan diri. Tapi begitu turun ke lantai bawah ia malah melihat Aldo yang sepertinya sedang bersiap pulang.
"Aldo kau sudah mau pulang?" Tanya Embun.
Kedua pria itu pun langsung menoleh ke arahnya.
"Iya."
"Sepertinya kalian hanya membicarakan hal penting ya?" Gumam Embun.
"Ya begitulah. Lagipula Ezar terlihat kelelahan. Dia tidak terbiasa bermain dan berjalan-jalan. Sepertinya kau harus sering mengajaknya berjalan-jalan agar terbiasa." Tukas Aldo.
"Iya. Padahal aku ingin menceritakan seorang Ezar yang takut- mmpphh!"
Buru-buru Ezar membekap mulut istrinya sebelum Aldo mendengar hal yang memalukan tentang dirinya. Jangan sampai Aldo tahu. Meskipun sudah berteman selama bertahun-tahun tetapi Ezar tetap menjaga harga dirinya.
"Lebih baik kau cepat pulang. Besok kita ada rapat pagi." Tukas Ezar.
Aldo hanya mengangguk pasrah.
Merasa dirinya disebut Embun langsung menghempaskan tangan Ezar secara paksa.
"Mau bicara apa?" Embun melirik Ezar dengan sinis.
Aldo terlihat menatap Ezar sebentar sampai akhirnya Ezar pun memutuskan untuk pamit undur diri ke kamarnya. Tersisa Aldo dan Embun.
"Apa yang mau kau bicarakan padaku Aldo?" Tanya Embun yang sudah tak sabar.
"Sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin tahu bagaimana perkembangan hubungan kalian." Aldo tersenyum simpul.
Namun Embun tidak mengerti dan mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?"
"Maaf jika aku terkesan tidak sopan tapi.. apa kau sudah mulai mencintai temanku?"
Embun mengerjap pelan. Gadis itu terdiam beberapa saat. Selain mencerna kembali pertanyaan Aldo barusan, Embun juga memikirkan soal jawaban yang akan ia berikan.
"A-Aku tidak tahu. Cinta tidak bisa disimpulkan secepat itu kan." Tukas Embun.
Aldo mengangguk.
"Ya, kau benar. Tapi aku harap kau bisa terus berada disisi Ezar. Meski dia adalah orang yang dingin tapi percayalah padaku, hanya dia yang bisa menjagamu lebih baik dari siapapun."
"Aku tidak mengerti maksud dari perkataanmu Aldo. Memangnya ada apa?" Embun semakin bingung namun semakin penasaran.
Aldo hanya tersenyum sambil memegang bahunya.
"Tidak apa-apa. Kau hanya perlu ingat perkataanku. Kalau begitu aku pamit pulang dulu."
Aldo menepuk bahu Embun lalu berjalan menuju pintu. Saat di ambang pintu Aldo kembali menoleh ke belakang.
"Tolong sampaikan pada Carrel, untuk beberapa waktu ke depan aku mungkin tidak akan bisa mampir ke cafe nya. Ku harap dia tidak menunggu ku."
...__ooOoo__...
Begitu masuk ke kamarnya Embun malah mendapati Ezar yang tertidur di sofa masih mengenakan bathrobe. Ternyata Ezar menyelesaikan mandinya dengan cepat lalu malah langsung terlelap di sofa. Embun mengerti pasti Ezar kelelahan sampai tidak bisa menunda waktu lagi untuk tidur. Embun terkekeh lalu berjalan menghampiri Ezar yang tertidur. Sekarang Embun bingung bagaimana cara memindahkan Ezar ke ranjang. Tidak mungkin ia membiarkan suaminya tertidur di sofa setelah bermain seharian. Tubuh Ezar bisa pegal-pegal di hari esoknya. Apalagi Ezar tidur hanya memakai bathrobe. Tapi baiklah, pria itu bahkan terbiasa tidur dengan bertelanjang dada.
Embun berjongkok di samping kepala Ezar. Ia memandangi wajah pulas suaminya. Embun mengerjap pelan menelisik tiap lekukan wajah Ezar. Tampan. Ezar memang tampan. Karena ketampanan itu Embun sering merasa berdebar setiap kali Ezar menatapnya dengan tatapan tajam khas milik pira itu. Jemari telunjuk Embun bergerak mengelus pipi Ezar dengan pelan. Batinnya mulai bertanya-tanya.
"Apa kau sudah mencintaiku?" Gumam Embun pelan.
Perkataan Aldo kembali terngiang dibenaknya. Sebenarnya apa maksud Aldo mengatakan hal itu? Tumben sekali Aldo menanyakan hal yang sensitif dan mungkin sedikit privasi. Dan kenapa Aldo terlihat ingin tahu tentang perasaannya pada Ezar?
Entah kenapa Embun malah merasa aneh walau sebenarnya Aldo menanyakan hal yang biasa. Embun jadi penasaran kira-kira apa yang Ezar dan Aldo bicarakan tadi? Meskipun Embun yakin mereka pasti membicarakan soal pekerjaan tapi sepertinya sangat penting sekali sampai-sampai Aldo harus menemui Ezar.
Dan entah kenapa Embun jadi memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Memikirkannya membuat rasa kantuk itu muncul. Embun menguap lalu mengambil selimut untuk Ezar. Ia menyelimuti Ezar sebatas pinggang lalu membenarkan posisi bantal sofa secara perlahan. Embun pun kembali berjongkok.
"Entah kenapa aku ingin membuatmu bangga padaku. Dan mungkin aku juga ingin membuatmu jatuh cinta padaku sebentar lagi."
CUP
Embun memberikan kecupan di bibir Ezar sebagai ucapan selamat malam. Walau Ezar tidak tahu kalau Embun menciumnya, gadis itu tetap merasa gugup dan pipinya merona malu.
"Selamat malam Ezar."
Buru-buru Embun berlari menuju ranjang dan segera pergi tidur. Tak selang berapa lama Embun ikut terlelap ke alam mimpi.
Bahkan Embun tak mengetahui kalau sebenarnya Ezar tidak benar-benar tertidur dan dapat merasakan kecupan di bibirnya.
..._____________________...
...To be continued...
...(Revisi : 27-11-2020 )...