Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 28



Embun sedang menonton tv di kamarnya. Duduk di sofa sambil bermalas-malasan. Tangannya sibuk memencet tombol remot, mengganti-ganti saluran tv. Tapi hampir semua acara tv tidak ada yang menarik untuk Embun. Membosankan. Mendengar pintu kamar mandi terbuka Embun pun menoleh. Ezar keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Pria itu mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil yang digosokkan ke rambut. Embun menelan salivanya. Ezar terlihat begitu seksi.


"Kenapa kau menatapku seintens itu?" Tanya Ezar.


Embun mengerjap.


"Aku bingung darimana asalnya otot-otot ditubuhmu itu."


Ezar melempar handuk kecil itu ke sofa. Embun berjalan dan berdiri didepan Ezar. Sambil berkacak pinggang Embun memperhatikan tubuh Ezar. Tiba-tiba Ezar menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.


"Kau lihat apa?" Ujar Ezar histeris.


"Aku heran. Apakah semua otot ini hasil suntikan dan implan?"


Ezar melotot.


"Jangan bicara sembarangan. Aku mendapatkan tubuh seperti ini secara alami tahu!"


"Benarkah? Tapi kau kan selalu sibuk bekerja setiap harinya. Kapan kau olahraga?"


"Setiap kali ada waktu, aku menyempatkan diri untuk olahraga. Lagipula walau tidak olahraga pun tubuhku sudah sempurna sejak lahir." Ujar Ezar dengan bangga.


Embun berdecak.


"Sombong sekali sih."


Embun pun berjalan menuju ranjang dan duduk disana. Ezar ikut duduk disamping istrinya. Tangan Ezar langsung menyelipkan rambut Embun ke belakang telinga gadis itu.


"Kau suka?"


"Suka apa?"


"Tubuhku."


Embun melirik Ezar sekilas.


"Kenapa bertanya?"


"Aku susah payah membentuknya sejak dulu demi menyenangkan istriku nantinya. Sekarang apa kau senang punya suami dengan tubuh ideal seperti ini?"


Embun menghela nafas. Kenapa Ezar harus bertanya ya.


"Kalau aku tidak senang, apa yang mau kau lakukan?" Tanya Embun sambil menatap Ezar.


"Aku akan berusaha lebih keras lagi supaya kau puas."


CUP


Embun tersenyum setelah mengecup pipi suaminya.


"Tidak perlu. Aku senang kau yang seperti ini, Ezar. Kau sangat baik."


Ezar tersenyum.


"Jadi bisakah kita mulai sekarang?" Tanya Ezar sambil memajukan tubuhnya mendekat.


Embun langsung mundur.


"Mulai apanya?"


Embun mulai gugup. Ezar menatap bibirnya dengan intens. Perlahan Ezar mendorong tubuh istrinya dengan lembut sehingga Embun dalam posisi berbaring. Bibir Embun bergetar.


"Ezar kau mau apa?"


"Bolehkah?"


"Huh?"


Ezar langsung menempelkan bibir mereka. Awalnya hanya sebuah kecupan-kecupan kecil yang berujung lumatan. Semakin lama lumatan itu terasa kasar dan menuntut. Embun yang awalnya diam pun perlahan membalasnya.


Ezar melepaskan ciumannya lalu menatap mata Embun.


"Kau siap?" Tanya Ezar dengan suara serak.


Hati Embun berdebar kuat. Dengan ragu gadis itu pun mengangguk. Ezar kembali menciumnya. Kali ini ciumannya semakin turun ke rahang lalu ke leher istrinya. Embun hanya bisa mencengkram rambut Ezar sambil menjambak.


Ciuman Ezar di lehernya begitu kuat sehingga meninggalkan tanda merah. Ezar menyeringai puas.


"You're mine, baby."


Embun hanya bisa pasrah saat tangan Ezar perlahan menyusup ke dalam pakaiannya. Embun menggeliat kecil.


"Kulitmu sangat halus dan mulus." Bisik Ezar.


Tangan pria itu meraba perut rata Embun lalu perlahan naik keatas.


"Ezar!" Embun memekik.


Ezar terus beraksi. Embun hanya bisa pasrah. Mungkin ini saatnya. Embun sedikit mengangkat tubuhnya saat tangan Ezar berusaha membuka sesuatu dibelakang punggungnya. Tapi tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang begitu nyaring. Reflek Embun mendorong bahu Ezar dengan kencang sambil menahan malu. Ezar pun tetap bersikeras menahan istrinya.


"Abaikan saja."


"Tidak Ezar. Takut ada sesuatu yang penting."


Ezar mendengus. Dengan terpaksa pria itu menyingkir dari tubuh Embun. Padahal sedikit lagi..


Sedikit lagi Ezar membuka pengaman yang ada ditubuh Embun. Argh! Sial. Sebenarnya siapa sih yang berani menelpon disaat seperti ini? Ezar merutuki orang itu.


Embun menarik nafas dalam sebelum mengangkat panggilan telpon yang ternyata dari Carrel. Sebisa mungkin Embun mengatur detak jantung dan tubuhnya yang gemetar.


"Ya Carrel. Ada apa?"


Ezar yang mendengar nama Carrel pun langsung menghela nafas. Ia tidak jadi merutuki dan menyumpahi orang yang berani mengganggu kegiatannya karena ternyata orang itu adalah Carrel. Tidak mungkin Ezar berkata kasar pada sahabat istrinya.


"Maaf mengganggu, Embun. Tapi aku hanya ingin memastikan saja."


"Memastikan apa?"


Terdengar suara helaan nafas disana.


"Kau .. mencintai Ezar kan?"


"Huh? Apa maksudnya?"


"Kau harus bisa mencintai suamimu, Embun. Kau sudah mulai menyayanginya kan?"


Embun terdiam. Walau pertanyaan Carrel begitu aneh dan tiba-tiba, tapi entah kenapa Embun jadi ikut kepikiran. Gadis itu pun berusaha bertanya pada hatinya sendiri. Apakah sejauh ini ia sudah menyukai Ezar atau bahkan mencintai?


Tapi apa yang barusan itu? Barusan mereka nyaris melakukannya dan Embun hanya bisa pasrah dengan anggukan tanda persetujuan. Apakah itu artinya Embun sudah membuka hati untuk Ezar?


Embun menghela nafas.


"Aku tidak tahu Carrel. Kenapa kau ingin tahu sekali?"


"Aku .. hanya ingin memastikan kau bahagia dengan suamimu. Apapun badai yang menghadang nanti kau harus tetap bertahan dengan Ezar ya."


"Dasar bodoh! Aku mencemaskanmu! Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang kau keloni suamimu itu."


"Dasar tidak jelas."


"Intinya kuharap pernikahan kalian bahagia dan kau bisa mencintai Ezar sekarang juga. Aku tutup ya, selamat malam sahabatku."


"Ya, selamat malam."


Embun meletakkan ponselnya di nakas lalu duduk di tepi ranjang. Ia termenung sejenak. Memikirkan perkataan Carrel soal perasaannya. Menyukai Ezar? Embun kan menutup hatinya untuk pria manapun. Tapi kenapa barusan Embun pasrah dan menyerahkan dirinya pada Ezar?


Sungguh, Embun bingung dengan dirinya sendiri. Mungkin karena ciuman Ezar begitu memabukkan dan terbawa hawa nafsu jadi Embun membiarkan Ezar melakukan hal seperti tadi. Ya, mungkin saja.


Sekarang Embun merasa malu karena sudah melenguh seperti tadi didepan Ezar. Untuk berbalik badan saja rasanya kaku. Kenapa bisa ia terbawa nafsu seperti tadi sih?


"Kenapa diam? Tidak mau melanjutkan yang tadi?" Sahut Ezar dari belakang punggungnya.


"T-tidak."


"Berbaringlah."


Embun menurut lalu berbaring dengan kaku disamping Ezar. Embun memunggungi Ezar tanpa berminat untuk berhadapan dengan pria itu. Rasa malunya baru muncul sekarang. Embun hanya bisa diam terbujur kaku saat Ezar memeluknya dari belakang.


"Kenapa tegang sekali? Santai saja sayang."


Ezar mengendus aroma shampoo yang dipakai istrinya. Sangat harum. Ezar suka. Embun hanya bisa diam sambil menahan nafasnya saat mulai menciumi bahunya. Rasanya sangat menggelitik karena bulu-bulu halus yang tumbuh disekitar rahang pria itu. Tapi Embun menyukainya.


"Ezar."


"Ya?"


"Maaf."


"Kenapa?"


"Aku .. sebenarnya aku .. belum siap."


Ezar menghela nafas. Sudah ia duga jika Embun akan berubah pikiran setelah menerima telpon. Wanita kan suka sekali berubah pikirannya. Tapi tidak apa-apa. Lagipula Ezar tidak ingin memaksa.


"Kau marah?" Tanya Embun suara pelan.


"Tidak. Hei, sudah kubilang aku tidak akan memaksamu."


"Aku .. minta maaf."


Embun mencengkram sprei kuat-kuat. Matanya berkaca-kaca. Salahkan hatinya yang membingungkan.


"Berbaliklah. Jangan takut, aku tidak akan macam-macam lagi." Titah Ezar.


Embun masih belum berani membalikkan badannya.


Ezar menghela nafas.


"Aku hanya ingin memelukmu. Ayo tatap aku."


Akhirnya Embun pun berbalik. Ezar langsung memeluk istrinya dengan erat. Meletakkan kepala Embun di dadanya. Embun hanya bisa memejamkan mata.


"Tidurlah." Bisik Ezar.


"Hm."


Perlahan Ezar mengantuk dan tertidur. Lain hal dengan Embun yang hanya bisa memejamkan mata tanpa ada rasa kantuk sedikitpun. Ia dilanda perasaan bersalah dan bingung bagaimana seandainya jika tadi Carrel tidak menelponnya. Apakah detik ini Embun sudah tidak perawan?


Embun semakin menenggelamkan wajahnya ke dada Ezar karena merasa malu. Tangan Ezar membelai tubuhnya begitu lembut. Akankah permainan pria itu juga lembut?


Hei, memikirkan apa sih!


Embun mendengus.


Lagipula sebenarnya apa maksud ucapan Carrel? Kenapa sepertinya Carrel sangat mendesak Embun untuk mencintai Ezar? Biasanya sejauh ini mereka berteman, Carrel tidak pernah mau pusing soal urusan percintaan Embun. Pasti .. ada sesuatu kan?


\=\=\=\=\=


Pagi ini pasangan suami istri itu dilanda badai kecanggungan. Setelah kejadian tadi malam Ezar maupun Embun seperti enggan bersikap seperti biasa. Terutama Embun, gadis itu lebih banyak menghindari bersentuhan dengan Ezar. Bahkan tadi saat memasangkan dasi saja Embun memberi jarak dan menjaga tangannya agar tidak menyentuh dada Ezar. Hal itu tentunya membuat Ezar bingung. Padahal Ezar biasa saja, pria itu hanya sedikit kecewa. Tapi bukankah ia sudah bilang tidak apa-apa?


Ezar duduk di tepi ranjang, memperhatikan istrinya yang sedang merias wajah. Dari pantulan cermin Embun melihat tatapan mata tajam itu.


"Ada apa?" Tanya Embun berusaha tidak gugup.


"Pagi ini kau aneh."


"Aneh apanya?"


"Kau terlihat seperti menghindariku."


"Aku tidak menghindarimu." Bantah Embun dengan gemetar.


Ezar menghela nafas. Mungkin Embun masih memikirkan yang tadi malam. Ezar menyerang disaat gadis itu belum siap. Mungkin Ezar harus bisa lebih bersabar dan menahannya. Tenanglah Ezar, jangan terburu-buru atau istrimu akan kabur.


Ezar pun bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Aku tunggu dibawah."


"Ezar tunggu!"


"Ya?"


Embun menarik nafas dalam lalu menatap Ezar.


"Kapan kita akan bulan madu?" Tanya Embun dengan serius.


Kening Ezar berkerut.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?"


"Aku .. " Embun kembali menunduk.


Ezar berdecak.


"Sudahlah. Kalau belum siap tidak apa-apa. Tidak perlu memaksakan diri."


"Bukan seperti itu."


Lagi-lagi Embun membantah.


Gadis itu terlihat berusaha meyakinkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Aku ingin melakukannya saat kita pergi bulan madu nanti."