
"Pagi Bumil" sapa Adinda.
Sapaan Andinda tersebut rupanya justru mengagetkan Aurora, pasalnya ia tengah fokus mengecek hasil jepretan foto steak buatannya yang akan ia promosikan di social media. "Iiih kamu ini dateng-dateng ngagetin aja!!"
"Aku sudah salam tadi, Bu Auroranya saja yang tidak dengar." ucap Adinda sambil mencomot satu kentang goreng yang berada di piring saji. "Ini udah selesai di foto kan?" tanya Dinda.
"Sudah, semuanya sudah kok tinggal edit saja." Aurora mempersilahkan Adinda untuk mencicipi Steak yang telah selesai ia foto.
Tentu saja dengan senang hati Adinda memasukan potongan daging sapi ke dalam mulutnya. "Biar aku saja Bu yang edit," dengan mulut yang masih penuh dengan daging, Adinda mengambil alih laptop yang tengah di pegang oleh Aurora.
"Loh kamu enggak kerja lagi Din?"
"Aku sudah resign dari kantor, aku benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Bu Syeira." tangan Adinda sedikit menepi dari laptop Aurora. Rasa jengkelnya terhadap Syeira yang menuduhnya salah memberikan laporan, membuatnya enggan untuk menapakan kakinya ke kantor itu lagi. 'Padahal dia sendiri yang keliru dalam menganalisi, mengapa jadi menyalahkan laporan yang aku buat? Dasar nenek sihir!' gerutunya dalam hati.
Adinda tersenyum sembari menatap Aurora "Bu Aurora tak perlu khawatir, aku sudah mendapat panggilan kerja di tempat lain dan besok aku sudah mulai bekerja." Andinda kembali fokus pada laptop Aurora.
Sementara Adinda tengah mengedit foto, Aurora mendaftarkan dagangannya ke beberapa aplikasi pesan antar makanan secara online, agar lingkup pasar konsumennya lebih luas serta ia tak perlu repot-repot mengantarkan pesanan.
"Sebenarnya aku kemari karena besok sore tanteku mau mengadakan acara syukuran di rumahnya, ia mau pesan 250 bowl steak Bu Aurora. Lumayan kan Bu, bisa sekalian promosi." Adinda mengalihkan perhatiannya ke arah Aurora.
"Besok ya?" Aurora nampak berfikir sejenak, pesanan sebanyak itu tidak mungkin ia mengerjakan sendirian. "Sebentar ya Din, aku tanya bibik yang akan membantu ushaku dulu, kemarin sih dia ready lusa, sehari sebelum opening." ucap Aurora sambil mengambil handphonenya kemudian ia menghubungi Bik Siti yang pernah menjadi asisten rumah tangganya.
Enam bulan yang lalu Bik Siti sempat mengundurkan diri karena orang tuanya di kampung sakit, namun kini Bik Siti sudah siap untuk kembali bekerja di kediaman Aurora.
"Oke, Din. Besok sore 250 bowl steak ready." Aurora menaruh kembali handphonenya setelah Bik Siti bersedia untuk datang sore ini ke kediaman Aurora.
"Siip, nanti aku info ke Tante Laura." ucap Adinda "Bagaimana editan fotoku baguskan?" Adinda memperlihatkan hasil editan fotonya kepada Aurora.
"Bagus banget Din, thanks ya" puji Aurora. Obrolan keduanya berlanjut membahas konsep pembukaan usaha Aurora.
"Kenapa enggak nambah dua orang lagi sih Bu? Nanti Bu Aurora kecapean lagi." Adinda mengelus perut Aurora dengan lembut sambil mengikuti pergerakan janin dalam kandungan Aurora.
"Nanti saja Din, sambil jalan. Aku mau lihat dulu respon pasar, terhadap usahaku baru bebenah apa yang kurang." ucap Aurora.
"Bisa aja kamu."
Malam hari ketika Aurora mengecek booth containernya, ia melihat mobil Mobil hatchback mungil masuk ke dalam garasi kediamannya "Mas Sekala?" Aurora sedikit terkejut melihat suaminya menggunakan mobil tersebut, ia pun bergegas menghampiri suamimya.
"Mobilmu yang biasa di pakai kemana mas?" tanya Aurora sambil mencium tangan Sekala.
"Berisik banget sih kamu" jawab Sekala dengan nada kesal, ia berjalan masuk ke dalam kediamannya.
"Aku kan cuma tanya Mas, tumben kamu ganti mobil yang lebih rendah dari mobil yang lama, biasanya kan kamu kalau ganti pasti cari yang lebih bagus." Aurora mengikuti Sekala masuk ke dalam kediamannya.
"Aku butuh modal usaha untuk project terbaruku, nanti setelah projectku selesai aku akan ganti yang lebih bagus." Sekala berjalan menuju ruang makan, melihat masakan Aurora membuat perutnya terasa sangat lapar. Tanpa menunggu waktu lama ia pun menyantap makanan yang telah di siapkan oleh istrinya.
"Loh kenapa harus sampai jual mobil? Kan bisa saja SPKnya yang di jadikan jaminan jika memang kamu butuh dana." ucap Aurora.
Sekala menghentikan makan malamnya, ia menghela nafas beratnya, ia baru ingat jika istrinya merupakan seorang accounting yang tentu saja ia paham mengenai masalah pembiyaan project. "Berisik banget sih kamu ini, ganggu selera makanku saja." Sekala membanting sendok dan garpu yang berada di tangannya "Jangan hanya karena kamu memiliki background seorang accounting, terus kamu bisa sok tahu tentang perusahaanku." bentak Sekala, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
Namun belum sempat Sekala melangkah, Aurora menahan suaminya pergi "Iya aku memang enggak tahu apa-apa tentang perusahaanmu, karena kamu enggak pernah mau cerita sama aku. Tapi aku mau bantu kamu Mas."
"Aku enggak butuh bantuan kamu, kamu urus saja usaha recehmu itu." Sekala menghempaskan tangan Aurora kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
Aurora beranjak dari tempat duduknya, ia mempercepat langkahnya mengejar Sekala yang masuk ke dalam kamar "Kamu ini kenapa sih Mas, selalu saja marah-marah setiap kali kita bahas tentang pekerjaanmu?"
Sekala membuka pakaiannya kemudian menoleh ke arah Aurora, ia menatap Aurora dengan tatapan tajam "Aku enggak suka kamu ikut campur ke dalam masalah pekerjaanku." ucap Sekala.
Sebagian pria akan gengsi membahas pekerjaannya yang tengah mengalami masalah, Aurora menghela nafas beratnya "Ya sudah, aku minta maaf ya. Aku tidak akan membahas lagi jika itu membuatmu tidak nyaman." Aurora menyiapkan air hangat dan pakaian ganti untuk suaminya.
Jika ada waktu luang, Aurora akan menyempatkan diri untuk berdiscus dengan Aksara dan membantu sebisa yang ia mampu melalui Aksara.
"Temani aku mandi yuk!!" ajak Sekala, Aurora tersenyum menganggukan kepalanya, ia menuruti permintaan suaminya untuk menemaninya membersihkan diri meskipun dirinya telah membersihkn diri sore tadi.