
Setelah di lakukan pemasangan ring jantung, kondisi Aisyah berangsur membaik dan sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Namun ia harus tetap rutin kontrol, sesuai dengan jadwal yang di berikan oleh dokter.
"Kalau kamu sibuk, biar Mama sama Manda saja." ucap Aisyah kepada putra sulungnya, ketika mereka menikmati sarapan pagi di kediamannya.
"Enggak apa-apa kok Mah, aku sudah ngomong sama Randy mau nemenin Mama kontrol"
Kini Sekala bergabung di MyAccount, sebuah marketplace jual beli Bitcoin dan kripto lainnya. Sekala di percaya Randy untuk menempati posisi Chief Operating Officer, karena ia memiliki pengalaman di private equity, dan terlibat dalam dunia kripto sejak tiga tahun belakangan ini, serta telah menjadi kontributor dan investor aktif.
Kali ini Sekala bekerja dengan sungguh-sungguh, ia memiliki tekad untuk bisa segera melunasi semua hutang-hutangnya dan mengembalikan sertifikat rumah milik Aurora. Ia juga ingin bisa menjadi seorang ayah yang berguna serta membanggakan untuk anak semata wayangnya.
"Ya sudah yuk, nanti keburu siang malah rame antriannya." Sekala menghabiskan menimnya kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, dan hendak mendorong kursi roda ibundanya.
"Biar aku saja Mas." Sela Amanda.
Sekala menganggukan kepalanya, dan membiarkan adiknya mendorong kursi roda ibundanya, sementara dirinya langsung berjalan terlebih dahulu menuju garasi mobil untuk memanaskan mesin mobil sebelum ia gunakan mengantar Ibundanya ke rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah sakit Aisyah kembali teringat dengan Aurora. "Bagaimana sidang perceraianmu kemarin?" tanya Aisyah.
Sesaat Sekala menghela nafas beratnya. "Pihak Aurora menghadirkan Adinda sebagai saksi." jawab Sekala.
"Adinda siapa?" Aisyah mengingat-ingat jika tidak ada saudaranya yang bernama Adinda.
"Teman kantor Aurora."
"Ooh, ada kaitan apa dengan teman kantornya Aurora? Apa kamu pernah berkencan dengan Syeira di kantor?" tanya Aisyah dengan penuh rasa curiga.
Sekala menggelengkan kepalanya. " Adinda memutar rekaman percakapan telepon antara aku dan Syeira, yang pada saat itu Syeira memintaku untuk mendesak Aurora resign dari tempat kerjanya."
"Jadi Aurora resign karena desakan darimu? Dan atas permintaan wanita jahat itu?" Aisyah semakin malu terhadap Aurora karena sempat mengatakan padanya jika Aurora adalah beban Sekala karena telah berhenti bekerja.
"Iya, bukan hanya itu. Aku pun menuruti permintaan Syeira untuk menyogok pihak HRD agar Syeira bisa menggantikan posisi Aurora." ucap Sekala dengan penuh rasa penyesalan.
"Kamu keterlaluan, Sekala!" Aisyah memukul lengan putra sulungnya yang duduk di sampingnya.
"Maaf, saat itu aku benar-benar tidak bisa menolak permintaan Syeira."
Kepala Aisyah terasa sangat berat mendengar semua yang di katakan oleh putranya. 'Aku benar-benar telah keliru menilai menantuku.' gumam Aisyah.
"Semoga Mama masih di berikan umur yang panjang, agar Mama bisa meminta maaf secara langsung kepadanya."
Tidak ada kata yang keluar dari mulut ke tiganya, ketiga bergerumul dalam pikirannya masing-masing, meratapi penyesalan dan rasa bersalah kepada Aurora.
"Mama dengarkan apa kata dokter tadi? Mama tidak boleh terlalu banyak makanan manis!!" ucap Sekala, ia terkadang kesal dengan mamanya yang sering kali mengabaikan pola makannya.
"Iya Mah, inget kontrol gula darahnya. Kalau naik lagi bahaya loh!" sambung Amanda. Ketiganya keluar dari ruang pemeriksaan, dan berjalan menuju apotek.
"Iya, iya.. Kalian berdua ini bawel sekali!" ucap Aisyah.
"Ya sudah, aku ambil obat dulu ya. Kalian tunggu di sini sebentar ya." Sekala bergegas menuju apotek.
Saat tengah mengantri obat, ia teringat ketika terakhir kalinya mengantar Aurora periksa kandungan, masih jelas terasa bunyi detak jantung dan gerak anaknya pada layar monitor saat USG, rasanya baru kemarin ia merasakan kebahagian bersama istri dan calon buah hatinya, namun kini keduanya pergi meninggalkannya karena semua kesalahan fatal yang telah ia perbuat.
'Ayah rindu kalian, kalian ada di mana? Apa kalian rindu juga dengan ayah?' batin Sekala lirih.
"Ibu Aisyah." panggil salah satu apoteker yang bertugas.
Panggilan dari apoteker itu membuyarkan lamunannya. "Iya.." jawab Sekala, ia maju untuk mengambil obat ibundanya.
"Sudah, yuk kita pulang!!" ajak Sekala sembari mendorong kursi roda ibundanya di ikuti oleh Amanda di belakangnya.
Saat ketiganya berjalan melewati koridor rumah sakit, mereka berpapasan dengan Kinara. Kinara terdiam sejenak, kemudian ia memanggil Sekala.
"Sekala."
Sekala menoleh ke arah Kinara. "Ya," jawabnya dengan ramah.
Kinara berjalan menghampiri Sekala, kemudian ia mengulurkan tangannya. "Saya Kinara, ibunda Sky. Boleh minta waktunya sebentar?" pinta Kinara.
Sekala menganggukan kepalanya. "Boleh, tunggu sebentar!" ia beralih ke Amanda yang berada di belakangnya. "Dek, kamu pulang duluan saja ya. Nanti mas langsung ke kantor naik taxi." ucap Sekala sembari memberikan kunci mobilnya.
"Okay." Amanda menerima kunci mobil kakanya kemudian ia kembali berjalan menuju parkiran.
Sementara Sekala mengikuti Kinara mencari tempat duduk yang nyaman untuk keduanya mengobrol.
"Silahkan!" Kinara mempersilahkan Sekala untuk duduk, barulah ia duduk di sebelahnya.
"Sebenaranya aku sudah mencarimu beberapa waktu yang lalu, tapi syukulah kita bisa bertemu di sini." ucap Kinara mengawali pembicaraannya. "Ada yang mau aku sampaikan padamu." lanjutnya.
Sesaat Kinara menghela nafas beratnya. "Saat ini Sky tengah di rawat di ruang ICU, dia baru saja menjalani operasi ke duanya. Namun kondisinya justru memburuk, aku dan papanya ingin sekali membawanya ke luar negeri namun ia menolak. Ia ingin sekali bertemu denganmu, apa kamu bersedia bertemu dengannya?" tanya Kinara.
Sekala cukup terkejut mendengar berita tersebut, selama ini ia melihat Sky nampak sangat prima "Ya, tentu saja." jawab Sekala.
"Kalau begitu mari ikut denganku!" Kinara beranjak dari tempat duduknya, ia mengajak Sekala menuju ruang ICU.
Tepat di depan ruang ICU, Kinara meminta Sekala untuk masuk ke dalam dan menemui putranya. "Hanya satu orang yang bisa masuk, jadi kamu masuklah!"ucap Kinara.
Sekala menganggukan kepalanya, kemudian ia masuk ke dalam ruang ICU, tak lupa ia juga mengenakan pakaian khusus. Begitu mendekat ke arah Sky, ia melihat tubuh Sky di banyak di pasangi alat bantu.
"Se-Sekala, kau kah itu?" tanya Sky terbata-bata.
"Iya, gue Sekala." ia berjalan lebih mendekat ke arah Sky.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" punta Sky.
"Tentu saja, jika aku bisa. Katakanlah!"
"Jaga Aurora dan Saga..."
"Kalau Aurora memberiku kesempatan, aku pasti akan menjaganya. Bukan untuk kau atau pun siapa pun, aku akan menjaganya karena aku sangat menyayangi dan mencintainya."
"Marison Regency, Banjarsari - Magelang. Kau carilah Aurora di sana."
"Aurora di Magelang?" tanya Sekala meyakinkan ucapan Sky.
Sky mengangukan kepalanya secara perlahan.
"Thanks ya Sky, aku akan segera menemuinya, aku ingin sekali meminta maaf padanya." Ada secercah harapan bagi Sekala untuk bisa bertemu dengan Aurora dan meminta maaf secara langsung dengannya, meski ia tak yakin Aurora mau memaafkannya tapi setidaknya perpisahannya dengan Aurora bisa secara baik-baik. "Sekali lagi terima kasih, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." ucap Sekala. "Permisi!" Sekala melangkahkan kakinya keluar dari ruang ICU, namun baru beberapa langkah, Sky memanggilnya kembali.
"Sekala..."
"Ya." Sekala menoleh kembali ke arah Sky.
"Jaga dia, jangan sakiti Aurora lagi!!"
Sekala menganggukan kepalanya. "Pasti! Bersama dengannya atau tidak, aku pasti akan menjaga Aurora dan Saga." ucap Sekala, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang ICU.
"Aku percaya, kau takan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Aurora berikan padamu." ucap Sky lirih dengan nafas yang semakin sesak.