
Rasa haru bahagia melingkupi hati Sekala, ketika untuk pertama kalinya ia melihat calon buah hatinya berada dalam layar monitor. Ia bahkan sempat meneteskan air matanya saat mendengar detak jantung jagoan kecilnya.
Selama pemeriksaan berlangsung Sekala menggenggam erat tangan Aurora, sambil menciumi tagan lembut wanita yang tengah berbaring di atas tempat tempat tidur.
"Why are you sad?" tanya Aurora, sambil mengelap air mata Sekala di sudut matanya.
"Thanks for being pregnant to our child." ia tersenyum sambil menatap wajah istrinya. 'Bagaimana bisa aku begitu bodohnya menyakiti hati wanita yang telah memberikanku kebahagiaan yang belum pernahku rasakan sebelumnya? ' batin Sekala. Ia semakin tidak sanggup untuk melepaskan Aurora 'Maaf Syei, kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk meninggalkan Aurora.'
"Saya minta, Pak Sekala juga ikut memantau pergerakan janin dalam kandungan Bu Aurora. Umumnya janin akan merespon lewat gerakan setelah mamanya makan atau minum. Tolong hitung gerakan janin dalam sehari!!" ucap Dokter. Pasca pendarahan yang di alami oleh Aurora beberapa waktu lalu, dokter selalu mewanti-wanti Aurora untuk lebih extra menjaga kandungannya.
"Baik dok, apa ada makanan yang tidak boleh istri saya makan?" tanya Sekala, sambil membantu istrinya duduk. "Pelan-pelan sayang."
"Bu Aurora tidak boleh makan makanan yang mentah, pedas, jeroan, kafein dan alkohol. Jangan lupa perbanyak minum air putih dan makan buah-buahan segar." Dokter menuliskan resep, kemudian memberikannya kepada Aurora "Sehat selalu ya Bu Aurora."
"Terima kasih Dok." ucap Aurora dan Sekala bersamaan, lalu keduanya keluar dari ruang pemeriksaan dan berjalan menuju apotek untuk mengambil obat dan vitamin.
"Kamu tunggu di sini ya, biar aku saja yang antri." Sekala meminta Aurora untuk duduk di samping apotek sementara dirinya yang mengantri.
Beberapa menit mengantri, membuat pikiran Sekala di penuhi oleh rasa bersalah karena tak pernah menemani istrinya periksa kandungan, namun di satu sisi ia nampak kagum pada istrinya karena selama ini Aurora tak pernah mengeluh kepadanya.
Setelah menebus obat yang di resepkan oleh dokter Sekala kembali mendekat ke arah Aurora dan mengajaknya untuk keluar dari rumah sakit. "Kalau kita ke mall, kamu capek enggak?" tanya Sekala.
Aurora menggelengkan kepalanya "Enggak, tapi nanti lihat stand buat event kuliner besok ya." pinta Aurora.
"Iya, tapi bukan kamu kan yang jaga standnya?" Sekala menggandeng tangan Aurora berjalan menuju parkiran.
"Enggak, kan aku sudah recruit karyawan. Paling nanti Ani yang akan mengawasinya, sedangakan Bik Siti yang mengawasi karyawan di kedai. Aku seperti biasa di atas, ngurusin tagihan, pajak, kontrak kerja sama dan sebagainya." terang Aurora.
"Ya sudah, jangan capek-capek ya. Nanti habis dari kantor aku bantu."
Sekala membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah itu barulah ia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang stir kemudi.
"Terima kasih banyak ya Boo, aku sudah enggak sabar pengen ngeliat dan menggendong anak kita."
Mata Sekala kembali berkaca-kaca, ia membawa Aurora kedalam pelukannya. "Jangan tinggalin aku ya Boo." Bisik Sekala. Ia sadar, sepandai-pandainya ia menyembunyikan hubungannya dengan Syeira, cepat atau lambat Aurora akan mengetahuinya, namun Sekala berharap jika waktu itu tiba, hubungannya dengan Syeira telah berakhir, ia benar-benar sudah melupakan dan ikhkas melepas Syeira dan Aurora mau memaafkannya.
"Bukannya selama ini Mas yang selalu ninggalin aku?"
Drrrt... Drrrt...
Mendengar handphone suaminya terus bergetar, Aurora melepaskan pelukan Sekala. "Ada telepon masuk tuh!"
Sekala hanya melihatnya sekilas panggilan masuk dari Syeira, kemudian ia mematikan handphonenya "Dari Aksara. Tadi sebelumya ia mengirimkan pesan minta aku masuk kantor."
"Lalu? Kenapa Mas enggak ke kantor?"
Sekala menoleh ke belakang, mengambil berkas di bangku belakang mobilnya "Tadi kan aku habis ketemu client, ngurus SPK itu." ia memberikan kontrak kerja sama project terbarunya kepada Aurora. "Sama sekalian aku pengen nemenin kamu periksa kandungan, jadi besok saja aku ke kantornya."
"Jadi Mas Kala dapat project baru?"
Sekala menganggukan kepalanya, "Terima kasih ya atas doanya." ia menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudikannya menuju Kuningan City Mall.
"Dasar pria brengsek, kita sudah bercinta ratusan kali dia bilang tak mengenal aku!!"
Syeira kembali menghubungi Sekala, namun Sekala justru mereject dan mematikan handphonenya. "Brengsek. Dia pasti sedang bersama istri sialannya itu." ia nampak frustrasi memikirkan kebersamaan Sekala dengan Aurora.
Ting Tong.. Ting Tong...
"Siapa lagi sih... Mengganggu saja." Dengan wajah yang masih sangat kesal, Syeira membuka pintu apartemennya.
Syeira di kejutkan dengan kedatangan staf pengelola apartement yang memberikan tagihan kredit apartement yang telah lewat jatuh tempo 'Sial, ternyata Sekala membeli apartement ini secara kredit. Mana besar sekali angsurannya.'
Seketika kepala Syeira terasa sangat sakit melihat tagihan angsuran apartementnya.
"Sebelumnya kami sudah mengirimkan tagihan ini via email, namun karena tak ada tanggapan dari Bu Syeira, maka kami langsung datang kemari."
Syeira nampak mengingat-ingat, jika dirinya sudah seminggu ini tak membuka email lantaran enggan menurusi email masuk dari kantornya.
"Jika Bu Syeira tidak segera membayar tagihan ini, dengan sangat terpaksa Bu Syeira harus keluar dari apartement ini..."
"Saya akan segera membayarnya!" Syeira membanting pintu dengan sekuat tenaganya, ia bergegas mengecek saldo tabungannya berharap Sekala memberikannya uang bulanan seperti biasanya sehingga ia bisa membayar tagihan apartementnya.
"Sekalaaaaaaaa......" teriak Syeira, begitu melihat tidak ada transferan bulanan dari Sekala.
"Aku harus membuat Sekala kembali lagi padaku, bagaimana pun caranya. Jika aku tidak bisa membuat Sekala menjadi milikku seutuhnya, maka Aurora pun tidak boleh memilikinya." ia mulai menyusun rencana agar Sekala bisa kembali kepelukannya.
"Kok cuma beli kebutuhan baby dan keperluan pengajian saja?" Sedari tadi Sekala memperhatikan jika istrinya hanya membeli barang-barang yang benar-benar di butuhkan saja.
"Memangnya mau beli apa lagi?"
"Baju hamil untukmu." Seringkali Sekala melihat istrinya mengenakan pakaian yang itu-itu saja, membuat hatinya kembali merasa bersalah, padahal hampir setiap bulan selain memberikan uang bulanan untuk Syeira, ia juga mengajak Syeira berbelanja.
Melihat baju-baju hamil yang lucu-lucu, terkadang membuat Aurora tergiur untuk membelinya, namun ia teringat akan kondisi keuangannya yang belum memadai sehingga ia menahan diri untuk membeli barang-barang yang tidak benar-benar ia butuhkan. "Di lemari masih banyak muat kok."
"Beli saja dua, nanti jika projectnya sudah berjalan kita beli lagi. Nanti aku akan bilang ke Aksara untuk fee project bagianku di transfer ke rekeningmu saja." Sekala memilihkan baju hamil yang pas untuk istrinya, kemudian memasukannya ke keranjang belanjaannya.
"Kok gitu?"
"Kan hutangku ke kamu masih banyak." Uang tabungan Aurora yang ia ambil, belum sepenuhnya ia kembalikan.
"Kata siapa Mas masih punya hutang? Hutang Mas Kala sudah lunas kok."
"Lunas?"
"Mas sudah menyelamatkan asuransi dan sahamku, nilainya sudah lebih dari cukup dari uang yang Mas pinjam secara diam-diam. Terima kasih ya..." ucap Aurora "Tapi jangan gitu lagi loh, kalau mau pinjam bilang!!"
"Iya, aku janji enggak akan ngulangin lagi. Ya sudah aku bayar dulu ya, kamu duduk saja di sana." Sekala menunjuk ke arah bangku di dekat tiang penyanggah gedung, setelah melihat istrinya duduk dengan nyaman barulah ia berjalan ke kasir membayar seluruh barang belanjaannya.