
"Bagaimana menurut Mas?" Aurora menyerahkan laptopnya kepada suaminya kemudian ia bersandar di bahu Sekala.
Dengan teliti Sekala membaca proposal business yang telah di buat oleh istrinya "Our storynya sudah oke," Sekala membuka slide ke dua, "Benefit businessnya kamu tambahin satu poin lagi reliable."
"Maksudnya?"
"Misalnya, kami selalu bersedia membantu mitra kami untuk berkembang bersama." Sekala membuka slide berikutnya "Keunggulan dan syaratnya...." Sekala mengerutkan keningnya membaca beberapa poin yang di tulis oleh Aurora "Kamu yakin tanpa ada royalti fee?" tanya Sekala.
"Yakin, tapi di persyaratan ini aku mewajibkan mitra untuk membeli bahan baku dari aku, agar kuatitas dan rasanya tetap sesuai dengan standar yang aku terapkan."
"Oke, berarti mitra hanya membayar paket usaha yang mereka pilih?" tanya Sekala kembali, sembali membuka beberapa slide berikutnya.
Sekala memperhatikan dengan seksama perhitungan yang di buat oleh Aurora, per bulan mitra bisa mendapatkan Rp.16.000.000, yang jika dikurangi biaya operasional sebesar Rp.8.000.000 per bulan, maka laba yang diraup Rp 8. 000.000 Dan lama balik modal cukup dua bulan saja. 'Ternyata bisnis yang Aurora buat cukup menjanjikan' batinnya.
"Untuk ROI-nya (Return on invesment) dan paket usahanya, aku rasa aku enggak perlu kasih komentar apa-apa, karena aku sudah yakin istriku yang cantik ini lebih jago dalam berhitung." Sekala menatap Aurora yang bersandar di pundaknya, kemudian mengecup bibirnya. "Semuanya sudah oke kok, cuma tambahan yang tadi saja di poin benefit business, sama kamu tambahin ragam menu yang tersedia di usahamu. Tenang aja nanti aku bantu untuk edit gambar-gambarnya agar lebih menarik dan rapih lagi. Sekarang kamu istirahat ya, sudah malam tidak baik untuk ibu hamil tidur larut malam."
Tanpa mematikan laptop istrinya, Sekala menaruh laptop tersebut di atas meja yang terdapat di sebelah tempat tidurnya, kemudian ia mengajak istrinya untuk beristirahat.
"Terima kasih ya Mas, sudah banyak membantuku." Aurora menatap dan membelai wajah suaminya dengan lembut.
"Sama-sama sayang. Oh iya, lusa aku mau ke Eropa, ada kontrak kerja sama yang harus aku urus." ucap Sekala.
"Kerja sama dengan siapa Mas kok sampai ke sana? Sama Aksara juga?" tanya Aurora, seketika perasaannya berubah menjadi campur aduk. Di satu sisi ia senang karena suaminya mulai mendapatkan project baru, namun di satu sisi rasanya agak berat dan sedih karena akan di tinggal oleh suaminya di saat hubungannya dengannya Sekala mulai membaik.
"Sama orang Jakarta kok, cuma kebetulan dia lagi di sana, karena projectnya harus segera di laksanakan dan kebetulan client aku belum bisa balik ke Jakarta, makanya aku yang menyusul ke sana." ucap Sekala "Sebenarnya aku mau ngajak kamu, sekalian baby moon, mumpung Aksara tidak bisa ikut karena harus mengawasi project di sini. Tapi aku takut kamu lelah, karena kantor hanya memberi tiket ekonomi." lanjut Sekala.
"Jadi Aksara enggak ikut?"
Sekala menggelengkan kepalanya, ia mengeleus kepala Aurora dengan lembut "Maaf aku belum bisa mengajakmu ke mana-mana, sekarang uangnya kita tabung dulu ya, nanti setelah semua keperluan anak kita dan biaya lahiran terpenuhi, baru kita jalan-jalan."
Aurora menganggukan kepalanya, ia sedih bukan karena Sekala tak mengajak dirinya tapi ia sedih kerena harus jauh dari Sekala "Berapa lama?"
"Paling hanya satu atau dua minggu, aku janji setelah semua urusanku selesai, aku langsung pulang. Kamu mau oleh-oleh apa?"
"Aku pasti akan selalu ngabarin kamu" Sekala menghapus air mata Aurora dengan jari-jemarinya. "Kalau kamu enggak ngizinin aku berangkat, aku enggak akan berangkat."
"Jangan!!!" Aurora menggelengkan kepalanya, ia tak sampai hati jika Sekala harus kehilangan projectnya hanya karena dirinya. "Aku ngizinin kamu kok, aku hanya bakalan kangen banget sama kamu. Hiks.."
Sekala mendekap erat tubuh istrinya, dan mngelus punggungnya dengan lembut, "Aku juga pasti akan merindukanmu sayang, kabarin aku ya jika ada apa-apa. Aku janji, setelah ursanku selesai aku akan langsung pulang." Sekala mengecup puncak kepala Aurora "Sekarang kamu istirahat ya sudah malam, aku tidak ingin kamu sakit." Sekala mendekap hangat tubuh Aurora hingga Aurora tertidur dalam pelukannya.
Melihat istrinya tertidur dengan lelap, Sekala menghapus sisa-sisa air mata di sudut mata Aurora. "Apa kamu masih akan tetap mencintaiku, jika kamu tahu aku masih menjalin kasih dengan mantanku?"
Aurora merubah hujan menjadi pelangi, saat ia hidup dalam kesedihan dan keterpurukan pasca di tinggalkan oleh Syeira. Aurora begitu sempurna, ia cantik, pintar, mandiri, menyenangkan, dan memiliki hati yang tulus. Namun bagi Sekala sempurna bukan lantas akan cocok, karena di saat ia menatap mata Aurora, ia masih melihat bayangan kisah cintanya bersama Syeira. Dan di saat ia mencoba dengan sepenuh hatinya untuk belajar mencintainya, ia masih terus memikirkan Syeira.
Sekala nampak sangat bimbang, di satu sisi ia teramat mencintai dan tak bisa lepas dari Syeira, namun di sisi lain ia tidak mau kehilangan Aurora dan anak yang tengah di kandung Aurora.
Lama ia mamandangi wajah istrinya, kemudian perlahan melepaskan pelukan Aurora. Sekala membawa laptop Aurora yang masih menyala ke meja kerjanya yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat tidurnya.
Sesuai dengan dengan janjinya, ia menyempurnakan proposal business milik Aurora agar besok pagi istrinya bisa langsung mengirim proposal tersebut ke calon mitranya.
Drrrt... Drrrt...
Di tengah keseriusannya menyempurnakan proposal business milik istrinya, Sekala mendapatkan pesan romatis ucapan selamat tidur dari kekasihnya.
^^^Sekala:^^^
^^^Have a nice dream baby, love you^^^
Setelah membalas pesan dari kelasihnya, Sekala mematikan handphonenya kemudian ia menaruhnya di dalam laci agar Aurora tak melihat handphonenya. Saat ia memasukan handphonenya ke dalam laci meja kerjanya, mata Sekala tertuju pada token internet banking milik Aurora yang tadi ia gunakan untuk membayar vendor.
Sekala masih ingat bentul user name, password dan pin yang Aurora tekan saat tadi ia melakukan transaksi. Tanpa sepengetahuan dan izin Aurora, Sekala mentransfer seluruh uang yang berada di rekening tabungan Aurora ke rekening pribadinya.
"Maaf Ra, aku sedang butuh uang. Aku janji, nanti aku pasti akan menggantinya"
Sekala berfikir dengan analisis bisnis yang di buat oleh Aurora di proposal businessnya, tentu Aurora tidak akan kekurangan uang karena ia memiliki bisnis yang cukup menjajikan di tambah calon mitra yang akan bekerja sama dengan istrinya bukan orang sembarangan tentu bisnisnya akan lancar.