Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 36



Setelah Kara dan Ibu mertuanya pergi, perlahan Aurora membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Sky, boleh aku pinjam bahumu?"


Sky mengangguk, ia mendekat ke arah Aurora dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Hu... Hu...." Aurora menumpahkan segala kesedihannya di bahu Sky. "Hiks...."


"A-aku ngerasa, aku jadi orang paling bodoh yang enggak tahu apa-apa." ucap Aurora terbata-bata. "Kamu ingat, saat aku ulang tahun. Aku mengundang teman-teman kantor makan malam di restaurant, dan aku juga mengundang Kara, Aksara, adik ipar, dan mertuaku. Aku sama sekali enggak curiga saat Syeira ngobrol akrab dengan adik ipar dan mertuaku. Enggak ada sama sekali yang ngasih tahu aku kalau Mas Kala dan Syeira pernah punya hubungan special. Hiks...."


"Bodohnya lagi, saat Mas Kala jemput aku ke kantor, aku bolehin Syeira untuk menumpang dan kita mengantar Syeira sampai ke rumahnya. Aku benar-benar bodoh Sky, aku menganggap obrolan Mas Kala dan Syeira saat itu hanyalah obrolan biasa, tapi nyatanya..... Huhu......"


Sesaat Sky menghela nafasnya, ia memberanikan diri untuk mengelus punggung Aurora "Kamu enggak bodoh, kamu memang enggak pernah punya pikiran jelek ke orang lain. Yang bodoh itu mereka yang udah bohongin orang sebaik kamu." Sky memegang bahu Aurora, memintanya untuk menegakkan tubuhnya. "Apa kehadiran babymu saat ini tidak membuatmu bahagia?"


"Ya tentu saja, aku bahagia. Hanya dia dan keluargaku yang aku miliki saat ini."


"Kalau begitu singkirkan hal yang membuatmu bersedih karena babymu membutuhkan ASI, dan sebentar lagi perawat akan membawanya kemari, you can kangaroo mother care."ucap Sky, ia memberikan Booster ASI untuk Aurora.


"Apa ini?"


"Untuk memperlancar ASImu. Ayo cepat minum!" Sky beranjak dari tempat duduknya kemudian ia mengambilkan segelas air putih untuk Aurora.


"Assalamualaikum." ucap Kinara dan Annisa bersamaan, setelah kondisi Annisa membaik, mereka berdua kembali ke ruang rawat inap Aurora. "Cucu Ibu sudah datang?" tanya Annisa.


Aurora menggelengkan kepalanya.


"Masih observasi Bu, mungkin sebentar lagi." jawab Sky.


Annisa menoleh ke arah Sky, kemudian ia kembali memperhatikan wajah Aurora. "Kamu habis menangis? Ada apa Nduk?" Annisa merangkum wajah putri sulungnya dan menghapus sisa air mata yang masih menggenang di sudut matanya. "Ada apa? Apa karena Ibu mertuamu?"


Saat di bawah tadi, secara tak sengaja Kinara melihat Aisyah di tarik paksa oleh Kara, kemudian Kinara menceritakan hal tersebut kepada Annisa setelah pemeriksaan selesai.


Aurora menganggukan kepalanya, ia kembali berkaca-kaca ketika ia menceritakan tentang hubungan suaminya dengan Syeira. "Aku pikir awalnya Mas Kala hanya tergoda oleh Syeira, tapi ternyata sejak awal mereka memang sepasang kekasih. Hiks..." Aurora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ibu, aku ingin berpisah dengan Mas Kala, Bu... Aku tidak ingin bersama dengan orang yang belum selesai masa lalunya... Huhu..."


"Ibu tahu tahu ini berat untukmu, tapi ibu yakin kamu bisa melaluinya. Ibu akan selalu ada untukmu." Annisa mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Kamu tenangin diri dulu ya, nanti Ibu bicara dengan dokter, kita pindah rumah sakit atau pindah ruangan saja, agar kamu dan bayimu bisa lebih tenang." Ia tidak ingin putrinya berurusan dengan Sekala dan seluruh keluarganya, termasuk Kara dan Aksara.


"Kami semua akan selalu ada untukmu, tante harap babymu cukup menjadi alasan untuk kamu tersenyum bahagia, karena sepertinya babymu sudah dekat." Kinara menutup gorden pembatas agar Aurora bisa membuka pakaiannya. "Jangan ke sini dulu!" ucapnya pada putranya.


Benar saja tak lama kemudian dokter dan perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Aurora. Dokter menjelaskan jika kondisi bayi Aurora, meski lahir prematur namun cukup stabil sehingga tidak memerlukan inkubator yang terlalu lama, dokter menyarankan metode kangguru (kangaroo mother care).


Metode ini memungkinkan adanya kontak kulit langsung antara bayi dan ibu. Sehingga dapat memperkuat ikatan emosional antara bayi dengan ibu, memberikan kehangatan agar suhu bayi lebih stabil, meningkatkan produksi ASI dan memperlancar proses menyusu.


"Ibu sakit..." Aurora meringis kesakitan saat inisiasi menyusu dini (IMD).


"Tahan ya sayang, nanti jika sudah terbiasa tidak akan sakit. Itu babynya pintar sekali langsung menghisap put*ng dengan lahap." ucap Annisa.


"Bayi laki-laki memang seperti itu Nis, dulu Sky dan abangnya juga gitu...."


'Kenapa Mama jadi bawa-bawa aku?' batin Sky, sambil membuka laporan pekerjaannya ia menyimak obrolan mamanya.


"Terima kasih ya Sky."


Sky menganggukan kepalanya, "Boleh aku Adzanin?"


"Tentu saja, baru saja tadi aku mau minta tolong padamu untuk mengadzankannya." Aurora menyerahkan bayi mungilnya kepada Sky.


Dengan hati-hati Sky menggendong bayi mungil itu dan kemudian, ia mengumandangan Adzan di telinga kanan dan iqomah akan dikumandangkan pada telinga bagian kiri.


Aurora tak kuasa menahan rasa harunya melihat dan mendengarkan Sky mengumandangkan Adzan di telinga putranya, sekilas ia menyapukan genangan air mata di sudut matanya.


Setelah mengumandangkan iqomah, Sky menaruh bayi mungil itu di dalam box bayi secara perlahan dan kemudian ia kembali pada pekerjaannya di meja makan.


"Mumpung bayimu tidur, kamu juga istirhat. Ibu mau ke ruang administrasi ngurus perpindahanmu." ucap Annisa.


Aurora menganggukan kepalanya, sebenarnya Aurora sendiri tak enak hati merepotkan Ibundanya.


"Istirahatlah, tante yang akan menemani Ibumu." Kinara menarik selimut Aurora kemudian beralih ke putranya "Sky jagain Aurora ya." Kinara


Sky hanya mengacungkan jempolnya, karena ia sedang melakukan video call dengan staffnya.



Sementara itu di tempat berbeda, Kara membawa Aisyah kembali pulang ke kediamannya.


"Lepasin!" Aisyah menghempaskan tangan Kara begitu mereka sampai di kediaman Aisyah. "Keponakan kurangajar, enggak tahu sopan satun, bikin tante malu saja!" maki Aisyah.


"Yang lebih enggak sopan itu anak kesayangan tante, yang udah mengkhianati Aurora." ucap Kara tak mau kalah.


"Mengkhianati? Maksudmu?" tanya Aisyah, ia belum mengerti arah pembicaraan keponakannya.


"Tante masih ingat Syeira? Sekala dan Syeira diam-diam kembali menjalin kasih di belakang Aurora, bahkan mereka berdua pergi berlibur ke Paris berdua." ucap Kara.


"Syeira gadis yang cantik, baik dan sangat royal. Tidak seperti Aurora yang pelit, jadi wajar jika Sekala masih berteman baik dengan Syeira." ucap Aisyah.


"Wajar tante bilang?"


"Apa jangan-jangan selama ini tante tahu tentang hubungan Syeira dan Sekala? Dan sengaja menutupinya?"


Aisyah semakin tak tahan dengan Kara yang terus mengintimidasinya. "Sudahlah Kara, ini bukan urusanmu. Sekala itu pria dia bisa menikahi dua, tiga atau empat wanita selama ia bisa adil. Harusnya temanmu itu bersyukur karena Sekala mencukupi semua kebutuhannya, dan selalu pulang ke rumahnya." bentak Aisyah.


...****************...


*Sudah lebih dari 1.000 kata, debatnya di lanjut di BAB berikutnya ya😚