Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 07



Syeira terbangun dari cahaya redup lampu tidur dan pelukan hangat tangan Sekala di dadanya. Mereka hanyut dalam gerakan panggul yang saling bergesek, mengusap ringan di kulit telanj*ng dengan sentuhan lembut yang hampir tak terasa.


Sekala baru saja tergaja dari tidurnya setelah mereka berdua bercinta dengan penuh gelora. “Aurora" bisikannya bergemuruh dalam kesunyian malam. Ia tersadar jika dirinya harus segera pulang.


"Aurora? Setelah tadi kau menikmati tubuhku, sekarang kau malah menyebut Aurora?" kilatan kemarahan terpancar jelas di mata Syeira, seketika ia langsung mendorong tubuh Sekala menjauh darinya.


Tubuh Syiera memang candu dan sangat menggoda bagi Sekala, dan ia pun merasa sangat nyaman bersama Syeira, namun tetap saja dalam benaknya ia tidak bisa melepaskan pikirannya dari istrinya di rumah.


"Bu-bukan begitu sayang"


"Lantas apa? Pokoknya malam ini kamu menginap di sini!!!" ucap Syeira dengan tegas.


"Tidak bisa sayang, nanti Aurora mencariku." tolak Sekala dengan halus.


"Aurora, Aurora, Aurora terus. Apa sih hebatnya dia, sehingga kamu terus menyebut namanya. Padahal dia tidak lebih cantik dan pintar dari pada aku!" Syeira terus meluapkan emosinya setiap kali Sekala menyebut nama Aurora, ia merasa tak rela terus menerus di kalahkan oleh Aurora.


"Aku tidak pernah mengatakan jika Aurora lebih cantik darimu. Tapi aku betul-betul harus pulang, aku tidak mau Aurora menghubungi keluargaku untuk mencariku, jadi tolong kamu ngertiin aku ya!" Sekala menatap mata Syeira dalam-dalam.


"Enggak bisa, sekarag kamu harus pilih aku atau dia." Syeira menatap tajam ke arah Sekala.


"Sudah aku katakan berapa kali padamu, jika aku tidak bisa menceraikannya karena ia sedang mengandung anakku, aku tidak ingin kehilangan anakku,"


"Oh, kalau begitu kamu bersiaplah untuk kehilangan aku, karena aku sudah lelah dengan semua ini. Aku ingin memilikimu seutuhnya!!"


Sekala mengacak-acak rambutnya, ia nampak frustasi dengan desakan Syeira, ia tidak hisa memilih di antara wanita yang ia cintai atau istrinya yang tengah mengandung anaknya.


"Oke, fine. Kasih aku waktu sampai Aurora melahirkan, barulah aku akan menceraikan dan mengambil hak asuh anakku. Mau bagaimana pun anak otu adalah anakku jadi aku harus mendapatkan hak asuhmya," ucap Skala.


"Oke, aku kasih kamu waktu enam bulan. Cukup untuk Aurora melahirkan dan menyelesaikan masa nifasnya, setelah itu kamu harus tinggalkan dia."


Sekala menganggukan kepalanya, ia menyanggupi permintaan kekasihnya untuk menceriakan Aurora.


"Ya dudah aku pulang dulu ya sayang, mmuah.." Sekala memeluk Syeira sembari mendaratkan kecupan manisnya di kening Syeira.


Sekala turun dari tempat tudur Syeira, kemudian memungut kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, Sekala sudah mengenakan pakaian lengkapnya dan bersiap kembali ke kediamannya.


"Iya, 2 sampai 3 hari lagi ya. Untuk sementara kamu pakai saja transportasi online," ucap Sekala.


"Baiklah, bye..." Syeira melambaikan tangannya melepas kepergian Sekala, ia tersenyum lebar membayangkan jika sebentar lagi dirinya akan mengendarai mobil impiannya. "Dari dulu Sekala memang tidak pernah berubah, ia selalu mencintai dan menuruti semua yang aku minta" Syeira menutup kembali pintu apartementnya.



Pukul 03.00 dini hari Sekala baru tiba di kediamannya, ia berjalan mengendap-endap menuju kamar tidurnya agar tidak di ketahui oleh istrinya.


Langkahnya terhenti ketika Sekala melewati ruang mushola kediamannya 'Sebenarnya kamu wanita yang baik tapi entah mengapa aku tidak bisa mencintaimu.' batin Sekala, ia melihat Aurora tengah khusyuk beribadah.


Kemudian Sekala melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.


Tak lama kemudian setelah menyelesaikan ibadahnya, Aurora menyusul Sekala ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Ditengah cahaya redup lampu kamarnya, Aurora memandangi suaminya dengan tatapan penuh tanya.


Flashback on


Setelah mobil mama mertuanya sudah tak terlihat, barulah Aurora masuk ke dalam kediamannya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


"Lelah sekali hari ini," Aurora mengelus perutnya dengan lembut. "Anak Bunda di dalam lelah juga tidak?" ia berbicara dengan buah hatinya yang masih di dalam perutnya "Kita istirahat sebentar ya sayang."


Baru beberapa menit Aurora memejamkan matanya, ia mendapatkan pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal.


"Mas Sekala...." Aurora sangat terkejut melihat foto-foto suami yang tengah masuk ke dalam sebuah unit apartement mewah, yang di kirim oleh orang tersebut. "Apartement siapa? Dan ada urusan apa Mas Sekala di apartement itu?" ribuan tanda tanya menghhinggapi kepalanya di tambah dengan siapa pengirim foto-foto tersebut, karena selain ia tak mengetahui pemilik nomor tersebut, sang pemilik nomor pun tak menampilkan foto profilnya.


Aurora memilih untuk mengabaikan pesan yang belum jelas, ketimbang membalasnya dan kemudian ia melanjutkan lagi istirahatnya.


Flashback off


"Boo...." gumam Sekala sembari menarik Aurora ke dalam pelukannya.


Aurora terkejut sekaligus bahagia mendengar panggilan sayang yang sudah lama sekali tak keluar dari mulut suaminya. Di awal pernikahannya, Sekala sering memanggilnya dengan panggilan sayang itu.


Aurora melihat Sekala merasa damai memeluk dirinya, napasnya berirama dengan tenang dalam tidurnya, dan Sekala semakin erat memeluknya. Ia membiarkan mulutnya menempel di lekuk bahu Aurora, hidungnya terkubur dalam helaian halus rambut Aurora. Lengannya membalut tubuh Aurora sementara tiupan lembut napas Aurora bertiup di buku-buku jemarinya yang menempel di atas bantal. "Aku merindukanmu Mas" bisik Aurora.