
Beberapa saat setelah Sky pergi, suasana lengang nan sunyi menyelimuti kamar rawat inap Aurora. Ia kembali memikirkan soal dana perusahaan dan tabungan pribadinya yang di ambil oleh suaminya.
Untuk apa sebenarnya Sekala mengambil uang perusahaan sebanyak itu? Mengapa ia tega diam-diam mengambil tabungan pribadinya yang uang tersebut akan ia pakai untuk menambah modal usahanya dan untuk membeli kebutuhan calon buah hatinya serta persiapan persalinannya.
Apakah projectnya di Eropa lebih penting dan besar nilainya sehingga ia mengabaikan dan mengambil alokasi dana project yang ada di sini? Jika iya, lantas mengapa Mas Sekala tidak berterus terang saja kepadaku, mengapa harus diam-diam mengambil uangku, apa sengengsi itu untuk berterus terang kepada istrinya? Atau mungkin memang ada hal lain yang ia sembunyikan dariku?
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah?"
Aurora merasa bimbang tak tahu harus berbuat apa, ia benar-benar seperti tak mengenal siapa sebenaranya pria yang menjadi suaminya.
"Aku masih punya banyak harapan!! Allah mampu menegakan langit tanpa tiang, menjadikan hal yang mustahil menjadi mungkin. Lantas untuk apa aku bersedih seolah tidak ada lagi tempat untuk berharap? Sedang di sana Allah justru menunggu doa-doa hambanya." ucapnya lirih di tengah malam yang sunyi, kemudian ia menyeka air matanya dan melafalkan penggalan dari Surat Al Anbiya ayat 87, doa Nabi Yunus AS ketika di dalam perut ikan.
"Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin"
Tak ingin mengganggu istirahat Bik Siti, Aurora bersuci dengan cara tayamum karena tak memungkinkan dirinya untuk turun dari tempat tidur seorang diri, kemudian ia melaksanakan shalat malamnya.
Setelah pukul 02.30 dini hari, Aurora kembali menghubungi Sekala, namun handphone Sekala masih belum dapat di hubungi.
"Mungkin besok pagi, dia akan menghubungiku." Aurora mengirimkannya pesan singkat agar Sekala segera menghubunginya, kemudian ia menaruh kembali handphonenya dan memejamkan matanya.
"Morning, Ra." sapa Sky, sembari memberikan sebuket bunga tulip kepada Aurora kemudian ia menaruh beberapa kantong makanan di atas meja.
"Terima kasih banyak ya Sky, aku jadi merasa tidak enak kepadamu." ucap Aurora, ia mencium bunga pemberian Sky.
"Enggak apa-apa kok, Ra. Sebenarnya aku ke sini karena sudah ada janjian dengan Aksara dan istrinya, hanya saja sepertinya aku datang kepagian ya." ucap Sky sambil melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukan pukul 07.00.
Bukan tanpa alasan ia datang sepagi itu, ia tahu Bik Siti akan kembali ke kedai steak pagi-pagi sekali sehingga Sky tak ingin Aurora sendirian di rumah sakit dan melamun memikirkan masalahnya.
"Aku bawa buah untukmu, mau aku kupasin yang mana?" Sky membuka kantong belanjaannya dan merapihkan di kulkas.
"Nanti saja Sky, biar Bik Siti saja yang membereskan." cegah Aurora, ia merasa semakin tak enak melihat Sky merapihkan semua makanan yang ia bawa.
"Biar rapih Ra, sebentar lagi Aksara datang, kalau nunggu Bik Siti ya sore datangnya. Sudah kamu santai saja!! Aku kupasin apel dan buah naga ya, bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh."
Tak menerima penolakan dari Aurora, setelah merapihkan belajaannya Sky langsung mengupas dan memotong beberapa buah untuk Aurora. "Di habiskan ya" Sky memberikan mangkuk yang berisi potongan buah kepada Aurora.
"Terima kasih ya Sky."
"Sini aku taruh bunganya di vas bunga." Sky mengambil kembali bunga pemberiannya dan menyimpannya di vas.
Sembari menikmati buah yang berikan oleh Sky keduanya mengobrol ringan tentang masa-masa kuliah mereka, Sky memang sengaja tak membahas masalah pekerjaan karena ia ingin pagi ini Aurora bisa tersenyum kembali.
"Oh iya aku inget waktu kita wisuda dulu, si Eric malah pake kebaya sama sanggul hahaha..." ucap Aurora tertawa geli mengingat salah satu teman pria seangkatannya yang datang ke acara wisuda dengan mengenakan kebaya hingga membuat heboh satu kampus.
"Tapi habis itu kamu kemana sih? Setelah wisuda kamu benar-benar tidak ada kabar sama sekali, seperti hilang di telan bumi." ucap Aurora, tawa cerianya berganti dengan wajah serius seolah tengah menginterogasi Sky.
"Sebenarnya aku..."
"Hmmmm..."
Belum sempat Sky menjawab pertanyaan Aurora, mereka berdua di kejutkan dengan kedatangan Aisyah, ibunda Sekala.
"Mama dengar kamu masuk rumah sakit, sakit apa kamu Ra?" tanya Aisyah, ia berjalan melihat sekeliling kamar rawat inap Aurora. "Buang-buang uang saja masuk VVIP" gumamnya.
"Kemarin perutku kram, Mah."
Melihat Aisyah mendekat ke arah Aurora, Sky beranjak darintempat duduknya "Silahkan duduk tante." ia mempersilahkan Aisyah untuk duduk di sebelah Aurora.
Sesaat Aisyah menatap Sky dengan tatapan sinis " Sekala sedang ke kantor ya?" tanyanya kepada Aurora.
"Mas Kala sedang keluar negeri, katanya sedang ada project baru." jawab Aurora, sambil mencium tangan ibu mertuanya.
"Ooh bagus ya, suami sedang sibuk bekerja tapi kamu malah membuang-buang uang untuk ruangan VVIP, padahal hanya kram saja dan berduaan dengan pria lain."
Mendengar ocehan ibu mertua Aurora, Sky langsung menunjukan wajah ketidak sukaannya, namun sayangnya ia tak ingin membuat keributan, sehingga diam-diam Sky memencet tombol nurse call agar petugas medis segera datang.
"Sky ini teman lamaku waktu kuliah, kebetulan hari ini Sky ada janji dengan Mas Aksara di sini untuk membahas kemitraan usaha steakku." Aurora mencoba meluruskan kesalah pahaman ini.
"Alasan!! Kamu ini kan memang..."
"Selamat pagi, Bu Aurora" sapa dokter yang bertugas menangani Aurora, ia datang memotong ocehan Aisyah dan kemudian ia menegur Aisyah untuk tidak membuat keributan.
"Saya ini ibu mertuanya dok." protes Aisyah.
"Maaf bu, kami sedang memeriksa pasien. Ibu harap tenang dan silahkan menunggu di luar!!" salah seorang perawat kembali meminta Aisyah untuk tenang dan keluar dari ruang rawat inap Aurora.
"Harusnya pria itu yang kalian usir, bukan aku." gerutunya.
Kesal dengan perlakuan yang di terimanya, ia memutuskan untuk pergi dari rumah sakit, namun saat berjalan di koridor rumah sakit ia berpapasan dengan Aksara dan Kara "Kara, kau tega ya mengenalkan wanita tukang selingkuh kepada Sekala!!"
"Maksud tante?" tanya Kara bingung.
"Kau lihat saja di ruangannya, benar-benar tidak ada adabnya. Suami sedang kerja hingga keluar negeri, dia malah enak-enakan berduaan pria lain dan pria itu meminta pihak rumah sakit untuk mengusir tante."
"Luar negeri? Jadi Sekala sekarang sedang di luar negeri?" sahut Aksara, ia sangat terkejut mendengarnya.
"Memangnya kamu tidak tahu? Kalian bertiga sama sama saja, sama-sama membodohi anak tante." ucap Aisyah dengan kesal, ia pun pergi meninggalkan rumah sakit.