Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 23



"Ra... Aurora..."


Sudah sepuluh menit Kinara berdiri mengetuk pintu kediaman Aurora, namun belum juga ada sahutan dari Aurora. "Apa Aurora belum pulang dari rumah sakit ya?" gumamnya.


"Ra..." panggil Kinara kembali sambil memutar gagang pintu kediaman Aurora.


"Eh kok enggak di kunci?" perlahan ia membuka pintu kediaman Aurora "Ra... Apa kamu ada di dalam?"


Samar-samar Kinara mendengar suara isak tangis Aurora, ia pun mempercepat langkahnya menghampiri sumber suara tangis Aurora.


"Astagfirullahaladzim, Aurora kamu kenapa Nak?" Kinara berlari menghampiri Aurora yang duduk di bawah lantai dengan wajah yang penuh kekalutan. "Ada apa, Nak?" ia memeluk Aurora dengan hangat, sembari mengelus punggung Aurora dengan lembut.


Kinara melihat sekeliling kamar Aurora yang di penuhi oleh dokumen-dokumen yang berserakan di mana-mana, membuat Kinara menduga jika kini Aurora sedang dalam masalah yang cukup serius "Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega!" bisik Kinara.


"Tante.. Huhu.." Aurora semakin erat memeluk Kinara, ia menumpahkan segala kesedihan yang selama ini ia pendam sendiri.


Hampir satu jam lamanya Aurora menangis, perlahan ia mulai tenang dan mengatur nafasnya. "Maafin Aurora tante, baju tante jadi basah." Aurora merasa tak enak dan malu terhadap Kinara.


"Tidak apa-apa, duduk di atas yuk!" ajak Kinara, ia ingin mengobrol dengan Aurora dari hati ke hati "Sebenarnya kamu sedang ada masalah apa Ra? Kamu boleh kok cerita sama tante."


Aurora menunduk kemudian menggelengkan kepalanya "Enggak ada apa-apa kok tante, cuma masalah rumah tangga biasa, mungkin akunya saja yang sedang sensitif." Aurora terlalu malu untuk bercerita kepada Kinara.


"Tidak ada istilah sensitif, semua orang yang sedang ada masalah pasti akan bersedih. Mungkin tante tidak bisa membantu mu, tapi dengan kamu bercerita hatimu akan terasa lebih ringan." Kinara mengelus lengan Aurora dengan lembut. "Anggap tante seperti ibumu, bukankah dulu saat Sky kuliah di Jogja, ia juga sering curhat dengan ibumu?"


Saat menempuh pendidikan Ilmu Sosial dan Politik-nya, hubungan Sky dengan keluarga Aurora terbilang sangat dekat, tak jarang Sky datang ke rumah Aurora meskipun terkadang Aurora sedang tidak sedang berada di rumah. karena bagi Sky, orang tua Aurora merupakan orang tua keduanya.


Kinara menggenggam erat tangan Aurora sembari menatapnya. "Tante janji, tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun termasuk kepada Sky."


"Suamiku...." dengan ragu-ragu Aurora mulai bercerita "Suamiku... Jalan dengan wanita lain huhu...." tangisnya kembali pecah saat menceritakan masalah yang kini tengah di hadapinya, ia tidak hanya menceritakan tentang perselingkuhan suaminya saja, namun ia juga menceritakan jika Sekala telah mengambil uang tabungan serta asset miliknya.


Kinara sampai tak bisa berkata apa-apa saat mendengar semua yang di alami dan di rasakan Aurora. "Menangislah sepuas yang kau mau, tapi setelah ini kau harus bangkit." Kinara kembali memeluk Aurora, membiarkannya menangis di pundaknya.


"Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan atas kehendak Nya. Ikhlas, Nak!" ucap Kinara. "Dengan ikhlas, hatimu akan terasa lebih ringan dan mempermudah langkahmu. Ingat anakmu ini butuh ibu yang bahagia!!"


Kinara terus membesarkan hati Aurora untuk ikhlas dengan apa yang sudah terjadi, namun ikhlas yang ia maksud bukan berarti Aurora berdiam diri begitu saja "Pikirkan semuanya dengan matang, dengan hati yang tenang. Apa pun keputusanmu, tante akan mendukungmu." Kinara melepaskan pelukannya, kemudian ia menghapus air mata Aurora "Jangan nangis lagi, ini sudah lewat jam makan siang kasihan nanti anakmu kelaparan."


"Boleh tante pinjam dapurmu? Tante mau panasin sup ayam, tadi tante bawain sup buat kamu tapi kayanya sudah dingin."


"Sudahlah, kamu cuci muka saja. Tante pinjam dapur ya" Kinara beranjak dari tempat duduknya kemudian ia berjalan menuju dapur kediaman Aurora untuk memanaskan sup buatannya.


Tak lama kemudian, Aurora menyusul Kinara setelah ia mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya.


"Nah gitu dong, kan lebih fresh." Kinara mengeluarkan sup buatannya dari microwave, kemudian menyajikannya di meja makan.


"Terima kasih tante." Ucap Auroransembari menuangkan sup kedalam mangkuknya. "Oh iya tante ada keperluan apa ke rumahku?" tanya Aurora.


Kinara mengambil kunci mobil Aurora, kemudian memberikannya kepada Aurora.


"Loh kenapa sudah di kembalikan? Bukannya satu minggu ya tante? atau munggin ada masalah dengan mobilnya?"


Kinara menggelengkan kepalanya "Mobil keponakan tante sudah beres, jadi dia sudah tidak pakai mobilmu lagi."


"Kalau begitu, uang sewanya aku kembalikan ya tante. Sebentar!" Aurora hendak beranjak dari tempat duduknya, namun Kinara mencegahnya "Tidak perlu Aurora!! Keponakan tante bilang tidak perlu di kembalikan."


"Tapi tante..."


"Sudah kamu pakai saja untuk modal usaha, kebetulan teman tante ngadaain Jakarta Kulinary Edition di Kuningan City Mall, kamu ikut ya!! Besok kamu ikut meeting dengan tante."


Aurora terdiam sejenak, karena sebelumnya ia belum pernah mengikuti acara seperti itu.


"Sudah jangan kebanyakan mikir, sekarang kamu minum obat dan vitaminnya habis itu istirahat. Besok tante jemput kamu di ruko ya, sekarang tante mau pulang dulu menantu tante mau ke rumah." Kinara mengambil tasnya menyampirkan di pundaknya. "Ingat!! Anakmu butuh ibu yang bahagia, buang yang membuatmu sedih dan lakukan hal yang membahagiakan. Tante pulang dulu ya" Kinara mengelus perut Aurora, kemudia ia mencium kedua pipi Aurora. "Tidak usah di antar, kamu istirahat saja!" Kinara melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Aurora.


Saat di pintu gerbang kediaman Aurora, Kinara berpapasan dengan Aisyah.


"Maaf, anda siapa? dan ada keperluan apa?" tanya Kinara dengan ramah. "Auroranya baru saja istirahat. Lebih baik anda bertamu lain waktu saja"


"Harusnya saya yang bertanya, anda siapa? dan ada urusan apa datang ke rumah anak saya?" tanya Aisyah dengan ketus hingga membuat Kinara terkejut.


'Ooh jadi ini ibu mertuanya Aurora' batin Kinara.


"Rumah anak anda?" Kinara mengerutkan keningnya "Meski usiaku kini sudah 55 tahun tapi aku masih ingat, dua tahun lalu aku yang mengantar Aurora membeli rumah ini." ucap Kinara sambil tersenyum, ia melangkah keluar meninggalkan Aisyah dengan wajah kesalnya atas ucapan yang di lontarkan oleh Kinara.