Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 10



"Ra, hubunganmu dengan suamimu baik-baik saja kan?" tanya Annisa, Ibunda Aurora dari seberang telepon.


Deg.


Aurora terdiam sesaat, ingin rasanya ia bercerita dan berkeluh kesah kepada Ibundanya tentang apa yang terjadi dalam rumah tangganya bersama Sekala, namun ia tak ingin menambah beban pikiran Ibundanya. "Aku dan Mas Sekala baik-baik saja kok Bu," jawab Aurora.


"Alhamdulillah kalau begitu, akhir-akhir ini ibu sering mimpiin kamu nak. Ibu ingin sekali ke sana, tapi adikmu kasihan di sini sendirian."


"Enggak apa-apa kok Bu, nanti saja kalau Wiwit liburan semester sekalian aku nujuh bulanan." ucap Aurora.


"Yo wis, kamu baik-baik ya di sana, nurut sama suamimu dan jaga kandunganmu. Jangan capek-capek!!"


Mengetahui putri sulungnya mulai membuka usaha, Annisa selalu mengingatkan agar Aurora tidak kecapean dan lebih memperhatikan dandungannya.


"Iya Bu, ini juga ada Bik Siti yang bantuin aku kok. Udah dulu ya Bu, sebentar lagi aku mau opening."


"Iyo, semoga lancar ya usahanya, ibu selalu mendoakanmu dari jauh."


"Aamiin, terima kasih Bu. Assalamualaikum" Aurora mematikan handphonenya, kemudian menaruhnya di dalam saku. Ia berjalan menghampiri Bik Siti yang sedari subuh tadi sudah sibuk menyiapkan segala keperluan untuk memulai openi g usahanya di booth containernya, langkah Aurora terhenti ketika ia melewati suaminya yang tengah bersantai di ruang keluarga.


"Kamu enggak ke kantor Mas? Katanya kemarin baru dapat project baru." tanya Aurora.


Sekala menatap Aurora dengan kesal, ia terganggu setiap kali istrinya menanyakan tentang pekerjaannya "Bawel banget sih kamu!!" ucap Sekala dengan nada kesal.


"Bukan begitu Mas, kalau Mas Sekala lagi enggak sibuk aku mau minta tolong angkatin nasi yang di dapur ke depan." pinta Aurora.


Sekala semakin murka ketika Aurora meminta tolong kepadanya "Sembarangan saja kamu nyuruh-nyuruh aku, kamu kerjakan saja sendiri. Aku bukan pembatumu, dasar istri tidak sopan!!" Sekala beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkan Aurora.


Aurora mengelus perutnya, di tengah kehamilannya yang semakin membesar tentu saja ia tak bisa leluasa dalam beraktivitas. Dokter menyerankan Aurora untuk tidak mengangkan beban berat karena dapat meningkatkan risiko cedera yang pada akhirnya dapat memicu terjadinya keguguran atau gawat janin.


"Biar saya saja Bu Aurora yang bawa nasinya." ucap Bik Siti yang tiba-tiba saja datang.


"Terima kasih ya Bik, saya tunggu di depan."



250 bowl pesanan pertamanya beberapa hari lalu mendulang komenan positif, sehingga dengan penuh percaya diri Aurora memutuskan untuk segera melauncingkan produk dagangannya.


Jika biasanya makanan ala Barat ini di jumpai di pusat belanja atau restoran, Aurora menyulapnya menjadi makanan ala pinggir jalan raya atau kaki lima, dengan harga yang ramah di kantong. Karena ia berjualan dengan menggunakan booth container di depan kediamannya.


Aurora membuat invoasi kuliner yang menarik dan kekinian yang ia kemas secara segar dan praktis, pelanggannya bisa merasakan sensasi kenikmatan steak dalam box berisi potongan ayam crispy, potongan kentang goreng, mix vegetable, sosis plus disiram dengan kuah kental steak blackpepper makin nikmat dengan tambahan lumeran saos keju bikin yummy.




Aurora membuat dua pilihan menu mulai dari Chicken Blackpepper dan Chicken Cheese Potatoes. Selain itu pelanggannya juga bisa memilih untuk versi besar berupa box maupun versi kecil berupa gelascup. untuk rasanya, Aurora menyediakan rasa orginal dan extra pedas.


Dari panjangnya para pengunjung yang datang, ada satu yang menarik perhatian Aurora yaitu adanya Sky di tengah-tengah antrian panjang tersebut. Pria bertubuh tinggi dan tampan itu nampak tersenyum ke arah Aurora, ia merupakan teman satu kampus dan satu kantornya dulu, meski beda jurusan dan beda divisi namun keduanya cukup akrab.


"Akhirnya tiba juga giliranku." Sky menyeka keningnya yang di penuhi keringat setelah hampir satu jam lamanya ia mengantri.


"It's okay Ra, dari pada aku nyerobot, nanti yang ada malah di timpuk sama yang lain haha..." Sky tetawa terbahak-bahak. "Alhamdulillah kabarku baik Ra, kamu sendiri gimana?" mata Sky tertuju pada perut Aurora yang terlihat membesar sejak terakhir ia bertemu Aurora di kantor.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, sangat baik. Kamu mau pesan apa?" tanya Aurora.


Sky menoleh ke arah belakang, melihat antrian di belakangnya. "Aku mau makan di sini dan juga membeli semua steak yang masih tersedia," ucap Sky.


"Hah?" Aurora sedikit terkejut me dengar Sky ingin memborong steak miliknya. "Untuk apa kamu beli semuanya? Lalu yang lain bagaimana?"


"Untuk makan siang semua pegawaiku." Sky mendekatkan wajahnya ke telinga Aurora "Suruh saja mereka kembali besok" bisik Sky di telingan kanan Aurora.


"Hahaha.. Kamu ini. Mana bisa begitu? kasihan mereka sudah mengantri."


"Ayolah Ra, aku sudah janji dengan para pegawaiku akan membawakan makan siang paling enak untuk mereka."


"Ya sudah deh, kamu tunggu sebentar ya." Aurora menghampiri para pelanggannya dan mengumumkan jika hari ini steak sudah habis.


Beberapa pelanggan nampak sangat kecewa dengan pengumuman yang di sampaikan oleh Aurora. "Tapi kalian tenang saja, paket diskon akan di perpanjang selama tiga hari ke depan." tutup Aurora.


Raut wajah kecewa berubah menjadi senyum setelah Aurora memperpanjang masa potongan harga pada beberapa paket dagangannya.


Setelah melihat semua pelanggannya membubarkan diri, Aurora kembali menghampiri Sky. "Ini pesanannya mau di bikin original atau pedas?" tanya Aurora.


"Bebas terserah kamu saja, yang penting punyaku jangan pedas-pedas ya, kamu tahukan aku tidak kuat pedas." jawab Sky.


"Siap, kamu duduk di teras saja ya." Aurora menunjuk ke arah teras kediamannya. "Maaf aku tidak menyediakan tempat untuk makan, karena konsep usaha ini take away"


"Santai aja Ra, aku bantuin ya" Sky menggulung lengan kemejanya, lalu ia mengambil spatula dari tangan Aurora.


"Jangan, biar aku saja! Kamu tunggu saja di teras."


"Enggak apa-apa Ra, aku sudah lama tidak ngobrol denganmu. Ngomong-ngomong usia kandunganmu berapa bulan?" tanya Sky sambil mengolesi daging dengan bumbu yang telah di sediakan.


"Jalan lima bulan" Aurora mengelus perut buncitnya. "Kamu enggak ngantor jam segini ada di sini?"


"Sebenarnya enggak lama setelah kamu keluar, aku juga keluar. Bisnis Gymku sudah mulai membutuhkan manajement yang serius dan enggak bisa lagi aku tinggal." terang Sky.


"Iya kemarin aku lihat di sosial media kalau kamu baru buka cabang, itu cabang yang ke berapa Sky?"


"Alhamdulillah, ini yang ke enam Ra. Oh iya di sebelah tempat Gymku yang di dekat sini ada ruko yang belum terpakai, kalau kamu mau, kamu bisa sewa tempat itu agar pelangganmu bisa dine in." ucap Sky.


Aurora nampak berfikir sejenak, pasalnya uang pesangon yang ia dapatkan dari tempat kerjanya dulu sebagian sudah ia berikan kepada ibu mertuanya untuk biaya kuliah adik iparnya, dan kini yang tersisa hanya untuk membeli perlengkapan buah hatinya dan biaya persalinannya.


"Kamu tenang saja, ruko itu punya mama jadi kamu bisa nempatin dulu dan bayar perbulan." ucap Sky sembari membalik daging yang ia penggang, kemudian ia berjalan ke arah teras kediaman Aurora untuk mengambil kursi "Kamu duduk gih dari tadi berdiri terus, bumil jangan capek-capek" Sky mempersilahkan Aurora untuk duduk.


Aurora tersenyum menganggukan kepalanya "Terima kasih ya Sky." ia duduk sembari mengingat kedekatannya dulu dengan keluarga Sky sebelum dirinya menerima pinangan Sekala.


Dari balik jendela kaca ruang tamu kediamannya, Sekala nampak memperhatikan kedekatan antara Aurora dengan Sky "Dasar wanita gatal!" gumamnya.