
Aurora termenung di balik tirai jendela ruang kerjanya, ia memikirkan keberadaan Sky yang seolah menghilang begitu saja dari hidupnya, dan ada perasaan kesal pada orang-orang di sekelilingnya yang nampak menyembunyikan sesuatu tentang Sky dari dirinya.
'Mengapa aku jadi orang yang paling tidak tahu apa-apa mengenai Sky, padahal dia adalah sahabatku sendiri.' gumamnya.
Aurora membuka kembali pesan-pesan singkat yang rutin dikirim oleh Sky. 'Kamu itu sebenarnya kemana sih?' sungguh perasaan Aurora menjadi sangat tidak enak.
"Ayo tebak ini siapa?" Sekala menutup mata Aurora dengan kedua telapak tangannya, melihat istrinya tengah melamun di depan jendela, Sekala berjalan mengendap-endap menghampiri Aurora.
"Siapa lagi kalau bukan Mas Kala"
"Yah ketahuan.." Sekala melepaskan tangannya dan turun ke dada Aurora memeluknya erat "Ngelamunin siapa sih? Pasti lagi mikirin aku. Mmmuah..." Sekala mengecup setiap bagian wajah istrinya.
"Aku punya sesuatu untukmu." ucap Sekala.
"Apa?"
"Tebak dulu dong..."
"Ya mana aku tahu Mas Kala mau memberiku apa? Memangnya aku dukun?!"
Sekala tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya, ia kemudian memberikan sertifikat rumah milik Aurora. "Terima kasih banyak ya." ucap Aurora.
"Loh, memangnya Mas Kala sudah melunasi hutang-hutang Mas Kala di perusahaan lama?"
"Memangnya istriku ini belum melihat berita ya?" Sekala memberikan surat kabar yang memuat berita platform pertukaran dan pasar kripto yang berbasis di Indonesia MyAccount memperoleh pendanaan seri A senilai US$ 11 juta, dengan partisipasi dari Coin Ventures dan Sky's Capital. Kerja kerasnya selama ini tak sia-sia, ia berhasil memanfaatkan peluang dan kedempatan yang Randy berikan kepadanya.
Aurora langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian berbalik menghadap Sekala. "Selamat ya sayang, aku bangga sekali padamu" ia membelikan kecupan serta pelukan hangatnya untuk suaminya.
"Terima kasih ya, ini semua berkat doa dan support darimu" Sekala membelai wajah istrinya dengan jari jemarinya, ia merasakan betul semakin ia menyayangi keluarga kecilnya, Rizky yang di perolehnya dari Allah semakin mengalir deras.
"Ngobrol di sofa yuk, aku mau kamu memilih hunian baru untuk kita." Sekala menggandeng tangan Aurora menuju sofa yang terletak di sudut ruang kerja Aurora.
"Pilihlah kamu mau rumah yang mana?" Sekala memberikan beberapa brosur perumahan.
Aurora hanya melihatnya sepintas kemudian ia menaruh kembali di atas meja.
"Enggak ada yang kamu suka ya? Apa kamu maunya kita membeli tanah, kemudian di bangun sesuai dengan desain yang kamu inginkan? Kemarin temanku menawari tanah di Tangerang Selatan."
"Bukan itu sayang."
"Lalu?" tanya Sekala.
"Kita tinggal di rumah lama kita saja ya, sayang uangnya lebih baik di tabung." ucap Aurora.
Sekala meraih tangan istrinya, kemudian menggenggamnya. "Boo, itu adalah milikmu. Aku sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan tempat tinggal yang layak untuk istri dan anakku."
"Tapi aku masih ingin tinggal di rumah lama." ucap Aurora.
Wajah Aurora bersemu memerah, ia tahu fantasi apa yang pikirkan oleh suaminya. "Ya, aku setuju." Aurora menganggukan kepalanya, ia setuju dengan usulan suaminya untuk merenovasi kediaman miliknya.
Sekala mengambil handphonenya di dalam sakunya, ia menghubungi salah seorang temannya yang berprofesi sebagai arsitek, dan kemudian Sekala membuat janjian bertemu dengannya.
"Besok siang kita ketemu sama temanku Bagas, ia seorang arsitek terbaik di Jakarta." ucap Sekala kepada istrinya, sembari menaruh handphonenya di atas meja, kemudian ia mengambil kartu kredit dan dua kartu debitnya lalu memberikannya kepada Aurora.
"Peganglah, semua gajiku dan sisa pembayaran hutangku ada di sini. Aku percayakan semuanya padamu."
"Lalu mas bagaimana jika semua uang mas Kala di berikan kepadaku?"
"Tinggal minta saja denganmu." Jawab Sekala dengan santainya, ia merebahkan kepalanya di paha Aurora. "Oh iya aku punya satu berita satu lagi."
"Apa?" Aurora mengelus kepala Sekala dengan lembut.
"Tadi pengacaraku menghubungiku, tadi Pak Andi bilang jika Syeira di jatuhi hukuman 4 tahun 8 bulan penjara."
"Ya semoga bisa jadi pembelajaran baginya, untuk bisa berubah menjadi lebih baik." ucap Aurora dengan wajah datar, sekilas ia nampak membuang wajahnya. Dalam benak Aurora semoga setelah keluar nanti, Syeira tidak lagi mengganggu rumah tangganya.
Sekala kembali duduk dan menatap wajah Aurora, ia bisa merasakan ada perubahan dalam raut wajah istrinya. "Ini adalah kesempatan terakhir yang kamu berikan untukku, jika aku melakukannya lagi aku bukan hanya kehilanganmu dan Sagara tapi juga kehilangan anak perempuan kita yang sangat menyanyangku."
"Anak perempuan? Maksud Mas Sekala apa?"
Sekala mengambil remote diatas meja kemudian ia menekan tombol pengunci ruang kerja istrinya. "Entahlah, firasatku mengatakan jika sebentar lagi kita akan di karuniai baby girl." ia memberikan serangan secara tiba-tiba kepada istrinya.
Merekahkan bibirnya dalam ciuman yang meluluhlantakkan dan membuatnya bergetar, Aurora terjepit di antara sofa dan tubuh Sekala.
"Maaf ya, kamu jadi ngeringin rambut pakai kipas angin." Sekala membantu Aurora menyisir rambut panjangnya yang masih basah setelah mereka melakukan mandi wajib. "Besok aku belikan hair dryer mini yang bisa kamu bawa kemana-mana."
"Hah?"
"Haha... Aku bercanda, oh iya katanya kamu mau ke tempatnya Sky? Setelah ini aku antar ya."
"Tadi pagi aku sudah ke sana."
"Lalu?" wajah Sekala berubah menjadi khawatir, ia menghadap ke wajah istrinya.
"Aku hanya bertemu dengan Bang Izar, Bang Izar bilang kalau tante Kinara mengundang kita makan malam di rumahnya. Mas mau menemaniku kesana, nanti malam?"
"Tentu saja sayang, aku dan Sagara akan menemanimu." Sekala menghembuska n nafas leganya, mendengar Izar tak mengatakan apa pun kepada Aurora. Setidaknya Aurora tidak bersedih ketika dirinya tidak ada di sampingnya.
"Sudah kering dan rapih rambutnya, ayo pakai lagi hijabnya, aku tidak ingin ada yang melihat rambut indah istriku!"
"Terima kasih ya." Aurora kembali mengenakan hijabnya dengan rapih, sementara Sekala berjalan ke arah tempat tidur putranya, ia melihat kaki mungil Sagara sudah bergerak-gerak, tanda ia sudah terbangun dari tidurnya.