
Satu Tahun Kemudian
Aurora dan Sekala menepati janjinya kepada Luna, sudah setahun belakangan ini hampir di setiap akhir pekan, mereka berdua rutin mengunjungi Luna dan teman-temannya, mereka berdua juga ikut menjadi donatur tetap di yayasan tersebut.
Berbeda dari biasanya, kali ini Sekala datang di hari biasa dan hanya seorang diri tanpa di temani oleh istri dan anaknya.
"The Lion and The Mouse." Sekala membuka buku dongeng yang ia bawa dari rumahnya (milik Sagara). "Once upon a time, there lived a lion who ruled the forest." ia memulai ceritanya.
Anak-anak duduk mengelilinginya sambil menyimak cerita yang Sekala bacakan. Bapak dari satu orang anak itu bercerita dengan penuh antusias, sambil memberikan ekspresi sedih, ketakutan, hingga bahagia sesuai dengan cerita yang ia baca.
"Now the lion and mouse became friends forever in the forest." Sekala menutup kembali buku yang telah selesai ia baca. "Ada yang tahu makna dari cerita yang uncle sampaikan?"
Salah seorang anak laki-laki berusia enam tahun mengangkat tangannya.
"Ya apa Andika?" tanya Sekala.
"Kita tidak boleh saling meremehkan." jawab Andika.
"Ya betul, kita tidak boleh saling meremehkan, apalagi dari bentuk fisik, baik sesama manusia atau makhluk hidup lainnya. Karena dibalik bentuk fisik yang berbeda-beda, kita semua memiliki kekuatan atau kemampuan yang berbeda-beda juga. Inilah yang membuat kita harus saling melengkapi dan tolong-menolong."
Selesai membacakan dongeng Sekala pun berpamitan kepada anak-anak, ia mengatakan jika akhir pekan ini dirinya dan Aurora tidak bisa berkunjung lantaran mereka bedua sedang ada keperluan, namun ia berjanji pekan depan setelah urusannya selesai ia akan kembali berkunjung bersama istri dan anaknya.
Sebelum pergi meninggalkan yayasan, Sekala menghampiri Mega untuk berpamitan. "Bu Mega, maaf hari ini saya tidak bisa ikut makan siang bersama. Tapi sebentar lagi makanan yang pesan akan datang. Kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang."
"Baik Pak Sekala, terima kasih banyak sudah berkunjung, salam untuk keluarga bapak di rumah " ucap Mega, ia mengantarkan Sekala hingga pintu depan.
Saat Sekala menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba pintu kaca mobilnya di ketuk oleh seseorang dari luar, Sekala pun langsung menurunkan kaca jendela mobilnya.
Sekala terkejut melihat Luna memberikan bunga tulip cantik kepadanya. "Untuk aunty Aurora." ucapnya dalam bahasa isyarat.
"Terima kasih ya Nak, nanti uncle akan sampaikan pada aunty. Uncle pergi dulu ya, bye." Sekala melambaikan tangannya kemudian ia menaruh bunga tersebut di kursi samping, barulah ia menutup kembali kaca mobil dan pergi meninggalkan yayasan.
Seiring dengan pencapaianmya yang terus meningkat di perusahaan tempatnya bekerja, membuat pundi-pundi penghasilan Sekala kian bertambah, sehingga dalam waktu satu tahun ia berhasil menyelesaikan renovasi rumah lamanya menjadi rumah impiannya dan juga impian istrinya, kini mereka bertiga sudah menempati rumah tersebut.
Sesampainya di kediamannya, Sekala mendapati putra semata wayangnya tengah bermain bersama suster dan asisten rumah tangganya. "Bik tolong di taruh di vas ya" Sekala memberikan bunga pemberian Luna kepada asistennya, kemuidan ia menyapa putra semata wayangnya.
"Hai, anak ayah yang paling tampan, sedang main apa? Boleh ayah temani?"
Sagara yang mulai belajar berjalan, selangkah demi selangkah menghampiri ayahnya "Ayah..." ucap Saga, tepat di hadapan ayahnya, Sagara langsung memeluknya.
"Pintar sekali anak ayah." Sekala mengelus kepala Sagara dan menciumnya. "Bunda mana nak?" Sekala menoleh ke kanan dan ke kiri, tak menemukan keberadaan istrinya.
"Ibu sedang ada di kamar, Pak." jawab salah seorang asisten rumah tangganya.
Sekala menganggukan kepalanya, ia menduga jika istrinya tengah bersiap-siap untuk makan siang bersamanya dan keluarganya yang sebentar lagi datang ke kediamannya. "Ayah ke kamar dulu ya nak, Saga main lagi sama suster ya." Sekala mengelus kepala putranya dengan lembut kemudian ia beranjak menghampiri Aurora di kamar mereka yang terletak di lantai dua kediamannya.
Sambil tersenyum lebar Sekala membuka pintu kamarnya "Sayang aku pulang..." ia sangat terkejut mendapati istrinya tengah menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sekala panik. "Siapa yang telah membuat hati istriku bersedih?"
"Ri Jeong Hyeok? Siapa mereka?" tanya Sekala bingung, ia menoleh kearah televisi yang sedang di tonton oleh istrinya. Sekala menghembuskan nafasnya, karena rupanya Aurora tengah menonton drama korea.
"Lupakan Ri Jeong Hyeok! Ayo kamu cepat siap-siap karena sebentar lagi Ibu dan Wiwit akan datang kemari, aku tidak ingin mereka melihat mata sembabmu dan berfikir aku yang telah membuatmu menangis." Sekala menghapus air mata yang membasahi wajah cantik istrinya.
"Hah? Ibu dan Wiwit datang kemari? Kenapa Mas tidak bilang? Lalu sekarang Ibu sudah sampai mana? Ayo kita jemput di bandara." Aurora panik, ia langsung mengikat rambutnya dan mencari pakaiannya.
"Supirku sudah menjemputnya, paling lima belas menit lagi sampai. Kamu mandi dulu gih." ia melihat istrinya masih mengenakan baju tidur yang semalam di kenakan. "Apa mau aku temani?" Sekala tersenyum nakal, sembari membuka satu persatu pakaiannya.
"Aku sendiri saja Mas, kalau sama Mas kala bisa sangat lama." Aurora langsung bergegas mengambil handuk, dan berjalan menuju kamar mandi, namun sayangnya Aurora kalah cepat dari Sekala.
Sekala memegang tangan Aurora, kemudian ia membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kolam renang mini yang berada di dalam kamarnya.
"Bajuku basah semua Mas..." protes Aurora.
Sekala tersenyum menatap ranumnya payud*ra istrinya dari balik piyama tipis yang Aurora kenakan, ia pun langsung menariknya hingga menampakan kedua puncak payud*ra istrinya yang mengeras, dengan nafas yang memburu Sekala mengusap di satu sisi dan melum*tnya di sisi sebelahnya, hingga memaksa bibir Aurora mengerang, menikmati sentuhan yang Sekala berikan.
"Kalian sedang apa? Mengapa lama sekali turunnya? Ibu dan Wiwit sudah hampir satu jam bermain dengan Saga di sini." ucap Annisa.
"Kami baru saja menyelesaikan misi, Bu." jawab Sekala sembari tersenyum. "Bagaimana perjalanannya lancar?" tanya Sekala, ia mencium tangan Annisa bergantian dengan istrinya.
Melihat rambut keduanya basah, Annisa langsung mengetahui misi apa yang di maksud oleh menantunya.
"Ibu tumben datang kemari tidak memberitahuku." ucap Aurora.
"Loh bukannya suamimu yang meminta kami datang kemari?"
Aurora yang sama sekali tak tahu menahu soal kedatangan ibundanya, menoleh ke arah Sekala, ia mentap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sebenarnya aku ingin sekali mengajakmu ke suatu tempat, jadi aku meminta Ibu dan Wiwit datang kemari, untuk menemani dan menjaga Sagara selama beberapa hari ke depan, tapi nanti juga akan ada Amanda, Mama dan Papa yang akan rutin datang kemari ikut menjaga Saga."
"Loh memangnya Mas mau mengajak aku kemana? Kok Saga tidak di ajak, aku tidak mau pergi jika anakku tidak di ajak." tolak Aurora.
"Boo, aku ingin sekali me time berdua denganmu. Ayolah sekali ini saja, aku sudah mempersiapkan ini semua dari jauh-jauh hari." pinta Sekala memelas, ia tak menyangka jika Aurora menolak liburan berdua dengannya.
"Yang di sampaikan oleh suamimu itu benar Nduk, tidak ada salahnya kalian sesekali liburan berdua. Biar Ibu dan Wiwit yang akan menjaga Sagara, lagi pula di sini kan ramai. Ada banyak asistenmu dan juga suternya Sagara, belum lagi nanti ada ipar dan mertuamu juga yang ikut menjaga Saga. Ibu juga sudah janjian dengan Ibunya Sky untuk playdate bersama cucunya, sudah sana kalian bersenang-senanglah."
"Tapi Bu, aku pasti akan rindu Saga."
"Mba Aurora kan bisa video call kami." sambung Wiwit.
"Mau ya Boo..." pinta Sekala kembali.
Sebenarnya Aurora pun berfikir, apa yang di katakan oleh Sekala ada benarnya, ia ingin lebih mempererat hubungannya dengan suaminya. Akhirnya Aurora pun mengangguk setuju.
Di tengah obrolan hangannya bersama keluarganya, mertua Aurora datang ke kediamannya, kedua keluarga tersebut makan siang dengan hangat di iringi celotehan ceria yang keluar dari mulut Sagara.