
"Wajahmu kenapa, dari tadi aku perhatikan manyun terus?" tanya Sekala saat mereka sudah berada di dalam pesawat.
Seketika Syeira menatap tajam ke arah Sekala yang duduk di sebelahnya "Kamu masih tanya aku kenapa? Aku jijik, melihatmu sok mesra-mesraan sama istri bodohmu itu!!"
Mendengar Syeira menghina Aurora, membuat Sekala naik darah "Tutup mulutmu!! Dia bukan wanita bodoh." Bentak Sekala. "Jangan pernah lagi kamu menghina Aurora!!" ia menampakan wajah ketidak sukaannya terhadap ucapan Syeira yang menghina istrinya.
Syeira terkejut mendapatkan bentakan dari Sekala, selama berpacaran dengan Sekala baru kali ini Sekala berani membentak dirinya. "Sekarang kamu berani bentak aku hanya karena wanita itu?"
"Ya karena aku tidak suka kamu menghinanya." ucap Sekala dengan tegas.
Syeira melihat kilatan kemarahan di mata Sekala, raut wajah Sekala benar-benar berubah menjadi menakutkan. "Hiks..." perlahan buliran-buliran bening jatuh di wajah Syeira.
Melihat Syeira yang mulai menangis, membuat Sekala merasa bersalah karena telah membentaknya. "Maafin aku, Syei.. Aku tidak bermaksud membentakmu. Mau bagaimana pun dia adalah ibu dari anakku." ucap Sekala dengan penuh rasa penyesalan.
"Sekala, jika hanya mengandung anakmu, aku pun sebenarnya bisa. Aku bisa memberikan apa pun yang kamu mau termasuk anak, tapi bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk selalu memakai alat kontrasepsi. Kamu jahat Sekala!! Hikss..." Syeira menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Syei, maafin aku sayang. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membentakmu." Sekala terus membujuk Syeira agar ia mau memaafkan dirinya.
"Kamu tuh enggak pernah ngerti gimana capeknya jadi aku yang selalu di nomor duakan olehmu, aku capek harus menahan rasa cemburu ketika kamu sedang sama dia. Aku mau kita kaya dulu lagi, kamu jadi milik aku seutuhnya."
"Iya sayang, aku ngerti. Aku juga mau hubungan kita bisa kaya dulu lagi, tapi kamu sabar ya, tunggu sampai Aurora melahirkan."
"Janji?" Syeira menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji" Sekala melingkarkan jari kelingkingnya di jari Syeira. "Jangan nangis lagi ya, aku mau kamu menikmati liburan ini."
Syeira menganggukan kepalanya "Handphone kamu mana?" Syeira mengulurkan tangannya meminta handphone pribadi Sekala.
"Untuk?"
"Mana? cepetan!!!" pinta Syeira, memaksa.
Sekala mengambilnya dari saku kemudian memberikan kepada Syeira "ini"
"Selama dua minggu ini, kamu jadi milikku. Aku tidak ingin ada yang mengganggu, termasuk istrimu!!!" Syeira memasukan handphone Sekala ke dalam tasnya.
Sekala terkejut, pikirannya langsung tertuju pada Aurora, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Aurora atau pada kandungannya. Bayangan mata bening Aurora yang menangisi kepergiannya, mengisi setiap relung pikirannya.
"Apa kamu keberatan?" tanya Syeira membuyarkan lamunan Sekala.
"Tentu saja tidak, sayang."
Sial, Sekala tidak dapat menolak permintaan Syeira. Namun ia berharap Aurora dan kandungannya akan baik-baik saja selama ia pergi. "Istirahatlah, perjalanan kita masih sangat panjang."
Kursi business class yang berdesain ergonomis dan bisa ditekuk sampai mendatar seperti tempat tidur, membuat Sekala dan Syeira nyaman untuk beristirahat, di tambah dengan tersedianya layar LCD yang berisi berbagai hiburan, membuat perjalanan mereka terasa tak membosankan.
Ya Sekala selalu mengupayakan apa pun untuk memberikan kenyaman kepada Syeira.
Aurora terpaksa memutar balik arah kendaraan suaminya, setelah ia mendapat satu panggilan masuk dari Ani yang mengakatan jika ada calon mitra yang baru, tengah menunggunya di ruko, padahal sebelumnya Aurora ingin ke bank memperbaiki internet bankingnya yang terblokir.
"Mungkin saja Sky atau keluarganya banyak mengajari Ani," Aurora mengangkat bahunya, kemudian ia kembali fokus pada jalanan yang di laluinya.
Setelah lebih dari satu jam berkendara, ia tiba di depan rukonya, sebelum ia turun dari mobil suaminya, tak sengaja ia melihat dokumen milik suaminya berada di kursi belakang mobil. "Kok Mas Kala enggak bawa dokumen-dokumen pekerjaannya?" gumam Aurora.
Drrrt... Drrrt...
"Iya Nie, aku sudah berada di depan ruko. Ini aku mau masuk kok." Aurora menaruh kembali dokumen tersebut kemudian ia turun dari mobil suaminya dan masuk ke dalam ruko.
"Bu, tamunya sudah menunggu di lantai dua." ucap Bik Siti.
"Baik Bik, terima kasih."
Aurora sempat bingung mengapa Ani mengajak tamunya menunggu di lantai dua padahal seingatnya di lantai dua masih kosong, bahkan ia belum sempat mengganti lampunya. Aurora masih terfokus pada lantai satu yang ia gunakan untuk berjualan.
Sesampainya di lantai dua, ia di kejutkan dengan suasana yang berbeda, lantai dua rukonya kini berbah layaknya sebuah kantor dengan meja serta kursi-kursi yang berjejer, kemudian di sebelahnya terdapat meja panjang dan bangku-bangku yang berjejer saling berhadapan layaknya ruang meeting.
Tanpa sepengetahuan Aurora, Sky merubah lantai dua ruko menjadi ruang kerja dan ruang meeting sederhana, ia menggap Aurora membutuhkan kedua ruangan tersebut untuk tempatnya bekerja dan bertemu dengan para clientnya.
Aurora melangkahkan kakinya menuju meja panjang tersebut karena beberapa orang termasuk Sky dan Ani telah menunggu kedatangannya.
"Mas Aksara?"
Aurora di kejutkan dengan kehadiran Aksara yang ternyata calon mitra kerja samanya yang baru adalah Aksara.
"Jadi pemilik steak ini, kamu?" tanya Aksara, ia berdiri dan menjabat tangan Aurora
Selama ini Sekala tak pernah bercerita tentang bisnis yang tengah di geluti oleh Aurora, sehingga Aksara tak mengetahuinya.
"Iya Mas, silahkan duduk." Aurora mempersilahkan Aksara untuk duduk kembali.
Setelah berbincang dan memperesentasikan usahanya, Aksara menjadi semakin tertarik untuk bekerja sama dengan Aurora.
"Project kantor masih sepi sehingga aku pikir tidak ada salahnya menginvestasikan sedikit tabungan yang aku miliki di sini, lagi pula ROI nya pun hanya dua bulan, jadi lumayan untuk tambah-tambah," ucap Aksara. "Oh iya Ra, bagaimana dengan kondisi ibumu? apa beliau sdah sehat?" tanya Aksara.
"Ibu?" Aurora mengerutkan keningnya, ia agak sedikit bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Aksara. Hampir setiap hari dirinya selalu berkomunikasi dengan orang tuanya dan juga adiknya baik melalui telepon atau video call dan keduanya nampak baik-baik saja. "Ibu dan adikku baik-baik saja!"
"Oh... Aku boleh bicara berdua denganmu?" tanya Aksara, ia melirik ke arah Ani dan Sky.
Menyadari jika Aksara membutuhkan privasi untuk berbicara dengan Aurora, Sky dan Ani langsung beranjak dari tempat duduknya. "Kalau begitu saya tinggal dulu, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Sky mengulurkan tangannya kepada Aksara.
"Terima kasih banyak Pak Sky." Aksara menerima jabatan tangan Sky.
"Sama-sama Pak Aksara," jawab Sky, ia beralih ke Aurora "Ra, aku balik ke tempat gym ya." ucap Sky, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aurora "I hope you're enjoy, this new room." bisik Sky.
"Terima kasih banyak ya Sky." Ia sangat berterima kasih karena Sky telah banyak membantu bisnisnya.
"Sama-sama Ra, ya sudah aku tinggal ya. Kalau butuh apa-apa kabari aku."
"Bu Aurora, Pak Aksara. Saya juga permisi kembali bekerja." ucap Ani, ia mengikuti Sky dari belakang kembali ke tempatnya bekerja sementara Sky kembali ke tempat gymnya.