Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 32



Setelah memastikan asisten rumah tangganya masuk ke dalam bis yang akan mengantarnya menuju kampung halaman, Sky bergegas kembali ke parkiran. Di antara hiruk pikuk orang yang lalu lalang di terminal, ada satu sosok wanita yang ia kenal dan sudah lama sekali tak jumpa dengannya.


"Bu... Ibu...." Panggil Sky sembari berlari mendekat ke arah wanita cantik dan anggun yang usianya lebih muda dari ibundanya.


Menyadari ada seseorang yang memanggilnya, Annisa pun menoleh dan berhenti sejenak. Dalam hitungan detik Sky sudah berdiri di hadapannya "Sky? Apa kabar Nak?"


"Alhamdulillah baik Bu." jawabnya lalu mencium tangan ibunda Aurora. "Ibu apa kabar? Sama siapa kemari?" Sky menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Wiwit, adik kandung Aurora atau pun Aurora yang menjemputnya.


"Alhamdulillah Ibu juga baik, Ibu sendiri datang kemari. Kalau nunggu Wiwit libur masih lama, ibu ingin membantu Aurora menyiapkan acara tujuh bulannya." terang Annisa.


"Lalu apa Aurora mau jemput Ibu?"


Annisa menggelengkan kepalanya "Ibu tidak ingin merepotkannya, kasihan sudah hamil besar kalau ke terminal ramai seperti ini."


Sebenarnya sudah satu bulan belakangan ini Annisa kerap memimpikan putri sulungnya menangis, untuk itulah ia datang datang ke Jakarta lebih awal, ia ingin memastikan putrinya baik-baik saja. Namun karena tak ingin merepotkan Aurora dan Sekala, Annisa pun tak memberi tahu soal kedatangannya.


"Ya sudah kalau begitu, Ibu bareng sama Sky saja kebetulan kantorku sebelahan dengan kedai Aurora, biasanya jam segini Aurora sudah berada di kedai." Sky langsung meraih tas dan koper Annisa hendak membantu membawakan sampai ke mobilnya, namun Annisa menahannya "Biar Ibu saja yang bawa, Nak." cegah Annisa, ia tak enak hati jika terlalu merepotkan Sky.


"Tidak apa-apa bu, Ibu pasti lelah habis perjalan jauh." Sky kembali meraih koper dan tas Annisa kemudian membantunya membawakan ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju kedai, keduanya mengobrol dengan hangat, keduanya nampak tak canggung masih sama seperti ketika Sky masih dekat dengan putrinya.


"Kamu ini sama ART saja seperhatian itu sampai di antar masuk ke dalam bis, gimana nanti sama istri sendiri." Annisa agak sedikit heran mengapa hingga kini Sky masih belum menikah, padahal pria setampan dan sebaik Sky tentu akan sangat mudah memilih tambatan hatinya, namun dalam batinnya jika Sky tertarik dengan putri bungsunya tentu ia akan dengan senang hati menerima Sky sebagai menantunya, terlebih dirinya juga mengenal dengan baik keluarga Sky.


Sky hanya tersenyum malu mendengar ucapan Annisa. "Sky apa kamu sedang sakit? Wajahmu agak sedikit pucat dan jauh lebih kurus." tanya Annisa dengan hati-hati.


"Aku hanya kecapekan dan kurang istirahat saja bu, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Jangan capek-capek ya Nak, prioritaskan kesehatanmu." ucap Annisa. "Oh iya ibu bawain gudeg kesukaanmu, nanti makan sama-sama ya sama Aurora juga."


"Ibu masih ingat makanan ke sukaanku?"


"Gimana tidak ingat, dulu kamu kalau ibu masak gudeg pasti nambah sampai tiga piring." tak hanya makanan kesukaan Sky, Annisa pun masih ingat dengan kebiasaan Sky yang tak pernah membereskan meja belajar Aurora ketika Sky meminjam printer Aurora, hal ini membuat Aurora marah karena meja belajarnya berantakan.


"Haha... Namanya juga anak kostan Bu, di kasih makanan enak pasti nambah."



Sesampainya di kedai, Sky dan Annisa di kejutkan dengan kepanikan Bik Siti yang sedari tadi menggedor-gedor ruang kerja Aurora, namun tak ada jawaban dari Aurora.


"Biar saya dobrak saja Bik." Sky meminta Bik Siti untuk menyingkir sebentar kemudian ia mendobrak pintu ruang kerja Aurora.


Braaakk...


Hanya sekali gebrakan, Sky mampu membuka pintu ruang kerja Aurora.


"Bik Siti tolong buatkan teh hangat untuk Aurora" pinta Sky, kemudian ia berjalan perlahan mendekat ke arah Aurora dan Annisa, namun baru beberapa langkah kakinya melangkah, tanpa sengaja Sky menginjak salah satu foto kemesraan Sekala dengan Syeira. Ia merem*s foto tersebut "Dasar pria bod*h," Sky nampak sangat geram dengan apa yang di perbuat oleh Sekala.


Tak lama kemudian Bik Siti kembali dengan membawakan segelas teh hangat u tuk Aurora, "Ini Mas tehnya."


"Terima kasih ya Bik, Bibik lanjutkan saja pekerjaannya. Biar saya dan Ibu yang menemani Aurora."


Sky kembali mendekat dan berjongkok "Ra, di minum dulu tehnya biar kamu merasa lega"


"Terima kasih ya Nak." ucap Annisa, ia menerima gelas tersebut kemudian memberikannya kepada putrinya.


Sadar akan posisi dirinya yang bukan siapa-siapa Aurora, Sky sedikit menepi, memberikan ruang untuk Aurora bercerita sekaligus melepas rindu dengan ibundanya.



Drrrt... Drrrt...


Pukul 19.00 Aurora mendapat satu pesan masuk dari Aksara, yang memberitahunya jika sejak pagi tadi Sekala sudah di keluarkan dari perusahaan.


Sebenarnya Aurora sudah menduga hal ini akan terjadi, mengingat banyaknya dana yang di ambil oleh suaminya hingga mengakibatkan kerugian perusahaan, namun di satu sisi ia merasa sangat lega, karena Aksara menepati janjinya kepada Aurora untuk mengupayakan agar perusahaan tidak membawa masalah tersebut ke ranah hukum.


"Kamu belum tidur Nak?" tanya Annisa, ia berbaring di samping Aurora sambil mengelus kepala putri sulungnya dengan lembut. "Apa kamu masih mau menunggu Sekala pulang?"


Entahlah, Aurora sendiri pun tak tahu di satu sisi ia teramat perih dengan penghiatan yang di lakukan oleh suaminya, namun di satu sisi ia masih teramat menyayangi Sekala.


"Dari awal, aku menerima ta'aruf Mas Kala, aku niatkan pernikahan ini untuk ibadah, tapi kini Mas Kala seakan mempermainkan pernikahan ini." ucapnya lirih. Tanpa terasa air mata Aurora kembali menetes diwajahnya.


Annisa bergeser, memeluk putrinya dengan hangat.


"Bu, mengapa ada wanita yang tega merusak dongeng wanita lain, terlebih itu dongeng temannya sendiri? Hiks..."


"Nak, setiap orang punya pemikiran yang berbeda. Setiap orang punya ego masing-masing yang harus di beri makan, jika wanita itu dengan sengaja merusak dongengmu hingga lelakimu tertarik padanya. Maka, biarkanlah, lepaskanlah lelakimu." ucap Annisa. Ia pun merasakan sakit seperti yang putrinya rasakan, bagaimana tidak. Dulu ia pun pernah di khianati oleh suaminya, dan Annisa memilih untuk berpisah dan menghidupi kedua putrinya sendiri.


'Ekspektasiku terlalu tinggi padamu, aku berharap kamu bukan hanya menjadi imam dan pendamping hidupku, tapi juga figur pengganti sosok ayah yang tak pernah ada dalam hidupku' batin Aurora.


Lama ia menangisi rasa sakit atas penghianatan yang di lakukan suaminya, tanpa terasa Aurora tertidur di pelukan ibundanya.


Drrrtt... Drrrtt...


Pukul 01.00 dini hari Aurora terbangun oleh getar handphone di sebelahnya, dengan yawa yang masih terkumpul sepenuhnya, ia membuka handphonenya. Lagi-lagi nomor yang tak ia kenal mengiriminya foto, kali ini foto kemeja, celana dan sepatu yang berserakan di lantai kamar. Aurora sangat mengenali semua pakaian itu adalah milik suaminya.


'Apa malam ini Mas Kala sedang bersamanya?'