Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 17



"Bagaimana?" tanya Aurora, ia nampak serius memperhatikan wajah Aksara yang tengah mencicipi menu terbaru yang akan ia luncurkan pada pekan depan.


Rencananya Aurora akan mengeluarkan dua menu terbaru Steak mix ayam jamur dan double cheese burger, sebagai calon mitra yang akan bekerja sama dengannya, Aksara berhak terlebih dahulu mencicipi semua menu yang tersedia. Untuk itulah Aurora menyediakan semua menu untuk di cicipi oleh Aksara, sebari mereka mengobrol.


"Ini yang ayam jamur enak banget, Ra. Berapa per porsinya?" tanya Aksara, sambil memasukan suapan keduanya ke dalam mulutnya.


"Hanya Rp.20.000 per porsinya"


"Seenak ini cuma Rp.20.000 aja? pantas saja, kemarin pas aku sama Kara kesini juga antri panjang banget. Harga kaki lima rasa restoran bintang 5." puji Aksara, kemudian ia beralih ke menu lainnya"Ini roti burgernya juga enak banget, isiannya full, premium dan harganya cuma Rp. 17.000 aja. Ini keren banget sih Ra." Aksara tak hentinya memuji makanan yang di olah sendiri oleh Aurora, dengan sekejap Aksara menhabiskan semua menu yang tersaji di hadapannya.


"Jadi Mas Aksara tadi mau ngomong apa?" Aurora membuka percakapannya dengan Aksara.


"Jadi gini, Ra." Aksara mengelap mulutnya dengan tisu, ia agak sedikit ragu-ragu untuk memulai obrolannya bersama Aurora mengenai Sekala. "Beberapa waktu yang lalu Sekala mencairkan dana alokasi project senilai 1 miliar untuk keperluan pribadinya, yang aku sendiri tidak tahu pasti untuk apa, ia hanya mengatakan keluargamu membutuhkan dana tersebut, dan ia berjanji akan mengembalikan dana tersebut dalam waktu dekat." ucap Aksara dengan hati-hati, ia melihat raut wajah Aurora nampak sangat terkejut namun masih cukup tenang.


Kemudian Aksara melanjutkannya kembali kalimatnya "Namun sampai saat ini Sekala belum mengembalikan dana tersebut, bahkan kemarin ia mencairkan kembali dana perusahaan sebesar 250 juta dengan alasan ibumu sakit, ia berjanji akan mengembalikan dana tersebut besok." lanjutnya, ia belum melihat tanda-tanda perubahan raut wajah Aurora.


"Jika besok Sekala tidak bisa mengembalikan semua dana perusahaan, Sekala terancam kehilangan jabatannya sebagai CEO dan terancam pidana pengelapan uang perusahaan." terang Aksara lebih lanjut.


"Boleh aku lihat bukti pencairan dananya?" pinta Aurora, meski ia cukup mengenal Aksara, Aurora tak ingin percaya begitu saja sebelum ia melihat semua buktinya secara langsung.


"Ada di mobil, tunggu sebentar ya" Aksara beranjak dari tempat duduknya kemudian ia berlari keluar untuk mengambil tas jinjing miliknya yang berisi dokumen perusahaannya.


Begitu Aksara meninggalkan ruang meeting, Aurora memegang keningnya yang berdenyut, serta perutnya yang mulai kram, ia tak habis pikir untuk apa suaminya mencairkan dana sebanyak itu, dengan menyeret nama dirinya serta keluarganya, tanpa sepengetahuan dan izin darinya.


'Tidak, aku tidak boleh berfikir yang tidak-tidak sebelum aku melihat bukti pencairan dana tersebut' batin Aurora.


Tak lama kemudian Aksara datang dengan membawa tas jinjing di tangan kanannya, dan ekspresi wajah Aurora kembali tenang bahkan sekilas ia tersenyum ke arah Aksara.


"Ini semua bukti pencairannya." Aksara menyerahkan semua dokumen pencairan dana tersebut kepada Aurora.


Dengan teliti Aurora memeriksanya, ia melihat dengan jelas tanda tangan serta bukti transfer ke rekening pribadi suaminya.


"Sebenarnya sebelum pencairan kedua dana ini, empat bulan yang lalu Sekala sempat mencairkan dana 230 juta, ia juga tidak memberikan alasan yang jelas mengenai mencairkan dana tersebut." ucap Aksara.


"Aku harap Sekala bisa mengembalikan dana tersebut besok, setidaknya setengahnya untuk finishing project Pak Sinaga, karena jika project ini tidak selesai tepat waktu, perusahaan kita akan mendapatkan penalti 200% dari nilai project 2.5 miliar." Aksara menggelengkan kepalanya, ia sendiri tak sanggup membayangkan jika perusahannya harus menanggung penalti sebanyak itu. "Ra, aku mohon berdiskusilah dengannya, dari pagi tadi aku sudah menghubunginya namun handphonenya selalu di luar jangkauan. Dia masih ada di sini kan Ra? Tanya Aksara, Ia sendiri sempat curiga jika Sekala melarikan diri, namun saat melihat Aurora, ia merasa lebih lega.


Aurora mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Aksara, yang artinya Aksara sendiri tidak tahu keberadaan Sekala, atau bisa di katakan project di Eropa itu tidak ada.


Beberapa kali Aurora memejamkan matanya untuk menyeimbangkan kesadarannya, hingga getar alarm handphone Aurora menyadarkannya dari lamunannya.


"Maaf Mas Aksara, aku harus pergi. Aku janji akan menginformasikan masalah ini kepada Mas Kala" Aurora beranjak dari tempat duduknya. "Jika mas Aksara tidak keberatan, aku minta tolong untuk di copykan bukti pencairan dana ini dan kirim ke emailku" pinta Aurora.


"Baiklah nanti aku akan kirim ke emailmu," ucap Aksara.


"Terima kasih banyak ya Mas, aku permisi dulu." Aurora melangkahkan kainya, pergi meninggalkan ruko.


Getar alarm tersebut merupakan tanda pengingat, jika ia harus membayar beberapa tagihan vendor yang masih menjadi tanggung jawabnya. Boleh jadi hati dan pikirannya memang di penuhi oleh masalah suaminya, namun ia juga tak ingin melupakan kewajibannya.


Aurora memacu kendaraan suaminya dengan kecepatan tinggi, mengingat pelayanan bank akan tutup pukul 15.00 sementara saat ini jam telah menunjukan pukul 14.00.


Dalam perjalanan menuju bank, Aurora menghitung jam penerbangan suaminya tiba di Paris, berdasarkan prediksinya Sekala akan tiba di Paris sekitar jam 01.00 dini hari, ia berharap setelah suaminya sampai di Paris suaminya akan langsung menghubunginya, atau setidaknya handphonenya akan aktiv sehingga ia bisa membicarakan masalah perusahaannya.



Pukul 14.30 Aurora tiba di bank, ia langsung mengambil nomor antrean customer service. Hanya butuh beberapa menit menunggu tiba lah giliran nomor antrean Aurora, tanpa berbasa-basi Aurora langsung menyampaikan keluhannya terkait terblokirnya akun internet banking serta token miliknya.


"Baik tunggu sebentar ya Bu Aurora." ucap CS yang melayaninya.


Kurang dari sepuluh menit, akhirnya internet banking Aurora bisa kembali di gunakan, namun petugas bank meminta Aurora untuk membayar administrasi penggantian token internet banking yang baru sebesar Rp.50.000.


"Silahkan debit saja di tabungan saya." ucap Aurora, ia merasa tak keberatan jika hanya membayar administrasi, bahkan sebelumnya pun ia sudah tahu mengenai hal tersebut.


"Maaf Bu Aurora, kami tidak bisa mendebit rekening anda, karena saldo anda tidak mencukupi." ucap CS yang melayaninya.


Aurora sangat terkejut dengan ucapan CS yang melayaninya, bagaimana mungkin saldo yang ia miliki tidak bisa membayar uang administrasi yang hanya sebesar Rp.50.000 padahal ia yakin sekali jika saldo yang ia miliki masih di atas Rp.100.000.000


Aurora menggelengkan kepalanya "Enggak mungkin Mba," ucap Aurora dengan nada tidak percaya.


"Saldo Bu Aurora saat ini hanya sebesar Rp.28.000" terang sang customer service, ia menyerahkan bukti printout buku tabungan milik Aurora.


"Hah Rp.28.000?"


Aurora membulatkan matanya melihat saldo tabungannya, seketika dunianya berputar melihat mutasi rekeningnya terdapat mutasi transfer ke rekening Sekala. Dada Aurora terasa sangat sesak mengingat uang tersebut bukan hanya untuk membayar tagihan vendornya namun juga tabungan untuk keperluan calon buah hatinya. Pandangan Aurora perlahan mulai gelap, ia pun jatuh tak sadarkan diri.