Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 25



"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya Sekala, dengan tatapan tajamnya memandangi istrinya yang baru saja pulang.


Sudah sejak dua jam yang lalu ia pulang dan menunggu Aurora, ia juga bahkan memperhatikaan Aurora pulang bersama Sky dari balik jendela. 'Pria itu lagi, dasar pengganggu' batinnya.


"Oh kamu sudah pulang? Gimana jalan-jalannya? Menyenangkan? Pasti menyenangkan dong." Aurora tersenyum sinis ke arah Sekala.


"Kamu ini kenapa sih Ra? Ada suaminya pulang bukannya di sambut malah nuduh yang enggak-enggak. ini pasti gara-gara cinta lamamu yang belum kelar itu? Baru di tinggal beberapa hari sudah lengket dengannya, dasar wanita gatal." Sekala menatap Aurora dengan tatapan sinis.


Aurora membulatkan matanya mendengar Sekala menyebutnya wanita gatal "Apa tidak terbalik? Kamu tuh yang gatal. Bisa-bisanya liburan sama dengan Syeira? Teman kantor aku sendiri. Pantas saja dulu kamu sangat rapih jika menjemput atau mengantarku kerja, rupanya ada yang di lihat.""


Sekala nampak sangat terkejut dan gugup ketika Aurora menyebut nama kekasihnya 'Darimana Aurora bisa tahu jika aku liburan dengan Syeira?' batin Sekala.


"Dari tadi kamu bisanya cuma nuduh aku yang engak-engak, aku itu kerja tau!! Kerja buat kamu dan calon anak kita."


"Yakin buat aku dan calon anakku?? Bukan buat Syeira Gunawan Sanjaya? Empat bulan loh kamu enggak ngasih nafkah untukku."


"Syeira Gunawan siapa? Aku enggak kenal. Kamu kan tahu sendiri Ra, kantorku sedang sepi project. Harusnya kamu ngertiin aku dong Ra."


"Ooh enggak kenal?!" Aurora mengambil handphonenya dari tas, kemudian memberikannya kepada Sekala. "Ini apa? Kamu sama dia ada di Paris."


Sekala menelan ludahnya dan menghembuskan nafas beratnya, ia tak menyangka jika Syeira senekat itu mengunggah foto kebersamaannya di kapal pesiar.


Aurora kembali merogoh tasnya, ia mengambil rekening koran pribadi milik Sekala. "Kamu bilang sepi project? Ini apa?" Aurora semakin tak dapat mengendalikan dirinya, ia semakin meninggikan suaranya "Kamu beliin dia apartement dan mobil mewah." teriak Aurora. "Bukan cuma itu Mas, kamu juga ngambil uang tabunganku dan asset pribadiku, kamu pakai nama ibuku untuk membohongi Aksara agar Aksara mau mencairkan dana perusahaan." bentak Aurora.


"Kamu benar-benar jahat Mas!! Jahat!!" Aurora tak dapat menahan air matanya, ia menagis sembari memukul dada suaminya.


"Bisa tolong tenang dan dengerin aku dulu enggak?" Sekala menahan tangan Aurora untuk berhenti memukulnya.


"Enggak. Aku mau kita cerai!!" kalimat itu keluar begitu saja tanpa ia bisa tahan.


Cerai.


Jantung Sekala seakan berhenti mendengar kata cerai dari mulut Aurora, meski ia menyadari begitu banyak kesalahan yang telah ia perbuat kepada istrinya, namun ia tak siap kehilngan Aurora dan janin dalam kandungannya.


Beberapa hari di Eropa, pikirannya terus tertuju pada Aurora, bahkan saat ia mendekap erat tubuh Syeira, hatinya berharap jika itu adalah Aurora.


"Ini hanya salah paham, ayo ikut aku!" Sekala meraih tangan Aurora dan menariknya menuju kamarnya.


"Aku suamimu, dengerin aku dulu sebentar!!!" Sekala membentak Aurora dengan nada yang sangat tinggi, hingga membuat Aurora tersentak.


Sekala kembali menghela nafas nafas beratnya, ia merasa bersalah karen telah membentak Aurora "Sorry, sorry. Aku tidak bermaksud membentakmu. Tapi please dengerin aku dulu, setelah itu kamu boleh mengambil keputusan." ia kembali meraih tangan Aurora dan menggandengnya menuju kamar.


"Duduk dan dengarkan penjelasan aku, setelah itu kamu boleh mengambil keputusan!" Sekala meminta Aurora untuk duduk di meja kerjanya, kemudian ia berdiri di hadapan Aurora dan menatapanya dengan wajah serius.


"Aku ada satu project, ini project rahasia. Besar banget nilainya dan project ini di laksanakan di paris. Mereka meminta aku untuk menyediakan alat yang mendukung agar komunikasi mereka tidak mudah di sadap." terang Sekala. " Ini project impian, yang ngajuin penawaran banyak banget, dan aku enggak boleh kasih tahu siapa-siapa termasuk Aksara dan kamu, istriku sendiri." lanjutnya.


Sekala membelai wajah Aurora dengan lembut, sambil menghapus sisa air mata di sudut mata Aurora "Maaf aku telah lancang memakai nama keluargamu agar Aksara mau menandatangani pencairan dana dan aku juga telah lancang mengambil uang tabunganmu, karena aku butuh modal besar untuk project impian ini. Kemarin aku terlalu malu untuk meminjam uang secara langsung padamu." Sekala menundukan kepalanya.


"Lalu asset pribadiku?"


"Sebentar," Sekala berjalan mengambil tas kerjanya.


"Ini setifikat rumahmu, aku kembalikan utuh. Aku tidak berani menggunakannya." Sekala memberikan sertifikat rumah Aurora. "Untuk saham dan asuransi, sedang di urus oleh stafku. Kamu bisa langsung menghubunginya untuk perkembangan progresnya."


"Maksudnya?"


"Agen yang mengurus asuransimu memiliki track record yang kurang baik, jadi lebih baik asuransi tersebut di cairkan, begitu pula dengan saham yang kamu miliki. Situasi ekonomi seperti saat ini sangat tidak menentu, aku hanya tidak ingin nilai saham yang kamu miliki ini nilainya jatuh. Percayalah aku tidak mengambilnya sepeserpun, untuk soal ini kamu bisa tanya dengan Aksara."


Sambil berfikir, Aurora menatap mata suaminya untuk melihat apakah kali ini ia kembali berbohong.


"Aku sudah mengembalikan sebagian dana yang aku aku ambil dari tabunganmu, sebagian lagi akan aku transfer secepatnya setelah projectku selesai. Dan untuk urusan dana project perusahaan, itu akan menjadi tanggung jawabku, kamu tidak perlu memikirkan itu."


Aurora langsung mengecek jumlah saldonya melalui internet banking, dan benar apa yang di katan Sekala, bahwa ia telah mengembalikan sebagian uangnya.


"Lalu bagaimana dengan ini?" tanya Aurora dengan sinis, ia masih mempertanyakan bukti transaksi pembelian apartement dan mobil, serta foto-foto keberadaan Sekala di apartement dan kapala pesiar.


"Teman baikku Randy sedang butuh apartement, dia terkena BI Checking sehingga ia tidak bisa membeli dengan menggunakan namanya. Aku di situ hanya membantunya, aku transfer dengan menggunakan rekeningku." ucap Sekala, ia menggeser layar handphone Aurora.


"Di dunia ini yang punya mobil tesla banyak bukan hanya wanita itu, lihat dengan baik bukti transaksi ini." Sekala menyodorkannya ke hadapan Aurora. "Aku hanya menyewanya untuk kebutuhan entertain clientku. Bukankah dalam bisnis itu hal yang biasa?" Sekala kembali menggeser foto yang terakhir.


"Dan foto yang terakhir ini adalah malam setelah aku memenang tender, clientku mengajakku untuk berlayar bersama teman-temannya, seingatku wanita ini salah teman dari clientku, aku sama sekali tidak tahu dan tidak mengenalnya."


Sekala menghembuskan nafasnya pelan, kemudian meraih tangan Aurora, menggengamnya erat "Sekali lagi aku minta maaf ya Ra, karena terlalu gengsi untuk meminjam uang kepadamu. Tapi percayalah aku tidak bermaksud untuk mencuri, aku pasti akan ganti dan percayalah jika tidak ada wanita lain selainmu." Sekala berjongkok dan merebahkan kepalanya di pangkuan Aurora.