Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 08



Keesokan harinya Sekala terbangun dalam cahaya sinar matahari pagi yang menyusup melalui celah-celah jendela kamarnya. Matanya bergerilya mencari keberadaan Aurora.


"Aurora... Aurora... " teriaknya dengan suara lantang hingga bergema keluar kamarnya, namun sayangnya meski beberapa kali Sekala memanggil Aurora, tak ada suara sahutan atau pun tanda-tanda kehadiran Aurora. Suasana kediamannya nampak sangat sepi dan lengang.


"Kemana sih itu orang? pagi-pagi begini sudah keyapan," batin Sekala kesal.


Sembari terus menggerutu dan penuh keterpaksaan, Sekala menyiapkan sendiri air hangat untuknya membersihkan diri, serta pakaian yang akan ia kenakan ke kantor. "Dasar istri tak berguna!"


Sekala yang terbiasa di layani oleh Aurora tentu saja sangat kesal menyiapkan segala keperluannya sendiri, terlebih Aurora pergi tanpa pamit.


"Akhirnya beres juga" Setelah penampilannya di rasa cukup, Sekala pun keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju meja makannya.


Brraaak...


Sekala kembali murka ketika melihat tak ada makanan di atas meja makan, langsung saja ia melempar tudung saji ke sembarang arah. "Istri macam apa sih, meninggalkan rumah tanpa menyiapkan sarapan untuk suaminya." teriak Sekala.


Dengan rasa kesal, Sekala pun memutuskan untuk langsung pergi ke kantor. Begitu keluar dari kediamannya, ia berpapasan dengan Aurora yang baru saja pulang dari pasar.


Aurora datang dengan membawa banyak barang belajaan di tangan kanan dan kiri, alih-alih membatu istrinya, Sekala justru memarahi Aurora.


"Kamu ini dari mana saja sih? kebiasaan kalau pergi tidak pernah pamit," ucap Sekala dengan nada tinggi.


"Maaf Mas, tadi saat aku mau pamit Mas Sekala masih tidur, aku tidak ingin mengganggu Mas," ucap Aurora.


"Setidaknya kamu melaksanakan kewajibanmu, bukannya malah pergi seenaknya tanpa menyiapkan baju dan sarapan untukku," Sekala semakin menaikan nada bicaranya.


"Maaf, tadi aku kesiangan jadi buru-buru deh kepasarnya. Habis tadi malem nyaman banget sih di peluk Mas Sekala sampe kesiangan gini," ucap Aurora sambil tersenyum.


Aurora menghela nafas beratnya, padahal saat berbelanja tadi ia membayangkan saat dirinya pulang, Sekala akan menyambutnya dengan manis, namun yang terjadi justru sebaliknya. "Iya aku minta maaf, tadi pagi aku benar-benar sedang buru-buru kerena takut tidak dapat daging sapi terbaik dengan harga yang miring. Tapi aku udah beliin nasi uduk untuk Mas Sekala sarapan, sarapan dulu yuk!" ajak Aurora.


"Aku sudah tidak berselera untuk sarapan, minggir aku mau ke kantor." Sekala menyingkirkan Aurora yang berdiri di hadapannya, kemudian ia berjalan menuju garasi mobilnya.


Aurora kembali menghelan nafas beratnya, kemudian ia berbalik mengejar suaminya dan meraih tangan Sekala. "Sekali lagi maafin aku ya jika pagi-pagi sudah membuat Mas kesal, aku sayang kamu Mas," Aurora mencium tangan suaminya.


Sekala tak begitu menghiraukan ucapan Aurora, ia tetap masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi meninggalkan kediamannya.


Sambil tersenyum, Aurora melambaikan tangannya ke arah mobil suaminya "Hati-hati ya Mas,'' ucap Aurora.



"Gue dapet informasi dari Tiara katanya pagi tadi loe cairin alokasi dana project Pak Sinaga? Untuk apa? Loe tahu kan kalau dana itu mau kita pake buat finishing project ini, ini satu-satunya project yang kita punya, gue enggak mau kita mendapat komplain dari client." Aksara menatap tajam ke arah Sekala yang berada di hadapannya, ia menunggu alasan yang membuat Sekala berani mengambil uang perusahaan tanpa berdiskusi dengannya.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Sekala mepakukan hal tersebut, namun karena saat itu kondisi keuangan sedang stabil, Aksara tidak begitu mengambil pusing, ia hanya mengambil kebijakan dengam memotong sebagian pendapatan yang akan di terima oleh Sekala. Namun kali ini kondisinya sangat berbeda, beberapa bulan belakangan perusahaannya sepi project sehingga pendapatan perusahaan mengalami penurunan sementara biaya yang harus di keluarkan terus berjalan.


Aksara menaruh haruh harapan besar akan profit yang akan diterimanya setelah menyelesaikan project perusahaan Pak Sinaga ini.


"Keluarga istriku sedang ada masalah keuangan," jawabnya singkat sembari membuang wajahnya untuk menutupi pancaran kebohongan di matanya. "Sudahlah aku sedang banyak urusan, aku pulang dulu." Sekala mengambil handphone dan kunci mobilnya di atas meja, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.


Selain malas berdebat, ia juga tidak punya waktu untuk meladenin Aksara, Sekala harus mendapatkan tambahan dana untuk membeli mobil yang di minta kekasihnya. "Masalah dana project Pak Sinaga, kau tenang saja lah biar nanti aku yang akan mengurusnya."Sekala menepuk bahu Aksara, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.


Tanpa sepengetahuan Aurora, Sekala mengambil dan menggadaikan setifikat rumah yang ia tempati bersama Aurora.


'Sebelum nanti aku melepasmu, aku pasti mengembalikan setifikat ini' batin Sekala.