Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 45



Sekala memasang sabuk di pinggangnya dan kemudian merapihkan kemejanya di depan cermin, ia membiarkan Aurora menonton dari tempat tidur di belakangnya, sembari menyusui putranya.


"Mas mau kemana sepagi ini sudah rapih?" tanya Aurora.


"Aku mau balik ke Jakarta, aku harus menghadiri meeting jam 14.00 siang ini." Sekala menatap sekilas ke belakang. “Aku akan kembali lagi saat weekend."


"Mas tidak mau mengajakku dan Saga pulang ke Jakarta?"


Sekala terdiam sejenak, ia berbalik dan mendekat ke arah Aurora. "Aku ingin sekali mengajak kalian tinggal bersama seperti dulu, tapi sekarang kondisinya berbeda. Sekarang aku hanya mengontrak di rumah petak, aku tak ingin membuat kalian sulit." Sekala mengelus rambut Aurora dengan lembut.


Sebenarnya terlalu berat baginya untuk tinggal berjauhan dengan istri dan anaknya, namun ia tak punya pilihan lain. Uang hasil over kredit apartementnya sudah ia gunakan untuk biaya pengobatan dan melunasi sebagian hutang ibundanya, saat ini ia tengah mengumpulkan kembali pundi-pundi rupiahnya untuk membeli rumah yang layak untuk keluarga kecilnya dan juga melunasi hutang di perusahaan lamanya agar ia bisa segera mendapatkan kembali sertifikat rumah istrinya.


"Aku janji akan secepatnya mengajak kalian kembali ke Jakarta, paling lama tiga sampai empat bulan ke depan." Sekala meraih tangan Aurora, lalu mencium setiap ujung jarinya.


"Aku tidak mau LDR, aku tetap mau ikut Mas Kala."


"Ra, aku tidak ingin membuat kalian sulit."


"Surat perjanjian no.13. Mas Kala tidak akan meninggalkan aku dan Sagara." Aurora mengingatkan kembali salah satu poin isi perjanjian yang telah di tanda tangani Sekala kemarin.


"Okay, tapi dua atau tiga hari lagi ya. Aku rapihin dan bersihin dulu rumahnya."


"Okay, dua hari." ucap Aurora sambil tersenyum.


Drrrt... Drrrt...


Di tengah perbincangan hangat mereka, seperti biasanya setiap pagi Sky mengirimkan pesan singkat untuk Aurora.


^^^Sky:^^^


^^^Hari ini Grandiflora merekah dengan sempurna, petiklah beberapa tangkai kemudian masukan di vas kesayanganmu dan taruh di atas meja kerjamu! Aroma segar Grandiflora bisa membuat tubuhmu semakin rileks, di tengah jadwal meetingmu yang lumayan padat di hari ini.^^^


"Aku bisa jelasin maksud chat ini." Aurora tak ingin suaminya salah paham mengenai isi pesan singkat yang Sky kirim untuknya.


"Tidak perlu, aku sudah mengerti Boo." Sekala tersenyum agar Aurora tak perlu merasa bersalah atas pesan masuk tersebut.


"Jadi kamu tidak marah atau cemburu?"


Sekala menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak keberatan dengan pertemananmu dengan Sky, dia orang yang sangat baik." Sebetulnya Sekala ingin sekali menceritakan jika dirinya mendapatkan alamat tempat tinggal Aurora dari Sky, ia juga ingin menceritakan tentang kondisi serta penyakit yang kini menggerogoti tubuh Sky. Namun Sky melarangnya untuk menceritakan semuanya, ia tak ingin Aurora tahu bahkan ia tak ingin Aurora melihat kondisinya.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya." Sekala menciumi semua bagian wajah istrinya, ke udian beralih ke menciumi putranya. "Ayah pergi kerja dulu ya besok lusa ayah kemari lagi jemput dua kesayangan ayah."


Setelah berpamitan dengan istri dan anaknya, Sekala berpamitan dengan Annisa. "Sekala pamit kembali ke Jakarta dulu ya Bu, ada pekerjaan yang harus Sekala selesaikan. Insyaallah besok lusa aku akan kemari lagi menjemput Aurora dan Sagar, aku titip istri dan anakku." ucap Sekala sambil mencium tangan Annisa.


"Iya, kamu hati-hati ya." Annisa menepuk bahu Sekala dengan lembut, ia berharap jika menantunya benar-benar berubah, bisa menyanyangi putri dan cucunya dengan sepenuh hati dan bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik.


"Sekali lagi terima kasih atas semua yang telah ibu lakukan kepada Aurora dan Saga. Maaf atas semua khilaf yang pernah aku lakukan."


"Semoga ini bisa jadi pelarajaran yang berharga untuk kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Kamu mau di antar Wiwit ke bandaranya? Biar ibu suruh ia cepat-cepat mandinya." tanya Annisa.


"Oh yasudah."


"Sekala pergi dulu ya bu, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Baru beberapa langkah Sekala keluar dari ruang tamu, Aurora memanggil dan menyusulnya.


"Mas, sarapannya." Aurora menyerahkan tas bekal kepada suaminya.


Sekala tersenyum melihat tas bekal berwarna merah muda yang di berikan kepadanya. "Maaf ya jadi ngerepotin kamu."


"Aku enggak merasa di repotkan kok, hati-hati ya mas." Aurora meraih tangan Sekala kemudian menciumnya.


"Kamu juga baik-baik ya disini, jangan pergi lagi!!" Sekala kembali memeluk dan mencium istrinya, jika tak ada meeting yang harus ia hadiri rasanya ia masih ingin bersama istri dan anaknya.


"Mas itu taxinya udah nungguin." Aurora mencoba melepaskan pelukan suaminya, namun Sekala justru semakin mempereratnya. "Mas Kala...."


"Iya, sayang. Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum." Sekala mengecup kening Aurora sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan kediaman Aurora.


Setelah taxi yang di tumpangi suaminya sudah tak terlihat lagi, Aurora pergi ke taman belakang untuk memetik beberapa tangkai Grandiflora. Benar saja apa yang di katakan oleh Sky, hari itu Grandiflora merekah dengan sempurna.



"Nduk, apa kamu merasa bahagia?" Annisa menghampiri putri sulungnya yang tengah memetik bunga.


Aurora menoleh kebelakang, melihat ibundanya sudah ada di belakangnya. "Tentu saja Bu, walau pun masih ada sedikit trauma yang Aku rasakan karena kejadian kemarin, tapi aku percaya Mas Kala bisa berubah."


Selain ia percaya suaminya akan berubah, ia juga tak ingin anaknya seperti dirinya yang tumbuh tanpa sosok seorang ayah, untuk itulah ia mau memaafkan Sekala, namun untuk mencegah hal yang kemarin terulang lagi, ia membuat suatu kesepakatan perjanjian pernikahan.


"Ibu selalu mendoakan kebahagiaanmu dan Wiwit." Annisa mengelus bahu Aurora dengan lembut, ia bangga memiliki putri yang memiliki hati yang lapang.


"Terima kasih banyak Bu, aku beruntung memiliki Ibu." Aurora memeluk ibundanya dengan erat, meski sudah menikah dan memiki anak di setiap kesempatan Aurora masih sering bermanja-manja dengan ibundanya. Hingga deringan panggilan masuk dari Ani membuatnya melepaskan pelukan ibundanya.


"Bu, aku zoom meeting dulu ya mumpung Saga tadi tidur lagi." Aurora bergegas menuju meja kerjanya, sebelum memulai meetingnya, ia menaruh Grandiflora di vas yang terdapat di meja kerjanya.


Benar apa yang di katakan Sky, Aroma segar Grandiflora bisa membuatnya lebih rileks di tengah hecticnya meeting pagi itu.


Drrrt... Drrrt...


^^^Sekala:^^^


^^^I long for you.^^^


Aurora tersenyum membaca pesan singkat yang di kirim oleh suaminya, kemudian ia kembali fokus pada laporan yang di sampaikan oleh staffnya.