
Harapan Sekala untuk bisa bertemu dan meminta maaf pada Aurora agaknya masih jauh dari harapannya, pasalnya pada sidang mediasi tersebut pihak Aurora hanya di wakili kuasa hukumnya saja.
Melihat bukti-bukti perselingkuhan yang di serahkan oleh kuasa hukum Aurora untuk menggugat cerai dirinya, Sekala hanya bisa pasrah, ia menyadari sudah terlalu banyak kesalahan yang telah ia perbuat.
'Aku memang bodoh telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu' batin Sekala. Ia keluar dari ruang mediasi dengan wajah lesunya.
"Gimana Mas?" tanya Amanda yang saat itu menemani kakaknya datang ke pengadilan agama.
Sekala hanya menggelengkan kepalanya, ia mengajak adiknya untuk kembali ke rumah sakit menemani ibunda mereka.
"Mas sudah gagal huhu...."
Sekala sudah tidak dapat menahan kesedihannya, ia tertunduk memegang stir kemudi mobilnya. "Mas sudah gagal jadi suami dan ayah untuk istri dan anak, Mas hiks..."
Sekala tak menyangka ternyata semenyakitkan ini kehilangan Aurora, ia teramat merindukan kehadiran Aurora di sisinya, namun di sisi lain ia sudah ikhlas jika Aurora sudah tak lagi mau bersamanya.
"Mungkin Mas sudah gagal jadi suami yang baik untuk Mba Aurora, tapi Mas belum gagal untuk jadi ayah yang baik untuk Saga." Amanda mengelus bahu Sekala dengan lembut. "Mungkin saat ini Mba Aurora butuh waktu untuk sendiri, tapi aku yakin suatu saat Mba Aurora akan mengizinkan Mas untuk bertemu dengan anak kalian. Bangkit dan jadilah ayah yang membanggakan untuknya."
Mendengar kalimat yang di sampaikan Amanda memang ada benarnya, Sekala ingin bisa menjadi ayah yang membangkan untuk putra semata wayangnya. Perlahan Sekala menghapus air matanya, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
Sementara itu di tempat berbeda Aurora nampak tengah memandangi lalu-lalang pengunjung yang datang ke kedainya yang baru saja melakukan soft opening. Kedai kecil tersebut di buka tepat di halaman depan kediaman eyangnya.
Sesakali Aurora nampak menghela nafasnya beratnya, meski matanya tertuju pada para pegawainya yang sibuk melayani penganjung, namun hati dan pikiran Aurora tertuju pada persidangan perceraiannya yang hari ini di gelar, ia baru saja mendapatkan laporan dari pengacaranya jika Sekala menerima pengajuan gugatan perceraiannya dan bersedia kooperatif dan tidak mempersulit proses perceraiannya.
'Apa benar-benar ini yang Mas inginkan? Apa Mas sudah memiliki rencana bersama Syeira?'
"Lagi ngelamunin aku ya?" bisik Sky yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang, membuyarkan lamunan Aurora.
"Iih bikin kaget saja kamu ini." Aurora memukul lengan Sky dengan kesal, kemudian ia berbalik menghadap Sky. "Gimana, semua barang-barangmu sudah beres?" tanya Aurora.
"Sudah, ini baru mau berangkat ke bandara sama Wiwit. Tapi aku punya sesuatu untukmu." ucap Sky. "Ikut aku yuk!" Sky menutup mata Aurora kemudian mengajaknya ke halaman belakang.
"Sebentar, pelan-pelan jalannya nanti jatuh." Sky menuntun Aurora dengan sangat hati-hati, agar ia tak tersandung.
Begitu sampai di halaman belakang, Sky melepaskan tangannya dari mata Aurora, dan Aurora membuka matanya secara perlahan.
"Wah... Bagus banget... Kapan kamu buat taman bunga ini? Kok aku enggak tahu sih?" Aurora nampak terpesona oleh deretan bunga mawar dan anggek dengan berbagai macam jenis dan warna yang tersusun rapih.
"Ra, aku mau kamu janji sama aku." Sky kembali menatap mata Aurora. "Bahagia terus ya, jika ada hal yang bikin hati kamu galau, atau kamu sedang ada masalah. Datanglah kemari!! Bunga-bunga yang ada di taman ini akan meringankan semua masalahmu."
"Kamu sudah tidak mau aku telepon dan dengerin cerita aku ya?"
"Bukan begitu, aku sedang banyak pekerjaan, jadi kemungkinan aku akan sangat sibuk sekali, tapi aku akan usahakan untuk menghubungimu. Jaga dirimu dan Saga baik-baik ya!! Lakukan apa pun yang membuatmu senang."
Aurora menganggukan kepalanya, ia sadar betul jika dirinya dan Sky hanyalah berteman. Sky memiliki hak penuh atas hidupnya, termasuk memiliki hubunga dengan wanita lain.
"Kamu juga jaga kesehatan ya, terima kasih atas semua yang telah kamu berikan untukku dan Saga, dan terima kasih telah menjadi teman terbaikku. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu."
"Boleh aku memelukmu?" pinta Sky.
Aurora menganggukan kepalanya, ia memberikan pelukan hangatnya untuk Sky sebelum Sky pergi dari kediaman eyangnya.
"Jangan sedih lagi ya!" bisik Sky, ia mendekap erat tubuh Aurora.
"Iya, ya sudah ke depan lagi yuk, nanti Wiwit ngomel loh kelamaan nunggu." ucap Aurora, ia melepaskan pelukan Sky.
Keduanya kembali ke depan rumah, tidak lupa Sky berpamitan dengan ibunda Aurora dan juga Sagara.
"Keponakan uncle semakin menggemaskan sekali, sehatsehat terus ya. Kalau sudah besar nanti gantian jagain Bundanya ya."
Lebih dari dua minggu bersama, rasanya terlalu berat bagi Sky untuk pergi meninggalkan Aurora terlebih meninggalkan Sagara yang sudah ia anggap bagian penting dari dirinya. Tapi ia harus pergi dalam waktu yang cukup lama atau mungkin tidak akan kembali lagi.