Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 51



Di perjalanan menuju kediaman ibunda Sky, Aurora nampak heran karena Sekala sama sekali tak menanyakan alamatnya.


"Mas tahu dari mana kalau ini jalanan menuju rumah Sky? Aku dari tadi diem aja loh belum ngasih tahu apa-apa ke Mas Kala!!"


Sekala nampak gugup mendengar pertanyaan istrinya, namun ia tetap mencoba setenang mungkin agar Aurora tak curiga, jika dirinya pernah datang ke kediaman Sky dua bulan yang lalu. "Eh.. Anu.. Ayahnya Sky kan salah satu pemilik stasiun televisi, jadi siapa yang tidak tahu dengan beliau." jawab Sekala.


"Memangnya Mas Kala tahu juga rumahnya Hary Tanoesoedibjo?"


"Sudahlah Boo, aku hanya tahu kompleknya saja kok, rumahnya yang mana aku juga tidak tahu." Sekala mencoba mengalihkan pembicaraan, ia yang sudah mulai terbiasa terbuka pada Aurora, kini malah kerepotan saat menyembunyikan sesuatu dari Aurora. "Ini kemana? Aku tidak tahu rumahnya yang mana?" tanya Sekala saat ia mulai memasuki komplek kediaman Kinara.


"Masih lurus saja, nanti di depan belok kiri." ucap Aurora sambil mengingat-ingat, karena sudah lama sekali Aurora tak datang ke kediaman Kinara.



Setibanya di kediaman Kinara, Kinara dan suaminya menyambut Aurora dan keluarga kecilnya dengan hangat.


Kinara tersenyum bahagia melihat wajah Aurora yang nampak berseri, kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah Aurora, keputusan putranya untuk memberi tahu alamat tempat tinggal Aurora menjelang sidang putusan perceraiannya ternyata keputusan yang tepat, Sekala benar-benar berubah.


"Apa kabar sayang? Pasti Izar yang menyuruhmu datang kemari!" Kinara mencium dan memeluk Aurora dengan hangat.


"Alhamdulillah baik tante, tante dan om bagaimana kabarnya?" tanya Aurora kembali, ia mencium tangan keduanya secara bergantian.


"Kalau tante, sedang rindu sekali dengan cucu tampan oma." Kinara mengambil Sagara dari gendongan Sekala, kemudian ia menciumi pipi chubby.


"Ayo silahkan masuk!" ajak Chandra, ayahanda Sky. Ia langsung mengarahkan Aurora dan Sekala menuju ruang makan kediamannya.


"Loh kok sepi tante, Sky dimana?" Aurora mulai mempertanyakan keberadaan Sky, karena sejak awal tujuannya datang ke kediaman Kinara memang untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


"Kita makan malam dulu ya, sayang. Nanti setelah itu kita ngobrol-ngobrol." ucap Kinara.


Aurora merasa banyak hal yang di tutupi darinya, namun ia berusaha untuk sabar dan mengikuti permintaan Kinara. Ia dan suaminya makan malam bersama kedua orang tua Sky dengan suasana yang sangat akrab, beberapa kali Sekala berbincang mengenai bisnis dengan Chandra.


Selesai makan malam Aurora kembali menanyakan keberadaan Sky kepada Kinara. "Sky belum pulang ya tante? Atau ia pulang ke apartementnya?"


Kinara memberikan Sagara kepada Sekala, kemudian ia meraih tangan Aurora mengajaknya ke sebuah ruangan di lantai dua kediamannya. "Ikut tante sebentar yuk!"


Aurora sangat terkejut ketika Kinara membuka pintu sebuah kamar yang terdapat lukisan wajah dirinya dengan ukuran yang hampir memenuhi satu sisi dinding kamar tersebut.


"I-ini kamar siapa tante?" seketika Aurora menoleh ke arah Sekala, ia memberi kode bahwa dirinya tidak tahu apa-apa mengenai kamar tersebut, Aurora sama sekali tak ingin membuat suaminya cemburu atau salah paham kepadanya.


Namun anehnya Sekala terlihat begitu santai, seolah ia sudah mengetahui kamar tersebut.


"Ini adalah kamar Sky." Kinara melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, ia mengambil sebuah foto yang terpajang di meja kamar putra bungsunya. "Sejak pertemuan pertamanya denganmu, Sky sudah jatuh hati padamu, namun sayangnya ia tak bisa memilikimu." Kinara mengelus foto putra kesayangannya dengan jari jemarinya, ia tak dapat menahan rasa sedihnya hingga air matanya menetes di bingkai foto yang di pegangnya.


"Virus HIV yang bersarang di tubuhnya, telah merenggut masa depan dan cintanya huhu...." tangis Kinara pecah, air matanya mengalir deras di pipinya.


"H-HIV?" Aurora menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak percaya jika Sky bisa terkena HIV. "Tidak mungkin tante, aku cukup mengenal Sky. Dia pria yang sangat baik dan jauh dari pergaulan bebas."


"Ya, Sky memang selalu menjaga dirinya dari pergaulan bebas, ia sama sekali tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau pun melakukan hubungan intim dengan wanita mana pun."


"Lalu bagaimana bisa Sky terkena penyakit itu tante?" mata Aurora mulai berkaca-kaca, buliran-buliran bening satu persatu menetes di wajah cantiknya.


"Tiga bulan setelah kalian wisuda, Sky berniat melamarmu. Ia benar-benar menyiapkan acara special untuk hari yang di nantinya sejak lama, namun pada H-3 saat ia pulang dari mengecek lokasi yang akan ia pakai untuk melamarmu, tiba-tiba saja di jalan ia melihat ada seorang wanita yang sedang di todong oleh sekawanan begal. Sky mencoba menolongnya, na'as salah satu benda tajam yang di bawa mereka menusuk di perut Sky, dan rupanya di pisau tersebut telah di lumuri darah salah satu pelaku yang mengidap HIV dan darah tersebut masuk ke dalam tubuh Sky."


"Astagfirullahaladzim. Lalu sekarang Sky di mana tante? Apa dia sakit? Aku ingin menjenguk dan memberikan support kepadanya." pinta Aurora, ternyata firasanya selama ini benar, Sky dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Tangis Kinara semakin menjadi, ia benar-benar tak sanggup untuk mengatakan jika putranya telah kalah melawan virus tersebut.


"Tante please jawab aku, Sky sekarang di rawat di mana?" desak Aurora, firasat nya semakin tak enak, namun ia masih berharap Sky baik-baik saja.


"Dua bulan yang lalu, Sky telah pergi meninggalkan kita semua." Ucap Chandra dari pintu kamar Sky, ia berjalan mendekat ke arah istrinya.


"Tidak mungkin." Aurora menggelengkan kepalanya. "Dua minggu yang lalu, Sky masih mengirimi aku pesan."


"Itu hanyalah sebuah program sistem. Di perjalanan dari Magelang menuju Jakarta, Sky menulis semua pesan-pesan tersebut, kemudian ia mengaturnya agar setiap hari pesan-pesan tersebut terkirim satu persatu. Namun sayangnya, pengaturan sistem tersebut hanya bisa untuk dua bulan saja. Sky hanya ingin bisa menemanimu selama yang ia mampu walau hanya sebatas pesan singkat yang ia kirimkan kepadamu." terang Chandra.


Sekala mengelus punggung istrinya dengan lembut, ia membiarkan Aurora menangis di bahunya.