Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 26



"Tumbuh sehat di perut bunda ya, nak" Sekala mendaratkan ciuman lembut di perut buncit Aurora, lalu memejamkan mata dan beringsut naik. Tubuh mereka berjajar, beristirahat bersama.


Sekala larut dalam kenyamanan tubuh Aurora, dalam hitungan detik ia sudah memeluk erat tubuh istrinya, ia melepaskan kerinduannya yang selama beberapa hari tak bertemu dengan Aurora.


“Aku dengar dari mamaku, kamu masuk rumah sakit. Kamu sakit apa Ra? Apa bayi kita di dalam kandunganmu baik-baik saja?" tanya Sekala dengan raut wajah cemas.


Aurora membuang wajahnya, ia enggan menatap wajah suaminya. Penjelasan yang di berikan Sekala memang terdengar masuk akal namun firasatnya mengatakan jika Sekala mengenal dan memiliki hubungan spesial dengan Syeira, tidak ada kebetulan yang terjadi berulang kali, namun Aurora masih harus mencari bukti untuk menguatkan dugaannya.


"Kenapa kamu masih bertanya aku sakit apa? Tentu saja aku pendarahan karenamu." jawab Aurora dengan ketus. "Kau menguras habis modal usahaku." Aurora melepaskan tangan Sekala dari tubuhnya, kemudian bergeser.


"Aku benar-benar minta maaf sayang, aku janji mulai hari ini aku akan lebih terbuka padamu." ucap Sekala sembari menarik tubuh Aurora kembali, lalu membelai pinggul dan paha Aurora dengan gerakan menenangkan."Tapi kamu juga harus janji, jangan dekat-dekat dengan pria itu lagi. Aku benci saat mengetahui kau berduaan dengannya di rumah sakit."


"Maksudmu Sky?"


Sekala menganggukan kepalanya "Siapa lagi pengganggu rumah tangga kita, kalau bukan dia."


"Justru dia yang menolongku dan membawaku ke rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada dia." jawab Aurora sambil menahan napas, ia merasa lelah dengan sikap Sekala yang justru mencari kambing hitam atas kesalahan yang ia perbuat.


"Mulai hari ini aku akan selalu di sampingmu, kau tidak akan butuh lagi pria brengsek penggoda istri orang." Sekala memegang pinggul Aurora, memutar punggung Aurora agar Aurora bisa melihat wajahnya, dan agar Aurora tidak bisa membuang wajahnya lagi. "Nanti lain kali kalau kita ada masalah ceritanya sama aku, jangan cerita apa-apa ya sama mama. Kamu kan tahu kalau mama punya serangan jantung, kalau ada apa -apa sama mama gimana?"


"Sebentar-sebentar, ini kenapa jadi aku yang salah ya? Kamu yang udah bohongin aku, kamu yang udah ngambil uang aku. Sekarang kamu malah nyalahin aku?" Aurora menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan Sekala, bisa-bisanya ia malah menyalahkannya. "Selama ini aku tuh enggak pernah cerita apa-apa tentang masalah rumah tangga kita ke orang lain, tapi kali ini kamu bener-bener keterlaluan."


"Iya aku minta maaf. Kita perbaikin lagi rumah tangga kita ya, kamu mau kan sayang?"


Sebenarnya Aurora sudah muak dengan kebohongan Sekala, namun ia mengangguk sembari mengumpulkan bukti-bukti persilingkuhannya.


"Terima kasih ya." Sekala mengecup kening Aurora, lalu membawanya ke dalam dekapan hangatnya.



"Bu Reni telah membawa kabur uang nasabah asuransinya, tapi untungnya asuransi milik Bu Aurora masih bisa di klaim, proses pencairannya lima hari hari kerja, mudah-mudahan siang ini sudah sudah bisa cair." terang Rey, karyawan yang di minta oleh Sekala untuk mengurus asuransi dan saham milik Aurora.


"Dan untuk saham Bu Aurora, Bu Aurora bisa cek di bursa saham Indonesia, jika saham perusahaan PT.X terus mengalami penurunan dalam satu bulan terakhir terkait isu tidak sedap yang menimpa perusahaan tersebut." lanjutnya.


"Baiklah kalau begitu, saya tunggu update kabar terbarunya." Aurora mematikan sambungan teleponnya.


Selain menghubungi Rey, Aurora juga menghubungi Aksara untuk mengkonfirmasi hal tersebut memastikan tidak ada kong-kalikong antara Sekala dengan Rey. Dan Aksara membenarkan apa yang di katakan Rey.


"Ra, nanti tolong samapaikan dengan Sekala, ia harus secepatnya ke kantor." ucap Aksara.


"Baik Mas, nanti aku akan sampaikan. Terima kasih banyak Mas, Assalamualaikum." Aurora menutup sambungan teleponnya.


"Hei, pagi-pagi kok bengong?" tanya Sky menghampiri ruang kerja Aurora. "Di bawah sudah banyak calaon karyawan yang sudah siap untuk di interview."


"Lima belas menit lagi ya, aku sedang mengecek laporan penjualan kemarin." ucap Aurora sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Okay, aku bantu ya." Sky menarik kursi dan kemudian ia duduk di sebelah Aurora. "Pak Ahmad, tukang daging langgananmu menawarkan kerja sama. Ia menawarkan potongan harga dan jasa anatar, tapi minimum pembelian di atas 80 kg." ucap Sky.


"Boleh, kita justru butuh lebih dari itu." ucap Aurora.


Ditengah diskusinya bersama Sky, tiba-tiba saja Sekala datang "Hmmm" ia berdeham, hingga membauat dan Sky menoleh ke arahnya.


"Bisa tolong tinggalkan istriku?" ucap Sekala dengan memperlihatkan wajah ketidak sukaannya terhadap Sky.


Sky sedikit terkejut saat mengetahui jika Sekala sudah pulang, ia menganggukan kepalanya "Aku tinggal dulu ya, kabari aku jika ada apa-apa." ucap Sky, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak akan terjadi apa-apa dengan Aurora, aku yang akan menjaganya. Aku suaminya!!" sahut Sekala, ia menatap tajam ke arah Sky.


"Aurora sudah tidak membutuhkanmu, jadi jangan pernah dekati istriku lagi." ucap Sekala tanpa melihat wajah Sky saat Sky berjalan melewati dirinya.


Sky tak menanggapi ocehan Sekala, ia terus berjalan meninggalkan ruang kerja Aurora.


"Mas Sekala ini apa-apaan sih, kaya anak kecil tau."


"Aku tidak suka dia dekat-dekat dengan istriku yang cantik ini." Sekala menatap Aurora dengan tatapan yang menggoda sembari memegang dagunya.


Aurora menepis tangan Sekala dadi dagunya."Apaan sih Mas, aku sebentar lagi mau ada yang interview."


"Ya sudah, aku temani." ia duduk di samping Aurora.


"Memangnya kamu tidak ke kantor? Aksara tadi sudah mencarimu."


"Aku masih jet lag besok saja lah, lagi pula aku masih ingin bersama istriku." Sekala memeluk Aurora dan bersandar di bahunya.


"Sudahku bilang akan ada yang interview." Aurora berusaha melepaskan pelukan Sekala. "Kan belum mulai Boo."


"Tau ah" Aurora terpaksa membiarkan Sekala memeluknya sementara dirinya kembali meneruskan pemeriksaan laporan penjualan dan mempersiapakan event Jakarta Kulinary Edition.


Seharian penuh Sekala menemani dan membantu Aurora bekerja, meski berkali-kali Syeira menghubunginya namun Sekala mengabaikan pesan masuk dan telepon dari Syeira, ia bahkan sengaja mematikan handphonenya agar Syeira tak mengganggunya.