
"ANGKAT BOO!”
Sekali lagi terdengar deringan dan buku jemari memutih di handphone yang digenggamnya. Setelah Syeira pergi meninggalkannya di parkiran, Sekala bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Pesan suara.
Sial! Kepala Sekala terasa sangat sakit mendengar suara yang mengarahkannya untuk meninggalkan pesan.
Segera Sekala memutus sambungan dan menelepon lagi, sembari menyalakan mesin mobilnya dan perlahan mengemudikan kendaraannya.
Satu deringan lagi, Sekala menyelipkan perangkat handsfree ke telinga.
Sekala ingin sekali memeluk Aurora sambil menjelaskan kehilafannya serta meminta maaf kepada Aurora, Ia ingin mendekap Aurora dengan erat karena, Sekala tidak ingin berpisah dengan Aurora.
Namun karena banyaknya pekerjaann yang sudah beberapa hari ini tertunda dan harus ia selesaikan terpaksa ia pergi meninggalkan Aurora yang tengah bersedih dan kecewa atas perselingkuhan yang ia perbuat.
Tapi tatap ia ingin memastikan jika Aurora dan kandungannya baik-baik saja, Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada kandungan Aurora. Sekala sadar apa yang telah di lakukannya menyakiti dan menghancurkan hati istrinya.
“Boo, aku benar-benar minta maaf. Angkatlah teleponku sayang!" bisiknya lirih.
Otot-otot leher dan bahu Sekala yang sudah tegang semakin bertambah tegang, mengirim rasa sakit langsung ke tengkoraknya ketika teleponnya kembali masuk ke pesan suara.
Napas gemetar dan sekujur tubuh Sekala menegang, kaku. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah, jangan tinggalin aku Aurora.
Ia tak menyangka jika kini dirinya setakut ini kehilang Aurora, padahal dulu dengan mudahnya ia berjanji kepada Syeira untuk meninggalkan Aurora, karena ia tak merasa mencintai istrinya. Ia benar-benar merasa bodoh telah menyia-nyiakan wanita sebaik Aurora, ia tak akan membiarkan pernikahannya dengan Aurora berakhir.
Setelah berkali-kali ia menghubungi Aurora, namun Aurora tak kunjung mengangkat teleponnya Sekala menarik kabel ponsel dari telinganya dan melemparkannya ke kursi kosong di samping, ia kembali melajukan mobilnya menuju kantornya.
"Setelah urusan pekerjaanku selesai, aku akan kembali padamu, entah bagaimana pun caranya aku harus mendapakan maaf darimu."
Tak berbeda halnya denganSyeira, Sekala pun terkejut saat ia masuk ke dalam ruang kerjanya yang nampak banyak perubahan setelah lebih dari sepekan ia tinggalkan, terutama adanya Eric yang duduk di meja kerjanya.
Ia bergegas menghampiri Aksara di ruang kerjanya untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi di kantornya.
"Maaf aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongmu, ini sudah hasil rapat pemegang saham. Mereka menilai kinerjamu mengalami penurunan yang drastis, kita mengalami kerugian yang di sebabkan oleh kelalaianmu." terang Aksara.
"Aku kerja untuk perusahaan ini! aku berhasil memenangkan tender project ini untuk perusahaan kita." Sekala menyodorkan SPK terbarunya yang ia peroleh beberapa hari yang lalu.
Dengan teliti Aksara memeriksa dokumen yang di berikan Sekala, "Kau masih ingat dengan project perusahaan Pak Sinaga, yang dana kau ambil sebelum kau liburan ke Eropa? Karena ulahmu, kita tidak bisa menyelesaikan project tersebut tepat waktu sehingga kita terkena denda penalti 200%. Dan kontrak kerja sama yang kamu berikan ini tidak bisa menutup kerugian perusahaan."
Sial. Perhitunganya yang di buatnya melesat, ia melupakan periode pengerjaan project. Sekala berfikir dengan mendapatkan project terbaru maka ia bisa menutup dana yang ia ambil untuk DP apartement Syeira dan biaya berlibur ke Eropa bersama kekasihnya itu, namun rupanya ia justru harus menanggung denda penalti yang mencapai miliaran rupiah.
"Dari hasil rapat kemarin, kami sepakat tidak membawa masalah ini kejalur hukum mengingat semua jasa-jasa yang telah kau berikan pada perusahaan ini, kami memberi waktu agar kau membayar semua kerugian ini. Hanya itu yang bisa aku lakuin untukmu, teman terbaikku." Aksara beranjak dari tempat duduknya. "Aku ada meeting dengan client." ia menepuk bahu Sekala kemudian meninggalkan ruangannya.
Tidak ada yang tersisa, perusahaan yang di bangunnya dengan susah payah kini ia harus relakan akibat perbuatannya sendiri. Sekala berjalan menyusuri tiap ruangan dalam kantornya, masih jelas dalam ingatannya bagaimana ia membangun kantor tersebut dengan setahap demi setahap hingga bisa berdiri kokoh seperti sekarang ini.
Masih jelas dalam ingatnya ia menggunakan seluruh uang tabungannya untuk mengerjakan project pertamanya.
Langkahnya terhenti di depan pintu rooftop, tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk bercengkrama melepas penat setalah seharian bekerja dengan para karyawannya atau berdua dengan Aksara sambil menikmati senja dan sekaleng soft drink.
Kali ini ia duduk di atas rooftop, sendiri menikmati pemandangan kota Jakarta yang sibuk.
"Bagiku Pak Sekala tetap pimpinan terbaik di kantor ini," Nicko, mantan sekretarisnya berjalan menghampirinya, ia memberikan sekaleng soft dring kepada Sekala.
"Thanks ya Ko." Sekala pun menerimanya kemudian meminumnya.
"Aku yang harusnya berterima kasih karena Pak Sekala aku bisa jadi seperti ini." ucap Nicko sambil tersenyum kearah Sekala. Dulu ia hanyalah seorang penjual koran yang berkeliling di sekitaran kantor Sekala, obrolan panjangnya bersama Sekala membuat hati Sekala tergugah untuk menyekolahkannya dan memberikannya pekerjaan diperusahaan, berkat kerja keras dan kegigihannya, Sekala memberikan kesempatan pada Nicko untuk menjadi sekretarisnya.
"Haha... Harusnya aku yang berterima kasih karena dulu kau mau di bayar murah. Aku tak memiliki cukup uang utuk menggaji karyawan profesional. Dan untungnya kau pintar sehingga sebagian uang kuliahmu di cover oleh beasiswa di kampus." Sekala menepuk bahu Nicko.
"Tetap saja, kalau bukan karena kesempatan dan ilmu yang di berikan oleh Pak Sekala, aku tidak akan mungkin menjadi seperti sekarang."
"Panggil Sekala saja, aku bukan lagi atasmu." ucap Sekala, ia beranjak dari tempat duduknya "Thanks untuk obrolan singkat dan minumannya." sekali lagi Sekala menepuk bahu Nicko, kemudian ia berjalan menjauh dari Nicko.
"Aku doakan semoga Pak Sekala bisa jauh melangkah lebih sukses dari saat ini." ucap Nicko.
Sekala hanya tersenyum, sembari melangkah pergi meninggalkan kantornya. Hari itu ia mengemudi tak tentu arah, yang ia inginkan hanya melepas segala kesedihan dan rasa penyesalan atas apa yang telah ia perbuat, telah menghancurkan karirnnya yang dengan susah payah ia bangun.