Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 46



Sekala menepati janjinya, dua hari kemudian ia kembali ke Magelang untuk menjemput istri dan anak kembali ke Jakarta. Ia teringat saat dulu ia meminta Aurora kepada Ibundanya untuk menjadi istrinya, dan kali ini ia kembali meminta Aurora kepada Annisa untuk kembali menemani hidupnya, Sekala juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.


"Janjimu Ibu pegang. Ibu hanya minta bersikap lemah lembut lah kamu pada putriku, sayangi dan peliharalah istrimu dengan jalan Allah. Jangan biarkan mata istrimu basah dengan kesedihan, walau hanya serupa tetesan embun dini hari, berikanlah keteduhan bagi jiwanya." ucap Annisa, ia mengelus kepala Sekala yang bersimpuh di hadapannya.


"Terima kasih Bu." Sekala mencium tangan ibu mertuanya.


Setelah berpamitan dengan Annisa dan Wiwit ketiganya bertolak menuju Jakarta.



Sesampainya di Jakarta, Sekala langsung membawa istri dan anaknya ke kontrakan barunya. Ia menghela nafasnya beratnya ketika ia menepikan kendaraannya di depan rumah kontrakan sederhana yang ia sewa untuk tempat tinggal dirinya dan juga keluarga kecilnya. "Maafin aku ya, karena kesalahanku kita jadi hidup seperti ini." Sekala menundukan kepalanya.


"Sudah jangan di bahas lagi ya Mas, Bismillah kita jalani lagi semuanya sama-sama." Aurora mengelus lengan suaminya dengan lembut.


Sekala meraih tubuh Aurora, kemudian memeluknya. "Terima kasih ya Boo, aku benar-benar beruntung punya kamu." bisiknya lirih.


Aurora mengelus punggung Sekala. "Sudah yuk masuk, aku lelah sekali mau rebahan."


Mendengar istrinya kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang, Sekala pun melepaskan pelukannya, ia kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Kamu sama Saga masuk duluan ya, aku mau nurunin barang-barang dari bagasi." ucap Sekala sembari memberikan kunci rumahnya kepada Aurora.


Aurora menganggukan kepalanya, sambil menggendong putranya, ia masuk ke kontrakan barunya.


Begitu ia membuka pintu, ia di kejutkan dengan kehadiran Mama mertua, Adik ipar dan beberapa karyawannya yang menyambut kedatangannya dan Sagara.


"Selamat datang kembali di Jakarta Mba Aurora." Amanda berhambur memeluk Aurora dengan hangat.


Aurora tersenyum, ia menyambut pelukan hangat Amanda. "Terima kasih ya Dek.


"Maafin aku ya Mba, aku sering bersikap tidak baik kepada Mba Aurora. Aku juga telah mendukung....."


"Sssstt!!" Aurora menaruh jarinya di bibir Amanda. "Enggak usah di bahas lagi ya, Mba sudah maafin kamu sebelum kamu meminta maaf."


"Terima kasih ya Mba, aku seneng banget Mba dan Mas Sekala baikan lagi." Mata Amanda tertuju pada Sagara yang berada di gendongan kakak iparnyanya. "Keponakan Aunty, tampan sekali." Amanda nampak sangat gemas melihat pipi gembul keponakannya. "Mba aku mau gendong." pinta Amanda.


"Boleh, tapi hati-hati ya. Saga aktif banget soalnya." Aurora memberikan Sagara kepada adik iparnya, Sagara langsung menjadi pusat perhatian para karyawannya yang mengerumuni Sagara.


Saat Aurora tengah mengajari adik iparnya menggendong Sagara, Aisyah memutar roda kursi rodanya mendekat ke arah Aurora. "Ra, maafin mama ya hiks..." Aisyah tak dapat kesedihannya setiap kali ia mengingat sikapnya selama ini kepada menantunya.


Aurora langsung mendekat ke arah ibu mertuanya, ia berjongkok mensejajarkan diri dengan Aisyah. "Mah, mama tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Aurora sudah maafin mama sebelum mama minta maaf, dan Aurora juga sudah melupakan semuanya."


Aurora memang sempat merasa sedih dan kecewa saat ia mengetahui bahwa Aisyah sangat mendukung perselingkuhan suaminya, namun setelah mendengar mendengar kondisi ibu mertuanya yang terkena serangan jantung hingga mengalami stroke akibat ulah Syeira, rasa kecewa itu berubah menjadi rasa prihatin.


"Mama cepat sembuh ya." Aurora memeluk Aisyah dengan hangat.


Dari pintu masuk Sekala yang sedang membawa barang-barang istri dan anaknya ikut merasakan keharuan melihat ketulusan istrinya yang mau memaafkan dan tetap menyayangi keluarganya.


"Biar saya bantu Pak." Bik Siti datang menawarkan bantuan untuk membawa barang-barang Aurora dan Sagara.


"Di taruh di kamar saja ya Bik." ucap Sekala, ia kemudian bergabung bersama istri dan ibundanya.



Di tengah obrolan hangatnya bersama keluarga dan karyawannya sembari menikmati makanan yang telah di siapkan oleh Amanda sebelum Aurora dan Sekala tiba di rumahnya. Tiba-tiba saja Adrian, papa mertua Aurora datang.


"Boleh papa menengok cucu papa?" tanya Adrian.


"Tentu saja, Pah." Sekala menyambutnya dengan pelukan hangatnya, di susul dengan Aurora dari belakangnya, secara bergantian ia mencium tangan papa mertuanya. "Bagaimana kabarmu, Ra?"


"Alhamdulillah sehat Pah. Kita masuk dulu yuk pah, ngobrol di dalam, kebetulan Sagara juga lagi main sama Amanda." ajak Aurora.


"Tapi papa kalau mau pegang Saga, cuci tangan dulu ya!" sambung Sekala.


"Iya, ya sudah papa langsung ke kamar mandi aja kali ya. Sudah tidak sabar mau gendong Saga."


"Iya pah, kamar mandinya ada di belakang." Aurora mengarahkan dengan menggunakana tangannya.


Adrian bergegas menuju kamar mandi, sementara Aurora dan Sekala kembali berkumpul bersama putranya yang masih di bermain bersama Amanda dan para karyawannya.


Selesai membersihkan dirinya, secara tak sengaja Adrian melihat Aisyah tengah kesulitan mengambil gelas yang di letakan di rak piring bagian atas.


"Mau buat apa? Aku buatin ya!" ia membantu Aisyah mengambil gelas yang ingin diambilnya.


"Ti-tidak, a-aku tidak ingin apa-apa." Aisyah bergegas memutar arah kursi rodanya untuk menghindar dari Adrian, namun dengan cepat Adrian menahannya. "Aku merindukanmu." ia berjongkok dan membawa Aisyah kedalam pelukannya.


"Lepaskan, aku tidak butuh di kasihani olehmu, Adrian!!!" Aisyah mencoba melepaskan diri dari pria yang secara hukum negara masih menjadi suaminya.


Adrian semakin mempererat pelukannya. "Aisyah, aku merindukanmu." bisiknya.


Aisyah terdiam ia membiarkan Adrian memeluknya, perlahan ia mulai membalas pelukan Adrian di iringi suara isak tangis dari mulutnya. "Aku sudah banyak jahat kepadamu, lepaskan aku. Aku tidak pantas menjadi istrimu hiks..."


Adrian menggelengkan kepalanya. "Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu." ucapnya.


Dari kejauhan Amanda melihat pemandangan yang sudah lama tak ia lihat, ia pun ikut menangis melihat kedua orang tuanya kembali rukun. "Jangan di ganggu, kita ke depan saja yuk!" ajak Sekala.


Amanda menganggukan kepalanya, ia dan Sekala memberikan ruang kepada orang tuanya untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Baik Amanda dan Sekala tidak memaksakan kedua orang tuanya kembali bersatu, yang terpenting bagi mereka kedua orang tuanya bahagia dan tetap hidup rukun.