
Drrrtt... Drrrtt...
Pukul 01.00 dini hari Aurora terbangun oleh getar handphone di sebelahnya, dengan yawa yang masih terkumpul sepenuhnya, ia membuka handphonenya. Lagi-lagi nomor yang tak ia kenal mengiriminya foto, kali ini foto kemeja, celana dan sepatu yang berserakan di lantai kamar. Aurora sangat mengenali semua pakaian itu adalah milik suaminya.
'Apa malam ini Mas Kala sedang bersamanya?'
Entah untuk keberapa kalinya, Aurora kembali menitikan air matanya. Padahal sesaat sebelum pesan itu masuk, ia berharap jika suaminya bersungguh-sungguh meminta maaf dan menyesali perbuatannya.
Ingin rasanya Aurora mengabaikan pesan tersebut dan kembali tidur, namun semakin lama foto-foto tersebut mengusik dirinya.
Tidak bisa
Perlahan Aurora beranjak dari tempat tidurnya, ia mengendap-endap berjalan menuju meja kerja suaminya, untuk mencari alamat apartement Syeira.
'Di dokumen pembelian apartement pasti ada alamatnya' gumamAurora. Ia mencari dokumen tersebut di laci meja kerja Sekala sembari sesekali melirik ke tempat tidur memastikan ibundanya tidak terbagun.
Tak butuh waktu lama, ia pun mendapatkan apa yang ia cari. Aurora mencatat alamat tersebut pada handphonenya kemudian ia kembali mengendap-endap berjalan menuju lemarinya untuk mengambil hijab, jaket dan tas tangannya.
Ya tanpa sepengetahuan Annisa, Aurora pergi dari kediamannya, menghampiri Syeira dan siuaminya di apartement.
'Kenapa harus kamu Syei? Orang yang aku anggap sebagai teman baikku hiks...'
Di sepanjang jalan menuju apartement Aurora tak hentinya menitikan air matanya, hingga tanpa terasa taxi yang ia tumpangi sudah berada di lobby apartement.
"Terima kasih ya pak" ucap Aurora sambil memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taxi, kemudian ia turun dari taxi tersebut.
Beruntung dalam map dokumen tersebut terdapat access card untuk bisa masuk ke dalam apartement karena tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam apartement mewah yang di huni oleh Syeira.
'Pantas saja down paymentnya sampai 1 Miliar' gumam Aurora, ia melihat sekeliping yang nampak penuh dengan kemewahan, ada perasaan iri dalam batinnya suaminya membelikan hunian semahal ini kepada kekasih gelapnya.
Aurora menghela nafas beratnya sesaat sebelum ia memencet bel unit apartement Syeira, ia tak menyangka dirinya akan seperti wanita dalam sinetron-sinetron yang melabrak suaminya tengah berselingkuh.
Tak lama kemudian Syeira keluar dengan menggunakan lingerie sexy dan menerawang, serta rambut yang acak-acakan.
Aurora menatap Syeira dari atas ke bawah, dengan tatapan jijik. Saat melihat ke bawah, secara tak sengaja ia melihat sepatu suaminya berada di dalam unit apartement Syeira.
"Hoaaamp.. Eh Bu Aurora" ucap Syeira sambip menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. "Ada apa Bu Aurora malam-malam gini di sini?" tanyanya tanpa ada rasa bersalah.
"Minggir!!! Aku ingin membawa pulang suamiku." Aurora hendak menerobos masuk ke dalam, namun dengan sigap Syeira menghadangnya dengan tubuhnya.
"Sekala baru saja istirahat, lebih baik Bu Aurora pulang" ucap Syeira dengan senyum sinis di wajahnya.
"Aku tidak akan pulang tanpa suamiku, jadi lebih baik kau minggir atau ku laporkan dengan pasal perzinahan!" ancam Aurora.
"Woow... Sekarang Bu Aurora mainannya lapor-laporan ya. Apa dengan begitu bisa merubah perasaan Sekala? Tidak Bu Aurora. Yang ada Sekala semakin membencimu, sudahlah terima saja kenyataan yang ada jika suamimu lebih bahagia dan lebih mencintaiku hahaha..." Syeira tertawa dengan penuh kemenangan.
"Kau benar-benar wanita jahat!! Teganya kau merebut suamiku padahal selama ini aku menggapmu teman."
Muak melihat wajah Syeira, Aurora pun menjambak Syeira dengan sekuat tenaganya "Minggir, aku mau suamiku!!"
"Awww....." teriak Syeira, tangannya berusaha menggapai tangan Aurora, badannya tetap siap di depan pintu agar Aurora tidak menerobos masuk dalam.
"Aw..." Syeira berhasil meraih tangan Aurora dan menarik tangan Aurora lepas dari rambutnya. "Dasar wanita sialan!!" Syeira mendorong Aurora hingga Aurora tersungkur dan terjatuh.
"Pergi kau dari apartemenku!!"
Brraaak!!
Syeira membanting pintu dan kemudian menguncinya dari dalam.
"Dasar wanita sialan, malam-malam mengganggu saja" ia memegang kepalanya yang pedih akubat jambakan Aurora.