
Dengan kondisi perutnya yang semakin membesar membuat Aurora sulit untuk berjongkok, ia memilih duduk di lantai yang di alasi selembar kain tipis sebagai tempatnya duduk.
Aurora mulai memutar kunci laci meja kerjanya, untuk mengambil sertifikat rumah yang ia simpan di dalam brankas kecil bersama surat berharga lainnya.
Alangkah paniknya Aurora ketika melihat brankasnya tidak terkunci. "Astagfirullahaladzim, kenapa brankas ini tidak terkunci?" Aurora langsung membuka dan memeriksa isi brangkasnya.
Wajahnya berubah menjadi pucat pasi, keringat dingin mulai bercucuran di keningnya, ketika ia melihat isi brankasnya kosong "Kemana surat-surat berhargaku?" Aurora semakin kalut karena ternyata bukan hanya sertifikat rumahnya saja yang tak ada, namun surat berharga lainnya seperti surat saham dan asuransi pun lenyap.
"Tidak mungkin..." Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku selalu mengunci tempat ini, tidak mungkin semuanya hilang." ia memegang kepalanya yang mendadak terasa sangat sakit. Bagaimana tidak, asset yang selama ini ia kumpulkan dari hasil keringatnya, kini lenyap begitu saja. "Apa mungkin tercampur dengan berkas lainnya?"
Meski rasanya sangat mustahil, namun ia tetap berusaha berfikir positif dan mencoba segala kemungkinan yang terjadi.
Aurora beranjak dari lantai, ia memeriksa seluruh bagian meja kerjanya, berharap surat-surat berharganya tersalip di tumpukan berkas pekerjaannya yang lainnya.
"Ya Allah dimana sertifikat rumahku? Asuransiku? dan Surat sahamku?" Aurora terus mencari di tumpukan berkas pekerjaannya, ia hampir putus asa saat membuka lembar tumpukan terakhir berkas di atas meja kejanya.
"Di mana semua surat-surat berhargaku? hiks..." buliran-buliran bening perlahan jatuh di wajah cantik Aurora, ia tak dapat menahan kesedihannya, semua asset hasil kerja keras selama tiga tahun bekerja lenyap tak tersisa. "Huhu... Pasti ada disini" seolah masih tidak percaya jika sertifikatnya hilang, Aurora kembali mencarinya sekali lagi.
Bruug...
Di tengah kekalutannya, Aurora secara tak sengaja menyenggol dokumen milik suaminya yang ia taruh di atas meja kerjanya, dokumen tersebut jatuh berserakan di lantai. Ia tertegun cukup lama memandangi dokumen Sekala yang berserakan di lantai, matanya tertuju pada copyan surat pinjaman bank.
Aurora mengerjap, tangannya bergetar begitu hebatnya ketika ia mengambil surat tersebut dan membaca isinya, "Tidak mungkin... Mas Kala tidak mungkin melakukan ini." Sesaat ia memejamkan mata, seakan-akan itu bisa membuatnya tidak nyata.
Sekala bukan hanya menjadikan setifikat rumahnya sebagai jaminan, namun ia juga berani memalsukan tanda tangan Aurora demi mendapatkan pinjaman senilai 500 juta rupiah.
"Tega kamu Mas"
Aurora kembali memungut lembaran-lebaran kertas berikutnya, berupa rekening koran pribadi suaminya dan bukti-bukti transaksi pembelian apartement serta mobil. Aurora menarik kursi, lalu kemudian ia duduk dan melakukan rekonsiliasi terhadap rekening koran tabungan pribadi suaminya dengan bukti tensaksi yang ada.
"Untuk apa Mas Kala membeli apartement dan mobil mewah?" gumam Aurora.
Nama yang tak asing bagi dirinya, ia langsung ingat bahwa nama itu pernah menjadi rekan satu kantornya dulu.
"Benarkah ini Syeira rekan kerjaku dulu? Jika ia, mengapa Syeira tak pernah cerita jika ia mengenal Mas Kala?" Tak ingin berasumsi tanpa bukti, Aurora mencari tahu melalui akun sosial media Syeira, ia berharap dugaannya salah.
Sambil membuka akun sosial milik Syeira, Aurora terus menepis tutur batinnya yang terus mengatakan jika adanya hubungan special antara suaminya dengan mantan rekan kerjanya itu.
Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ia melihat foto Syeira berada di apartemen yang sama dengan apartement yang suaminya beli "Enggak ini pasti salah" sangkalnya. Aurora mengambil handphonenya, ia mencocokan dengan foto-foto suaminya yang sedang berada di apartement, yang pernah di kirim oleh orang yang tak ia kenal.
"Bisa jadi satu apartement, tapi unit yang berbeda." Aurora masih saja terus menyangkalnya.
Hingga ia menemukan foto dimana Syeira tengah bergaya dengan mobil barunya, mobil dengan merk yang sama (Tesla Model X Long Range), yang berada di bukti transaksi milik suaminya.
Dan terakhir, yang tak bisa Aurora elakan lagi adalah foto makan malam romantisnya bersama seorang pria di kapal pesiar di Paris. Meski hanya foto pria yang bersama Syeira itu hanya sebatas belakang punggungnya saja, namun Aurora bisa sangat mengenali tubuh dan kemeja yang di gunakan oleh pria itu.
Kemeja yang ia rapihkan sebelum suaminya pergi ke Paris.
"Kamu jahat Mas, kamu sudah ambil semua assetku dan khianatin aku hiks.. "
Mata Aurora terasa perih, tenggorokannya terasa kaku untuk menelan emosi yang terlalu besar atas bukti-bukti perselingkuhan suaminya dengan Syeira, ia mengepalkan tangan dan menekannya di bibir, mencoba menahan suara keputusasaan yang mencekik.
"Kamu jahat Mas" ucap Aurora lemah, suaranya menyelinap melalui jemarinya dan bergema di kamarnya, tempat ia terduduk merosot di bawah kursinya.
"Aku mengapa mereka bedua begitu jahat?"
Hati Aurora hancur berkeping-keping, kepercayaan yang ia berikan kepada suaminya sirna seketika. Ia merasa betapa bodohnya dirinya, tergelincir ke dalam cinta kepada pria yang sangat ia cintai.
Aurora telah dengan rela memberikan seluruh hatinya untuk Sekala, dan lihatlah apa yang di lakukan oleh Sekala, ia justru mengkhianati dan mengambil seluruh asset yang ia miliki.