
Sekala menyisihkan serbet makannya “Tumben jam segini kamu sudah pulang kantor?” ia melihat jam di tangannya masih menunjukan pukul 15.00 WIB, sementara biasanya jam pulang kantor Syeira sekitar pukul 17.00 WIB.
“Aku bosan di kantor, jadi aku izin saja pulang." Syeira tertawa lepas, matanya tampak berkilat. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu menangkup wajah Sekala. Gerakan itu terasa sangat lembut dan intim "Sudah lama sekali kita tidak liburan, bagaimana kalau besok kita ke Eropa?"
"Hah?! Eropa?" Sekala merasa sangat terkejut dengan permintaan Syeira, belum genap satu bulan yang lalu Syeira meminta mobil Tesla Model X Long Range seharga 4.4 miliar, kini Syeira mengajaknya untuk berlibur ke Eropa, yang tentunya akan memakan banyak biaya.
"Kamu tidak mau ya liburan denganku? Padahal aku rindu sekali denganmu," Syeira menurunkan tangannya dari wajah Sekala, ia memasang muka kecewanya saat melihat Sekala nampak sangat keberatan dengan ajakannya.
Sekala mencoba untuk tersenyum dan berbicara setenang mungkin untuk menolak ajakan Syeira secara halus "Bukan begitu sayang, ini kan belum musim liburan. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Pekerjaanku yang belum kita selesaikan?"
"Soal pekerjaanku itu gampang, aku tinggal minta cuti dengan alasan Mommyku sedang sakit. Jika soal urusan perkerjaanmu, kau suruh saja lah Aksara yang mengerjakan, manja sekali asistenmu itu." ucap Syeira.
"Dia bukan asistenku, dia teman kerjaku." bantah Sekala. Mau bagaimana pun Aksara adalah sahabat baiknya, ia tidak suka jika Syeira menggapnya hanya sebagai asisten pribadi.
"Ya sama saja lah, suruhlah dia bekerja dengan benar!!"
Tak ingin memperpanjang masalah, Sekala mencoba memberikan ide "Bagaimana jika kita ke Bali atau Lombok saja? Setelah semua pekerjaanku selesai baru kita ke Eropa sekalian liburan akhir tahun. Bagaimana?"
Syeira menggelengkan kepalanya "Tidak!! Aku maunya sekarang sayang." ucap Syeira sambil menatap manja ke arah Sekala, ia tidak menerima penawaran. "Sekala, liburan di Indonesia memiliki potensi ketahuan oleh istrimu. Kecuali jika kamu memang mau kita go public dan kamu mau menceraikan istrimu sekarang, tanpa menunggunya melahirkan." Syeira tersenyum licik, ia sudah tidak sabar menunggu moment kekasihnya meninggalkan istrinya.
Cerai
Sejak siang tadi saat melihat kejutan kecil yang di berikan oleh Aurora, niatan untuk menceraikan Aurora seakan sirna tergantikan oleh rasa bahagia karena sebentar lagi dirinya akan menimang bayi laki-lakinya.
"Sayang, kok malah bengong sih?"
Hentakan tangan Syeira di meja makan, membuat Sekala tersadar dari lamunannya "Tidak, aku sedang berfikir menikmati eiffel tower di musim dingin bersamamu pasti akan sangat romantis dan menyenangkan." ucap Sekala.
"Jadi, kita akan berlibur?" tanya Syeira sambil tersenyum, ia tahu jika Sekala tidak akan mampu menolak permintaannya.
Sekala menganggukan kepalanya "Ya besok lusa kita berangkat." ucap Sekala.
"Akhirnya kau menjadi milikku, aku bisa memeluk dan menggandeng tanganmu di tempat keramaian tanpa khawatir ada orang yang melihat, karena di sana tidak ada yang mengenal kita."
Sekala meraih tangan Syeira dan merema*nya lembut. "Maaf aku harus pergi sekarang, sampai bertemu besok lusa di bandara." Sekala beranjak dari tempat duduknya meninggalkan restoran.
"Welcome home, Boo..." Sekala menyambut kedatangan Aurora dengan senyum dan pelukan hangatnya.
'Tumben' batin Aurora, meski merasa agak terkejut dengan perlakuan suaminya, ia memebalas pelukan hangat Sekala. "Mas sudah pulang? Maaf ya aku pulang agak telat, tadi di ruko aku discus sebentar sama Sky dan temannya yang ingin menawarkan kerja sama kemitraan." ucap Aurora.
"Mas Sekala masak?" tanya Aurora seakan tak percaya, rasanya sudah lama sekali ia tak melihat suaminya membuatkan makanan untuknya.
Di awal pernikahannya bersama Aurora, Sekala merupakan pria yang sangat baik dan romantis, namun perlahan Sekala mulai berubah ketika Syeira kembali dari UK.
"Aku masak khusus buatmu, kamu makan yang banyak ya agar anak kita tumbuh dengan sehat." Sekala mengelus perut Aurora dengan lembut, kemudian ia menyendokan makanan yang ia buat ke dalam mulu Aurora "Bagaimana enak tidak?"
"Enak banget, Mas. Terima kasih ya."
"Oh iya tadi kerja sama kemitraan apa?" tanya Sekala menyambung obrolan yang tadi sempat terputus.
"Sebenarnya beberapa waktu lalu aku sempat punya ide untuk membuka cabang di beberapa tempat strategis seperti di depan kampus atau di pasar malam dengan konsep street food, tapi aku kekurangan modal. Nah tadi itu temannya Sky menawarkan kerja sama kemitraan, tapi aku belum ready untuk proposal business opportunity. Mungkin malam ini aku mau kerjain, agar besok bisa aku kirim via email." terang Aurora.
"Aku bantu ya?"
"Beneran Mas Sekala mau bantu?" tanya Aurora, ia masih tak percaya jika malam ini suaminya benar-benar berubah.
"Boleh enggak?"
"Ya tentu saja boleh. Sebentar ya, aku ambil laptopku dulu" Aurora beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil laptop yang masih berada di ruang tamu karena Bik Siti tak berani menaruh benda itu di kamar pribadi Aurora.
Tak lama kemudian Aurora kembali dengan membawa laptopnya, lalu ia mulai menyalakan laptopnya. "Sebentar ya, aku mau transfer vendor paper bowl dulu, tadi siang aku baru saja pesan 3.000 pcs." ucap Aurora sembari mengambil token internet bankingnya.
Sekala menganggukan kepalanya, ia nampak memperhatikan istrinya yang sedang sibuk sembari menyuapi Aurora di suapan terakhirnya.
"Pertama apa dulu ya Mas?" tanya Aurora. Meski ia sangat menguasai perhitungan bisnis miliknya, namun untuk membuat proposal business ini adalah kali pertamanya.
"Yang pasti kamu bikin dulu our storynya semenarik mungkin agar begitu orang lainnya membacanya langsung tertarik pada proposal yang kamu buat, baru setelah itu kamu masuk ke benefit business. Di benefit business itu kamu jangan hanya menjelaskan tentang profitnya saja tapi kamu jelaskan quality dari produkmu." terang Sekala. "Dikamar saja yuk, aku punya beberapa proposal business yang mungkin bisa kamu tiru." tanpa menunggu jawaban Aurora, Sekala membopong tubuh Aurora masuk ke dalam kamar.
"Mas, laptopnya" protes Aurora.
"Nanti aku ambil"
"Mas, aku berat..."
"Enggak kok," Sambil berjalan menuju kamar, Sekala memberikan kecupan-kecupan manis di bibir Aurora.
"Loh kok masuk sini mas?" tanya Aurora yang nampak sedikit bingung karena Sekala membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu kan baru pulang, jadi kita mandi dulu ya" Sekala menurunkan Aurora secara perlahan, kemudian ia membantu istrinya melepaskan pakaiannya. "Hello baby boy" ucap Sekala sembari memberikan banyak kecupannya di perut Aurora.