Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 52



"Kenapa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang kondisinya Sky, padahal aku ingin sekali, mensupport dan berada di sisinya di saat-saat terakhirnya huhu..."


Aurora menyesali ketidak pekaannya, padahal selama ini Sky sudah banyak memberikan sinyal akan kepergiannya, namun Aurora selalu mengira bahwa Sky me jauh dari dirinya lantaran Sky telah memiliki tambatan hati.


Andai ia tahu bahwa itu pertemuan terakhir dengannya, tentu Aurora akan memeluknya lebih lama dan memberikan support padanya.


"Sky tak ingin melihatmu bersedih, ia hanya ingin melihatmu tersenyum dan kahagia." Kinara mendekat ke arah Aurora, ia menghapus air mata Aurora dengan jarinya. "Kamu tahu, Nak? Senyummu itu yang membuatnya bangkit dari keterpurukannya setelah dokter memvonisnya terkena HIV, ia ingin selalu melihat senyummu meski ia tak bisa memilikimu."


"Apa karena itu, Sky sempat menghilang selama hampir tiga tahun?"


Kinara menganggukan kepalanya, ya selama lebih dari dua tahun Sky menarik diri dari lingkungannya termasuk dari kehidupan Aurora. Ia putus asa dan sempat mogok menjalani terapi pengobatannya.


"Begitu ia mendapatkan kabar jika kamu pindah ke Jakarta dan bekerja di sini, ia mulai memiliki semangat untuk bangkit. Ia mencoba melamar pekerjaan di tempatmu bekerja, hanya demi melihat senyummu. Bahkan Sky benar-benar bahagia waktu ia mengetahui ada seseorang yang telah mengkhitbahmu."


Tubuh Aurora terasa sangat lemas me dengar semua cerita Kinara, ia tak menyangka Sky setulus itu menyanyangi dirinya, Aurora menyayangkan mengapa dirinya tak pernah berusaha menjadi sahabat yang baik untuk Sky.


Melihat istrinya yang hampir terjatuh, dengan sigap Sekala meraih pinggang Aurora dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menggendong putranya, ia kemudian mengajak Aurora untuk duduk di tepi tempat tidur Sky.


Sementara Kinara mengambil sepucuk surat dan sebuah kotak beludru dari laci meja kerja putranya, ia kembali mendekat ke arah Aurora dan memberikan benda itu kepada Aurora.


"Sebelum masuk ruang ICU Sky sempat menuliskan surat untukmu. Dan ini adalah cincin dan kalung yang sudah Sky siapkan untuk melamarmu." ucap Kinara, ia beralih ke Sekala "Sekala, tante harap kamu membolehkan Aurora untuk menerima dan menyimpannya."


Sekala menganggukan kepalanya, ia sama sekali tak berkeberatan jika Aurora menyimpannya.


Tangan Aurora gemetar ketika ia membuka surat yang di tulis Sky untuknya.


Dear Aurora,


Kamu tidak boleh melanjutkan membaca surat ini, jika masih ada air mata yang menetes di pipimu.


Aurora menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, sembari ia menghapus air matanya sesuai dengan permintaan Sky.


Kamu masih ingatkan dengan janjimu, yang akan selalu tersenyum walau apa pun yang terjadi di hidupmu, kamu akan selalu bahagia?


Sekarang kamu senyum dulu dong!!


Meski rasanya sangat sulit, namun Aurora tetap berusaha untuk tersenyum, kemudian ia kembali melanjutkan membaca surat tersebut.


Ra, aku mau minta maaf, karena selama ini aku banyak bohongnya sama kamu. Demi bisa makan malam bersamamu dan keluargamu, hampir setiap akhir bulan aku selalu bilang padamu kalau mama telat mengirimiku uang makan, padahal uang saku yang mama berikan padaku lebih dari cukup.


Tak hanya itu, demi bisa mengobrol banyak denganmu dan keluargamu, aku juga sering berbohong jika printer di kostanku rusak, padahal sama sekali tidak.


Bagiku, kamu dan keluargamu adalah rumah ke dua bagiku. Aku seperti pulang ke rumah, aku benar-benar merasa nyaman berada di tengah-tengah kalian.


Namun rupanya Allah menginginkan aku untuk belajar ikhlas. Tidak ada hal yang aku sesali, termasuk kejadian malam itu, bahkan aku sangat senang melihat wanita itu selamat, tanpa terluka sedikit pun. Dan aku pun bahagia atas kebahagianmu bersama suamimu.


Sekali lagi, aku minta maaf jika selama ini aku banyak kurangnya, banyak salahnya dan banyak bohongnya kepadamu. Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Ra, jika kamu berkenan dan memiliki waktu, datanglah ke yayasanku yang aku berinama Yayasan Aurora Borealis (cahaya di utara yang berdansa diatas langit).


Sahabatmu,


Sky


Aurora tertunduk lemas memandangi surat yang berada di tangannya, hingga tangisan kecil dari mulut Sagara membuatnya menoleh ke arahnya.


"Sudah malam, sudah waktunya Saga istirahat. Kita pulang yuk!" ajak Sekala.


Aurora menganggukan kepalanya, mesti hati masih dilanda kesedihan yang teramat dalam namun ia tetap memprioritaskan putranya.



"Meskipun Sky sudah tidak ada, sering-sering main ke sini ya sayang, rumah ini selalu terbuka untukmu" pinta Kinara, ia memeluk Aurora dengan erat seolah ia sedang memeluk putranya. "Sekali lagi tante minta maaf ya, jika baru siap memberitahumu sekarang." bisik Kinara.


"Aurora ngerti kok tante. Terima kasih kasih banyak ya tante, om. Aurora permisi dulu, Assalamualaikum." Aurora mencium tangan Kinara dan Chandra secara bergantian, kemudian ia dan suaminya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kediaman Kinara.



Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, tak banyak kata yang keluar dari mulut Aurora, ia termenung memandangi jendela mobilnya.


Sekala menepikan kendaraanya di pinggir jalan. "Boo, ada hal yang ingin aku ceritakan padamu." ucap Sekala.


Sembari mendekap tubuh mungil putranya, Aurora menoleh ke arah suaminya.


"Sebenarnya, Sky lah yang memberitahuku alamat tempat tinggalmu di Magelang."


"Maksud Mas Kala?"


Sekala berdeham sesaat, kemudian ia menceritakan tentang pertemuannya yang secara tidak sengaja dengan Kinara di rumah sakit, hingga ia menjenguk Sky di ruang ICU. Tak hanya itu, Sekala pun mengakui jika dirinya berbohong, izin kembali ke Jakarta untuk menghadiri meeting padahal ia menghadiri pemakaman Sky. Sekala bahkan ikut turun ke dalam liang lahat untuk mengantarkan Sky ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Maaf, itu semua atas permintaan Sky dan keluarganya."


"Kamu jahat Mas, aku itu sahabatnya." Aurora memukul dada suaminya, air matanya kembali menetes di wajah cantiknya.


"Kalau kamu merasa sahabatnya, harusnya kamu mengerti ia tidak ingin kepergiannya di tangisi oleh orang lain termasuk kamu karena itu justru akan memberatkan langkahnya." ucap Sekala, ia menjelaskan jika pemakaman Sky berlangsung sangat tertutup hanya di hadiri oleh keluarganya saja atas permintaan Sky.


"Jadilah sahabat yang baik dengan mengiriminya doa. Besok aku akan mengantarmu berziarah ke makamnya sekaligus mengunjungi yayasannya." Sekala kembali melajukan kendaraannya menuju kediamannya.