
"Mama kenapa, Dek?" tanya Sekala dengan raut wajah cemas.
Melihat Sekala berada di depannya, Amanda tak sanggup menahan tangisnya, ia langsung memeluk Sekala dengan erat "Huhu... Ja-jantung mama kambuh, Mas." ucap sambil terbata-bata.
Sekala mengelus punggung adiknya dengan lembut, sembari berfikir apa yang telah terjadi hingga membaut penyakit jantung ibundanya kembali kambuh, apa karena kedatangan Kara dan Aksara?
"Tadi ada dua orang bodyguard, yang datang dan menagih uang berlian dan tas ke mama. Hiks..." Amanda mulai bercerita kepada kakanya.
"Lalu?"
"Dua orang itu mengaku orang suruhan teman arisan mama. kemudian mama dan dua orang itu sempat terlibat cekcok karena mama merasa tidak pernah mengambil berlian dan tas branded dari temannya." Lanjut Amanda, ia menghela nafasnya sesaat kemudian ia melanjutkan lagi. "Tapi ternyata, Kak Syeira lah yang telah mengambil berlian dan tas branded tersebut atas nama mama. Yang membuat mama syok adalah jumlahnya hampir mencapai lima ratus juta rupiah. Huhu...."
Ya, sejak kembali dari UK, Syeira kembali mendekati Sekala dan juga keluarganya. Termasuk masuk ke dalam circle pertemanan Aisyah bersama genk sosialitanya, agar ia bisa semakin akrab dengan Aisyah. Namun sayangnya Syeira justru memanfaatkan kedekatan dirinya dengan Aisyah, ia berani mengambil barang-barang mewah yang di tawarkan oleh teman-teman ibunda Sekala dengan menggunakan nama Aisyah tanpa sepengetahuan Aisyah dan Sekala.
"Wanita itu lagi..." gumam Sekala, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Sekala tak habis pikir jika kekasih gelapnya itu mampu melakukan hal sejahat itu kepada ibundanya. Sejak kenal dengan brandon, gaya hidup Syeira berubah total, ia hanya mau mengenakan barang-barang banded keluaran merk dunia, liburan dan party dengan teman-teman sosialitanya.
"Apa kamu sudah hubungi papa?" tanya Sekala kembali.
"Sudah tapi sepertinya papa sudah tidak mau tahu lagi dengan kondisi mama."
Sudah lebih dari tiga tahun belakangan ini Adrian, tidak tinggal satu rumah dengan Aisyah, ia memilih hidup menyendiri di Bogor menekuni hobbynya berkebun tanaman organik. Kini ia sudah memiliki kebun sayur dan buah seluas 5 hektar.
Di tengah kesibukannya, ia tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang bapak, ia masih rutin menafkahi putri bungsunya meski Aisyah tak pernah menghargai pemberiannya. Aisyah selalu mengaggap suaminya telah mencoreng reputasinya karena memilih menjadi seorang petani.
"Ya sudah, kita tunggu saja dokter keluar. Kita berdoa sama-sama semoga mama, baik-baik saja." Sekala mengajak adiknya untuk duduk kembali.
Di tengah kegelisahannya, menunggu ibundanya yang masih di periksa, Sekala pun tak hentinya memikirkan istri dan anaknya yang kini entah berada di mana, beberapa kali ia mencoba menghubungi ibu mertuanya, namun Annisa tak juga mengangkat panggilan masuk darinya.
Tak lama kemudian pintu ruang IGD, dokter mengatakan jika saat ini kondisi Aisyah sudah mulai stabil dan nantinya akan di tangani oleh dokter spesialis jantung untuk pemeriksaan yang lebih mendalam. Dokter juga sudah mempebolehkan Sekala dan Amanda menjenguk ibunda mereka.
Melihat putranya mendekat ke arahnya, ia teringat akan kesalahannya telah mendukung hubungan Sekala dengan Syeira. "Ti-tinggalkan wanita jahat itu!!" ucap Aisyah terbata-bata.
Sekala meraih tangan ibundanya dan kemudian menggenggamnya "Aku sudah melaporkannya ke kantor polisi, ia bukan hanya menipu kita tapi juga mencelakai Aurora, ia telah mendorong Aurora hingga terjatuh sehingga Aurora mengalami pendarahan dan lahir kurang bulan." ucap Sekala.
Sekala menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak tahu sekarang Aurora dan anakku berada di mana, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada, aku juga sudah menghubunginya namun handphonenya sudah tidak aktiv. Aurora benar-benar sudah kecewa padaku." Sekala menundukan kepalanya.
Aisyah mengelus kepala Sekala dengan lembut. "Carilah istrimu sampai ketemu! minta maaf secara tulus kepadanya, mama harap dia masih mau memaafkanmu. Dan sampaikan permintaan maaf mama padanya." ucap Aisyah.
Sekala menganggukan kepalanya, ia merogoh handphone di sakunya untuk mencari tiket pesawat dengan rute penebangan CGK-YIA. "Aku pergi dulu ya Mah, doakan aku bisa kembali membawa pulang Aurora." Sekala mencium tangan ibundanya dan bergegas menuju bandara.
Sudah hampir satu jam lamanya Aurora memandangi surat pengajuan permohonan perceraiannya, hingga kuasa hukumnya pergi meninggalkan ruangan rawat inapnya ia masih belum juga menandatanganinya.
"Apa kamu masih ragu, Nduk?" tanya Annisa.
"Tidak Bu, hanya saja...." Aurora menerawang ke atas, mengingat kejadian malam itu. Ia benar-benar melihat sepatu milik Sekala berjejer rapih di rak sepatu apartement Syeira. "Aku selalu berdoa agar rumah tanggaku di berikan ketentraman, kenyamanan, harmonis dan langgeng. Tapi nyatanya Mas Kala lebih memilih mencari kenyamanan bersama wanita lain."
"Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir. Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Percayalah bahwa doa yang selalu kamu langitkan tidak akan kembali dengan keadaan kosong."
Sesaat Aurora menghela nafas beratnya, kemudian ia menandatangani surat surat pengajuan permohonan perceraiannya. Lalu ia menyimpannya bersamaan dengan persyaratan pendukung lainnya, agar besok pagi bisa ia berikan kepada pengacaranya sebelum dirinya bertolak menuju Jawa tengah.
"Ra, aku baru saja dapat laporan dari stafku, jika barang-barangmu dan Sagara, sudah sampai di Magelang. Aku juga minta mereka untuk menyiapkan kamar khusus untuk Saga, bagimana menurutmu?" Sky memperlihatkan proses pengerjaan kamar anak, lewat layar handphonenya.
"Terima kasih banyak ya Sky."
"Sama-sama, ini juga malah banyak di bantu sama karyawannya Ibu kok. Ya sudah lebih baik kamu istirahat Ra, agar besok kamu tidak kecapean. Dari sini ke Magelang lumayan loh bisa sampai 7 jam."
Aurora sengaja memilih tinggal di Magelang, kediaman Alm.Neneknya, selama proses perceraiannya berlangsung, hal ini ia lakukan karena ia rindu akan suasana masa kecilnya bermain di rumah eyangnya.
"Nanti deh, aku mau pompa ASI dulu." ucap Aurora.
"Ya sudah, aku ngobrol sama mama dan Ibu di ruang tamu ya. Jangan lupa nanti di kompres, air hangatnya sudah aku siapain di meja." Sky menutup gorden pembatas agar Aurora bisa lebih leluasa, kemudian ia menggendong Saga dan membawanya ke ruang tamu berkumpul bersama Kinara dan Annisa.
"Iya, thanks ya Sky."