
"Aku rasa apa yang sudah aku berikan padamu selama ini sudah lebih dari cukup, saat ini aku sedang memanage ulang kondisi keuanganku yang berantakan."
"Oh bagus!!! Selain mengaku tak mengenalku, sekarang kamu sudah mulai perhitungan denganku!! Dasar pria brengsek, bajing*n kau Sekala." Syeira tak terima dengan pernyataan Sekala, yang berarti Sekala menolak untuk memberinya uang bulanan dan membayar tagihan apartementnya.
"Sudahlah Syei, ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Nanti akan aku kabari lagi ya, bye." Sekala mematikan sabungan teleponnya ketika ia melihat Aurora telah keluar dari kamarnya, ia langsung memasukan handphonenya di sakunya dan menyapa istrinya "Morning, Boo. Gimana badannya sudah enakan?" tanya Sekala dengan senyuman manisnya.
"Lumayan. Tumben pagi-pagi Mas ada di dapur." Aurora nampak sangat heran melihat suaminya pagi-pagi sudah berada di dapur, ia pun menghampiri Sekala.
"Aku sedang buat sarapan special untuk istriku paling cantik." Sekala memamerkan pancake buatnya di hadapan Aurora. "Kita sarapan yuk" ajak Sekala, ia mengecup kening Aurora sebelum ia membawa dua piring pancake buatannya ke meja makan.
"Maaf ya semalam, setelah pulang dari mall aku malah mengajakmu bercinta. Kamu jadi kecapekan deh." Sekala mengelus tangan Aurora dengan lembut. "Nanti setelah urusan di kantor selesai, aku akan bantu pekerjaanmu."
Sebelum berangkat ke kantor, Sekala mengantar Aurora ke kedainya.
"Bu Aurora, ini ada paket untuk Ibu." ucap Bik Siti sembari meberikan sebuah amplop coklat kepada Aurora.
"Terima kasih ya Bik," Aurora menerimanya kemudian menyimpannya di dalam tasnya. "Oh iya Bik, Ani sama anak-anak sudah berangkat ke event kuliner?"
"Sudah Bu, sejak pagi tadi mereka sudah berangkat."
Aurora menganggukan kepalanya, "Oh ya sudah, aku ke atas dulu ya Bik." Aurora berjalan menuju ruang kerjanya, sementara Sekala nampak berjalan ke arah pantry.
"Mas Kala bukannya mau ke kantor?" Aurora baru menyadari ternyata suminya ikut masuk ke dalam kedainya.
"Sebentar lagi, aku mau buatin smoothy segar untukmu, kamu duluan saja ke ruang kerjamu nanti aku nyusul." ucap Sekala sambil menggulung lengan kemeja.
"Terima kasih ya Mas" Aurora kembali berjalan menuju ruang kerjanya.
Di antara tumpukan invoice yang harus ia input, mata Aurora tertuju pada amplop coklat yang baru saja di berikan oleh Bik Siti, amplop itu menyelinap ke luar dari tas hitam yang ia letakan di atas meja kerjanya.
"Vendor mana lagi yang mengirimkan invoice hari ini?" gumamnya, Aurora meraih amplop tersebut kemudian membukanya.
Angkah terkejutnya Aurora saat melihat isi amplop tersebut bukan tagihan invoice seperti dugaannya, melainkan foto-foto kebersamaan Syeira dengan suaminya saat mereka masih sama-sama duduk bangku perkuliahan hingga liburan terakhir mereka di Eropa.
Meski hati sudah di landa kekalutan, namun Aurora mencoba untuk tetap tenang sambil memeriksa dengan teliti apakah foto tersebut asli atau hanya rekayasa seseorang yang mau mengganggu rumah tangganya, tak hanya memperhatikan satu -persatu foto-foto itu, Aurora juga memutar rekaman CCTV kedainya kemarin saat pertemuan Sekala dengan Syeira.
"Smoothies mixed fruit for my beauty wife." Sekala datang dengan membawa segelas soothies di tangannya.
"Loh kamu kenapa Boo? Kok nangis?" tanya Sekala panik melihat istrinya menagis sesegukan di meja kerjanya. "Boo ada apa? Siapa yang menyakitimu sayang?" Sekala mengelus bahu Aurora, menenangkannya agar tak bersedih.
"Lepasin aku!" Aurora menepis tangan Sekala dengan kasar, kemudian ia menatap tajam ke arah suaminya. "Pergi kamu dari sini, aku sudah muak dengan kebohongan dan kepalsuanmu selama ini!!" Aurora beranjak dari tempat duduknya kemudian mendorong Sekala dengan kasar, agar ia keluar dari ruang kerjanya.
"Boo, ini ada apa sih? Kenapa kamu tiba-tiba marah-marah sama aku?" tanya Sekala bingung.
"Ini kamu lihat sendiri." Aurora melempar foto-foto tadi ke wajah Sekala. "Sekarang kamu masih mau nyangkal kalau kamu tidak kenal dengannya?"
Sekala melihat beberapa lembar foto yang berhasil di raihnya, sisanya jatuh berserakan di lantai. "Ra, ini hanya salah paham. Aku bisa jelasin semuanya sama kamu." Sekala terlihat sangat terkejut sekaligus panik dengan foto-foto tersebut.
"Mu-mungkin aku memang pernah satu kampus dengannya tapi, aku sendiri sudah lupa karena ada ribuan mahasiswa di kampusku, mana mungkin aku mengingatnya satu persatu-satu."
Aurora tersenyum sinis mendengar penjelasan suaminya yang tak masuk akal, padahal sudah jelas itu fotonya dengan Syeira. "Kamu bilang salah paham? Lupa? Lalu bagaimana dengan ini?" Aurora memperlihatkan foto Sekala dan Syeira sedang berciuman di kapal pesiar, dengan tangan kiri Sekala memegang paha pulus Syeira.
"Ra, ini enggak benar. Pasti ada seseorang yang ngejebak aku dan menghancurkan rumah tangga kita. Ini pasti ulah orang yang kalah tander project, ia pasti dendam dengaku." bantah Sekala,
Sekala berjalan mundur karena Aurora terus mendorongnya keluar sembari mentapnya tajam. "Kalau foto-foto ini rekayasa bagaimana dengan rekaman CCTVku kemarin di kedai ini? Masih mau bilang itu rekayasa juga?" Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukti sudah di depan mata kamu masih bisa ngelak? Masih cari kambing hitam? Yang mau menghancurkan rumah tangga kita itu dirimu sendiri, bukan orang lain. Jadi enggak usah kamu cari-cari kambing hitam!!" bentak Aurora.
"Tega kamu Mas. Selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik buat kamu, aku selalu nurutin semua mau kamu, aku ga pernah menuntut apa-apa dari kamu, aku juga selalu berusaha sabar ngadepin sikapmu dan keluargamu. Tapi apa yang aku dapat? Kamu bohongin aku, khianatin semua kepercayaan yang aku kasih. Kamu jahat! Aku benci sama kamu Sekala!"
"Ra please, kasih aku kesempatan buat perbaikin ini semua." Sekala terus memohon agar Aurora mau memberinya kesempatan.
"Oh iya satu hal lagi, kemaren kamu nuduh aku CLBK sama Sky, tapi ternyata kamu yang belum selesai dengan masa lalumu. Silahkan kamu lanjutkan cinta lamamu yang belum kelar itu!!!"
Brraaakk...
Aurora mendorong Sekala dengan sekuat tenaganya kemudian ia menutup pintu ruang kerja dan menguncinya dari dalam, ia sudah tak ingin lagi melihat wajah Sekala.
Tok... Tok... Tok...
"Ra, please bukain pintunya. Ra, maafin aku..."
"Aurora, please..."