Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 27



"Sekala kamu ini dari mana saja sih? Dari kemarin aku teleponin malah kamu matiin!!" omel Syeira dari seberang telepon.


Sekala memegang keningnya, mendadak kepalanya terasa sangat pusing mendengar omelan Syeira . "Aku sedang banyak kerjaan, ada apa?"


"Kamu masih tanya ada apa?" Syeira semakin murka mendengar Sekala yang nampak tak acuh terhadap dirinya. "Kemarin ada orang dari showroom, mengambil mobilku. Mereka bilang jika mobil ini hanya sewa dan masa sewanya sudah habis. Jelaskan apa maksud semua ini Sekala?" teriak Syeira.


Sekala menjauhkan handphonenya, beberapa waktu lalu ia tidak benar-benar menggadaikan sertifikat rumah istrinya, ia memiliki ide lain untuk tetap memberikan Syeira mobil tanpa harus menggunakan asset milik istrinya. Yaitu dengan sewa, kebetulan ia memiliki teman baik yang memiliki showroom mobil mewah, ia menjual mobil lamanya dan menggantinya dengan mobil yang lebih murah untuk membayar sewa.


"Sekala... ternyata kamu membohongiku, kamu bilang itu hanya plat sementara namun ternyata plat sebenarnya...."


"Sudah lah Syei, aku sedang malas berdebat denganmu. Mobil lamamu tidak mengalami kerusakan yang parah, dan sudah aku perbaiki, jadi kamu pakai saja mobil lamamu." ucap Sekala.


"Mas.... Mas Kala, sarapannya sudah siap." Panggil Aurora dari ruang makan kediamannya.


"Iya sayang sebentar" jawab Sekala, ia kembli beralih ke handphonenya "Sudah dulu ya Syei, bye." Sekala menutup handphonenya. Hal itu membuat Syeira semakin kesal, di tambah tadi ia mendengar suara Aurora, sehingga bisa di pastikan saat ini Sekala tengah bersama istri sahnya. "Sekala.. Sekala.. Sekala.......... Brengsek!!" umpat Syeira.



"Telepon dari siapa? Kok kayanya serius banget?" tanya Aurora.


"Da-dari client, dia mau... Sewa alat berat untuk di kawasan berikat. Kamu tau sendiri kan kalau prosedur di sana agak rumit." Jawab Sekala dengan gugup, namun ia mencoba untuk terlihat santai agar istrinya tidak curiga. "Tapi ya sudahlah nanti aku coba ngobrol lagi dengan orangnya, aku sudah kangen banget masakan kamu." Sekala mencium kepala Aurora sembari mengelus lengannya. "Kita makan yuk!" Sekala menarik kursi meja makan kemudian ia duduk dan menikmati sarapan paginya bersama istrinya.


"Hari ini jadi periksa kandungannya?" tanya Sekala.


Aurora menganggukan kepalanya "Jadi. Memangnya kenapa Mas?"


"Aku temani ya, tapi agak siangan, setelah aku meeting bersama client. Nanti setelah periksa, kita belanja keperluan pengajian tujuh bulanan anak kita." ucap Sekala.


"Terserah Mas Kala, kalau enggak bisa enggak apa-apa kok, aku sudah biasa sendiri."


Sejak beberapa bulan yang lalu Sekala selalu mengingkari janjinya untuk menemaninya periksa kandungan, Aurora sudah tidak lagi berharap Sekala akan menemani dirinya, di tambah dengan bukti-bukti dugaan perselingkuhan suaminya dengan temannya, membuat Aurora semakin tak mempercayai Sekala.


Sekala meraih tangan Aurora dan menggengamnya. "Ra, kasih aku kesempatan untuk jadi ayah dan suami yang terbaik untukmu dan juga anak kita."


Perlahan Aurora melepaskan tangan Sekala "Maaf Mas, sudah siang. Aku harus ke ruko." ia mengambil tasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Sikap dingin yang di tunjukan Aurora sejak kemarin, membuat hati Sekala terasa sakit, ia rindu dengan Aurora yang selalu hangat dengannya.


Sekala berlari menyusul istrinya."Boo aku antar ya," ia meraih kembali tangan Aurora dan menggandengnya menuju garasi.


Sepanjang perjalan menuju ruko Sekala tak melepaskan genggaman tangannya. "Kok rame banget Boo?" tanya Sekala sembari menepikan kendaraanya tepat di depan kedai steak milik istrinya.


"Aku masih ada inteview karyawan baru untuk event kuliner besok dan karyawan tetap untuk di kedai." jawab Aurora.


"Oh ya sudah, jangan capek-capek ya. Sebelum makan siang aku sudah balik lagi." Sekala mengecup kening Aurora kemudian ia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Jangan deket-deket sama Sky ya."


Aurora hanya tersenyum simpul dan mencim tangan Sekala."Aku masuk dulu ya Mas." ia berjalan masuk ke kedainya dan memulai harinya.



'Mau apa dia kesini?' batin Sekala, rasanya ia ingin memutar balik tubuhnya dan pergi dari tempat itu namun belum sempat ia melakukan hal tersebut Aurora sudah melihat kedatangan suaminya.


"Mas Kala sini." Aurora melambaikan tangannya, meminta Sekala duduk di sampingnya.


Sekala nampak sangat gugup dan salah tingkah, namun karena tak ingin membuat istrinya curiga dengan tepaksa ia menghampiri Aurora. "Sudah siang kita langsung ke rumah sakit yuk." ajak Sekala, matanya terus terfokus pada Aurora tak sedikit pin ia menoleh ke arah Syeira.


Sementara Syeira justru nampak terus memandangi Sekala sembari menghabiskan makanannya.


"Kalau sekarang nanggung Mas sebentar lagi dokternya istirahat. Gimana kalau Mas Kala makan dulu sambil nunggu jam praktek berikutnya? Mas mau makan apa, aku buatin." Aurora menggenggam tangan Sekala, sekilas ia melirik ke arah Syeira.


"Kita makan di luar saja yuk!"


"Jangan Mas! kita makan di sini saja, kebetulan ada teman kantorku dulu yang kini menggantikan posisiku. Kan kemarin katanya saat di Paris, Mas belum sempet kenalan." Aurora beralih ke Syeira "Syei, kenalin ini suamiku Mas Sekala, yang beberpa hari lalu fotonya kamu upload di Ig storymu. Pasti kamu inget dong?" ucap Aurora sambil tersenyum, ia memperhatikan wajah Sekala dan Syeira secara bergantian.


"Kok kalian malah bengong? Apa jangan-jangan kalian sudah kenal? Atau....."


"Sekala" Sekala mengulurkan tangannya ke arah Syeira.


Dengan wajah kesalnya, Syeira menerima jabatan tangan Sekala "Syeira"


"Ya sudah kalau begitu aku buatin makan buat Mas Kala dulu ya." Aurora beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju pantry.


Setelah memastikan Aurora tak melihatnya, Sekala langsung duduk di hadapan Syeira. "Mau apa kamu datang kemari?" bisik Sekala.


"Wow.. Wow.. Santai saja sayang, enggak usah galak-galak gitu." Syeira mengelus bahu Sekala dengan lembut, namun Sekala langsung menepisnya. "Aku peringatin sama kamu, jangan pernah menyentuh Aurora!"


"Jadi sekarang kamu berani ngancem aku? Jadi sekarang Aurora lebih penting dari aku?" Syeira tersenyum sinis. "Kalau kamu enggak mau aku dateng ke sini, angkat dong teleponku. Dasar egois!!" Syeira melempar serbetnya kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari kedai Aurora.


Tak lama kemudian Aurora keluar dari pantry dengan membawakan makanan untuk suaminya. "Loh Syeiranya kemana Mas?"


"Mana aku tahu, sudahlah biarkan saja dia pergi. Kamu jangan dekat-dekatnya, dari auranya dia punya niat yang tidak baik terhadapmu."


"Sejak kapan Mas bisa baca aura orang?" tanya Aurora heran. "Tadi dia nanya-nanya tentang kerjasama kemitraan bisnisku."


"Enggak usahlah, dia bukan orang yang amanah, nanti yang ada kamu malah di tipu olehnya."


"Katanya enggak kenal, kok kamu kayanya jauh lebih banyak tahu di bandingkan dengan aku" tanya Aurora dengan nada menginterogasi.


"Enggak, itu cuma feeling aja. Sudah yuk, kita pergi sekarang saja."


"Kamu enggak jadi makan?"


"Bawa saja, kita makan di mobil." Sekala berjalan menuju panty mengambil tempat makan dan paper bag kemudian ia membungkus semua makanan yang di buat oleh istrinya. "Nanti suapin ya, aku kan nyetir." ucapnya manja.


Aurora tak menanggapi gombalan Sekala, ia masih memikirkan kejanggalan sikap Sekala dan Syeira saat bertemu tadi.