
Aw..." Syeira berhasil meraih tangan Aurora dan menarik tangan Aurora lepas dari rambutnya. "Dasar wanita sialan!!" Syeira mendorong tubuh Aurora dengan sekuat tenaganya.
Perut Aurora yang membesar menyebabkan gravitasinya cenderung ke depan, sehingga sulit untuk menyeimbangkan tubuh, di tambah hormon kehamilan, khususnya hormon relaxin juga membuat kaki Aurora tidak stabil.
Brruug...
Aurora pun terjatuh hingga punggungnya menghantam dinding yang ada di belakangnya. "Aw..." Aurora meringis sambil memegang perutnya yang terasa sangat nyeri, ia berusaha untuk bangkit dan mencari pertolongan namun nyeri di perutnya tak bisa ia tahan lagi, terlebih adanya rembesar air ketuban bercampur darah yang keluar membuat Aurora semakin panik.
"Astagfirullahaladzim, Aurora...." Sky yang kebetulan sedang lewat, langsung berlari menghampiri Aurora.
Ya, sudah hampir dua tahun belakangan ini Sky memilih untuk hidup mandiri terpisah dari Ibundanya, dari hasil kerja kerasnya ia berhasil membeli satu hunian di apartement tersebut.
"Sky, perutku sakit..." ucap Aurora lirih, sembari merem*s perutnya menahan sakit.
"Tunggu sebentar ya Ra," Sky mengambil handphonenya kemudian ia menghubungi supirnya untuk bersiap di lobby, barulah ia membopong tubuh Aurora turun ke bawah.
Setibanya di lobby, sang sopir telah bersiap dan membukakan pintu untuk Sky dan Aurora.
"Ke rumah sakit X ya pak," ucap Sky kepada sopirnya.
"Baik tuan" tanpa menunggu perintah berikutnya, ia pun mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Sky, perutku semakin sakit..." rintih Aurora sembari merem*s pakaian Sky.
Tak hanya merintih kesakitan, air ketuban yang bercampur darah pun semakin deras bahkan hingga membasahi dress putih panjang yang ia kenakan, tak hanya dress yang di kenakan oleh Aurora, pakaian Sky pun terkena bercak darah saat ia menggendong Aurora.
"Sabar ya Ra, sebentar lagi kita sampai. Aku telepon dulu rumah sakitnya."
Sky kembali merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya, ia pun menghubungi rumah sakit tempat biasa Aurora kontrol kandungan karena di sana tentu memiliki rekam medis Aurora, dan lokasinya pun tak begitu jauh dari apartementnya.
"Kamu pasti kuat Ra..."
Dengan lembut Sky mengusap kening Aurora yang di penuhi oleh keringat dingin, ia pun sebenarnya tak tega melihat Aurora merintih kesakitan.
Jalanan lengan ibukota, membuat Sky dan Aurora tiba di rumah sakit kurang dari tiga puluh menit. Begitu sopir menepikan kendaraannya, Sky kembali membopong tubuh Aurora masuk ke dalam ruang IGD.
"Dokter akan segera memeriksa pasien, Bapak di mohon untuk menunggu di ruang tunggu." ucap salah seorang perawat kepada Sky.
"Baik." Sky menganggukan kepalanya, ia kemudian berjalan keluar ruang IGD dan menunggu Aurora di ruang tunggu.
Sambil menunggu Aurora, ia menghubungi Annisa, ibunda Aurora yang tadi sempat menghubunginya untuk meminta bantuannya mencari keberadaan Aurora, belum sempat ia keluar dari apartementnya, ternyata Aurora berada wilayah yang tak jauh dari unit apartementnya.
Tak hanya menghubungi Annisa, ia pun menghubungi ibundanya yang kebetulan tengah menemani kakak iparnya yang baru saja melahirkan di rumah sakit yang sama.
"Apaaa???" teriak Kinara lewat sambungan teleponnya.
"Ya habis kamu ngasih kabar, bikin jantung Mama syok saja. Ya sudah mama sekarang turun ke bawah, kamu jangan kemana-mana." Kinara bersiap sembari pamit dengan anak dan juga menantunya.
"Siapa juga yang mau kemana-mana" Sky melihat hanphonenya ternyata Kinara sudah terlebih dahulu mematikan sambungan teleponnya.
"Kalau terjadi apa-apa dengan Aurora gimana, Mah?" ucap Sky lirih, ia bersandar di bahu ibundanya.
Tak pernah sekalipun ia melihat putra bungsunya sekhawatir ini, "Aurora pasti akan selamat, kamu doa yang banyak ya." Kinara mengelus punggung Sky dengan lembut.
"Lalu bagaimana dengan bayinya? Bukankah belum sembilan bulan?" tanya Sky kembali.
"Insyaallah, Aurora dan bayinya akan selamat." ucap Kinara dengan penuh keyakinan. "Kamu tahu enggak? Kalau kamu dulu juga prematur, tapi alhamdulillah sekarang bisa segede gini kan? Hanya saja memang butuh treatment yang berbeda pada waktu baru lahir, tapi nanti setelahnya insyaallah pertumbuhannya akan sama dengan anak-anak yang lahir genap sembilan bulan."
"Benarkah?" mendengar cerita dari ibundanya, membuat kekhawatirannya sedikit berkurang.
"Makanya kamu sering di ledekin anak bau minyak sama abang-abangmu, karena dulu kamu mandinya pake minyak enggak pake air, bayi prematur enggak boleh kena air." lanjut Kinara sembari menggoda putranya.
"Iiih Mama jahat..."
"Itu kan dulu, mama hanya ngikutin saran Ompung kamu saja. Kalau sekarang kayanya udah enggak deh. Sudahlah kita doakan saja yang terbaik untuk Aurora dan bayinya."
Di saat yang bersamaan antara pintu ruang IGD yang terbuka, di saat itu pula Annisa dan Bik Siti tiba di rumah sakit. Dokter mengatakan jika Aurora mengalami pendarahan akibat benturan yang di alamainya dan harus segera menjalani operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan anak dalam kandungannya.
"Lakukan yang terbaik untuk anak dan cucu saya dok" ucap Annisa pasrah.
"Kami pasti akan lakukan yang terbaik untuk menolong anak dan cucu, Ibu. Sekarang Ibu silahkan ke ruang administrasi untuk menandatangani surat persetujuan operasi"
"Baik dok" dengan langkah gontai Annisa berjalan menuju ruang administrasi, ia tidak sendiri, melainkan di temani oleh Kinara. Kinara sadar bahwa saat-saat seperti ini Annisa membutuhkan support "Yang kuat ya Mba Nissa, Insyaallah Aurora dan bayi akan selamat." Kinara terus memberikan support kepada Annisa agar ia kuat mendapingi Aurora yang sebentar lagi akan menjalani operasi.
Annisa sengaja tak menghubungi Sekala, karena ia sudah enggan untuk bertemu dengan pria yang telah menyakiti putrinya.
Hingga Aurora menjalani operasi caesar, Annisa tak kuasa menahan air matanya, air matanya terus menetes melihat putrinya terbaring lemah. "Nduk, yang kuat ya." ia teringat saat dirinya tengah melahirkan anak keduanya, saat itu pun ia melahirkan seorang diri karena suaminya tengah sibuk mengurusi wanita simpanannya.
Aurora mencoba untuk tersenyum "Maafin aku Bu, sudah merepotkan dan membuat khawatir Ibu." ucapnya lemah sambil menghapus air mata ibundanya.
"Tidak Nduk, kamu tidak pernah merepotkan Ibu. Harusnya Ibu datang beberapa bulan sebelumnya dan membawamu tinggal di Jogja. Kita kumpul di sana sama-sama, ibu masih sanggup mengurusimu dan bayimu." Annisa tak kuasa menahan tangis kesedihannya melihat kondisi putri sulungnya.
Tak lama kemudian isak tangis kesedihan itu berubah menjadi tangis bahagia, saat terdengar suara tangis dari bayi mungil yang baru saja keluar dari rahim Aurora.
Aurora dan Annisa tersenyum melihat bayi kecilnya bergerak, namun sayangnya senyum itu seketika sirna ketika bayinya harus di bawa ke NICU (neonatal intensive care unit) untuk mendapatkan perawatan intensif dikarenakan lahir prematur dengan berat 2Kg, sementara Aurora di bawa ke ruang rawat inap setelah ia selesai menjalani operasi.