
Buntut dari pelaporannya terhadap Syeira, membuat Sekala hampir delapan jam berada di kantor polisi, memberikan keterangannya terkait dengan pelaporannya.
"Wanita sialan, menyusahkan saja." Sekala memukul stir kemudi, meluapkan kekesalannya.
Entahlah, Sekala tak merasakan cemburu saat dirinya memergoki Syeira bercumbu dengan pria lain, hanya saja dirinya murka lantaran selama ini dirinya hanya di manfaatkan oleh Syeira.
Syeira bukan hanya memanfaatkan dirinya saja, tapi membuatnya kehilangan perusahaan, nyaris menghancurkan rumah tangganya dan mencelakai istrinya.
"Aurora..." perasaan khawatir kembali menyelimuti dirinya, ia pun bergegas menyalakan mesin mobilnya dan pergi ke rumah sakit. "Boo, apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan anak kita?" Sekala merogoh handphonenya di saku celananya, ia ingin sekali mendengar suara lembut istrinya.
Namun sayangnya ia lupa mencharger, sehingga handphonenya tak dapat ia gunakan. "Ah sial." Sekala menarik kabel charger lalu memasangkannya di handphonenya. Ia membiarkan batre handphoenya terisi, sementara dirinya kembali memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi hingga ia tiba di rumah sakit.
Begitu ia samapai di rumah sakit, ia langsung berlari menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan istri dan anaknya. Alangkah terkejutnya Sekala, ketika petugas mengatakan jika Aurora dan bayinya sudah tidak di rawat di rumah sakit tersebut.
Menurut catatan, Aurora dan bayinya telah keluar dari rumah sakit sejak tiga jam yang lalu.
'Kamu di mana Boo? Apa kamu sudah pulang?' gumamnya.
"Terima kasih"
Sekala kembali berlari menuju mobilnya, ia menarik handphonenya yang masih di charger.
"Ayo angkat sayang."
Pesan suara.
Sial! Perut Sekala melilit mendengar suara yang mengarahkannya untuk meninggalkan pesan.
Segera Sekala memutus sambungan dan menelepon lagi, sembari menyalakan mesin mobilnya dan perlahan mengemudikan kendaraannya.
Satu deringan lagi. Sekala menyelipkan perangkat handsfree ke telinga. Namu lagi dan lagi ia mendengar suara yang mengarahkannya untuk meninggalkan pesan.
Sekala sudah tidak tahan lagi ia ingin segera bertemu istri dan anaknya memastikan keduanya baik- baik saja, serta ia ingin memeluk Aurora sambil menjelaskan. Ia ingin mendekap Aurora dengan erat karena, Sekala tidak ingin Aurora salah paham kepadanya.
Sekala menarik kabel ponsel dari telinganya dan melemparkannya ke kursi kosong di samping, ia kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya, berharap istri dan anaknya sudah pulang.
Setibanya di kediamannya ia di kejutkan dengan plang bertuliskan 'Rumah Ini Milik PT. X' yang di mana nama perusahaan yang dulu pernah menjadi miliknya.
Sekala kembali meraih handphonenya, ia menghubungi Aksara untuk meminta kejelasan mengapa rumah ostrinya kini telah menjadi milik perusahaan.
"Aurora, yang memberikan sertifikat rumah itu sebagai jaminan sebelum loe melunasi semua hutang-hutang loe." jawab Aksara dari seberang telepon.
"Lalu sekarang istri dan anak gue di mana?" tanya Sekala.
"Bukannya masih di rumah sakit? Gue sama bini gue sudah jenguk dan kebetulan nyokap loe juga ke sana. Karena tadi nyokap loe buat kegaduhan, makanya bini gue ngajak nyokap loe balik."
"Kegaduhan?"
"Ya, nyokap loe sempet bilang kalau Aurora, tidak bisa menjaga kandungannya sampai anaknya lahir prematur."
Sekala memegang kepalanya yang terasa sangat berat, ia tak menyangka jika mamanya tega mengatakan hal itu terhadap istrinya, padahal hal ini terjadi bukanlah kesalahan Aurora.
"Aurora sudah tidak ada di rumah sakit, dan sepertinya ia juga tidak ada di rumah. Gue udah coba berkali-kali menghubunginya, tapi nomornya udah enggak aktiv. Gue mau minta tolong sama loe, please tanyain sama bini loe di mana Aurora?" pinta Sekala memelas. "Gue mau balik sama dia, gue enggak mau kehilangan anak dan bini gue. Please..."
"Gue enggak yakin Kara tahu, tapi nanti akan gue tanyain." ucap Aksara.
"Thanks ya." Sekala mematikan handphonenya, kemudian memasukannya ke dalam sakunya.
Di antara tumpukan koper dan tas-tas yang berjejer rapih terselip sepucuk surat berwarna putih bersih, perlahan Sekala membukanya.
Selamat berbahagia dengan gadis yang selalu bertahta di hatimu.
Tak akan ada lagi aku yang mengganggu harimu,
Tak akan ada lagi aku yang selalu membuatmu kesal dengan ragam pertanyaanku mengenai kegiatanmu, ajakan berdiskusi hingga ketidak sesuaian atas keinginanmu.
Tak akan ada lagi aku yang selalu memintamu mengucapkan kata-kata sebelum kita istirahat.
Aku tak pernah berhenti mencintaimu,
Aku hanya menggantinya lewatnya doa,
Karena,
Betapa aku memahami,
Doa adalah cara mencintai
Hal-hal yang tak termiliki.
Aku ikhlas melepasmu bersamanya,
Seiklahas awan mencintai hujan.
Sekala menutup kembali surat yang di tulis Aurora untuknya. "Enggak Aurora, enggak... Kamu enggak boleh pergi." ia bergegas kembali ke dalam mobilnya dan mengemudikannya menuju kedai.
Nampak orang lalu-lalang di kedai milik istrinya, setelah sukses mengisi event kuliner di Kuningan, kedai steak Aurora kian ramai di serbu penikmat steak. Bukan hanya di kedai milik Aurora saja yang ramai, namun kedai milik mitra yang bekerja sama dengan Aurora pun semakin ramai.
Sekala turun dari mobilnya, kemudian menghampiri Bik Siti yangbtengah sibuk memenaggang daging.
"Bik, Ibu kemana?" tanya Sekala.
"Mohon maaf Pak Sekala, saya sama sekali tidak tahu. Saya hanya di minta untuk membereskan barang-barang Bu Aurora dan Pak Sekala. Kemudian tadi ada orang yang membawa barang-barang Bu Aurora dan adek Sagara, sementara barang-barang Pak Sekala masih di teras."
'Sagara? Apa itu nama anakku?' batin Sekala 'Tapi kalian sekarang di mana?'
"Bik Siti tidak mungkin tidak tahu, ayo katakan dimana istri dan anakku?" tanya Sekala memaksa.
"Demi Allah, saya tidak tahu Bu Aurora di mana. Semua laporan penjualan harian, Ani yang kirimkan ke Bu Aurora melalui email." terang Bik Siti. "Maaf Pak Sekala saya sedang banyak pekerjaan. Permisi." Bik Siti pun berlalu meninggalkan Sekala yang masih berdiri di depan panggangan, sembari menghubungi beberapa teman baik Aurora, salah satunya Adinda.
"Sial!! Pada kemana sih teman-temannya Aurora?" Sekala nampak sangat kesal karena tak ada satu pun yang mengangkat panggilannya.
Tak punya pilihan lain, ia pun menurunkan gengngsinya untuk menghubungi Sky, namun belum sempat ia menghubungi Sky, panggilan dari Amanda, adik kandungnya terlebih dahulu masuk ke handphonenya.
"Ada apa, Dek?" tanya Sekala.
"Ma-mama Mas... Hiks..." ucap Amanda terbata-bata menahan tangisnya.
"Kok kamu nangis, memangnya Mama kenapa?" tanya Sekala bingung.
"Mama masuk rumah sakit Mas... Huhu...."
"Ya sudah Mas, akan segera ke sana. Kamu jangan kemana-mana ya."
Mendengar ibundanya masuk rumah sakit, Sekala pun mematikan handphonenya, ia berlari kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi menuju rumah sakit tempat ibundanya di rawat.