
Satu minggu kemudian, Aurora dan Sekala mendapat kabar bahagia dari Aisyah dan Adrian, keduanya sepakat untuk kembali bersama.
"Cantik sekali Bundanya Saga hari ini" puji Sekala, sembari menggendong putranya ia mendekat ke arah Aurora yang sedari tadi masih berdiri di depan cermin merapihkan hijabnya.
"Memangnya kemarin-kemarin aku tidak cantik ya? Pasti karena aku masih gembrot."
"Cantik sayang, kamu selalu cantik setiap hari. Hanya saja aku pangling melihatmu menggunakan kebaya ini." Sekala meraih pinggang Aurora dari samping, kemudian ia mencium pipinya.
"Hari ini kan hari special mama dan papa, jadi aku mau tampil rapih." Aurora menyisipkan bros kecil di pundaknya. "Sudah yuk nanti kita telat."
"Yuk." Sekala menggandeng tangan Aurora dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggendong Sagara.
Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti proses ijab, yang hanya di hadiri oleh keluarga inti. Sebagai anak bungsu, Amanda tak hentinya menitikan air mata bahagianya melihat kedua orang tuanya kembali bersatu.
Begitu selesai prosesi akad nikah, Aurora dan Sekala memberikan ucapan selamat secara bergantian.
"Selamat ya Mah." Sekala berjongkok memeluk dan mencium ibunya, bergantian dengan Aurora dan Amanda.
"Iiih kalian ini apaan sih, pada pake kebaya gini, belum lagi ini apa lagi pake acara di dekor segala." protes Aisyah, matanya bergerilya melihat setiap sudut ruang tamunya yang di hiasi oleh dekorasi bunga-bunga segar dengan dominan warna putih. "Mama malu tahu!"
"Enggak apa-apa mah, sebagai wujud rasa bahagia kami atas rujuknya mama dan papa." jawab Sekala.
"Iya tapi mama malu Sekala, kitakan sudah nenek-nenek dan kakek-kakek."
"Meski sudah nenek-nenek, mama tetap cantik kok." goda Amanda, ia menoleh ke arah Adrian. "Iya enggak pah?"
Adrian tersenyum menganggukan kepalanya. "Iya, Anak dan menantu papa juga cantik-cantik kok. Terima kasih ya, kalian semua sudah mempersiapkan ini semua untuk kami."
"Sama-sama pah, kami ada satu hadiah untuk mama dan papa." Sekala memberikan tiket second honeymoon ke Bali kepada papanya. "Ajak mama berlibur" bisik Sekala.
"Sekali lagi terima kasih ya nak, kita makan dulu yuk." ajak Adrian.
Sekala melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 11.00 siang "Maaf pah, aku sama Aurora mau langsung ke pengadilan negeri, takut telat." tolak Sekala dengan halus, ia beralih ke adikny. "Dek, boleh titip Saga sebentar?" tanya Sekala.
"Tentu boleh dong Mas, asalkan stok ASIPnya saja yang banyak." sahut Amanda, dengan senang hati ia langsung mengambil Sagara dari gendongan kakak iparnya.
"ASIPnya sudah aku masukan ke dalam kulkas, nanti tinggal di hangatkan saja kalau Saga mau menyusu. Keperluan lainnya seperti baju, celana, popok dan lain-lain ada di tas itu." Aurora menunjuk ke arah tas milik Sagara yang ia letakan di kursi ruang tamu.
"Siap, serahkan semuanya sama Manda!!" ucap Amanda, ia beralih ke keponakannya. "Hari ini main sama aunty ya tampan... Mmuah.. Mmuahh.." Amanda menciumi pipi chubby Sagara yang sangat menggemaskan sembari membawanya ke kamarnya.
"Ya sudah, kalau begitu kita permisi dulu ya Mah, Pah. Kita sudah di tunggu oleh pengacara kita." Sekala mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian dengan Aurora.
"Nanti pengacaraku akan memberitahu jadwalnya."
"Oh ya sudah kalian hati-hati ya."
Sesaat sebelum Aurora beranjak meninggalkan kediaman orang tua Sekala, Aisyah meraih tangan Aurora. "Ra, yang kuat ya. Kita semua akan selalu mensupportmu," ucap Aisyah.
Datang ke persidangan sebagai saksi, tentu akan mengingatkan kembali kejadian malam itu dan mengingatkan kembali akan perselingkuhan yang di lakukan oleh Sekala, hal itu tentu akan membuat hati Aurora kembali sakit. Untuk itulah Aisyah memberikan support kepada Aurora, agar ia bisa kuat dan sabar melewati ini, selain itu Aisyah khawatir Aurora akan goyah dan kembali pergi meninggalkan putranya.
"Aku baik-baik saja Mah, doakan masalah ini cepat selesai. Aku dan Mas Kala pergi dulu ya Mah, Pah. Assalamualaikum." Aurora menggandeng tangan suaminya, keduanya pergi meninggalkan kediaman orang tua Sekala.
Persidangan terpaksa di tunda karena Syeira bersikap tak kooperatif, ia terus berteriak dan memaki Aurora saat Aurora memberikan kesaksiannya.
"Jangan dengarkan dia Pak Hakim, wanita itu pembohong dan penipu. Dia yang terlebih dahulu menjambakku dan kemudian ia berpura-pura terjatuh." teriaknya di ruang di persidangan, matanya menatap tajam ke arah Aurora. "Wanita sialan."
"Tenanglah Bu Syeira, kalau anda seperti ini terus persidangan kasus anda tidak akan selesai-selesai." ucap kuasa hukum yang membantu Syeira, ia tampak frustasi melihat pola tingkah laku clientnya yang sama sekali tidak bisa di ajak kerja sama.
Tanpa memperdulikan ucapan kuasa hukumnya, Syeira beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan mendekat ke arah Sekala yang duduk di bangku peserta sidang. "Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, aku akan menyebarkan foto-foto dan video saat kita bercinta!" ancam Syeira.
"Syeira, kamu jangan gila ya. Tolong hentikan ini semua!!" Sekala nampak sangat panik, ia tak ingin membuat hati istrinya sakit dengan melihat foto atau video tersebut.
"Iya aku gila karena kamu menjebloskan aku ke penjara dan lebih memilih wanita sialan itu. Aku tidak akan membiarkan kamu dan wanita sialan itu bahagia di atas penderitaanku!!!" bentak Syeira.
"Kamu berada di sini, itu semua karena perbuatanmu sendiri!!"
Dari kursi tempat dirinya memberikan kesaksian, Aurora bergegas menghampiri suaminya, ia menggenggam erat tangan Sekala. "Kamu tahukan UU ITE? Apa kamu mau lebih lama lagi tinggal di penjara? Belum lagi di tambah dengan kasus penipuan yang kau lakukan terhadap ibu mertuaku." ucap Aurora.
"Dasar wanita sialan!" Syeira hendak mencakar wajah Aurora, namun karena adanya skat pembatas, dan Sekala dengan reflek menarik istrinya mundur sehingga tangan Syeira tidak sampai mengenai Aurora.
"Foto dan video yang kamu miliki bersama suamiku, itu hanyalah masa lalu. Aku sudah ikhlas memaafkannya, jadi tidak akan berpengaruh apa pun terhadap rumah tangga kami. Dari pada kamu sibuk memikirkan cara menghancurkan rumah tangga kami, sebaiknya kamu pikirkan masa depanmu, pikirkan ibumu yang kini terbaring di rumah sakit karena memikirkanmu, kamu adalah satu-satunya harapan yang beliau miliki."
Beberapa hari yang lalu, Aurora mendapatkan kabar jika Rachel, ibunda Syeira masuk rumah sakit. Ia meminta suaminya untuk mengantarnya menjenguk Rachel, awalnya Sekala sempat menolaknya namun karena Aurora terus memaksa akhirnya Sekala mau menemaninya.
Di rumah sakit, Rachel memohon hingga bersimpuh di hadapan Aurora, agar Aurora memberikan keringanan atas kasus yang menimpa putrinya. Aurora memang merasa sangat iba melihat kondisi Rachel, namun Aurora tak ingin memberikan keringanan apa pun untuk Syeira, ia menyerahkan semua prosesnya pada pengadilan.
Yang bisa ia lakukan hanyalah mensupport untuk kesembuhan Rachel dengan rutin menjenguknya, dan meyakinkannya bahwa hukuman yang nantinya di terima Syeira bisa menjadi pembelajaran bagi Syeira untuk menjadi lebih baik.
"Kita pulang saja sayang." Sekala mengajak istrinya pulang karena ia tak ingin Syeira kembali berbuat nekat dengan kembali mencelakai Aurora, lagi pula persidangan di tunda hingga pekan depan.