Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 14



"Morning istriku sayang... Cup.." Sekala memberikan kecupan selamat pagi kepada Aurora yang baru saja membuka matanya.


Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya, membuat Aurora terkejut "Astagfirullahaladzim, sudah jam 9." Ia merotasikan matanya ke jam weker digital yang berada di meja samping tempat tidurnya. "Maaf ya Mas Sekala aku baru bangun, tadi habis shalat subuh aku ketiduran." Ia terlihat panik karena biasanya jam segini Aurora sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya dan membantu asistennya menyiapkan bahan-bahan untuk berjualan.


"Sebentar ya Mas, aku siapin sarapan dulu. Mas mau makan apa?" Aurora bergegas beranjak dari tempat tidurnya, namun dengan cepat Sekala menahannya "Tidak usah sayang, aku sudah membuatkan sarapan untukmu, tadi aku juga sudah suruh Bik Siti untuk terlebih dahulu ke toko, tapi tadi kayanya ada cewek yang bantuin Bik Siti?" ucap Sekala dengan ragu-ragu karena ia belum mengenal Ani.


"Oh itu, namanya Ani karyawan baruku." Aurora menghembuskan nafas leganya, asisten yang di tawarkan oleh ibundanya Sky ternyata sangat membantunya. "Terima kasih banyak ya Mas."


"Terima kasih untuk apa?" Sekala menangkup wajah Aurora "Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah jadi istri yang terbaik. Maafin aku sayang, kemaren-kemaren sikapku kurang baik terhadapmu. Aku benar-benar stres karena kantor sedang sepi project sementara biaya operasional terus berjalan. Tapi aku janji padamu, aku tidak akan melakukan hal itu lagi padamu." Sekala mengecup kening Aurora kemudian membawanya kedalam pelukannya.


Aurora menganggukan kepalanya "Enggak apa-apa kok Mas, aku mengerti dengan beban pekerjaan yang kau jalani." ucap Aurora, ia tenggelam dalam pelukan hangat suaminya.


"Ya sudah kamu siap-siap dulu, aku tunggu di ruang makan ya, habis itu aku antar kamu ke ruko sekalian aku ke kantor" perlahan Sekala melepaskan pelukannya, kemudian beranjak dari tempat tidurnya.


"Tunggu sebentar ya Mas"


Sekala menganggukan kepalanya, sebari keluar dari kamarnya.



"Tadi malam aku sudah menyempurnakan proposal businessmu, jadi hari ini kamu sudah bisa kirim file itu ke calon mitramu." ucap Sekala sambil menepikan mobilnya di depan ruko. "Good luck ya sayang."


"Terima kasih banyak ya Mas, atas semua bantuannya."


"Sama-sama, tapi sebagai imbalannya nanti siang kamu harus temenin aku ke mall. Ada beberapa barang yang ingin aku beli, sekalian jalan-jalan denganmu."


"Loh bukannya Mas Kala mau ke kantor?"


"Aku ke kantor cuma sebentar, hanya beresin berkas yang mau aku bawa. Setelah itu aku jemput kamu, kamu mau kan?"


Sembari tersenyum, Aurora menganggukan kepalanya, "Tentu saja sayang, aku mau." ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagiannya, sudah lama sekali rasanya ia tidak keluar bersama suaminya.


"Ya sudah aku turun dulu ya Mas, Assalamualaikum" Aurora mencium tangan Sekala, kemudian ia membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil suaminya.


"Walaikumsalam." jawab Sekala, ia membuka kaca mobilnya dan memanggil istrinya kembali "Boo jangan dengan dekat-dekat dengan Sky ya."


"Sky?" Aurora mengerutkan keningnya, tak lama kemudian ia tertawa sambil berjalan kembali mendekat ke arah mobil suaminya "Hahaha.. rupanya suamiku ini cemburu pada Sky? Mas kan tahu jika aku dan dia hanya berteman saja."


"Iya tapi, jangan terlalu dekat dengannya. Aku tidak suka!" Tak bisa ia menafikan rasa ketidak sukaannya pada pria yang dekat dengan Aurora, setidaknya saat ini Aurora masih menjadi istrinya jadi tidak boleh dekat dengan siapa pun selain dirinya.


"I'm yours baby." Aurora mendaratkan kecupan manisnya di bibir Sekala, kemudian ia melambaikan tangannya saat mobil suaminya pergi.



"Gue enggak ada waktu buat bahas itu sekarang, gue ke sini cuma mau cairin dana operasional kantor." ia memberikan cek dan meminta Aksara untuk menandatanganinya.


"Hah? Loe mau ngambil dana kantor lagi? Udah gila ya loe?" protes Aksara, ia menolak dengan tegas permintaan Sekala.


"Please, gue butuh dana secepatnya. Orang tua Aurora sedang sakit parah. Gue janji, lusa akan gue kembaliin semuanya. Semuanya termasuk dana project Pak Sinaga yang kemaren gue pinjem." Sekala memasang wajah memelasnya, berharap Aksara mempercayai ucapannya dan menuruti permintaannya "Please..."


Aksara berfikir sejenak, bagaimana pun Aurora adalah sahabat sekaligus saudara istrinya, ia kenal betul jika Aurora wanita yang sangat baik terhadap istrinya. Ia menghela nafas beratnya "Bailkah, tapi gue pegang omongan loe. Lusa sudah harus loe balikin." ucap Aksara.


"Iya gue janji!!"


Dengan berat hati Aksara menandatangani cek tersebut.


"Thanks ya." ucap Sekala, setelah itu merapihkan dokomen pribadinya "Gue mau langsung ke rumah sakit" Sekala menepuk bahu Aksara kemudian ia pergi meninggalkan kantornya, untuk memenuhi janjinya kepada Aurora mengajaknya berjalan-jalan sekaligus membeli beberapa pakaian hangat untuk dirinya.


Tin.. Tin...


Kurang dari satu jam Sekala tiba di depan ruko tempat istrinya berjualan. Melihat mobil suaminya sudah berada di depan rukonya, Aurora pun bergegas menghampiri dan masuk ke dalam mobil suaminya.


"Mas, kita ke bank dulu ya." pinta Aurora.


"Kenapa?"


"Internet banking, token dan mobile bankingku tiba-tiba saja ke blokir. Padahal tadi malam waktu aku transfer ke vendor paper bowl masih baik-baik saja, tapi tadi pagi aku mau transaksi semuanya ke blokir." ucap Aurora dengan panik.


Ya, setelah Sekala memindahkan saldo milik istrinya ke rekeningnya, ia sengaja logout kemudian login kembali dengan pin yang salah sebanyak tiga kali agar internet banking istrinya terblokir dengan sendirinya dan Aurora tidak dapat mengakses rekeningnya.


"Jam segini bank rame, aku sudah tidak ada waktu lagi jika harus mengantri. Nanti malam aku sudah harus packing dan paginya berangkat. Besok saja ya?"


"Tapi mas, aku mau membayar booth container, freezer, stok daging sapi, dan lain sebagainya. Mitra kerja samaku tadi langsung menyetujui proposal yang aku ajukan, bahkan ia langsung mengambil tiga paket usaha sekaligus."


Aurora tidak menggunakan ATMnya karena limit transfer pada ATM sangat terbatas, berbeda halnya dengan internet banking yang bisa transfer mencapai lima ratus juta perhari.


"Kamu hubungi saja semua vendormu, katakan jika hari ini kamu belum bisa membayarnya." ucap Sekala ia mencoba memberikan solusi kepada istrinya "Ra, aku kan mau pergi selama dua minggu, bisa enggak hari ini aja kamu enggak kerja dulu, aku ingin quality time bersamamu." Sekala meraih tangan Aurora dan menggenggamnya.


Aurora menganggukan kepalanya "Iya Mas, sebentar ya aku telepon semua vendor-vendorku dulu." ucap Aurora.