
Pagi harinya, Wiwit, adik kandung Aurora. Di kejutkan dengan keberadaan Sekala di depan kediamannya. "Mas Sekala..."
"Wit, aku ingin bertemu dengan mbamu." ucap Sekala.
Sebenarnya ia sudah memprediksikan jika suami kakaknya akan kemari, namun tetap saja ia merasa terkejut dengan kedatangan Sekala, ia juga merasa marah serta jengkel melihat kakak iparnya, setelah ia mendengar cerita perselingkuhan yang di lakukan kakak iparnya.
"Mba Aurora tidak ada di sini!" ucapnya dengan tegas.
"Jangan bohong kamu Wit, aku tahu beberapa hari yang lalu Ibu datang ke Jakarta, jadi sudah pasti Ibu membawa Mba mu pulang ke mari."
"Kalau Mas Sekala tidak percaya, Mas silahkan cari saja di dalam. Aku mau ke kampus, permisi." Wiwit melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sekala, namun dengan cepat Sekala menahannya pergi.
"Aku yakin kamu tahu di mana Mba Aurora berada, please kasih tahu Mas!!" pinta Sekala memelas.
Wiwit menghela nafas beratnya. 'Maksa banget sih ni orang' batinnya. "Aku benar-benar tidak tahu Mba Aurora ada di mana. Mas ini kan suaminya, mengapa Mas tanya denganku? Justru seharusnya aku yang tanya Mba Aurora di mana? Bagaimana dengan keponakanku?" Wiwit mulai kesal dengan Sekala.
"Kalau aku tahu, aku tidak akan jauh-jauh kemari mencari dan bertanya padamu." ucap Sekala dengan menaikan nada bicaranya.
Habis sudah kesabaran Wiwit menghadapi kakak iparnya. "Pantes di tinggalin Mba Aurora. Sudah galak, tukang selingkuh lagi." Wiwit menghempaskan tangan Sekala dari bahunya kemudian ia berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di halaman rumahnya.
Tanpa menoleh ke arah Sekala yang masih berada di teras rumahnya, Wiwit pun pergi meninggalkan Sekala.
Dalam perjalannnya menuju kampus, Wiwit merasa seperti ada seseorang yang tengah membututinya dari belakang. "Masih belum pergi juga ternyata?" gumamnya, ia terus melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan kakak iparnya yang terus mengikutinya.
Tak ada yang perlu ia risaukan karena tujuannya pagi itu adalah ke kampus, menyelesaikan ujian semesternya.
"Selamat menunggu ya, kakak ipar yang sebentar lagi bukan kakak iparku lagi" ejek Wiwit, tersenyum sini pada spion motornya, ia pun memarkirkan sepeda motornya di parkirkan kemudian ia masuk ke dalam kampus menyelesaikan ujiannya.
"Sial, ternyata dia ke kampus. Tapi memang sepertinya Aurora tidak ada di Jogja." Sekala memegang kepalanya yang mulai terasa pusing, ia hampir putus asa mencari keberadaan istri dan anaknya.
Drrrt... Drrrt...
Getar handphone di sakunya, mengalihkan sejenak pikirannya dari Aurora.
"Ada apa Dek?"
"Ma-ma hiks..." terdengar suara tangis Amanda dari seberang telepon.
"Ada apa Dek? Mama kenapa?" tanya Sekala panik.
"Ma-mama masuk ruang ICU huhu......"
"Kamu yang sabar ya Dek, Mas akan segera balik ke Jakarta. Kabarin Mas kalau terjadi apa-apa." ucap Sekala, ia langsung meminta supir taxi yang mengantarnya, kembali mengantarnya ke bandara.
'Setelah kondisi mama membaik, aku akan kemari lagi mencarimu Ra.'
Setelah menempuh perjalanan lebih dari tujuh jam, lewat perjalanan darat dengan menggunakan mobil karavan, akhirnya Aurora dan bayinya tiba di kota Magelang.
Sudah lama sekali rasanya ia tak menginjakkan kakinya di rumah Eyangnya, padahal dulu sewaktu Alm. Eyangnya masih hidup, ia selalu berkunjung kemari. Namun setelah Eyang putri dan Eyang kakungnya wafat, hanya Ibundanya saja yang sesekali berkunjung ke rumah Eyang, untuk mengecek kondisi rumah.
Annisa tak sampai hati, untuk menjual rumah masa kecilnya yang penuh dengan kenangan manis bersama orang tua angkatnya. Ya, Annisa hanya seorang anak panti asuhan yang ia sendiri tidak tahu di mana kedua orang tua kandungnya, hingga suatu hari sepasang suami istri yang telah lama menginginkan seorang anak, mengadopsi dirinya.
Setelah menikah orang tuanya menghadiahi sebuah rumah sederhana di wilayah Sleman-Yogyakarta, dekat dengan tempat kerja suaminya. Sayangnya pernikahnnya tak berlangsung lama, saat hamil anak ke duanya, Annisa mendapati suaminya tidur dengan wanita lain.
Kemandirian, serta kerendahan hati Ibundanya itulah yang menurun pada Aurora. Meski lahir dari keluarga yang cukup berada, selepas kuliah ia memilih mengadu nasib di Jakarta, dan tak pernah sekali pun ia meminta uang kepada Ibundanya, bahkan ketika ia sedang menghadapai masalah keuangan, ia memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, ia tak ingin menjadi beban ibundanya.
Aroma segelas teh hangat di tambah sepotong kue lapis buatan eyang putrinya yang selalu Aurora rindukan ketika ia bekunjung ke Magelang.
"Rumahnya jauh lebih asri dari yang ada di foto." ucap Sky, ia membatu Aurora membawakan barang-barangnya.
"Welcome to Magelang, keponakan Aunty yang paling tampan." Sambut Wiwit dengan riang, ia sudah tidak sabar menggendong keponakannya. "Ibu, Adek mau gendong adek bayinya." pinta Wiwit.
"Sudah jadi Aunty masih mau di panggil Adek." Dengan hati-hati Annisa memberikan saga kepada Wiwit. "Hati-hati ya, ini lehernya di pegangin." ucap Annisa, kemudian ia beralih ke Sky. "Masuk yuk Sky, kemarin Ibu sudah suruh orang nyiapin kamar untukmu juga." ajak Annisa.
"Owala, ada Abang juga." ucap Wiwit, sudah lama sekali ia tak jumpa dengan Sky. "Abang kemana aja? Enggak lupa kan sama Adek?" sapa Wiwit.
"Ya enggak dong, mana bisa Abang lupa sama adek kesayangan Abang." Sky mengacak-acak rambut Wiwit, hal yang selalu ia lakukan saat bertemu dengan Wiwit.
"Iiih, enggak berubah-berubah nih orang." ucap Wiwit kesal, ia meraih tangan Sky dari kepalanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap menggendong Saga. "Abang sakit? Kok panas sekali tangannya?" ia kembali memegang tangan Sky.
"Enggak, cuma kecapean aja, habis perjalanan jauh." ucap Sky dengan santai, agar tidak ada yang mencemaskan dirinya.
"Iya wajahmu pucat sekali Sky, kamu istirahat ya!! Yuk Ibu antar ke kamarmu." ajak Annisa.
"Jagain Saga sebentar ya" ucap Aurora, sembari berjalan ke dapur membuatkan teh hangat untuk Sky.
"Di minum dulu Sky, agar tubuhmu hangat." Aurora menaruhnya di meja kecil di samping tempat tidur Sky.
"Maaf ya, aku jadi ngerepotin. Aku hanya kecapean aja kok." ucap Sky.
"Kamu sama sekali enggak ngerepotin." Aurora mengambilkan selimut untuk Sky dan membatunya memasangkan di tubuhnya. "Aku tinggal sebentar ya, aku buatin bubur dan sup untukmu."
"Jangan, Ra!!" Sky menahan tangan Aurora.
Sesaat Aurora menatap Sky, kemudian ia menepuk tangan Sky dengan lembut sembari melepaskannya. "Enggak apa-apa cuma sebentar aja kok, aku tinggal dulu ya."
Setelah makan malam, Aurora kembali meninggalkan Sky di kamarnya. Ia kembali ke kamarnya untuk memompa ASI yang sudah mulai merembes.
"Sky sudah istirahat?" tanya Annisa.
"Sudah Bu, habis minum obat tadi langsung tidur." jawab Aurora.
"Setelah resmi bercerai nanti, lebih baik Mba Aurora menikah saja dengan Bang Sky, keliatannnya dia masih jomblo dan sangat menyayangi Mba dan juga Saga." sambung Wiwit.
"Hussst ngaco kamu, di luaran sana masih banyak gadis cantik, single yang ngejar-ngejar dia, untuk apa dia menikah dengan wanita yang sudah punya anak?"
Untuk saat ini Aurora memang tak lagi memikirkan soal asmaranya, kalau pun suatu saat ia menikah lagi Aurora berharap bisa mendapatkan yang sepadan dengannya, dan Sky bisa menikah dengan wanita yang jauh lebih baik darinya.
"Sudah sana jangan mengganggu, sudah saatnya Saga tidur." Aurora mengambil putranya dari tangan Wiwit kemudian ia menyusuinya hingga putra tertidur dengan lelap.
Pukul 01.00 Malam, setelah mengganti popok Saga. Aurora kembali ke kamar Sky untuk mengecek suhu tubuhnya. "Pinjam dahinya sebentar ya." Aurora menyingkirkan rambut yang menutupi dahinya, kemudian ia mengarahkan termometer digital ke dahinya. "37.8°, sudah turun tapi masih agak demam. Mudah-mudahan besok pagi sudah lebih baik" gumam Aurora.
Saat Aurora hendak kembali ke kamarnya, Sky kembali memegang tangannya. "Aku sayang kamu, Aurora."
Aurora terdiam mendengar kalimat itu, ia menoleh ke arah Sky yang masih tertidur dengan lelap. "Cepat sembuh ya!" Aurora mengelus pipi Sky dengan lembut kemudian ia merapihkan selimut Sky dan barulah ia keluar dari kamar Sky.