
"Sebenarnya kita mau kemana sih mas?" tanya Aurora, ia melihat suaminya nampak sibuk membantu supirnya menurunkan koper-koper yang akan di bawanya. Sebenarnya sudah sejak malam tadi saat mereka berkemas, Aurora sangat penasaran kemana suaminya akan mengajaknya berlibur, namun Sekala tak kunjung memberitahu.
"Finlandia" jawab Sekala sembari menyusun koper-kopernya di troli.
"Hah? Daerah sana kan lagi musim dingin Mas!" Aurora sangat terkejut mendengar suaminya akan mengajaknya ke negara yang terletak di benua Eropa bagian utara, tadinya Aurora hanya mengira jika suaminya akan mengajak dirinya berlibur ke Jepang atau Korea.
"Sengaja, agar kamu memelukku sepanjang waktu hehe..." Sekala tersenyum nakal pada istrinya.
Aurora hanya bisa pasrah mengikuti kemana pun suaminya akan mengajaknya berlibur. "Aku bantu ya"
"Biar aku saja sayang, kamu pegang ini saja." Sekala menaruh tangan Aurora di lengannya. "Jangan di lepas ya!"
Aurora tersenyum menganggukan, ia semakin mempererat pegangannya dan menyenserkan kepalanya di bahu Sekala, keduanya berjalan beriringan menuju tempat check in bandara.
Butuh waktu sekitar 19 jam perjalanan, dengan satu kali transit di Istanbul untuk bisa tiba di Helsinki, ibu kota Finlandia. Perjalanan terasa sangat menyenangkan, keduanya layaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta, meski sesekali ada perasaan rindu yang terselip di benak Aurora terhadap putranya tercinta.
"Telepon saja Wiwit." ucap Sekala.
"Di Jakarta sudah tengah malam Mas, pasti anak kita sudah tidur."
"Ya sudah nanti jika di Jakarta sudah pagi, kita telepon anak kita. Sekarang kita nikmati liburan kita." Sekala mengecup pipi Aurora yang memerah terkena hawa dingin kota Helsinki.
Tiba di Helsinki, Sekala mengajak Aurora mengunjungi Gereja Temppleliaukio (Rock Church) yang merupakan gereja yang dibangun didalam batu karang.
"Kita lihat dari luar saja ya, jangan masuk!" ucap Sekala.
Aurora menganggukan kepala, ia memotret dari kejauhan gereja yang dirancang oleh arsitek dan saudara Timo dan Tuomo Suomalainen dan dibuka pada tahun 1969. Gereja tersebut di bangun langsung menjadi batu yang kokoh, juga dikenal sebagai Gereja Batu.
Tak hanya memotret keindahan sekelilingnya, beberapa kali Aurora juga nampak memotret wajah tampan suaminya.
"Hayo kamu lagi ngapain?" Sekala memergoki istrinya diam-diam memotret dirinya.
"Ih Mas Kala GR.." Aurora mencoba mengelak, ia nampak sangat malu kedapatan memotret suaminya diam-diam. "Habis Mas Kala tampan sih kalau di kamera."
"Ya baiklah jika hanya tampan di kamera, setidaknya aku punya sisi ketampanan." Sekala menggandeng tangan Aurora untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Rovaniemi, merka berdua bermalam di kereta (overnight train).
Di dalam kereta, Aurora menyempatkan untuk membuka handphone bisnisnya, untuk melihat email serta pesan-pesan yang masuk baik itu dari karyawannya maupun dari vendornya. Dari banyaknya pesan yang masuk, yang paling menarik perhatian Aurora adalah pesan dari ibunda Syeira, yang mengabarkan jika saat ini putrinya tengah kritis sebab di keroyok oleh teman satu selnya karena Syeira telah mencuri uang mereka.
"Are you okay baby?" tanya Sekala, ia melihat perubahan raut wajah istrinya.
Tanpa mengatakan apa pun kepada suaminya, Aurora memberikan handphonenya kepada Sekala, agar Sekala membaca sendiri pesan yang masuk dari ibunda Syeira.
"Boo, ini bukan tanggung jawab kita. Dia sudah dewasa jadi seharusnya sudah tahu konsekuensi dari apa yang di perbuatnya."
"Aku hanya merasa kasihan saja padanya, mau bagaimana pun ia pernah menjadi temanku. Tadinya aku harap dengan ia masuk penjara bisa menjadi pembelajaran untuknya, tapi sayangnya ia sama sekali tak pernah belajar dari kejadian itu."
Teman? Bagaimana mungkin istrinya masih menganggapnya teman padahal Syeira telah menyakitinya, Sekala mendekap erat tubuh Aurora. "Kita doakan saja yang terbaik untuknya. Sekarang istirahatlah, nanti aku bangunkan jika sudah sampai."
Meski di atas terdapat tempat tidur kosong, Sekala enggan mengunakannya, ia memilih untuk tidur bersama istrinya.
Tiba di Rovaniemi, Sekala langsung mengajak istrinya untuk mengunjungi Reindeer Farm yang terkenal akan peternakan rusa kutub dan berkesempatan untuk menikmati Reindeer Sledge Riding berseluncur di atas salju dengan ditarik oleh rusa bertanduk panjang.
"Oh my God, kita naik ini sayang?" Aurora menunjuk ke salah satu rusa yang siap mengajaknya berseluncur.
"Ayo naiklah, ada aku yang menjagamu." Sekala membantu Aurora naik ke atas kereta. Di atas kereta, Aurora berpegangan erat pada lengan suaminya.
"Iiih Mas Kala ini benar-benar menyebalkan." kesal di ledek terus oleh suaminya ia mendorong tubuh Sekala menjauh darinya kemudian melempar bola salju ke tubuh Sekala.
Sekala semakin tertawa melihat tingkah Aurora, ia kembali mendekati Aurora dan memeluknya erat. "Tapi sayangkan sama aku?"
Aurora tak menjawab pertanyaan suaminya, ia menikmati dekapan hangat tubuh Sekala.
Puas bermain bola salju, Sekala mengajak Aurora mengunjungi Santa Claus Village. Di sini Aurora dapat menyaksikan ruang kerja Santa Claus, kantor posnya yang sibuk melayani surat anak-anak di seluruh dunia, tak ketinggalan Aurora mengirimkan kartu pos yang dicap khusus kepada seluruh teman dan keluarganya.
Selain mengirimkan kartu pos kepada seluruh teman dan keluarganya, Aurora pun berbelanja banyak oleh-oleh di toko souvenir.
Sekala tersenyum melihat istrinya sibuk memilih beraneka macam souvenir, ia teringat ketika dulu ia jarang memberinya nafkah kepada istrinya, semua usahanya terasa sangat sulit, bahkan project yang sudah di depan mata saja bisa hilang begitu saja, namun kini ketika justru ia memberikan semua yang ia miliki kepada Aurora semuanya terasa sangat mudah. Aurora mengembalikan semua yang ia berikan secara utuh (mengurusi semua keperluannya) lengkap dengan kebahagian dan ketenangan jiwa yang setiap harinya ia rasakan bersama keluarga kecilnya.
"Sudah selesai belanjanya? Ada lagi yang mau kamu beli?"
Aurora menggelengkan kepalanya."Sudah cukup."
"Aku mau mengajakmu ke seuatu tempat yang sangat indah." Sekala meraih barang belanjaan dari tangan istrinya, ia membantu Aurora memasukan semuanya ke dalam mobil dan mereka kembali menuju hotel.
Malam harinya Sekala mengajak Aurora, hunting berburu Aurora Borealis, dengan menggunakan Snow Mobile.
"Ini keren sekali Mas, aku benar-benar seperti berada di negeri dongeng." Aurora menggenggam erat tangan Sekala. "Terima kasih telah mengajakku kemari." ia tak bisa lagi berkata-kata melihat keindahan alam yang ada di depan matanya.
"Bagiku Aurora yang paling indah hanyalah dirimu, terima kasih sudah bersedia menjadi pasangan hidupku dan menerima semua kekuranganku. Selamat ulang tahun istriku sayang."
Di tengah indah cahaya Aurora yang bersinar terang di langit kutub utara, Sekala memberikan kado manis berupa cincin berlian pilihan yang ia pesan khusus untuk istrinya.
"Oh my God." Aurora semakin tak bisaa berkata-kata mendapatkan kejutan yang bertubi-tubi dari suaminya di hari lahirnya. "Thank you honey" Aurora memeluk dan mengecup bibir Sekala.
"Maaf ya aku belum bisa mengajak Saga, karena di sini terlalu dingin untuknya. Aku janji dua atau tiga tahun lagi kita akan kemari lagi, dengan formasi lengkap, bertiga."
"Bertiga? Aku rasa akan berempat karena sebentar lagi Mas Kala akan jadi bapak beranak dua." ucap Aurora, ia merogoh sakunya, mengambil selembar foto USG, kemudian ia berikan kepada Sekala.
"Kamu hamil, Boo?" mata Sekala berkaca-kaca melihat hasil USG tersebut, sudah lama ia menantikan istrinya kembali berbadan dua, ia ingin menebus semua kesalahan yang ia lakukan saat Aurora hamil anak pertamanya.
"Alhamdulillah, terima kasih sayang." Sekala memeluk Aurora dengan erat, dan menghujaninya kecupan di wajah cantiknya.
Selang beberapa menit kemudian rasa bahagia itu berubah menjadi rasa panik. "Boo, kandunganmu tidak apa-apa?" Sekala baru saja ingat jika tadi dirinya dan Aurora naik kereta rusa bertanduk.
"Kandunganku baik-baik saja sayang," Aurora menangkup wajah cemas suaminya dengan kedua tangannya.
"Janji ya, jangan ke dokter sendirian lagi. Aku juga ingin ikut melihat dan memantau perkembangan anak kita."
Aurora menganggukan kepalanya. "Iya aku janji sayang, kalau ini bukan baby girl?"
"Nanti kita bikin lagi." ucap Sekala sambil mengedipkan matanya. "Sudah malam, kita balik ke hotel yuk!" ia kembali menyalakan mesin snow mobile, dan membawa istrinya kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sebelum keesokan paginya mereka kembali ke Helsinki dan terbang kembali ke Jakarta.
Tiba di Helsniki, Aurora kembali mendapatkan pesan singkat dari ibunda Syeira yang mengabarkan bahwa putri semata wayangnya kini sudah kembali berpulang ke Rahmatullah.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, antar aku bertakziah ya Mas." pinta Aurora.
"Iya sayang, nanti akan aku temani. Chek in dulu yuk."
Sekala mengajak istrinya untuk check in bandara sebelum akhirnya mereka terbang ke tanah air, menyudahi liburan mereka.
...-SELESAI-...