
Sky duduk di samping tempat tidur Aurora, ia memandangi tubuh Aurora yang terbaring lemas di atas tempat tidur rumah sakit. "Ra, cepat sehat kembali ya." ucap Sky.
Setelah meninggalkan Aurora bersama Aksara, Sky kembali pada tumpukan pekerjaannya di ruang kerjanya yang berada di lantai empat tempat usaha gymnya. Sesaat ia menepikan semua berkas laporan yang berserakan di atas meja kerjanyanya, Sky memilih untuk menikmati secangkir kopi panas sambil memandangi lalu lalang para pelanggan steak Aurora.
Rasa penasaran Sky tak dapat ia bendung, ketika ia melihat Aurora keluar dari ruko secar tergesah-gesah dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Syk menaruh cangkir kopinya di atas meja kerjanya, kemudian ia berlari turun ke bawah dan langsung membuntuti Aurora dari belakang, hingga Aurora masuk ke dalam sebuah Bank.
"Cuma ke Bank, aku pikir kemana?" gumam Sky, awalnya ia tak ingin masuk ke dalam, ia merasa cukup menunggu di luar hingga urusan keuangan Aurora selesai, baginya kurang sopan jika terlalu kepo dalam urusan keuangan seseorang, Sky pun tak ingin Aurora mengetahui jika dirinya membututinya.
Namun mengingat uang cash di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar saja, Sky pun memutuskan untuk masuk namun hanya sebatas di antrian ATM nya saja.
Sembari mengantri, sesekali ia memperhatikan Aurora yang nampak serius mengobrol dengan customer service yang melayaninya, hingga tiba-tiba saja Sky melihat Aurora memegang kepalanya dan....
"Aurora!” Sky berlari ke arah Aurora, satu tangan memegang erat lengan atas Aurora, tangan lainnya memeluk pinggangnya. Aurora pingsan di tempat duduknya.
"Dia teman saya, biar saya saja yang membawanya ke rumah sakit." ucap Sky pada customer service yang terlihat panik melihat nasabahnya pingsan di hadapannya, kemudian Sky meminta customer service tersebut untuk membantunya merapihkan barang-barang Aurora dan memasukannya ke dalam mobinya.
Saat membopong tubuh Aurora, secara tak sengaja Sky melihat rekening koran milik Aurora yang tergeletak di atas meja pelayanan customer service, ia melihat dengan jelas nominal saldo akhir yang tertulis di rekening koran tersebut.
"Rp.28.000 apa karena itu Aurora jatuh pingsan?" gumam Sky, ia terus berfikir penyebab Aurora jatuh pingsan. Jika memang benar karena hal itu berarti Aurora sendiri tak mengetahui jumlah saldo tabungan miliknya. Karena berdasarkan penjelasan dokter yang menangani Aurora, Aurora mengalami stres atau tekanan yang menyebakan ia jatuh pingsan.
"Maas Ka-la...." perlahan Aurora mulai menggerakan tangannya.
Menyadari Aurora mulai sadar, Sky langsung melepaskan genggaman tangannya. "Ra, kamu sudah sadar?" tanya Sky.
"Sky?" Aurora terkejut melihat Sky berada di hadapannya "Sky, aku di mana?" Mata Aurora bergerilya melihat sekelilingnya sembari mengingat-ingat kejadian sesaat sebelum dirinya tak sadarkan diri.
"Kamu di rumah sakit Ra, dokter memintamu untuk beristirahat di sini beberapa hari untuk memastikan kondisimu dan kandunganmu baik-baik saja." ucap Sky.
Aurora langsung teringat jika dirinya kini tak memiliki uang, saldo di tabungannya hanya tinggal Rp.28.000 dari mana ia akan membayar biaya rumah sakit jika ia harus di rawat, terlebih kamar yang ia tempati sekarang adalah kamar VVIP.
"Tidak. aku baik-baik saja Sky, aku mau pulang." Aurora membuka semutnya kemudian ia berusaha untuk duduk namun ternyata perutnya kembali kram "Awww..." Aurora meringis sekitan.
"Ra, sudahku katakan kau harus istirahat dulu." Sky membantu Aurora membaringkan tubuhnya.
"Tapi Sky, aku..." kalimat Aurora terhenti, ia tak ingin mengatakan jika dirinya sedang tak memiliki uang untuk membayar rumah sakit.
"Tapi apa?" tanya Sky, "Sudahlah kamu istirahat saja, aku akan di sini memanimu sampai suamimu datang." Sky mengambil handphonenya dan memberikan kepada Aurora agar ia bisa menghubungi suaminya.
"Mas Kala sedang tidak ada di sini, tadi pagi ia sudah pergi ke Eropa." ucap Aurora dengan wajah yang tetunduk lesu dan sedih.
Hati Sky sangat sakit melihat raut wajah sedih Aurora "Ya sudah, aku akan di sini sampai keluarga atau asistenmu datang."
"Sky, please aku mau pulang..." ucap nya lirih menahan tangisnya.
Sky meraih tangan Aurora dan menatapnya, "Ra, apa karena masalah biaya?" tanya Sky dengan hati-hati, ia tak ingin membuat Aurora tersinggung atau kurang nyaman dengan pertanyaannya. "Maaf, tadi aku tidak sengaja melihat rekening koranmu di atas meja customer service. Jika memang karena hal itu, kamu tidak perlu khawatir yang terpenting kamu dan kandunganmu baik-baik saja."
Melihat tatapan mata Sky, Aurora tak dapat lagi membendung air matanya "Hiks... Aku enggak mau ngerepotin kamu Sky."
"Ra, kamu masih ingat enggak saat kita kuliah dulu, kamu sering banget nolongin aku. Waktu mamaku telat transfer, kamu buatin makanan untukku, kamu juga bolehin aku ngeprint tugas kuliah di rumahmu. Kita kan temenan udah lama, gantian ya sekarang aku yang bantuin kamu."
Air mata Aurora semakin deras mengalir di wajahnya, dengan ragu-ragu Sky memberanikan diri untuk menghapus air mata Aurora dengan jarin-jemarinya, ia merasa tak tega melihat wanita cantik itu menangis, meski ia tak tahu masalah yang tengah di hadapi oleh Aurora, namun ia bisa merasakan Aurora seperti memikul beban berat yang selama ini ia pendam. "Jangan sedih, nanti janin dalam kandunganmu juga ikut sedih"
Setelah Aurora mulai sedikit agak tenang, Sky meminta Aurora untuk makan dan meminum obat yang telah di sediakan oleh perawat rumah sakit.
"Ra, tadi aku sudah menghubungi Bik Siti, ia akan datang sore setelah tutup toko, sekalian bawa baju ganti serta keperluan lainnya untukmu." ucap Sky, ia membuka plastik penutup makanan Aurora, kemudian memberikannya kepada Aurora.
Aurora menganggukan kepalanya kemudian menyendokan makanan ke dalam mulutnya. "Terima kasih Sky" ia masih belum berselera untuk makan sehingga setelah suapan ke empat ia menaruh kembali piring makanannya di meja samping tempat tidurnya.
"Sky, kayanya aku tidak jadi untuk membuka kemitraan." Aurora kembali menundukan kepalanya, mengingat saat ini uang di tabungannya habis, ia tak memiliki modal untuk membuka kemitraan.
"Jangan dong Ra, masa di batalin. Aku yakin pasti ada jalan, kita hitung ulang sama-sama ya setelah kamu pulih." ucap Sky, ia mengambilkan obat serta minum untuk Aurora. "Bahas kerjaannya nanti lagi ya, sekarang kamu istirahat." Sky merapihkan selimut Aurora membiarkannya untuk beristirahat.
"Asssalamualaikum"
Selang satunjam setelah Aurora beristirahat, Adinda dan Kinara, ibunda Sky datang secara bersamaan menjenguk Aurora.
"Bumil cepet sembuh," Adinda memeluk Aurora dengan hangat. "Dede bayi di dalam perutnya baik-baik saja kan," ia mengelus perut Aurora dengan sangat hati-hati.
"Alhamdulillah baik-baik saja, Din."
"Tante kan kemarin sudah bilang kamu jangan terlalu capek." Kinara memberikan sebuket bunga mawar untuk Aurora kemudian ia memeluk dan mencium Aurora.
"Terima kasihnya tante."
"Oh iya Ra, tante taruh frezeer di rukomu ya? Di rumah tidak terpakai, sayang. Kalau di rukomu mungkin bisa kamu gunakan untuk menyimpan daging."
Entah kebetulan atau apa, saat ini Aurora memang tengah membutuhkan tambahan frezeer untuk menyimpan stok dagingnya. "Nanti Aurora beli saja ya tante?"
"Untuk apa di beli? Tante sudah tidak pakai, kamu pakai saja tidak apa-apa."
"Terima kasih banyak ya tante."
"Sama-sama Ra, sebenarnya tante ke sini tidak bisa lama-lama tante mau cari rental mobil untuk keponakan tante. Kemarin mobil dia di tabrak orang di parkiran mall, padahal mobilnya tidak sedang jalan, keponakan tante sedang belanja di dalam. Jadi sekarang di bengkel, dia lagi butuh mobil untuk beraktivitas. Kamu ada kenalan rental mobil yang terpercaya ga? Enggak usah bagus-bagus mobilnya yang biasa aja, hanya untuk sementara."
Aurora berfikir sejenak, seingatnya ia tak mpunya kenalan pemilik rental mobil.
"Atau punyamu saja Ra, kamu kan sedang bedrest." ucap Kinara, "Tante cuma bercanda kok, sudah ya tante pergi dulu. Cepat pulih ya, jangan capek-capek." Kinara kembali mencium pipi Aurora.
"Tunggu dulu tante, keponakan tante bisa pakai mobilku saja. Mobil Mas Kala sih, tapi Mas Kala sedang di Eropa jadi tidak kami pakai. Tante pakai saja, tidak perlu di sewa." ucap Aurora, selain karena percaya terhadap keluarga Sky, ia juga merasa Sky dan ibunya sudah banyak membantunya, jadi tidak ada salahnya jika ia membantu keluarga Sky.
"Benarkah?"
Aurora menganggukan kepalanya, "Din tolong tas aku dong," Aurora meminta tolong Adinda untuk mengambil tasnya yang berada di meja.
Andinda pun segera mengambilkan tas Aurora "Ini Bu."
"Ini tante kuncinya, tapi mobilnya masih terparkir di Bank." Aurora menyerahkan kunci mobilnya kepada Kinara.
"Tidak apa-apa, nanti biar keponakan tante saja yang ambil. Tante terima ya Ra, kunci mobilnya. Insyaallah keponakan tante amanah membawa mobilmu."
"Iya tante, Aurora percaya. Tapi masih ada beberapa dokumen di dalamnya."
"Engga apa-apa, nanti dokumennya di titip ke Sky. Tante permisi dulu ya Ra, Din. Assalamualaikum" Kinara keluar dari kamar rawat inap Aurora di antar oleh lutra bungsunya.
Begitu keluar dari kamar rawat inap Aurora, Kinara memberikan kunci mobil Aurora kepada Sky. "Kamu mau suruh siapa buat transfer uang sewanya kepada Aurora?"
"Ganpang Mah, paling nanti pegawaiku saja. Terima kasih banyak ya Mah." ucap Sky sambil tersenyum.
"Kamu ini ngerjain mama terus, tadi mama debat sama tukang frezeernya karena dia tidak mau membuat membuat frezeernya terlihat jelek. Kata dia nama baik tokonya bisa rusak." omel Kinara.
"Maaf ya Mah,"
"Ya sudah mama pulang ya." Kinara melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
'Aku harap kau segera berpisah dengan suamimu dan menemukan pria lain yang menyayangimu setulus Sky' batin Kinara.